
Sepanjang malam Mellisa merasa gelisah, tidurnya tak tenang, hendak lelap namun terbangun lagi, sesekali dia ke kamar mandi untuk buang hajat.
"Rasanya aneh sekali ya," ucap Mellisa lirih. Suaminya pun tetap terlelap walaupun Mellisa bolak-balik bangun dari tempat tidur ke kamar mandi.
Sampai menjelang fajar hingga subuh adalah saat paling nikmat seseorang terlelap dalam tidurnya.
Namun Mellisa sudah terbangun karena merasa ada yang aneh dalam perutnya, perasaan itu hanya datang sesaat kemudian hilang, akan tetapi akan muncul lagi dan hilang lagi, begitu seterusnya.
"Apakah aku akan melahirkan sekarang," ucap Mellisa lirih. Dia menoleh suaminya yang masih terlelap.
"Mas," panggil Mellisa mencoba membangunkan sang suami.
"Iya sayang." Davin membuka matanya.
Mellisa mengajak suaminya sholat subuh berjamaah.
Setelah selesai Mellisa merasa kontraksi di perutnya semakin sering dan jangka waktunya semakin lama.
Davin melihat istrinya yang nampak kesakitan.
"Kenapa sayang? apa sudah mau melahirkan?" tanya Davin cemas, karena istrinya juga semakin lemas.
"Tak tahu, Mas. Rasanya tidak nyaman sekali," jawab Mellisa sambil memegangi perut bagian bawahnya.
Davin hendak menggendong istrinya.
"Nanti berat, Mas," ucap Mellisa menolak.
"Siapa yang mengatakannya?" tanya Davin bersiap.
"Kamu," jawab Mellisa terkekeh sambil menahan kontraksi.
"Kamu ini masih sempat saja bercanda."
Davin menggendong istrinya keluar dan segera memasukkannya ke mobil.
Davin lalu mengambil barang-barang yang dibutuhkan nanti setelah persalinan, sebelumnya memang Mellisa sudah mempersiapkan jauh-jauh hari.
Davin melajukan mobilnya ke rumah sakit, dia menyetir dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya menggenggam tangan sang istri.
Sampai di rumah sakit, dokter kandungan mengatakan jika Mellisa masih pembukaan 5.
Pukul 6.30 pagi, keluarga Mellisa dan Davin sudah datang ke rumah sakit dengan membawa beberapa makanan.
Davin mencoba menyuapi istrinya makan.
"Sayang, makanlah. Biar nanti kamu punya tenaga saat melahirkan anak-anak kita nanti," ucap Davin siap menyuapi.
Mellisa menolak dengan menggeleng pelan, dia menahan kontraksi di perutnya yang semakin lama semakin tak nyaman dia rasakan.
"Sedikit saja," pinta Davin nampak cemas melihat raut wajah sang istri.
Mellisa menggeleng lagi. Dia ingin bicara namun mulutnya tak mampu mengatakan apapun, hanya sesekali dirinya mengejan.
Beberapa saat kemudian, dokter datang lagi untuk mengecek.
Kemudian dia menyuruh semua orang yang sedang menunggu untuk segera keluar kecuali suaminya, karena Mellisa siap melahirkan.
Davin berdiri di samping ranjang Mellisa, dia terus menggenggam tangan sang istri, menemaninya di momen terpenting seperti saat ini.
Davin tak dapat mendengar atau melihat apapun, dia hanya melihat sang istri yang sedang menaruhkan nyawanya sendiri demi buah hati.
Davin menangis melihatnya, seakan ikut merasakan kesakitan sang istri.
__ADS_1
Davin menjadi tegang, ternyata seperti inilah perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya.
'Ya Allah, berikanlah kelancaran untuk istri hamba, semoga ibu dan anak-anak selamat. Amin,' batin Davin.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang keras, 5 menit kemudian disusul suara tangisan bayi lagi.
Bayi-bayi itu berjenis kelamin perempuan, keduanya normal dan sehat.
Davin merasa lega, dia terharu dan menangis sambil masih menggenggam sang istri.
Davin mencium kening istrinya, Mellisa tersenyum.
"Terimakasih, istriku." Davin tak henti-hentinya menciumi kening sang istri.
"Mas," panggil Mellisa lirih.
Davin melihat istrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Davin penuh perhatian.
"Haus, Mas," jawab Mellisa lemah.
Davin segera mengambil teh manis hangat yang sudah disiapkan keluarganya tadi.
Setelah perawat membersihkan bekas persalinan, kedua anak kembar Mellisa diserahkan kepada sang ayah untuk diadzankan, setelah itu Mellisa memberikan ASI pertamanya untuk kedua bayinya.
Setelah semua sudah selesai, Mellisa beserta kedua anaknya segera dipindahkan ke ruang inap.
Andika, adik sepupu Davin yang baru muncul menghebohkan ruangan.
"Wah selamat ya Kak Davin, sekarang sudah jadi seorang ayah," ucap Andika merangkul Davin.
"Iya terimakasih, kamu kapan menikah? apa tak ingin punya bayi menggemaskan begini." Davin memamerkan kedua buah hatinya pada Andika.
"Jangan begitu lah Kak." Andika menyengir.
"Kak bagaimana rasanya melahirkan?" tanya Talita mendekati kakaknya.
Andika menatap Talita.
"Rasanya nikmat luar biasa, Dek," jawab Mellisa yang masih lemah.
"Hey." Davin mengagetkan Andika yang masih menatap Talita.
Talita yang baru sadar telah diperhatikan merasa malu.
Andika pun tersadar dan diledek semua orang.
Mellisa sangat bahagia, semua keluarganya hadir disini menemaninya.
"Kedua putri cantik ini siapa namanya?" tanya mama mengelus pipi kedua cucunya secara bergantian.
"Rosy dan Jasmine," jawab Mellisa yang memang sudah mengancang-ancang nama untuk kedua bayinya sebelum lahir.
"Nama yang cantik, secantik bayi-bayi lucu ini," puji mama menggendong Rosy dan ibu juga menggendong Jasmine.
"Selamat ya Mell, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu," ucap ibu melihat mata Mellisa yang berkaca-kaca.
Mellisa mengangguk.
Semua yang di ruangan itu nampak gembira termasuk perawat yang sesekali datang memeriksa menjadi ikut terbawa suasana.
***
__ADS_1
Setelah keadaan Mellisa membaik, Dia dibawa pulang ke apartemen.
"Sekarang kita pulang."
"Iya, Mas."
Davin menyelesaikan administrasi rumah sakit dan merapihkan barang-barang untuk dibawa pulang.
Mellisa hendak membantu suaminya namun sang suami melarangnya.
"Kamu tunggu saja di situ, jangan melakukan apapun. Mengerti."
Davin melanjutkan membawa barang-barang, sementara Mellisa hanya melihatnya sambil menjaga kedua putrinya.
"Ayo kita siap pulang," ajak Davin sambil mengambil Rosy dari tempat tidurnya. Sementara Mellisa menggendong Jasmine.
Mereka berjalan menuju parkiran, Davin sudah memarkirkan mobilnya lebih dekat dari pintu utama rumah sakit agar Mellisa tak berjalan terlalu jauh.
"Kita akan segera pulang putri-putriku yang cantik." Davin gemas mencubit pelan pipi kedua putrinya bergantian.
Mellisa tersenyum.
"Mas," panggil Mellisa.
"Hm," sahut Davin.
"Aku sangat merepotkan ya, Mas?" tanya Mellisa.
"Sangat merepotkan sayang," jawab Davin tersenyum.
"Aku tidak akan mengeluh karena kerepotan ini, bagiku, kamu dan putri-putri kita adalah harta paling berharga di hidupku." Davin memandang istri dan kedua anaknya bergantian.
"Kamu tahu, bagaimana bahagianya aku menjadi seorang suami dan ayah saat ini?" tanya Davin mengusap kepala istrinya.
Mellisa tersenyum sambil menggeleng.
"Aku lebih bahagia dari kamu, Mas."
"Aku yang lebih bahagia Mell."
"Aku, Mas."
"Aku, sayang."
"Ih, aku, Mas."
"Kamu lihat wajahku begitu bahagia bukan?"
"Terlebih aku. Kamu tak lihat, Mas?"
Mellisa cemberut karena suaminya tak mau mengalah.
"Bohong, bahagia kok cemberut," goda Davin.
Mellisa tersenyum menahan tawa.
"Terimakasih ya, Mas."
"Sudah menjadi suami yang baik."
"Sudah menjadi ayah yang baik."
Davin tiada henti-hentinya tersenyum melihat istri dan kedua putrinya.
__ADS_1
***