Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 14 Hanya Aku di Hatimu ( Kamu di Hatiku)


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Di pagi hari.


Sepeninggal suaminya kerja, seperti biasa Mellisa sibuk untuk melakukan pekerjaan rumah.


"Ah, baru ditinggal suamiku sebentar, aku sudah rindu saja."


Setelah selesai membereskan dapur, kali ini dia sibuk menyapu dan mengepel lantai seluruh rumah.


Mellisa langsung membuka pintu depan setelah semua pekerjaan rumahnya terselesaikan, dia duduk santai di teras sambil menunggu waktu istirahat siang, dia akan ke kantor membawakan makanan untuk suaminya.


Saat makan siang tiba, Mellisa dengan wajah sumringah tentunya menyiapkan bekal makanan untuk suaminya.


"Aku tak sabar mengantarkan makanan ini untuk suamiku."


***


Sesampainya di kantor.


Mellisa bergegas menuju ruangan suaminya.


Sepanjang langkah kakinya ada yang menyapa dari beberapa karyawan yang sudah mengenalinya.


Mellisa menyahutnya dengan ramah.


"Mas," panggil Mellisa ketika baru saja dia sampai ke ruangan kerja suaminya.


"Eh istrinya pak Davin," ucap Jeny nampak kelabakan.


Mellisa melihat Jeny dengan jengkel namun dia sembunyikan di balik wajahnya dengan tersenyum.


Davin menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Mellisa, digandengnya tangan istrinya itu dengan mesra.


"Kamu masak apa?" tanya Davin lalu mengecup kening Mellisa.


"Banyak Mas, ini ada kesukaan kamu juga."


Hati Mellisa berubah senang karena suaminya menyambutnya sesuai apa yang dia harapkan.


Jeny yang melihatnya nampak rikuh tak nyaman, dia ingin keluar ruangan namun bingung untuk berpamitan, karena Davin dan Mellisa yang bertingkah mesra tak menghiraukan kehadirannya.


"Pak Davin, Bu Mellisa, maaf, saya permisi dulu," ucap Jeny berjalan keluar dari ruangan kerja Davin.


Mellisa melihat kepergian Jeny sambil memperhatikan penampilan Jeny yang sedikit berbeda.


"Dia ke ruanganmu untuk apa, Mas?" tanya Mellisa sambil mempersiapkan makanan untuk suaminya.


"Hanya mengantar berkas," jawab Davin lalu sibuk menyantap makanan yang disiapkan sang istri.


"Dia berpakaian terlalu seksi, apa di kantormu boleh begitu, Mas?" tanya Mellisa cemberut, dia membayangkan kalau Jeny pasti cari perhatian suaminya sebelum dia datang.


Davin mencubit bibir istrinya.


"Apa sih, Mas."


"Kenapa?" tanya Davin hendak menyuapi sang istri.


Mellisa menolak.


Davin tetap makan tanpa memperdulikan istrinya yang dilanda cemburu.


Mellisa semakin cemberut, suaminya malah makan bukannya merayu istrinya.


"Sayang," panggil Davin melirik istrinya.


Mellisa tak menyahut. Suaminya memang tampan, juga kaya. Pasti semua karyawati disini menyukainya, pikir Mellisa.


"Hanya aku di hatimu kan, Mas?" tanya Mellisa masih cemberut.


"Dunia terlalu luas sayang, kalau setiap melihat wanita di dekatku kamu selalu cemburu, kamu akan sakit hati sendiri." Davin menghabiskan makanan di depannya.


"Ag!...." Davin bersendawa.


"Makanan dari istriku ini membuatku puas."


Mellisa langsung tertawa melihat suaminya.

__ADS_1


'Ah apa-apaan aku ini, suamiku saja tak menghiraukan perempuan itu, kenapa aku terus memikirkannya,' batin Mellisa.


Davin beranjak dari duduknya menuju pintu dan menguncinya.


Mellisa hanya diam melihat suaminya.


"Tetap di sini, temani aku sampai sore ya," pinta Davin menatap istrinya.


"Mas," panggil Mellisa memeluk suaminya manja.


"Iya sayang, nanti malam saja, aku harus bekerja."


Mellisa mencubit pinggang suaminya.


"Apa sih, Mas." Mellisa nampak malu-malu.


Davin terkekeh melihat istrinya salah tingkah.


"Hanya kamu di hatiku." Davin mengeratkan pelukan mereka.


"Aku mencintaimu, Mas."


"Aku juga mencintaimu."


Mellisa mencium pipi suaminya dan duduk di pangkuannya.


"Aku di sini ya, Mas."


"Kamu yakin?"


Mellisa mengangguk dan memeluk suaminya.


"Ya sudah, terserah kamu."


Davin melanjutkan pekerjaannya dengan semangat, apalagi istrinya mau menemaninya.


Mellisa bermain ponsel sambil sesekali melirik sang suami yang sedang serius dengan laptopnya.


Beberapa saat kemudian ada yang menelfon di ponsel Mellisa.


"Talita."


***


"Iya, Bu," sahut Talita.


"Ibu sudah rindu sama kakakmu."


"Sama Bu, aku juga."


"Ayo telfon kakakmu, barangkali mereka mau ke kampung atau kita saja yang kesana."


Talita mengambil ponselnya dan mulai menelfon.


"Assalamu'alaikum Kak."


"Wa'alaikum salam Dek."


Ibu yang sudah tidak sabar merebut ponsel dari Talita.


"Mell, bagaimana kabarmu?"


"Baik Bu, Ibu dan Talita bagaimana kabarnya, sehat?"


Ibu dan Mellisa berbicara di dalam telfon, sesekali Talita juga mengambil alih ikut bicara dengan kakaknya.


Sampai pada intinya, mereka ingin bertemu.


"Mas, ibu ingin bertemu, bisakah kita ke kampung?" tanya Mellisa.


"Pekerjaanku sepertinya banyak, bagaimana kalau ibu yang ke sini," jawab Davin kembali fokus pada laptopnya.


"Aku kabarin ibu lagi ya."


"Hm."


Sore hari.

__ADS_1


Davin dan Mellisa keluar dari ruangan, setelah Davin menyelesaikan urusan pekerjaan.


Mellisa memeluk lengan suaminya erat, sambil terus menatap sang suami.


Sesekali Davin melirik sang istri sambil tersenyum.


"Nah loh bucin, kan," kekeh Davin.


"Bucin apa sih, Mas?" tanya Mellisa pura-pura tak tahu sambil mencubit lengan sang suami.


"Sore Pak, sudah mau pulang ya?" sapa mereka, para karyawan yang masih di kantor.


"Itu istrinya pak Davin ya? cantik ya? beruntung sekali pak Davin," ucap salah satu dari mereka setelah yang dibicarakan baru saja melintas.


Mellisa yang mendengarnya senyum-senyum sendiri.


"Kenapa?" tanya Davin melihat istrinya.


Mellisa masih terus tersenyum.


"Tak kenapa-kenapa ayo kita pulang."


Sementara dari kejauhan, Jeny melihat Davin dan Mellisa yang terus bermesraan membuatnya jengkel.


Padahal dia sudah berdandan dari pagi buta agar tampil sempurna, memakai pakaian seksi agar Davin tertarik padanya.


Namun ternyata Davin tak meliriknya sedikitpun, bahkan tadi siang bicara padanya tak menoleh sama sekali.


"Sial." Jeny mengepalkan tangannya.


***


"Ayo Talita kamu lama sekali dandannya," ajak ibu tak sabar.


Talita menoleh ke ibunya dan tersenyum nyengir.


"Biar cantik sedikit, Bu," sahut Talita menyelesaikan riasannya.


Ibu hanya menggeleng, putrinya yang satu ini sudah besar rupanya.


"Ayo, Bu," ajak Talita setelah dirinya siap.


Ibu mengangguk.


Sepanjang perjalanan, ibu dan Talita terus membicarakan orang yang mereka tuju.


Walaupun sempat salah faham, ibu merasa bahagia sekarang, rumah tangga putri sulungnya baik-baik saja.


Sesekali ibu juga memikirkan Talita yang kini semakin dewasa.


Ada sedikit kekhawatiran di hati ibu, suatu saat nanti putri bungsunya akan berkeluarga dan ikut suaminya.


'Bagaimana denganku,' batin ibu.


"Ibu," panggil Talita mengagetkan ibu.


"Iya," sahut ibu gugup.


"Ibu kenapa sedih, bukannya kita akan mengunjungi kak Mellisa?"


"Bagaimana kalau kamu juga bernasib seperti kakakmu?"


Talita mengerutkan alis.


"Apa maksud Ibu?"


"Kamu menikah dan ikut suamimu, Ibu akan sendirian."


Talita tersentak.


Dia bahkan belum memikirkan pernikahan, calonnya saja belum punya, bagaimana akan memikirkannya.


Talita malah ikut bersedih melihat ibunya.


"Ibu," panggil Talita memeluk sang ibu.


"Kami berdua sangat menyayangi Ibu, kita akan terus bersama, Talita janji Bu," ucap Talita semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku dan kak Mellisa membiarkan Ibu sendirian, kami sayang Ibu."


***


__ADS_2