Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 18 Nakal


__ADS_3

Davin sangat bersemangat hari ini, baru pertama masuk setelah libur pekerjaannya begitu menumpuk namun tak membuatnya bosan atau lelah.


Sesekali Davin mengirim pesan WA kepada istrinya di sela-sela waktunya.


Davin tersenyum setiap kali melihat wallpaper handphone yang bergambar keluarga kecilnya membuatnya semakin bersemangat dalam bekerja.


"Davin," panggil seseorang di depan pintu ruangan kerjanya.


"Masuk." Davin mempersilahkan orang itu ke dalam ruangannya.


"Ini berkas yang harus kamu selesaikan hari ini," ucap Jeny menyerahkan tumpukan kertas-kertas dalam beberapa map.


"Taruh saja di situ," suruh Davin tanpa melihat Jeny sedikitpun.


Jeny nampak kesal, dia mendekati Davin dan mencoba merayunya.


"Kamu nampak lelah, aku pijitin ya." Jeny menyentuh pundak Davin dan hendak memijitnya.


"Kamu bisa keluar sekarang," usir Davin masih fokus dengan pekerjaannya.


'Aku kan sudah seksi begini,' batin Jeny.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Jeny mencoba merayu.


"Kamu bisa keluar sekarang!" sentak Davin dengan nada cukup tinggi.


"Kamu berubah Davin," kesal Jeny menggebrakkan meja.


"Hey!" Davin marah dan berdiri memelototi Jeny.


"Kamu tak pernah menyapaku walaupun melihatku, kita jadi jarang bicara, kita tak pernah tak pernah ke kantin sekedar makan siang bersama seperti dulu, kenapa?"


Davin diam sejenak, semenjak menikah memang dia menghiraukan Jeny karena dia pikir Jeny hanyalah teman sekantornya saja tak ada perasaan lebih. Dia lebih fokus dengan rumah tangganya terlebih saat ini keluarga kecilnya sudah lengkap, sudah ada dua putri kecil kesayangannya.


"Kupikir kamulah yang berubah, kenapa sekarang merubah penampilan menjadi seperti ini, kamu bukan Jeny yang dulu yang pernah kukenal, kamu nampak nakal dan kecentilan karena penampilanmu itu."


Jeny tersentak.


'Nakal,' batinnya.


Dengan perasaan kesal, Jeny keluar dari ruangan kerja Davin sambil menangis. Dia berpapasan dengan seseorang di pintu ruangan.


"Assalamu'alaikum astaghfirullahal adzim." Andika menutup matanya dengan kedua tangannya ketika melihat Jeny keluar.


Jeny melihat orang yang di depannya itu dengan penuh amarah.


"Ada perempuan nakal," ucap Andika lirih namun Jeny tentu saja mendengarnya karena jarak mereka yang masih dekat.


Jeny berlalu dengan kesal.


"Wa'alaikum salam."


"Kak Davin," panggil Andika mendekati kakak sepupunya.


"Hm," sahut Davin.


"Hayo Kak Davin apakan itu perempuan sampai menangis?" tanya Andika selidik.


"Menurutmu," jawab Davin melirik Andika.


"Jangan macam-macam ya Kak!" Andika nampak serius.

__ADS_1


Davin menyentil kening adik sepupunya itu.


"Aw!" Andika mengelus keningnya.


Andika hanya mengangguk-angguk saja ketika mendengar penjelasan kaka sepupunya itu mengenai Jeny.


"Kamu kapan kembali ke sebrang?" tanya Davin.


"Aku mau di sini sajalah," jawab Andika santai.


"Aku resign dari pekerjaanku," ucap Andika lagi.


"Bukannya kamu sudah punya rumah di sana?"


"Iya sih, tapi lebih baik di sini dulu mencari jodoh."


Davin tertawa mendengar adik sepupunya itu mengatakan yang barusan.


Andika tercenyir.


"Apa di sana tidak ketemu atau tidak ada yang mau?" tanya Davin meledek.


"Tuh kan Kak Davin malah meledek bukannya mendukung adik sepupumu ini," ucap Andika cemberut.


"Ciyee ngambek, udah seperti anak perempuan saja."


Davin kembali fokus dengan pekerjaannya, sementara Andika membantu kakak sepupunya itu sedikit-sedikit karena jurusan pekerjaan mereka sama jadi hal yang mudah bagi Andika untuk sekedar membantu Andika.


***


Jeny menangis sejadi-jadinya di dalam toilet, mengingat hinaan Davin barusan yang membuatnya semakin kesal.


Setelah puas menangis, dia menatap dirinya di depan cermin. Pakaiannya sangat ketat dan terbuka.


"Jeny," panggil seseorang kaget ketika memasuki ruang toilet mendapati Jeny nampak kacau.


"Vina." Jeny memeluk temannya itu sambil menangis.


"Ada apa?" tanya Vina mengelus punggung Jeny.


"Bagaimana menurutmu penampilanku?" tanya Jeny melepas pelukannya.


Vina hanya diam, dia bingung mau menjawab apa, entah kenapa perusahaan tidak memecatnya karena penampilan Jeny yang kurang sopan.


"Jangan katakan kalau aku perempuan nakal," marah Jeny memelototi temannya karena tak menjawab.


Vina bahkan tak memikirkan akan mengatakan itu, namun malah Jeny sendirilah yang mengatakannya. Vina mengiyakan dalam hati.


"Kamu cantik," ucap Vina gugup.


Vina tak tega mengatakan hal buruk pada temannya itu secara langsung.


Jeny tersenyum dan memeluk kembali temannya.


"Sebelum penampilanmu seperti itu," lanjut Vina sebenarnya ragu-ragu.


"Apa!" marah Jeny mendorong Vina agak kasar.


Vina tersentak.


Vina merasa kalau Jeny telah berubah semenjak Davin menikah, dia sangat mengetahui tentang Jeny, karena dialah tempat curhat Jeny selama ini.

__ADS_1


"Kamu telah berubah Jen, jangan merendahkan harga diri kamu hanya untuk mengejar cintamu yang kamu sendiri sudah sangat tahu, dia tak akan pernah melihatmu sama sekali."


"Kamu temen aku atau bukan sih." Jeny semakin marah.


"Karena kamu temen aku, aku peduli sama kamu, aku ingin memperingatkanmu. Rezeki, jodoh, hidup dan mati kita sudah digariskan oleh Allah, kamu harus ikhlas atas takdir-Nya."


Vina mendekati Jeny, menepuk pundak temannya perlahan.


"Ketika kita merasa kehilangan sesuatu, yakinlah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik."


Jeny menunduk diam.


"Ayo kita ke mushola kantor," ajak Vina.


Jeny menggeleng perlahan.


"Ya sudah," ucap Vina membalikkan badannya.


"Aku masih temanmu, walaupun kamu bersikap kasar barusan," ucap Vina lagi meninggalkan Jeny.


Jeny terkulai lemas sepanjang siang hingga sore. Dia tak dapat bekerja dengan fokus. Sesekali dia mengacak-acak rambutnya dengan jengkel.


***


Sore hari.


"Kak, aku ikut pulang ke apartemenmu ya," ucap Andika memainkan alisnya.


"Mau apa? tak ada tempat sudah penuh," sahut Davin.


"Main saja, tak menginap kok," rayu Andika.


Davin tak menyahut lagi, dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan ingin segera pulang karena sudah sedari tadi dia rindu keluarga kecilnya.


setelah selesai Davin bergegas ke mobilnya, sementara Andika mengikutinya dan ikut masuk mobil.


"Aku tak mau mengantarmu pulang, sana pulang sendiri, jalan pulang kita tak searah."


"Iya nanti aku pulang setelah main sama putri kembar."


Davin hanya menggeleng, membiarkan adik sepupunya itu ikut dia pulang.


"Lama betul jalannya," ucap Andika di sela waktu perjalanan.


"Berisik."


Andika langsung diam, kakak sepupunya ini lumayan galak setelah lama tak jumpa.


"Kak Davin, itu si adeknya kak Mellisa masih tinggal sama kalian."


Davin melirik Andika dengan tajam.


Andika memalingkan wajahnya ke samping jendela mobil.


Beberapa saat kemudian Davin tertawa, dia baru menyadari kalau sebenarnya adik sepupunya itu ingin bertemu Talita.


"Mau pendekatan sama Talita?"


Andika menoleh dan nampak nyengir.


Davin menyentil kening Andika, membuat adik sepupunya itu cemberut dan kembali memalingkan wajahnya ke samping jendela.

__ADS_1


***


__ADS_2