Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 15 Hamil


__ADS_3

"Ibu," panggil Mellisa ketika dirinya dan sang suami baru saja sampai telah mendapati ibu dan Talita sudah di apartemen.


Mellisa menyalami sang ibu dan memeluknya.


Tak lama, bahkan Mellisa belum melepas pelukannya, dia terjatuh dan pingsan.


"Mell!" Ibu sangat panik.


"Kakak." Talita mendekati kakaknya.


Davin lebih panik lagi.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang, Bu," ajak Davin membawa istrinya ke mobil.


Dalam perjalanan.


Ibu terus mengoceh memarahi Davin, sebenarnya kenapa Mellisa, kenapa tiba-tiba pingsan.


Davin hanya diam sambil menyetir.


Dia sendiri tak mengerti, dari siang sampai sore Mellisa terus menemaninya, namun Davin melihat Mellisa nampak sehat, bahkan sangat senang sumringah menemaninya, tak ada tanda apapun Mellisa akan kenapa-kenapa.


'Semoga istriku tidak kenapa-kenapa,' batin Davin.


Mellisa baru saja sadar, dia mendapati dirinya sudah berada di sebuah ruangan rumah sakit.


Davin, ibu dan Talita mengerumuninya dan nampak khawatir.


"Dia hanya lapar," ucap dokter.


Mellisa terkekeh sendiri, dia sampai lupa tak makan tadi siang hanya karena terlalu memikirkan Jeny dan ketika bersama suaminya hanya ingin memeluknya tak mau lepas.


"Mamangnya dari tadi belum makan?" tanya ibu melirik Davin.


Davin tercengir, dia mengingat hendak menyuapi Mellisa namun Mellisa menolaknya lalu dia menghabiskan makanan itu sendiri.


"Tapi kenapa aku bisa pingsan ya, Bu. Biasanya kalau sekedar tidak makan siang, aku masih kuat," ucap Mellisa heran, bagaimana mungkin dia selemah itu.


"Sepertinya Ibu Mellisa hamil," ucap dokter tiba-tiba.


Membuat semua mata langsung menuju Mellisa. Mellisa langsung teringat jika dirinya memang terlambat datang bulan.


"Apa?" tanya Davin tak percaya.


"Ini hanya dugaan saja, apakah Ibu Mellisa sudah terlambat datang bulan?" tanya dokter.


"Memang betul, Dok," jawab Mellisa.


Davin nampak tersenyum senang, begitu juga dengan ibu dan Talita.


Ibu menghampiri Mellisa.


"Semoga itu benar Mell. Kamu sedang hamil."


Dokter lalu mengatakan jika dia harus memastikan dugaannya benar atau salah dengan salah satu cara yaitu menggunakan alat tes kehamilan.


Beberapa saat kemudian.


Semua orang berbahagia setelah dokter memastikan bahwa Mellisa memang tengah hamil. Setelah dilakukan tes kehamilan dengan menggunakan tespek.


"Mell." Ibu yang sangat senang memeluk dan menciumi putrinya.


"Aku juga ingin peluk Kakak." Talita mendekati ibu dan kakaknya, merangkul bersama.


"Ibu, Talita. Kapan giliranku," ucap Davin pura-pura cemberut.

__ADS_1


"Ah kamu bisa kapan saja, tapi saat ini Ibu ingin bersamanya," ucap ibu masih memeluk Mellisa.


Davin tersenyum bahagia melihat pemandangan di depannya yang sangat menyejukkan hatinya.


"Aku akan mengabari papa dan mama." Davin lalu menelfon kedua orang tuanya.


***


"Papa!" teriak mama.


"Kenapa Ma?" tanya papa panik.


"Ada kabar baik." Mama memeluk suaminya.


"Ada apa kok bahagia sekali kelihatannya?" tanya papa penasaran.


"Coba tebak."


"Ah Papa menyerah, Papa tidak bisa menebak apa-apa."


"Ih." Mama pura-pura jengkel.


Papa menggelengkan kepalanya, bagaimana dia bisa menebak, apa-apaan istrinya itu, mengajak bermain tebak-tebakan seperti anak kecil, pikirnya.


"Kita akan punya cucu, Pa."


"Alhamdulillah."


Papa mengeratkan pelukan mereka karena terlalu senang.


***


Waktu terasa singkat jika hari dipenuhi kebahagiaan, tak terasa kini usia kandungan Mellisa sudah memasuki 9 bulan.


Davin dan Mellisa siang malam tak pernah berhenti berdo'a, berharap kedua anaknya bisa lahir normal dan selamat beserta ibu keduanya tentunya.


Davin semakin memanjakan istrinya, dia bahkan cuti bekerja supaya bisa menjaga Mellisa, karena kelahiran anak mereka tinggal menghitung hari.


Di tengah malam.


Davin terbangun karena menyadari jika istrinya tidak ada di sampingnya, dia lalu melihat sekeliling kamar namun tak menemukan Mellisa di sana.


Dia lantas beranjak dari tempat tidurnya, dengan masih mengantuk dia mencari keberadaan istrinya di luar kamar.


Di dapur.


"Mas." Mellisa kaget melihat kehadiran suaminya.


"Sedang apa sayang?" tanya Davin menghampiri sang istri. Dipeluknya Mellisa dari belakang dan bersandar di bahu istrinya. Davin memejamkan mata.


"Kalau masih ngantuk, tidur di kamar saja, Mas."


"Tak mau kalau kamu masih di sini."


"Aku hanya lapar."


Davin langsung membuka matanya dan mempersilahkan istrinya untuk duduk.


"Istriku lapar ya." Davin lalu mencari makanan di dalam kulkas.


"Hanya ada buah sayang, bagaimana?"


"Iya, tak apa-apa, Mas."


Davin mengambilkan beberapa buah untuk sang istri. Sambil menyuapi Mellisa, Davin mengomeli istrinya itu jika butuh sesuatu entah itu lapar atau yang lainnya harusnya membangunkannya mengingat saat ini perut Mellisa sudah sangat besar.

__ADS_1


"Iya, Mas. Cerewet," sahut Mellisa tersenyum.


Davin menatap istrinya dengan gemas, sesekali dia mencubit pipi sang istri.


Davin menggendong sang istri ketika Mellisa selesai makan.


"Kok berat ya," keluh Davin.


"Makanya turunin aku, Mas. Aku bisa jalan sendiri kok," pinta Mellisa.


Davin berasa lupa jika istrinya tengah hamil besar dan calon anaknya ada dua.


***


"Pa," panggil mama mendekati suaminya.


Mama memberikan kopi untuk suaminya.


"Iya Ma," sahut papa sambil menyeruput kopi.


"Sebentar lagi kita akan punya cucu," ucap mama semangat.


"Iya Papa tahu," sahut papa datar.


Mama mengambil gelas di tangan papa yang hendak disruput lagi oleh papa.


"Papa kok santai seperti itu sih, tak senang ya?" tanya mama jengkel.


Papa mengambil lagi gelas di tangan istrinya.


"Siapa yang mengatakan kalau Papa tak senang."


Papa memeluk mama sambil menyeruput kopi.


"Papa juga tak sabar menanti kehadiran cucu-cucu kita," ucap papa.


"Bagaimana kalau kita berkunjung lagi," ucap papa lagi, membuat mama langsung mencium pipi suaminya.


"Makasih ya Pa, ayo sekarang mama siap."


Mama menarik tangan suaminya agar bergegas jalan.


Papa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesampainya di apartemen Davin.


"Mama." Mellisa nampak senang melihat mertuanya datang, dia langsung memeluk mama mertuanya.


"Sayang bagaimana kabarmu dan cucu mama?" tanya mama mengelus perut Mellisa.


"Tentu saja sehat, ini juga karena do'a Mama dan Papa," jawab Mellisa dengan sangat senang.


'Ternyata aku sangat beruntung, mempunyai mertua yang sangat baik dan perhatian,' batin Mellisa.


'Dan lebih beruntung lagi, aku mempunyai suami yang super duper sayang sama aku,' ucap Mellisa dalam hati sambil melirik suaminya.


"Mell, Mama bawa banyak oleh-oleh dari kampung, kamu pasti suka."


Mellisa melihat mama mertuanya mengeluarkan barang bawaannya dari kampung.


Tiada kata lain selain "Bahagia" yang selalu Mellisa rasakan.


Siapapun itu pasti akan bahagia, mempunyai keluarga yang saling menyayangi dan perhatian, terlebih perhatian mertua terhadap menantu yang semua orang sangat menginginkannya.


***

__ADS_1


__ADS_2