
Davin merasa lebih baik hari ini, dia memutuskan untuk berangkat kerja.
"Ayah yakin?" tanya Mellisa seperti belum rela suaminya pergi.
"Iya, Bunda. Ayah janji akan pulang cepat," jawab Davin namun tetap membuat Mellisa cemberut.
Davin menatap istrinya yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa?" tanya Davin lagi.
Mellisa tak menjawab, malah memeluk sang suami dengan erat.
"Ayah tahu, Ayah janji nanti malam ya?"
Mellisa memelototi suaminya lalu mencubit perut sang suami.
Davin malah terkekeh dan hendak melepas pelukan sang istri.
Bukannya melepaskan, Mellisa malah semakin erat memeluknya.
"Sayang... Ayah harus bekerja."
"Ikut." Mellisa menjadi manja.
Davin menggelengkan kepala. Dia mengingat kembali dulu Mellisa tak mau bersamanya bahkan tidur pun tak mau sekamar. Kenapa sekarang begitu lengket? baru seminggu dia bekerja full namun sudah membuat Mellisa begitu.
"Ya sudah. Ayo."
Mellisa tersenyum senang.
Mereka keluar dari kamar dan bersiap untuk sarapan terlebih dulu.
"Ayah sama Bunda lama sekali, sedang apa sih di kamar?" tanya Jasmine mengejutkan ayah bundanya.
Davin dan Mellisa saling memandang dan tersenyum.
"Ayah, Bunda!" teriak Jasmine.
"Ih kamu kenapa sih," kesal Rosy yang sedari tadi melihat adiknya.
"Kita sudah lama menunggu Ayah sama Bunda." Jasmine masih nada tinggi.
"Sama orang tua itu harus sopan, tak perlu berteriak-" ucap Rosy lagi.
"Sudah-sudah ayo sarapan lalu kita berangkat," sela Mellisa agar kedua putrinya itu tak berdebat lagi.
Setelah menyelesaikan sarapan, Davin mengantar kedua putrinya ke sekolah.
"Sayang, bisakah lembut jika berbicara dengan orang yang lebih tua," ucap Mellisa menasihati Jasmine, dia memegangi tangan Jasmine.
"Iya, Bunda. Ma'afin aku ya," sahut Jasmine menunduk.
"Bunda sayang sama kalian berdua." Mellisa memeluk kedua putrinya.
Sampai di sekolah.
"Kalian jangan nakal, nurut sama guru kalian." Mellisa menasihati kedua putrinya.
"Iya, Bunda," sahut mereka kompak.
***
"Siapa bos kalian?" tanya Sonya, putri kesayangan pak Heru, bos besar.
"Pak Davin," jawab Jeny.
Sonya melihat sekeliling, karyawan sudah banyak yang hadir, tapi dimana seseorang yang bernama Davin itu.
"Siapa dari kalian yang bernama Davin?" tanya Sonya lagi.
"Sepertinya pak Davin belum berangkat," jawab Anton.
"Ini bos bukannya menjadi contoh malah datangnya telat," kesal Sonya.
__ADS_1
Tak lama Davin datang bersama istrinya, keduanya dibuat bingung karena karyawan berkerumun, ada apa? siapa yang mengumpulkan mereka?
Sonya melihat sosok orang yang baru saja datang. Dia memperhatikan tampilan laki-laki itu yang nampak elegan ditambah ketampanan di wajahnya, membuat Sonya tersenyum karena tertarik. Sedang di sampingnya perempuan yang cukup cantik, pikirnya. Hanya saja tidak memakai pakaian formal, apakah dia karyawan atau bukan.
"Apakah kamu yang bernama Davin?" tanya Sonya nampak anggun.
"Iya, saya. Ma'af anda siapa?" Davin malah tanya balik.
Mellisa memperhatikan perempuan di depannya yang mungkin memimpin kerumunan saat ini. Wanita berkelas yang sangat cantik, pikirnya.
Anton bergegas menghampiri Davin.
"Dia anaknya pak Heru. Nona Sonya," bisiknya.
Davin kaget, itu artinya Sonya adalah atasannya dan dia datang terlambat.
"Oh ma'af Nona Sonya, saya tidak tahu anda datang." Davin berseru minta ma'af dengan lembut membuat istrinya cemberut.
"Seorang bos harus menjadi contoh untuk bawahannya dan lagi apakah kamu tidak mengerti peraturan kantor, kenapa memakai baju seperti itu?" tanya Sonya pada perempuan di samping Davin.
Semua orang melihat ke arah Mellisa, dia menjadi gugup, kenapa jadi seperti ini, kalau saja ada lubang dia ingin langsung masuk dan bersembunyi karena malu.
"Dia istri saya, Nona Sonya. Bukan karyawan kantor," terang Davin.
"Pagi, Nona Sonya. Perkenalkan saya Mellisa." Mellisa menyalami dan berusaha tersenyum.
Sonya tak menyahut bahkan bersikap dingin.
"Semuanya, kembali ke tempat kalian masing-masing dan kamu Davin. Jangan membawa seseorang yang bukan karyawan atau klien ke kantor." Sonya berlalu dengan angkuh.
Mellisa melihatnya dengan jengkel. Apa-apaan dia. Hah memang orang berkelas seperti itukah?
Davin menarik lengan istrinya ke ruangan kerjanya.
"Kenapa ada orang seperti itu? Perempuan pula. Apakah dia tidak takut jika mungkin tidak ada laki-laki yang menyukainya, dasar angkuh, sombong, sok cantik pula." Mellisa mengomel membuat suaminya hanya tersenyum.
"Kenapa Ayah hanya tersenyum, Ayah tidak kesal?" tanya Mellisa cemberut.
"Dan tadi, Ayah begitu lembut dan ramah bicara padanya." Mellisa masih cemberut.
Mellisa tak menjawab.
"Bukannya tadi Bunda mengatakan kalau mungkin tidak ada laki-laki yang menyukainya."
Mellisa melirik sang suami.
"Tapi dia cantik," ucap Mellisa terbayang sejenak dengan sosok Nona Sonya.
"Lalu kenapa kalau dia cantik?" tanya Davin sambil membuka laptopnya.
"Harusnya Bunda bekerja juga di sini supaya bisa mengawasi Ayah."
Davin hanya tersenyum tak menyahut. Dia mulai fokus dengan pekerjaannya.
Mellisa menghembuskan nafas kasar. Dia pikir akan menyenangkan jika ikut suaminya bekerja, namun dia lebih bosan dari bosannya dia di rumah sendirian.
"Ayah."
"Hm."
"Ada Bunda di sini, kenapa Ayah tidak melirik Bunda sedikitpun?"
"Bunda sendiri yang mau ikut. Ayah harus bekerja dengan profesional."
Mellisa kecewa dengan jawaban sang suami.
"Kalau begitu Bunda akan ke sekolah saja, menunggu anak-anak."
Davin tak menyahut.
"Ayah!"
Mellisa semakin kesal.
__ADS_1
"Iya, kabari Ayah kalau sudah sampai di sekolah."
Lagi-lagi Mellisa tidak puas dengan jawaban Davin, seharusnya suaminya itu melarangnya pergi dan tetap menemaninya, hah. Menyebalkan.
'Lihat saja, Ayah akan menyesal,' batinnya.
***
"Dimana berkas yang kuminta? Apa sudah selesai."
"Sudah, Nona Sonya."
Davin menyerahkan berkas yang dimaksud.
"Kamu sudah menikah berapa lama?" tanya Sonya sambil memeriksa berkas itu.
"Kami sudah 8 tahun menikah dan alhamdulillah kami dikaruniai dua putri kembar, saat ini mereka masuk SD," tutur Davin tersenyum.
"Oh."
Setelah selesai memeriksa, Sonya berlalu tanpa pamit.
Davin menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana ada perempuan sombong seperti itu?"
"Siapa? Nona Sonya?" Anton tiba-tiba datang.
Davin mengangguk.
Anton melihat sekeliling ruangan, dia tidak mendapati istri atasannya ada di ruangan tapi enggan bertanya.
"Ayo kita makan siang," ajak Davin berdiri dan hendak berjalan.
"Ma'af Pak Davin, saya sudah ada janji dengan Jeny untuk makan siang di luar," tolak Anton.
Davin melirik Anton dan tersenyum menggoda.
"Apa kalian... ?"
"Bukan apa-apa Pak. Ini hanya makan siang." Anton nampak malu-malu.
***
"Bunda sudah dari tadi di sini?" tanya Rosy langsung memeluk bundanya.
"Iya, sayang."
"Bunda," panggil Jasmine.
"Hm."
"Ayo cepat pulang, tiba-tiba aku lapar," ucap Jasmine berjalan memasuki mobil taksi.
Mellisa menyusul bersama Rosy ke dalam mobil taksi itu.
"Bunda tidak memasak, bagaimana kalau kita makan di restoran saja?" tanya Mellisa pada kedua putrinya.
"Terserah yang penting makan," sahut Jasmine.
Sepanjang perjalanan Mellisa tidak sabar untuk curhat dengan kedua buah hatinya, bagaimana kejadian di kantor.
"Apakah Nona Sonya itu cantik Bunda?" tanya Rosy.
Mellisa mengangguk.
"Bunda jangan khawatir, aku yakin Bunda lebih cantik dari Nona Sonya itu. Ayah tak akan berpaling dari Bunda karena Ayah sangat mencintai Bunda," ucap Jasmine menyemangati bundanya.
Mellisa tersenyum.
"Ah kalian ini berlebihan," sahut Mellisa malu-malu.
"Lagi pula dia sangat sombong, mana mungkin ada laki-laki yang mau dekati dia."
__ADS_1
Kedua putrinya terkekeh. Bundanya rupanya sedang cemburu, melihat wajah sang bunda yang malu-malu ketika mereka puji dan juga menjelek-jelekkan perempuan lain yang baru saja dikenal.
***