
"Assalamu'alaikum Pak Davin," salam Jeny memasuki ruangan kerja atasannya itu.
"Wa'alaikum salam," sahut Davin dengan senyuman ramah.
Jeny menyerahkan berkas seperti biasa, dia melirik seseorang di sebelah Davin yang menurutnya cukup asing karena tak pernah melihat orang itu sebelumnya. Orang itu tersenyum.
"Selamat pagi," sapanya.
"Pagi," sahut Jeny.
Keduanya saling melempar senyum.
"Kamu bisa meninggalkan ruangan ini sekarang, Jen."
"Baik Pak. Oh iya bos besar mengatakan berkas itu harus dilengkapi siang ini, ditunggu sampai jam 1."
"Ok. Aku akan mengabarimu."
"Baik, Pak."
Jeny meninggalkan ruangan Davin.
"Anton," panggil Davin pada asisten barunya.
"Iya, Pak," sahut asistennya itu.
"Ayo kita selesaikan sekarang."
"Baik, Pak."
Davin dan Anton bekerjasama menyelesaikan pekerjaan mereka.
Sesekali Davin memberi kesempatan pada Anton untuk mengasah kemampuannya.
"Aku tidak salah menerimamu menjadi asistenku. Kamu pintar," puji Davin pada Anton.
"Terimakasih Pak Davin. Anda berlebihan."
Siang hari jam istirahat kerja.
Mellisa hendak memasuki ruangan kerja suaminya, namun sebelumnya langkahnya terhenti karena seseorang menyapanya.
"Siang, Bu Mellisa," sapa Jeny.
Mellisa menoleh, dilihatnya Jeny yang sedang tersenyum kepadanya. Dia membalas senyuman Jeny.
"Siang juga Jen. Bagaimana kabarmu?" tanya Mellisa merasa dia harus basa-basi.
"Baik, Bu. Bu Mellisa sendiri bagaimana kabarnya? dua putri kecil sudah bisa apa sekarang Bu?"
"Baik, mereka sudah bisa tengkurap oh lucu dan menggemaskannya mereka."
"Bolehkah kapan-kapan aku berkunjung?"
"Silahkan, Jen."
Mellisa hendak masuk, namun lagi-lagi Jeny menyela.
"Bu Mellisa, bolehkah saya izin masuk bersama anda?"
Mellisa tak menjawab.
"Bukan apa-apa Bu, saya hanya akan mengambil tugas saya."
Mellisa mengangguk.
Mellisa dan Jeny memasuki ruangan.
"Ayah," sapa Mellisa nampak senang.
Davin menoleh istrinya.
"Bunda sudah sampai."
Mellisa menghampiri suaminya, diliriknya orang baru di samping suaminya yang belum pernah Mellisa lihat.
"Siang, Bu." Anton menyapa istri bosnya itu.
"Dia asisten baruku," ucap Davin melihat istrinya tak menyahut.
__ADS_1
"Oh. Siang."
Davin menyerahkan tugas pada Jeny agar Jeny segera meninggalkan ruangan, dia sudah tak sabar makan siang bersama istrinya.
Tanpa dikomando Anton pun mengerti, dia permisi pergi keluar dari ruangan bosnya.
"Tinggal kita berdua sayang," ucap Davin melirik istrinya dengan tatapan manja.
Mellisa tersenyum sambil menyiapkan makanan yang dibawanya tadi untuk sang suami.
Davin makan dengan lahapnya.
"Bagaimana Rosy dan Jasmine di rumah, Bun?"
"Mereka semakin pintar Ayah. Sudah mulai tengkurap. Sepulang nanti Ayah akan melihatnya dengan gemas."
"Tentu saja, mereka kan putri-putri Ayah."
Davin menyuapi istrinya, Mellisa menurut saja. Sudah lama setelah kelahiran kedua putri mereka tak pernah ada momen santai berdua seperti saat ini.
"Bunda," panggil Davin masih menyuapi sang istri.
"Kenapa, Yah?"
"Sudah boleh melakukan itu belum?"
Mellisa mengerutkan alis, oh suaminya sudah sangat rindu rupanya.
Mellisa mengangguk pelan, membuat Davin bersemangat.
"Bunda pulang dulu ya? Kasihan Rosy dan Jasmine. Ayah tidak lembur kan, Bunda akan bersiap," ucap Mellisa mengerdipkan sebelah matanya pada sang suami.
Davin yang sudah sangat berhasrat malah mendekat dan menerkam bibir istrinya penuh nafsu.
Mellisa tak membiarkan suaminya berlama-lama menciumnya karena dia harus pulang.
"Bunda pulang ya."
"Baiklah."
Mellisa menyalami tangan suaminya dan bergegas pulang.
***
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Talita ke depan untuk membukanya.
"Assalamu'alaikum, Ta," salam Mellisa setelah adiknya membukakan pintu.
"Wa'alaikum salam, Kak. Kirain mau nemenin Kak Davin," sahut Talita lalu melangkah bersama kakaknya.
Mellisa sempat menunduk malu meski itu adalah adiknya yang menegur.
"Dimana para keponakanmu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sedang tidur." Talita berlalu karena akan beres-beres rumah.
Mellisa menuju kamarnya dan akan melihat putri-putrinya.
Mellisa tak hentinya tersenyum melihat kedua putrinya yang tengah terlelap. Mereka saat ini memang sering tidur tapi tunggu beberapa bulan lagi, pasti menggemaskan dengan banyak tingkah mereka yang semakin aktif, pikir Mellisa.
Sore hari.
Seperti janji Davin pada istrinya, dia akan pulang cepat dan tak akan lembur kerja.
"Sayang," panggil Davin memeluk Mellisa dari belakang.
Tak sengaja Talita melihatnya, dia langsung bergegas pergi sebelum kakak dan kakak iparnya menyadari.
"Mandi dulu sana, Ayah bau tahu," ucap Mellisa sambil menutup hidungnya membuat Davin gemas, dia malah memeluknya semakin erat.
"Biarin."
"Ayah!" kesal Mellisa karena dia merasa kebauan, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Iya. Ayah mandi dulu ya lalu bunda bersiap." Davin melepas pelukannya dan bergegas ke kamar mandi.
Mellisa menggelengkan kepalanya. Dia membayangkan cukup takut juga melakukannya setelah dia melahirkan.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Davin kembali menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Ayo Ayah, kita makan malam," ajak Mellisa.
"Kenapa harus makan dulu?" tanya Davin tak sabar.
"Memangnya Ayah tidak lapar, aku kan lapar," terang Mellisa lalu meninggalkan kamar disusul Davin yang akhirnya ikut makan malam.
Mereka sekeluarga penghuni apartemen sedang makan malam bersama.
Sesekali Davin mencuri pandang sang istri yang tengah asik memakan. Mellisa tak menyadari karena saking lahapnya dia makan, bagaimana tidak. Dia menyusui tidak hanya 1 bahkan 2 bayi tentu saja dia akan sering lapar.
Ibu hanya tersenyum melihat tingkah putri sulung dan menantunya.
Sementara Talita merasa iri juga melihat kedua pasangan suami istri di hadapannya itu setiap hari.
Dia membayangkan tengah makan malam bersama Andika.
'Ah kenapa rasanya lama ya menunggu Andika,' batinnya.
***
Mellisa menyusui kedua putrinya walaupun belum bangun, karena dia merasa sudah 2 jam lebih putri-putrinya belum menyusu setelah menyusu yang terakhir tadi.
Davin memperhatikan istrinya tanpa membantunya karena salah satu atau keduanya tak ada yang rewel.
Namun tak disangka, setelah mereka selesai menyusu, keduanya malah terbangun.
Jasmine mengoceh seperti biasa, sedangkan Rosy merengek ingin digendong. Sang bunda langsung menggendong Rosy.
Davin tidak kecewa sedikitpun, karena dia memang belum bermain dengan kedua putrinya setelah pulang kerja.
Davin menghampiri istri dan kedua putrinya.
"Jasmine," panggil sang Ayah dengan gemas.
Mellisa tersenyum.
Benar juga kata bunda mereka kalau ayah pasti akan gemas melihatnya, dengan seksama orang tua si kembar memperhatikan cara bayi mereka tengkurap.
Sesekali Davin tertawa karena putrinya yang satu tak dapat kembali telentang.
"Walaupun kembar, tetapi kemampuan mereka berbeda ya, Bun."
"Iya, Ayah. Tapi di masa depan Ayah harus ingat jangan pernah membandingkan mereka satu sama lain, mereka punya ciri khas masing-masing."
"Iya, Bun."
Sementara di Kamar Talita yang sedang tidur bersama ibunya.
Talita terjaga, dia melihat ibunya yang masih terlelap. Dilihatnya jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 01.00 wib.
"Hah, kenapa malam begitu panjang," gumamnya.
Talita beranjak dari tempat tidur lalu menuju ke dapur untuk minum karena dia merasa haus.
Dia mendengar di balik pintu kamar kakaknya yang tengah bercanda dengan bayi-bayi mungil mereka.
Lagi-lagi dia membayangkan akan seperti kakak dan kakak iparnya nanti setelah bersama Andika.
Talita tersenyum sendiri membayangkannya.
Tiada kata lain selain bahagia, pikirnya.
Setelah selesai dari dapur, Talita ke kamarnya untuk istirahat kembali, namun dia tak dapat tidur.
Ponselnya berbunyi. Talita segera mengambilnya dan melihat siapa yang mengganggunya malam-malam begini.
"Selamat malam sayang, ma'af baru mengabari. Aku baru saja pulang lembur," ucap Andika di dalam chat WA.
"Memangnya tidak bisa dilanjut besok, ini terlalu malam."
"Aku ingin cepat selesai dan kembali."
"Tapi tetap jaga kesehatan ya."
"Baiklah. Aku sangat merindukanmu, Ta."
"Aku juga."
"Ya sudah. Ayo kita istirahat."
__ADS_1
"Ya."
***