Melepasmu Dengan Ikhlas

Melepasmu Dengan Ikhlas
Episode 3


__ADS_3

“Maaf,” ucapnya singat dan dingin lalu berjalan menjauhiku. Sepertinya aku tak asing dengan wajahnya, namun siapa? Aku mencoba mengingat-ingat, namun tetap saja tak menemukan jawaban.


“Shyaa, kamu kenapa sih?” tanya Dean menatapku khawatir, “Daritadi kamu gak fokus, trus makananmu aja cuman kamu aduk-aduk. Kalau bisa ngomong tuh makanan pasti udah pusing deh,” ujarnya panjang lebar, aku tak menanggapi ucapannya. “Syaa, kamu sama Pak Kenan kapan mau go publik? Emang enak ya pacaran diem-diem?” ujar Dean membuatku teringat akan kejadian bebrapa jam lalu. Sampai saat ini Kenan belum juga memberiku kabar. Berulang kali aku melihat ponselku berharap ada pesan masuk darinya, namun semuanya nihil. Kejadian ini bukanlah yang pertama kali, hampir tiap bulan ia menghilang tanpa jejak dan ketika ia kembali ia akan menjadi pria yang romantis pria yang memperlakukanku layaknya seorang tuan putri. “De, balik yuk. Gak enak badan nih,” ajakku pada Dean seusai ia menghabiskan sarapannya, “Loe sakit Sya?” tanyanya khawatir, aku tertegun dengan respon yang di berikan Dean padaku, “Gak papa kok, masuk angin biasa, kayaknya kecapean dehh,” ujarku “Ya udah ayokk, tapi gue yang bawa motornya ya,” pinta Dean, aku hanya mengangguk karena jujur saat ini hati dan pikiranku sedang tidak fokus, daripada membahayakan pengguna jalan lain.


“Istirahat Syaa, besuk pagi kita ad meeting penting loh,” peringat Dean padaku, “Iya De, aku masuk duluan ya,”  pamitku dan berjalan meninggalkan Dean yang masih memarkirkan motor di garasi kost kami. Aku menghempaskan tubuhku dengan kasar di ranjangku. Aku pandangi langit-langit kamarku, aku membayangkan betapa mirisnya hidupku. Memiliki kekasih namun merasa sepi. Ia selalu memaksaku untuk tetap bertahan sampai ia siap mengumumkan hubungan ini. ia selalu mengatakan, ia tak mau jika nantinya semua orang akan mencibirku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ia sembunyikan dariku. Aku selalu berusaha untuk berbaik sangka padanya, walau mungkin ia tak berlaku baik padaku.


Senin, selalu menjadi hari dengan mobilitas terpadat bagi setiap masyarakat Indonesia. Begitupun denganku, aku harus terjebak kemacetan ibukota. Berulang kali aku menengok arlojiku, aku memang bukanlah karyawan yang

__ADS_1


teladan, namun sebisa mungkin aku menghindari kata-kata terlambat. 15 menit sudah aku berdiam diri diantara pengendara lain, akhirnya motorku dapat melaju walau lambat. Saat tiba di persimpangan jalan mataku tertuju pada sebuah mobil dengan nomor polisi dan warna yang aku kenali, ya mobil Kenan. Kali ini ia seorang diri, namun ia tak menjalankan mobilnya menuju arah ke kantor. “Kemana ia?” tanyaku entah pada siapa. Aku dirundung rasa penasaran, aku mengikuti mobil Kenan dari jauh, beruntung hari ini aku memakai masker sehingga Kenan akan sulit mengenaliku. Aku masih terus mengikutinya hingga mobinya berhenti pada sebuah apartemen, aku menghentikan motorku tak jauh dari mobil Kenan. Terlihat Kenan menuruni mobil dengan ponsel yang melekat di telinganya. Mataku membulat tatkala aku melihat seorang perempuan yang sama dengan perempuan yang tempo


hari ku lihat. Kenan membukakan pintu mobil untuk perempuan itu, dengan senyuman yang manis. Hatiku bagai tertusuk berjuta-juta jarum, Kenan tak pernah menjemputku untuk sekedar berangkat ke kantor bersama, bahkan ketika ia mengajakku jalan ia akan selalu memintaku datang langsung ke tempat yang ia maksud. Ia tak pernah memperlakukanku semanis itu. Kakiku terasa lemas, namun dengan sekuat tenaga aku menyalakan motorku. Kini aku tak lagi membuntuti mobil Kenan.


Hati dan pikiranku masih terngiang akan kejadian beberapa menit lalu, kini aku harus mendapatkan pemandangan yang makin membuatku tersiksa. Kenan menggandeng tangan wanita itu, ia tak sedikit pun melirikku. Padahal,


kamu saya pecat!” ucap Kenan tegas, aku hanya diam dan menatap wanita di sampingnya dingin. “Jadi semuanya, perkenalkan ia sekretaris baru saya menggantikan Bu Leni. Saya harap kalian bisa menghargai dan menghormati Tania,” ujar Kenan tegas, rahangku mengeras tanganku meremas ujung kemeja yang aku kenakan. Hanya sekertaris, tapi ia memperlakukan bagaikan kekasihnya. Siapa di sini yang kekasihnya aku atau Tania? Belum selesai Kenan menyampaikan pengumuman aku sudah meninggalkan barisan dan menaiki anak tangga darurat. Sejujurnya bisa saja aku menggunakan lift namun entah mengapa kaki ku justru melangkah pada anak tangga darurat. Aku menaiki anak tangga dengan terburu-buru hingga aku tak sadar telah melewatkan sebuah anak tangga hingga membuat terpeleset. Tubuhku luruh ke lantai. Aku menumpahkan semua air mataku. “Kenapa Tuhan? Kenapa lagi-lagi aku terluka?” tanyaku di sela tangisku. Setelah puas menumpakan air mataku, aku kembali menaiki anak tangga satu persatu. Aku menggenggam erat pegangan tangga. Sebelum memasuki ruang kerjaku, aku terlebih dahulu merapikan diri di toilet kantor. Aku memasuki salah satu bilik toilet, tak lama aku mendengar derap langkah kaki berjalan memasuki toilet. “Ehh, katanya si Tania Tania itu calon istrinya Pak Kenan. Jadi selama ini pacar yang disembunyiin Pak Kenan itu Bu Tania,” ujar salah seorang karyawan. Aku masih berdiam diri dan menyimak kelanjutan percakapan mereka. “Iyaa, pantes aja disembunyiin orang cantik begitu. Pasti takut ditikung lah,” sahutnya. “Ehh tapi ya waktu itu kan ada yang bilang pacar Pak Kenan kerja di sini juga. Emang udah putus?” tanya seorang lagi, aku menghentikan gerakan tanganku yang hendak membuka pintu toilet, “Ihh katanya itu tuh cuman dijadiin taruhan doang. Kasian yah, udah berharap di nikahin ehh ternyata cuman jadi taruhan,,”sahutnya “Iyaa, anak Divisi C kan?” lagi untuk kesekian kalinya aku dibuat terkejut. Bukan, bukan aku yang menjadi bahan taruhannya. Karena aku berada di Divisi B, jadi? Ada wanita lain juga yang menjadi korbannya? Tak lama terdengar derap langkah kaki seseorang memasukki toilet, “Ehh balik yukk, ada yang ngarep jadi Bu Bos ehh taunya cuman dijadiin maenan,,” sindir salah seorang diantara mereka. setelah terdengar derap langkah kaki menjauh aku memutar knop pintu dan keluar. Betapa terkejutnya aku, seorang wanita yang sama sekali tak aku kenali. “Hai,” sapaku dengan suara yang masih parau, “Alishya ya?” balasnya, aku membulatkan mataku. Pasalnya kami tak pernah bertegur sapa tapi ia mengetahui namaku. “Aku Ranti, biasa aja mukanya,” ujarnya dengan kekehan kecil karena melihat ekspresi wajahku. “Kamu dengarkan apa yang mereka bicarakan tadi?” tanyanya seraya merapikan hijabnya bahkan ia sama sekali tak melihatku, “Kamu juga mau mencemooh aku? Aku siap kok,” ujarnya melirikku sekilas dari pantulan cermin,  “Mungkin aku sama denganmu Ran,” ujarku seraya menatap pantulanku di cermin, ia menaikkan sebelah alisnya dan membalikkan badan menghadapku. “Mungkin kita sama,” ulangku, ia hanya tersenyum padaku. Bukan senyum menghina yang  ia tampilkan namun senyuman tulus yang memberi kesan ia mendukungku. “Tak apa, kamu berhak memilih kok Syaa,,” ujarnya seraya menepuk pundakku. “Oh iya kamu dari divisi B kan? Mau bareng? Ruangan kita seberangan loh,” ajaknya lembut. Aku terpana akan kecantikkannya, wanita dengan giginyayang bergingsul, lesung pipi yang terlihat tatkala ia tersenyum, mata yang indah dan jangan lupakan hijab yang ia kenakan membuatnya terkesan anggun namun manis. “Kamu juga manis Syaa,” ucapnya seakan mengerti apa yang sedang aku fikirkan.

__ADS_1


Aku dan Mba Ranti berjalan beriringan, aku mengubah panggilanku saat aku tahu usianya. Kami terpaut 2 tahun. Iya sebenarnya tak mau jika aku memanggilnya Mba, katanya ia merasa tua jika ada yang memanggilnya begitu. Namun, aku tetap memaksa karena aku menghargainya yang jauh lebih berusia. “Selamat bekerja ya Syaa, gak usah dipikirin. Tenang aja, aku duluan ya,” pamitnya dengan senyuman manis.


“Syaa dari mana aja sih?” tanya Dean khawatir. “Toilet,” sahutku singkat, aku sedang malas bicara saat ini. aku mulai berkutat dengan pekerjaanku. Tiba-tiba ponselku berdering, aku membuka ponselku. Ternyata Kenan mengirimiku pesan singkat, “Maafkan aku telah membentakmu honey, aku tak mau dianggap pilih kasih. Nanti malam kita dinner ya,” begitulah kiranya pesan singkat yang ia kirimkan. Aku mematikan ponselku, aku bangkit dari kursiku sepertinya aku butuh sesuatu yang hangat untuk menenangkan hati dan pikiranku yang bergemuruh layaknya genderang perang, “Mau kemana Sya?” tanya Rama padaku, aku sedikit terkejut dengan perubahan tampilan Rama “Pantry Ram,” sahutku setelah menormalkan keterkejutanku. Aku berjalan melewati beberapa ruangan divisi, hingga langkahku terhenti tatkala aku melihat pintu ruangan kantor Kenan terbuka. Aku memperlambat langkahku, tepat di depan ruangan Kenan aku mendengar suara Tania dan Kenan sedang bersenda gurau. Bahkan Kenan tak segan duduk berdekatan dengan Tania yang katanya hanya sekretaris. Aku mempercepat


langkahku, aku tak mau membuat hatiku sakit untuk kesekian kalinya. Setibanya di pantry aku melihat Mba Ranti sedang membuat minuman, “Mba Ranti,” panggilku, Mba Ranti menatapku dan tersenyum manis. “Hai Syaa, mau buat minum juga? Sini duduk dulu biar Mba yang buatin,” tawarnya “Eh eh gak usah Mba, aku buar sendiri aja


Mba,” tolakku tak enak hati. “Udah santai aja, sini Syaa,” ucapnya seraya menuntunku duduk di hadapannya. “Kenapa?” tanyanya seakan mengerti kegundahan hatiku. “Kamu lihat sesuatu?” tebaknya membuatku menunduk dalam-dalam menahan air mata yang siap terjatuh kapan saja. “Bahkan dulu Mba pernah lihat yag lebih dari itu Sya,” ujarnya membuatku secepat kilat mendongakkan kepala, “Iya Sya, mungkin nanti kamu juga akan lihat. Kakak harap kamu gak terlalu jatuh terlalu dalam sama dia ya Sya,” petuahnya membuatku tanpa sadar meneteskan air matanya. “Gimana kalau udah terlalu dalam Mba?” tanyaku dengan suara parau.

__ADS_1


__ADS_2