Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 52 Terharu


__ADS_3

Setelah mengantar Rosy dan Jasmine ke sekolah, Mellisa kembali lagi ke kediaman Andika.


"Ibu, apakah hari ini lebih baik?" tanya Mellisa sambil memijit kaki ibu yang tengah santai berbaring di tempat tidur.


"Kamu peduli sama Ibu, Mell."


"Ibu, apa yang Ibu pikirkan, aku dan Talita sangat peduli sama Ibu, kami sangat menyayangi ibu."


Ibu lagi-lagi berkaca-kaca, setelah kemarin Talita merawatnya dengan baik, kini Mellisa pun demikian.


Sungguh ibu sangat bersyukur memiliki dua putri yang baik dan menyayanginya.


"Demam Ibu sudah turun, Mell. Kenapa Ibu masih lemas saja ya?"


"Ibu hanya kelelahan. Kami semua menyayangi Ibu, jika Ibu menyayangi kami juga, tolonglah, Bu. Sayangi diri Ibu sendiri." Mellisa masih terus memijit.


"Ibu hanya perlu menyayangi kami, Ibu tidak boleh lelah." Mellisa langsung memeluk ibunya.


Tiada sangka jantung ibu lemah, Mellisa dan juga Talita selalu menjaga perasaan ibu dan juga kesehatannya.


Dahulu ibunya masih tangguh ketika menghadapi permasalahan Mellisa dengan Davin.


Namun semakin lama ibu semakin tua, kelelahan saja membuatnya lemah, tentu Mellisa dan Talita akan semakin hati-hati menjaga sang ibu.


"Aku pamit pulang, Bu. Aku akan bersih-bersih rumah, nanti setelah menjemput anak-anak kami akan mampir ke sini lagi."


"Kamu hati-hati di jalan."


Mellisa menyalami ibu dan meninggalkan rumah itu.


"Jaga ibu baik-baik, Dek," ucap Mellisa pada adiknya sebelum pergi.


"Siap, Kak."


Ibu melihat Mellisa yang semakin jauh lalu menatap Talita yang di sebelahnya.


Ibu nampak berkaca-kaca. Dia langsung memeluk putri bungsunya itu.


***


Mellisa membuka pintu rumah dengan santai, dia langsung duduk di sofa ruang tamu sebelum berniat beberes rumah.


"Sayang," panggil seseorang di sebelahnya.


"Ayah!" kaget Mellisa.


"Bunda tidak melihat Ayah sama sekali."


"Ini masih jam kerja, kenapa Ayah di rumah?"


Davin diam sejenak, dia mau menjawab apa atas pertanyaan sang istri.


"Ayah hanya merindukan Bunda." Davin mendekati istrinya.


"Kalau begitu... ."


Mellisa tersenyum genit.


Davin tak menyangka sang istri akan menanggapinya, dia sendiri bingung akan menjawab apa lagi jika Mellisa bertanya lagi.


"Ayo, Bunda," ajak Davin menarik lengan istrinya.


"Ayok." Mellisa menurut.


Mereka berjalan ke arah kamar, namun sebelum sampai, Mellisa membelokkan langkah mereka ke dapur.


"Bunda." Davin mengerutkan alis.


"Ayo." Mellisa tersenyum genit lagi.


"Di dapur?"


"Iya."

__ADS_1


Davin hampir tak percaya, Mellisa memberikannya alat pel dan sapu.


Davin malu sendiri memikirkannya, ah Mellisa mengerjainya rupanya.


"Rumah ini kotor, ayo kita bersih-bersih."


"Iya."


Davin sangat jarang bersih-bersih rumah, karena dia memang tak ada waktu melakukannya. Namun kali ini Mellisa memberinya kesempatan ini.


"Nanti ada bonus buat Ayah," bisik Mellisa lalu mulai mengepel lantai.


Davin menjadi bersemangat.


Mereka mulai mengepel dari sisi yang satu ke sisi yang lain.


Tak kalah tawa keduanya menggelegar, mereka menikmati suasana berdua mereka yang langka sambil beberes rumah.


'Ternyata melelahkan juga,' batin Davin.


"Apa Ayah sudah lelah?" ledek Mellisa.


"Tidak, ayo lanjut lagi."


Mellisa mengajak suaminya beres-beres dapur dan memasak.


"Ayah hanya melihat saja ya, Ayah tidak bisa."


"Apa mengupas bawangpun tak bisa?" Mellisa cemberut.


"Bisa." Davin memaksakan diri.


Belum lama, Davin sudah berkaca-kaca, bukan karena ingin menangis tapi karena irisan bawang itu membuat terasa pedas di mata ternyata.


'Inikah seorang ibu rumah tangga,' batin Davin.


Davin melihat sang istri yang tengah sibuk memasak, semakin lama dia melihat semakin kagum dia akan kehadiran perempuan dalam hidupnya.


Perempuan selalu hebat dalam segala hal, terutama di ranjang. Ups.


"Kenapa melihat Bunda seperti itu?" tanya Mellisa menyadari suaminya tengah memperhatikannya.


"Tidak, Bunda. Ayah hanya tidak sabar." Ups Davin malah kelepasan bicara.


"Apa?" Mellisa menutup dadanya dengan tangan.


Mellisa menyadari dia terlihat seksi, bahkan dadanya menonjol tentu saja memancing hasrat sang suami.


Setelah selesai memasak, Mellisa mengajak suaminya membersihkan kamar mandi.


Lagi-lagi Davin tak kuasa menahan, apakah istrinya melakukannya dengan sengaja.


"Bolehkah sekarang, Bunda," pinta Davin sambil membelai punggung Mellisa.


"Ayah sebentar lagi selesai, kita harus mandi lalu menjemput Rosy dan Jasmine," tolak Mellisa.


"Mandi bersama kan." Davin bersemangat.


Mellisa melirik suaminya dan mengangguk.


***


"Ayah, Bunda. Kalian menjemput kami." Rosy dan Jasmine keluar dari pintu gerbang sekolah dengan girang.


"Putri-putri Ayah, sini sayang." Davin memeluk kedua putrinya.


"Kalian sebagai orangtua pasti bangga, mereka cantik dan pintar," puji pak guru.


"Ah Pak Hilmi bisa saja ya," ucap Rosy malu-malu.


"Apakah anda wali kelas mereka?" tanya Davin ramah.


Hilmi mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kami titip putri-putri kami, jewer saja telinga mereka jika mereka nakal."


"Tentu saja."


Tawa menggelegar diantara mereka. Dalam senyuman Hilmi memperhatikan Mellisa yang tertawa.


'Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya,' batin Hilmi.


Sekilas dalam wajah Mellisa saat kini terbayang oleh Hilmi nampak imut seakan kembali ke masa kecil mereka.


Tak ada yang menyadari jika Hilmi menyimpan rasa ini selain dirinya sendiri, Mellisa pun telah melupakannya bahkan tidak mengenalinya.


"Pak Guru, Terimakasih atas segalanya. Kami izin pulang," ucap Mellisa tersenyum manis, Davin yang melihatnya juga hampir cemburu, kalau saja bukan kepada wali kelas Rosy dan Jasmine, mungkin Mellisa sudah dimarahinya.


"Pak Hilmi, kami pamit pulang." Rosy dan Jasmine menyalami wali kelasnya itu.


Hilmi. Mellisa terdiam sejenak mendengarnya, mungkin kedua putrinya sering memanggilnya seperti itu, namun Mellisa baru ngeh, nama wali kelas kedua putrinya adalah Hilmi.


Davin menggandeng tangan Mellisa dan mengiringi Rosy dan Jasmine masuk ke mobil.


Sesekali Mellisa menoleh ke belakang untuk melihat Hilmi, Hilmi nampak tersenyum dan melambaikan tangannya.


'Apakah aku dan pak guru itu pernah bertemu sebelumnya? Kenapa rasanya tidak asing?' batin Mellisa.


Semakin Mellisa memikirkannya, dia semakin pusing, ah Mellisa tidak mengingat apapun.


***


"Nenek," panggil Rosy dan Jasmine bersamaan. Mereka mendekati sang nenek yang hari ini nampak lebih baik, tentu saja mereka langsung memeluk sang nenek.


"Cucu-cucu nenek sudah pulang sekolah, bagaimana tadi di sekolah?" tanya nenek masih memeluk keduanya.


"Membosankan," jawab Jasmine.


"Aku suka belajar di sekolah, itu sangat menyenangkan," jawab Rosy lain lagi.


"Kalian berdua kembar tapi tidak sama." Nenek melepas pelukan mereka.


"Jasmine," panggil nenek.


"Iya, Nek," sahut Jasmine.


"Kenapa membosankan?" tanya nenek membelai rambut Jasmine, yang dibelai langsung bersandar di dada sang nenek.


"Iya, Nek. Di sekolah belajar, di rumah belajar, aku bosan."


Davin dan Mellisa ikut mendengarnya dan terkekeh. Ada-ada saja Jasmine ini, seusia mereka memang harus belajar, dia ingin apa sebenarnya?


"Sayang, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?" Davin mendekati ketiganya.


"Sungguh?" Jasmine tak percaya.


"Iyakah, Ayah?" Rosy ikut tak percaya.


Davin mengangguk.


"Yeah!" girang kedua putri kembar.


Sementara mereka bercanda ria menemani nenek, Mellisa membantu Talita di dapur menyiapkan makan malam.


Setelah selesai, semua anggota di rumah dipanggil untuk makan malam.


Suasana yang pasti membuat keluarga yang lain iri, mereka hidup bersama tanpa berselisih.


Tak terasa, untuk yang kesekian kalinya. Inayah, ibu sekaligus nenek di keluarga ini nampak berkaca-kaca, dia terharu melihat pemandangan di depan matanya saat ini.


Makan malam terasa nikmat walaupun hanya menu sederhana.


Setelah selesai, Davin beserta istri dan anaknya pamit pulang.


"Kami akan selalu menyayangi Nenek."


"Iya. Hati-hati di jalan ya?"

__ADS_1


***


__ADS_2