
Sore hari.
Kepulangan Davin dan Mellisa disambut oleh ibu dan Talita.
"Kalian sudah pulang," ucap ibu nampak sumringah.
"Iya, Bu." Mellisa dan Davin menyahut bersamaan.
"Ayo makan, Ibu sudah memasak untuk kita makan," ucap ibu lagi masih nampak tenang.
"Iya, Bu. Terimakasih, kami membersihkan diri dulu," sahut Mellisa.
Davin dan Mellisa ke kamar mereka untuk mandi dan mengganti pakaian.
"Aku merasa tak enak hati, Mas," ucap Mellisa.
"Tak apa-apa, kita akan selalu bersama sayang." Davin mengusap kepala istrinya.
***
"Mell," panggil ibu di sela-sela makan mereka.
"Biarkan kakak dan suaminya makan dulu, Bu." Talita memegang tangan sang ibu.
Deg.
Mellisa nampak khawatir dan takut, jangan-jangan ibunya akan mengintrogasinya saat ini.
Sementara Davin mempersiapkan hati dan mentalnya untuk menghadapi ibu mertuanya.
"Ibu masih betah kan di sini?" tanya Davin memulai percakapan setelah beberapa saat hanya keheningan di ruang makan.
"Kenapa? ingin Ibu cepat pergi," jawab ibu mulai menunjukkan ketidaksukaannya pada sang menantu.
"Bukan itu maksudku, Bu," ucap Davin sangat gugup.
"Apa yang terjadi dengan kalian, kenapa kamar tamu penuh dengan barang-barang kamu Mellisa? kalian tidak sekamar? kalian tidur sendiri-sendiri? apakah kalian ini benar-benar suami istri?" Ibu sangat marah.
"Awalnya memang kami tak sekamar bu, tapi-" Mellisa tak melanjutkan kata-katanya karena disela ibunya.
"Kamu, Davin." Ibu menunjuk-nunjuk wajah sang menantu.
"Ibu akan membawa anak Ibu pulang."
Semua kaget mendengar kata-kata ibu barusan, termasuk Talita.
"Jangan terburu-buru Bu, setidaknya Ibu dengarkan dulu mungkin mereka ingin menjelaskan sesuatu," ucap Talita mencoba menenangkan ibu.
"Apa yang perlu dijelaskan, ini sudah berbulan-bulan semenjak pernikahan kakakmu, tapi mereka tidak sekamar. Apakah itu suami istri?" Ibu memalingkan wajah dari Mellisa dan Davin.
"Tapi kami saling mencintai, Bu," bela Davin sambil memegang tangan Mellisa dengan erat.
"Tidak usah berpura-pura di depan Ibu, kenapa kamu tidak kunjung hamil?" tanya ibu menoleh Mellisa sebentar kemudian berpaling lagi.
"Itu karena kalian tidak pernah berperan selayaknya suami istri, kan?" Ibu nampak kecewa.
Ibu sudah sangat marah, dia tak terima putrinya diperlakukan seperti ini.
__ADS_1
Hari mulai gelap, ibu tetap bersikukuh mengajak Mellisa pulang.
"Jemput Mellisa bersama orang tuamu jika benar kalian saling mencintai."
"Baik, Bu." Davin pasrah melihat istrinya dibawa ibu mertuanya.
"Aku akan menjemputmu," ucap Davin lagi mendekati Mellisa.
"Aku akan menunggumu, Mas."
***
Davin merenung di balkon, memikirkan bagaimana mengatakan pada orang tuanya untuk menjemput Mellisa bersama.
Semalaman Davin tak dapat tidur, teringat kata-katanya yang berjanji pada sang mama untuk membuat istrinya mencintainya.
Janji itu sudah terpenuhi, hanya saja ada kesalahpahaman ibu mertuanya perlu diluruskan.
'Mama dan papa pasti mengerti,' batin Davin.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Davin lewat pesan WA.
Mellisa langsung membalas.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Aku ingin dipelukmu, Mas."
"Tidurlah, besok aku akan menjemputmu."
"Aku mencintaimu, Mas."
Davin tersenyum lagi, dia sedikit lega walaupun hanya lewat pesan WA dengan istrinya setidaknya malam ini dia bisa tidur untuk mempersiapkan hari esok.
***
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan pintu, ibu langsung berdiri untuk memeriksa. Dia nampak kaget ketika melihat besan dan menantunya di luar.
Ibu segera membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
Mellisa nampak senang melihat suami dan mertuanya menjemput.
"Kedatangan kami sekeluarga ingin menjemput Mellisa.
"Apa kalian sudah tahu, mengapa aku mengajak Mellisa pulang?," tanya ibu penuh amarah.
"Davin sudah menjelaskannya pada kami, kita sebagai orang tua harusnya mendukung mereka, bukan seperti ini Ibu inayah." Mama masih menahan emosi.
"Aku tidak terima, kami memang miskin, tapi jangan seenaknya juga anak kalian memperlakukan putriku seperti ini." Emosi ibu semakin meluap.
__ADS_1
"Ibu," panggil Mellisa pelan.
"Maaf Ibu Inayah," ucap mama agak keras.
"Saya telah lebih dulu mengetahui jika memang ada yang salah dengan pernikahan anak kita, tapi perlu Ibu Inayah ketahui, putri andalah yang telah menolak Davin sejak malam pertama mereka," terang mama membela putranya.
"Mama," panggil Davin memegang tangan sang mama.
"Itu tidak mungkin, Mellisa sudah menerimanya dengan ikhlas sebelum menikah." Ibu masih bersikukuh.
"Dan sekali lagi maaf Ibu Inayah, kami tidak pernah memandang status sosial anda atau siapapun juga, bagi kami manusia itu sama di mata Allah." Papa ikut bicara.
"Ibu," panggil Mellisa lagi, digenggamnya tangan sang ibu agar mau bersabar sedikit.
Mellisa hendak mengatakan sesuatu, namun ibu menghalanginya untuk bicara, ibu tak ingin putrinya berbicara apapun.
Saat ini ibu sudah terlampau jauh salah faham, dia tak mau mendengarkan penjelasan dari siapapun.
"Aku tidak peduli dengan perjodohan yang kalian sepakati dengan almarhum suamiku," ucap ibu mulai menurunkan nadanya.
"Perjodohan ini ternyata tidak berhasil, kita sudah dikelabui oleh mereka, mereka hidup satu atap tapi dengan ranjang terpisah. Tidak ada hak dan kewajiban yang dijalankan dalam pernikahan mereka, daripada menjadi dosa, lebih baik kita sudahi saja." Ibu memutuskan sepihak tanpa berunding.
"Tidak!" ucap Mellisa dan Davin bersamaan.
"Ibu," lantang Mellisa memberanikan diri.
"Apa yang dikatakan mama Tiara memang benar, akulah yang pertama menolak mas Davin, akulah yang meminta tidur terpisah, karena aku tidak mencintai mas Davin saat itu," terang Mellisa membuat ibu diam.
Ibu tidak habis fikir, kenapa Mellisa menyetujui pernikahan sedang dia sebenarnya dia tak mau.
"Kamu kenapa tidak memberitahu Ibu, kalau Ibu tahu dari awal Ibu tidak akan menikahkanmu, Mell." Ibu menatap putrinya.
"Ibu, Mama, Papa aku sungguh meminta maaf." Mellisa bersimpuh di bawah.
"Selama ini aku tidak menyadari bahwa mas Davin sangatlah baik, dia sangat mencintaiku dan aku pun sudah mulai mencintainya."
"Jadi aku mohon, sudahi perdebatan ini, rumah tangga kami baik-baik saja."
Davin menemani sang istri bersimpuh.
"Kami mohon. Ibu, Mama, Papa. Maafkan kami, restui kami membangun kembali rumah tangga ini."
Mama dan papa menyuruh mereka bangun, sedang ibu hanya diam saja.
"Kami selalu merestui kalian, mulailah kembali rumah tangga yang harmonis, do'a kami selalu menyertai untuk kebahagiaan kalian." Mama memeluk keduanya.
"Ibu, izinkan aku untuk menjemput Mellisa pulang bersamaku," pinta Davin menatap ibu.
Ibu diam tak mengatakan apapun, dia mencerna situasi saat ini, memanglah putri dan menantunya itu saling mempertahankan. Benar saja sekarang mereka sudah saling mencintai dan menerima satu sama lain.
"Kalian semua pulanglah, aku masih ingin bersama putriku."
"Boleh aku menginap Bu, aku juga ingin menjaga istriku dimanapun dia berada," pinta Davin sambil melirik Mellisa, membuat Mellisa tersenyum.
Ibu mengangguk.
***
__ADS_1