Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 47 Jodoh


__ADS_3

"Ibu tidak sabar menunggu hari pernikahanmu," ucap Atikah membelai rambut putrinya.


"Aku yang akan menikah, kenapa ibu yang tidak sabar," sahut Jeny menenggelamkan kepalanya pada dada ibunya.


Atikah tersenyum, dia merasa berbahagia untuk putrinya.


Putrinya sudah sangat dewasa, mungkin bila di kampungnya, Jeny sudah mendapat gelar perawan tua.


Sudah lama Atikah tak pulang kampung, dia tinggal di kota karena merasa kesepian juga seperti Jeny, dan putrinya itu meminta untuk tetap tinggal.


"Akhirnya kamu sudah bertemu jodohmu, Nak. Ibu pikir kamu akan menjadi-."


Jeny mengangkat kepalanya dan langsung menyela, dia tak ingin mendengar ibunya mengatakan sesuatu yang lain.


"Bukankah semua sudah ditakdirkan, Bu. Allah sudah menentukan garis kehidupan manusia dan makhluk ciptaannya. Hidup, mati, rezeki, jodoh sudah ditentukan dan diatur oleh Allah."


Atikah tersenyum mendengarnya, seharusnya dialah yang mengatakan itu. Dia memeluk putrinya kembali.


"Ayo kita istirahat," ajak ibunya.


Jeny mengangguk.


Mereka berjalan ke kamar dan segera berbaring di tempat tidur.


***


Pagi hari.


"Pak Heru hari ini datang ke kantor," ucap Anton memperingatkan bermaksud agar Davin lebih mendisiplinkan diri.


"Aku tahu," sahut Davin datar.


Davin lalu bangun dari duduknya dan keluar dari ruangannya.


"Aku selalu bisa mengandalkanmu," ucap pak Heru tiba-tiba.


Davin terkejut, tidak biasanya pak Heru datang ke ruangan bawahannya.


"Ada bonus untukmu, silahkan cek rekeningmu," ucap pak Heru lagi membuat Davin tersenyum.


"Terimakasih, Pak Heru."


"Kamu boleh pulang lebih awal, dari kemarin kamu lembur."


Sorak kegembiraan menghiasi hati Davin, bagaimana tidak, pulang awl dan dapat bonus, huh semuanya terbayarkan bukan.


"Sekali lagi, terimakasih, Pak Heru."


"Hm."


Pak Heru berlalu meninggalkan Davin, Davin pun berbalik lagi ke dalam ruangannya dan berkemas.


Anton yang masih di dalam ruangan memperhatikan bosnya dengan heran.


"Anda mau kemana, Pak Davin?" tanya Anton.


"Tentu saja menjemput istri dan kedua putriku," jawab Davin bersemangat.


"Anda yakin?" Anton ingin memastikan, bukankah nanti akan bermasalah.


"Pak Heru sendiri yang mengatakannya, aku boleh pulang lebih awal," terang Davin.


"Salam untuk mereka ya, Pak. Selamat bersenang-senang," ucap Anton ikut tersenyum melihat bosnya yang begitu bersemangat pulang.


Sepeninggal Davin pergi, Anton juga berlalu dari ruangan Davin. Tentu saja dia akan menuju ke tempat kekasihnya.


Dari kejauhan Jeny sudah tersenyum manis menyambut Anton, sampai akhirnya Anton sampai.


"Apa kamu akan menemaniku di sini?" tanya Jeny senang.

__ADS_1


"Iya honey, lagipula pak Davin sudah pulang, aku tidak ada yang dikerjakan," jawab Anton lalu duduk di samping kekasihnya itu.


Honey, Jeny tersenyum sendiri melihatnya, Anton memang berubah-ubah memanggilnya. Kadang sayang, ay, honey. Hm selalu terdengar manis di telinga.


Jeny fokus kembali bekerja dan Anton selalu membantunya.


Di sela waktu, mereka saling curi pandang, tertawa kecil sampai hampir saja gagal fokus pada pekerjaannya.


"Hey kalian," panggil karyawan di sebelah mereka.


"Iya ma'af Kak."


Jeny jadi malu sendiri sampai karyawan yang lainnya terganggu.


"Tuh diem, jangan berisik," ucap Jeny melirik Anton.


"Kamu yang berisik," sahut Anton mencubit hidung sang kekasih.


"Ih sakit tahu." Jeny pura-pura cemberut.


"Mau lagi." Anton menggoda.


"Bisakah diam saja," kesal Jeny.


"Kamunya juga tak mau diam," sahut Anton terkekeh. Bukannya keduanya sama-sama tak mau diam, kan.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya karyawan di sebelah mereka menegur kembali.


"Iya, ma'af lagi."


Kali ini Jeny sangat malu, dia cemberut dan tak mau menoleh Anton. Dia mengambil alih semua yang Anton kerjakan untuk membantunya.


Anton tersenyum menggoda.


"Aku pulang saja ya, tak ada yang dikerjakan," ucapnya memainkan pulpen.


Jam Istirahat.


"Sudah waktunya makan siang, ayo makan dulu," ajak Anton lalu bangun dari duduknya.


Jeny melirik kekasihnya lalu menunduk kembali.


"Ayo," ajak Anton lagi, dia lalu menarik lengan Jeny hingga Jeny berdiri. Jeny hanya menurut dan mengikuti langkah Anton.


Di kantin perusahaan.


Setelah memesan makanan, Jeny mulai makan, tetapi Anton hanya menatap kekasihnya itu dengan tersenyum.


Jeny yang menyadari hanya sendirian pura-pura cemberut.


"Kenapa tidak makan?" tanya Jeny menatap Anton.


"Sudah kenyang," jawab Anton masih menatap Jeny dalam-dalam.


"Belum makan kenapa tiba-tiba kenyang?" tanya Jeny kesal.


"Karena melihatmu membuatku kenyang," goda Anton.


"Tidak lucu." Jeny cemberut.


Anton mencubit pipi Jeny yang menurutnya menggemaskan, semua yang ada di dalam diri Jeny akan selalu membuatnya gemas.


"Ayo makan!" paksa Jeny.


"Suapin dong," pinta Anton, dia mengerdipkan matanya.


Jeny tersenyum, lucu juga jika Anton seperti itu.


"Kamu cantik kalau tersenyum," puji Anton.

__ADS_1


Jeny menunduk malu, perempuan mana yang tak ingin dipuji walaupun itu hanya sekedar digombali, ups.


Mereka menyelesaikan makan siang mereka dan kembali bekerja.


Jeny merasa senang sepanjang hari, dia akan segera menikah dengan Anton.


Setelah sekian lama, walaupun di usianya yang terlampau dewasa, akhirnya dirinya mendapatkan jodoh tanpa paksaan dan dijodohkan.


Semua berjalan sesuai yang diharapkan, semoga Allah meridhoi keduanya dan menjadikan mereka keluarga yang sakinah.


***


Di Sekolah.


Mellisa baru saja turun dari taksi, mendapati suaminya di depannya dan menyambutnya.


"Ayah di sini," ucap Mellisa heran.


"Ayah akan mengajak kalian jalan-jalan." Davin percaya diri, istrinya pasti akan sangat senang.


"Ayah bolos kerja?" tanya Mellisa kembali heran.


"Bunda tidak senang," ucap Davin lesu.


"Tapi bukan berarti Ayah bolos kerja, bagaimana jika nona Sonya itu marah dan menghukum Ayah lagi," kesal Mellisa.


Ah iya, Mellisa masih cemberut karena hal itu.


"Tidak akan, Bunda. Pak Heru sendiri yang mengizinkan Ayah pulang dan juga bonus," terang Davin bersemangat.


"Bonus?" Mellisa mengerutkan alisnya.


"He.em."


Mellisa tersenyum.


"Ayah yang terbaik."


Beberapa menit kemudian, anak-anak keluar dari pintu gerbang.


Rosy dan Jasmine keluar bersama diiringi seorang pak guru yang akan pulang juga.


"Kalian hati-hati ya," ucap pak Hilmi.


"Iya, Pak Hilmi," sahut Rosy dan Jasmine bersamaan.


Rosy dan Jasmine berjalan ke arah ayah dan bunda mereka.


"Ayah dan Bunda menjemput kami," ucap Rosy girang.


"Iya sayang, ayo kita makan dan jalan-jalan," ajak Davin siap.


"Apa tidak masalah, Ayah tidak bekerja?" tanya Jasmine ragu.


Iya, anak SD saja ragu, bagaimana ayahnya mengajak bersenang-senang di jam kerja, bukankah itu bolos kerja, kan.Hm.


"Hari ini spesial untuk kalian semua." Davin lalu mengajak istri dan anaknya ke dalam mobil.


Keluarga kecil itu telah berlalu.


Dari kejauhan Hilmi telah memperhatikan, itu pasti Mellisa, pikirnya.


Kemarin dia bertemu ibu Inayah yang menjemput cucu-cucunya, dan yang barusan jelas adalah Mellisa.


Mellisa tak menoleh ke arahnya sedikitpun, yah itu sudah bertahun-tahun, mana mungkin Mellisa masih mengenalinya.


Tiba-tiba Hilmi teringat masa kecilnya bersama Mellisa, dia tersenyum dan merindukan semua itu.


***

__ADS_1


__ADS_2