Melepasmu Dengan Ikhlas

Melepasmu Dengan Ikhlas
Episode 5


__ADS_3

Hari ini, aku memutuskan untuk kembali ke kostku, aku tak mau merepotkan Mba Ranti lebih lama. Walau Mba Ranti memaksaku untuk lebih lama menginap di rumahnya, karena ia merasa sepi dan sendiri.


“Sya,” ujar Tania saat aku tiba di meja yang telah ia pesan. Ia mengirimkan pesan padaku, meminta aku menemuinya di cafe yang tak jauh dari kostku. Aku menatapnya datar, sungguh di mana hati nuraninya? Kami  sama-sama wanita, tapi dia dengan begitu mudahnya melukai hatiku. “Duduk dulu Sya,” ujarnya aku menuruti ucapannya. “Mau minum apa Sya?” tanyanya ramah. “Gak usah basa-basi. Waktuku gak banyak,” ujarku


datar dan dingin.


“Syaa, aku mau minta maaf aku gak tau kalau ternyata Kenan dan kamu sudah berpacaran. Sungguh aku tak ada niat untuk merebut Kenan darimu Sya,” ujarnya, aku menatap bola matanya dalam mencoba mencari kebohongan di sana, namun nihil tak ada kebohongan. Bahkan ia berlutut memohon maaf, aku tak memperdulikannya aku hanya diam, hingga akhirnya ia bangkit dengan sendirinya.


“Sya, maaf ya sekali lagi,” ulangnya. Aku tak menjawab perminta maafnya, aku hanya diam dan menunggu kelanjutan ucapannya. “Tapi, maaf Sya perasaanku pada Kenan sudah tumbuh terlalu dalam. Dan mungkin sama dalamnya dengan perasaanmu padanya,” ujarnya. Aku menatapnya datar. Aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraannya. “Bolehkah aku bersaing dengan mu untuk mendapatkan Kenan?” ujarnya persis seperti yang aku pikirkan. Lagi dan lagi aku tak menjawab ucapannya. Aku hanya diam dan menatapnya dalam. “Karena kamu diam aja, aku anggap kamu setuju ya. Mulai besuk kita akan bersaing. Siapa yang akan mendapatkan Kenan. Gimana?” putusnya, aku tak berminat dengan pembicaraan ini. Aku mendorong kursiku dan bangkit meninggalkan Tania yang tersenyum penuh kemenangan.


“Sya kamu dari mana aja? Aku tungguin dari semalam? Kamu tidur di mana Sya? Sudah makan belum?” tanya Dean menghentikan langkahku. Aku hanya tersenyum dan berjalan menuju kamarku. Aku dan Dean bertemu saat kami mendaftar di perusahaan milik Keluarga Kenan. Satu-satunya orang yang menyapaku pertama kali adalah

__ADS_1


Dean, sehingga aku dan Dean menjadi dekat seperti sekarang ini. Tanpa harus aku bercerita, ia sudah mengerti bagaimana perasaan dan keadaanku. “Maafkan aku De, tapi untuk saat ini aku ingin sendiri,” batinku.


Ucapan Tania terngiang-ngiang di kepalaku, berulang kali aku menghela nafas kasar. Berharap bayangan itu ikut pergi bersama dengan nafas yang aku buang. Aku membuka ponselku berharap Kenan menanyakan keadaanku. Namun, semuanya nihil. Ia tak sedikitpun mencari ku. Ia seakan lupa denganku. Aku membuka sosial mediaku untuk menghibur diri. Aku membuka Instagram, tiba-tiba Tania menandai aku pada postingannya. Ia sedang berpergian bersama Kenan. Terlihat Kenan menggenggam mesra tangan Tania. Mataku terasa panas, segera kututup aplikasi Instagramku.


Aku bangkit dari kasurku, aku memandang pantulan diriku di cermin. “Apa yang kurang dariku?” tanyaku pada diri sendiri. Ku berputar mencari apa yang kurang dariku. Membandingkan tubuhku dengan Tania, tak ada yang berbeda. Aku dan Tania memiliki bentuk tubuh yang tak jauh berbeda. Bahkan manik mata kami memiliki


warna yang sama, warna kulit yang sama dan garis wajah yang sama. Usia kami tak terpaut jauh, lantas apa yang membedakan aku dan Tania? Mengapa Kenan memperlakukan Tania bak seorang putri?


Kepalaku terasa berdenyut karena terus menerus memikirkan masalah percintaanku yang rumit. Ketukan di pintu kostku menyadarkanku, aku berjalan menuju pintu kamar kostku. “Hay Syaa,” sapa Mba Ranti dengan senyum yang manis. “Mba Ranti. Masuk Mba,” ujarku membukakan pintu lebih lebar agar Mba Ranti dapat masuk dengan leluasa.


dengan semua ini hentikan, tapi kalau kamu masih mau berjuang perjuangkan. Kamu berhak untuk mendapatkan laki-laki yang baik Sya, yang bisa menerimamu apa adanya,” nasihat Mba Ranti tepat saat Dean mengunjungi kamarku.

__ADS_1


“De,” panggilku, Mba Ranti menoleh dan tersenyum ke arah Dean. Dean membalas senyuman Mba Ranti. “Maaf ya Sya, masalah,,” ujar Dean hati-hati. “Iya De, gak papa kok tenang aja. Aku juga minta maaf ya kalau waktu itu aku terbawa emosi,” ucapku tak enak hati. Dean lantas memelukku dan menangis, “Udah ahh De, aku baik-baik aja kok,” ujarku seraya mengusap punggung Dean. Mba Ranti tersenyum melihat interaksi kami.


“Oh Iya, Mba kesini juga sekalian mau undang kalian untuk datang ke acara pernikahan Mba. Kalian bisa datang kan?” ujar Mba Ranti dengan tersenyum. Aku dan Dean mengangguk dengan semangat. Mba Ranti wanita sederhana walau sebenarnya ia seorang wanita yang berada. Kesederhanaan yang selalu ia tampilkan membuatnya terlihat lebih anggun dan menawan. “Terimakasih ya,” ujarnya tulus.


“Besuk malam jam 7 ada acara pengajian di rumah Mba, kalian datang ya,” ujarnya, “Iya Mba nanti kita pasti datang kok,” sahutku. “Kalau gitu Mba pamit ya Sya De. Masih ada beberapa hal yang harus Mba urus. Mba harap kamu memikirkan ucapan Mba tadi ya Sya. Kamu harus memutuskan dengan siapa hatimu berlabuh Sya, dan dengan siapa kamu akan meraih kebahagian nantinya,” nasihat Mba Ranti.


Aku kembali ke kamarku seusai mengantar Mba Ranti ke ambang pintu kostku. Kini aku seorang diri, beberapa penghuni kost tengah pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Dean ia sedang keluar bersama dengan Rama. Dean sudah lama memendam rasa pada Rama. Katanya Rama pria idaman yang ia harapkan menjadi suaminya kelak. Aku hanya bisa ikut mendoakan agar nasib cinta Dean tak seperti aku, selalu tersakiti dan dibuang.


Aku masih memikirkan ucapan Mba Ranti, apa yang ia katakan benar. Aku lah yang berhak menentukan dengan siapa aku akan menjalani sisa umurku nanti. Mba Ranti yang dulunya menajdi korban Kenan sekarang ia sudah bahagia dengan pasangannya, Dean yang selalu berharap agar bisa lebih dekat dengan Rama kini terkabul. Aku? Masih saja terpaku pada seorang pria yang terus-menerus menggoreskan luka di dadaku.


Malam telah berganti pagi. Hari ini mau tak mau aku harus berangkat bekerja bagaimanapun juga hidupku harus terus berjalan. Dan aku telah memutuskan langkah apa yang akan aku ambil. Aku mengendarai motorku dengan Dean duduk di belakangku. “Sya kamu yakin sama keputusanmu?” tanya Dean di tengah perjalanan. Aku hanya mengangguk mantap menjawab pertanyaan Dean. Dean mengangguk dan menepuk pundakku pelan sebagai bentuk semangat yang ia salurkan untukku.

__ADS_1


“Ehh eehh itu ya yang ngelabrak Tania sekretarisnya Pak Kenan?” bisik-bisik karyawan lain yang berpapasan dengan Dean dan Tania saat mereka berjalan memasukki gedung kantor. “Ihh sok cantik banget ya, dia itu kan anak divisi B kan ya?” ujar salah satu receptionis seraya memandangku rendah. “Iyaa, sok ngaku-ngaku


jadi pacarnya Pak Kenan lagi. Mana mau Pak Kenan sama karyawan kayak dia,” sindir seorang lagi. Dean menghentikan langkahnya dan hendak mendatangi ke dua resepsionis itu. Kedua resepsionis itu menatap aku dan Dean dengan angkuhnya.


__ADS_2