Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 70 Pinta Ibu


__ADS_3

Sampai di rumah.


Mellisa dan kedua putrinya makan siang terlebih dahulu sebelum akhirnya bersantai sambil nonton tivi.


Waktu terus berjalan hingga sore, Mellisa lupa tidak menengok ponselnya karena terlalu asik bermain dengan kedua buah hatinya.


Sambil bersantai Mellisa menengok pesan dari Talita, dia segera mengajak Rosy dan Jasmine menengok nenek dan tante mereka.


Tepat ketika mereka membuka pintu untuk keluar meninggalkan rumah, Davin juga hendak masuk rumah.


Semua berpapasan di pintu, Mellisa berpapasan dengan wajah Davin, tanpa meminta izin Davin langsung mencuri cium bibir Mellisa.


"Hey, kalian tidak sopan!" tegur Jasmine yang melihat langsung apa yang barusan.


"Ih, Ayah apaan sih," kesal Mellisa, didorongnya dada sang suami hingga menjauh.


"Kalian mau kemana, rapi sekali?" tanya Davin.


"Ayo Ayah kita akan mengunjungi nenek dan tante," jawab Rosy langsung mengajak sang ayah kembali lagi ke mobil.


"Ayah belum mandi."


"Nanti saja."


Davin cemberut merasa tidak percaya diri karena belum mandi.


"Wajahnya jangan seperti itu, jelek," ejek Mellisa melirik sang suami.


Rosy dan Jasmine terkekeh.


Davin yang sempat kesal menjadi tersenyum melihat mereka tidak mengabaikannya lagi.


"Kalian sudah tidak marah kan sama Ayah?" Davin melihat mereka satu persatu.


"Ih Ayah, aku lupa." Rosy menjadi cemberut.


"Aku juga lupa, bagaimanapun Ayah adalah Ayah, mana mungkin kami marah," ucap Jasmine tersenyum.


"Sekali lagi, Ayah minta ma'af, sayang."


"Iya, Ayah." Akhirnya Rosy tersenyum.


"Aku tidak mau Ayah seperti itu lagi." Jasmine memperingatkan.


"Ayah janji."


"Ok."


Mereka segera bergegas ke rumah sakit dimana Talita dan ibu dirawat.


Sesampainya di rumah sakit, sungguh mengejutkan mereka.


"Ma'af pasien atas nama ibu Inayah dan ibu Talita baru saja pulang," ucap resepsionist rumah sakit.


"Oh. Terimakasih infonya ya."


Davin merasa ada yang aneh, dia mempertanyakan kembali pada Mellisa tentang pesan Talita.


"Talita sendiri yang kirim pesan ada di rumah sakit, Yah."


"Oke. Kita ke rumah mereka saja."


Sebenarnya Davin cukup lelah, ingin rasanya dia rebahan di rumah, namun pasti istrinya tidak mau diajak pulang sebelum bertemu ibu.


"Iya, Ayah."


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan kembali ke kediaman Andika.


Sesampainya di kediaman Andika.

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamu'alaikum," salam Davin sekeluarga.


"Wa'alaikum salam," sahut Andika lalu membukakan pintu.


"Hay Om," sapa Rosy dan Jasmine.


"Hay ponakan-ponakan Om yang cantik," balas Andika memaksakan senyum, sebenernya dirinya tidak menginginkan kehadiran mereka.


Andika mempersilahkan mereka masuk.


Tanpa bertanya, Rosy dan Jasmine langsung ke kamar nenek mereka.


"Nenek," panggil Jasmine menghampiri, dia langsung memeluk sang nenek.


"Nek." Rosy juga mendekat memeluk sang nenek.


"Cucu-cucu Nenek yang cantik, kalian kapan sampai?" tanya nenek berusaha tersenyum. Tentu saja, sang nenek tidak ingin dirinya terlihat lesu lunglai di depan cucu-cucunya itu.


Davin dan Mellisa baru saja sampai di kamar ibu, mereka menghampiri ibu yang masih memeluk kedua cucunya.


"Kenapa Ibu sudah pulang? Ibu nampak belum pulih?" tanya Mellisa sambil memegang tangan sang ibu yang terasa hangat.


Raut wajah ibu juga nampak lesu dan pucat, Mellisa melihat bahwa ibu belum benar-benar pulih, kenapa sudah pulang?


"Kak Davin, Kak Mellisa. Ini minumannya silahkan diminum." Talita muncul bersama Andika.


Mellisa menoleh Talita yang juga nampak pucat.


"Sejak kapan kalian sakit?" tanya Mellisa merasa kasihan pada adiknya itu, Talita juga tengah hamil seharusnya dia harus tetap sehat dan ibu pun seharusnya juga harus tetap sehat dan bahagia.


"Dari kemarin, Kak," jawab Talita tersenyum, Mellisa sangat tahu itu senyum yang dipaksakan.


"Ibu, Talita, kalian belum benar-benar pulih, kenapa buru-buru pulang, harusnya masih dirawat di rumah sakit kan?"


"Ibu memaksa pulang Kak. Ibu ingin di rumah."


"Kamu sendiri, bagaimana denganmu?"


"Aku baik-baik saja, Kak. Lihatlah aku baik-baik saja kan."


Mellisa tiba-tiba memeluk Talita dan menangis.


"Aku baik-baik saja, Kak. Jangan menangis."


"Kakak menyayangimu dan juga Ibu."


Ibu juga Rosy dan Jasmine melihat mereka sambil tersenyum.


Mellisa mengingat terakhir kali Andika bicara di telfon, 'beban.' Dia menoleh Andika yang sedari tadi hanya diam.


"Dika," panggil Mellisa.


Andika memalingkan wajahnya tak menyahut.


"Ada apa denganmu? Kakak iparmu memanggilmu," ucap Davin menepuk pundak Andika.


"Apa kalian sudah selesai, kalian bisa pulang." Andika nampak dingin.


"Kamu!" Tentu saja Davin marah.


Keduanya saling berhadapan dan saling menatap tajam.


"Mas."

__ADS_1


"Ayah."


Talita dan Mellisa mencoba menghentikan mereka.


"Orang dewasa nampak bodoh, apakah kalian akan bertengkar? Nenek sedang sakit." Jasmine menjadi geram.


Semua orang tersentak, tentu saja heran karena Jasmine terlalu berani berkata tanpa berfikir terlebih dahulu.


"Apa-apaan kamu, Jasmine," ucap Mellisa dengan nada agak tinggi.


Entah apa yang ibu pikirkan, melihat ini tiba-tiba ibu meneteskan air mata.


"Tidak. Ibu jangan menangis," ucap Mellisa sambil bersimpuh diikuti oleh sang adik.


"Ibu, ini hanya salah faham, kami semua baik-baik saja," ucap Talita menimpali.


Davin dan Andika masih berdiri namun saling memalingkan wajah mereka.


Mellisa dan Talita memberi kode pada suami mereka agar ikut bersimpuh.


"Ibu. Kami minta ma'af."


"Ibu merasa semakin tua, ibu tidak menginginkan apa-apa selain kebahagiaan kalian. Ibu minta kalian baik-baik saja sebelum Ibu pergi."


"Ibu jangan berkata yang seperti itu, kami akan selalu baik-baik saja bersama Ibu."


Semua mengkondisikan perasaan mereka masing-masing untuk menenangkan perasaan ibu.


"Ibu sudah makan?" tanya Mellisa.


Ibu menggeleng.


"Akan kubuatkan bubur untuk ibu." Mellisa berlalu ke dapur.


"Kalian jagain Nenek ya," ucap Davin meminta kedua putrinya untuk tetap tinggal.


Sementara Davin sendiri keluar dari kamar ibu, diiringi oleh Andika.


Mereka duduk di sofa ruang tamu. Keduanya hening pada awalnya, baik Davin maupun Andika tak ada yang bicara sampai akhirnya Davin lah yang memulai.


"Ada apa denganmu? Apa kami punya kesalahan?"


"Pikirkan saja sendiri."


"Dika, kami tidak pernah melakukan kesalahan apapun, kenapa kamu marah-marah?"


"Kak Davin pikir kenapa ibu dan Talita bisa sakit?"


"Memangnya kenapa?"


"Karena memikirkan kalian, apapun permasalahan kalian, tidak bisakah kalian menutupi agar ibu dan Talita tidak mengetahuinya."


Davin cukup terkejut, dia mengingat sebelum ini, ibu melihatnya memarahi Rosy dan Jasmine.


"Apa Ibu mengatakan sesuatu?"


"Kak Davin! Kakak memarahi Rosy dan Jasmine karena Hilmi, masa kecil istrimu. Ibu tidak henti-hentinya melamun dan malas makan, Talita bahkan tidak bisa tidur karena memikirkannya. Kakak tahu itu sangat tidak bagus untuk perempuan yang tengah hamil."


Davin terdiam sejenak, sebegitukah rasa sayang ibu dan Talita pada Mellisa.


"Ma'af."


"Aku berharap kedepannya kalian tidak seperti itu lagi jika sedang ada Talita dan ibu."


"Oke. Aku berjanji, ma'af Dika. Kakak benar-benar tidak tahu."


"Iya."


***

__ADS_1


__ADS_2