Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 49 Pernikahan part Jeny


__ADS_3

"Sah," ucap Davin dan Andika serta para tamu undangan yang hadir bersamaan setelah mempelai laki-laki baru saja mengucapkan ijab qobul dengan khidmat.


Davin dan Andika memang khusus diminta oleh Atikah, ibunya Jeny untuk menjadi saksi di ijab qobul pernikahan putri kesayangannya itu.


Seketika Jeny langsung meneteskan air matanya, dia menoleh sang ibu yang duduk di sebelahnya sejak awal acara.


Atikah tersenyum dengan haru, dia memeluk putri satu-satunya dengan hangat sambil menahan air mata.


"Selamat ya, Nak. Ibu sangat bahagia untukmu, sekarang kamu telah berumah tangga, jadilah istri yang baik untuk suamimu." Atikah melepas pelukannya.


Di sebelahnya lagi ada Rosy dan Jasmine yang mendampingi mempelai perempuan sedari tadi, keduanya tersenyum menatap Jeny tiada henti.


"Kenapa sayang, kenapa menatap Tante seperti itu?" tanya Jeny menyadari bahwa kedua putri kembar tengah menatapnya.


"Tante Jeny sangat cantik," puji Jasmine.


"Seperti bidadari," sambung Rosy terkekeh.


"Memangnya kalian tahu seperti apa bidadari?" tanya Jeny tersenyum.


"Seperti Tante Jeny," jawab Rosy dan Jasmine bersamaan.


Jeny tersenyum kembali, dia menoleh ibunya lagi. Jeny berkaca-kaca menahan tangis.


"Tante cantik jangan nangis," ucap Rosy.


"Nanti riasannya luntur," sambung Jasmine.


Atikah memegang tangan Jeny.


"Sebentar lagi kamu akan dipertemukan dengan suamimu. Kamu harus nampak cantik di depannya." Atikah menghapus perlahan air mata di sudut mata Jeny.


Beberapa saat kemudian, Jeny dipanggil untuk dipertemukan dengan sang suami.


Dengan digandeng oleh dua bidadari kecil, Rosy dan Jasmine, Jeny berjalan perlahan keluar kamar menuju tempat akad nikah dilaksanakan.


Jeny melewati para tamu undangan yang hadir, langkahnya terhenti ketika Mellisa, Talita serta ibu Inayah berdiri sambil menatapnya penuh haru.


Mereka berjalan menghampiri Jeny.


"Selamat ya, Jen. Semoga kalian menjadu keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah," ucap Mellisa sebelum akhirnya dia memeluk Jeny.


"Terimakasih ya." Jeny tersenyum terharu, dia lalu memeluk Talita dan ibu Inayah.


Jeny tentu bahagia, meski dia menikah terlambat, ah tidak bukannya terlambat, tapi memang karena Allah baru menjodohkannya dengan Anton.


Jeny kembali berjalan menuju meja akad, dimana sang suami tengah menunggunya, dia sangat gugup dan langsung menunduk.


Anton tertegun melihat Jeny berjalan mendekatinya, meski setiap hari keduanya saling bertemu namun kali ini tentu saja berbeda.


Keduanya kini telah disandingkan, Jeny mencium punggung tangan sang suami dilanjutkan dengan acar tukar cincin.


Acar pernikahan berjalan dengan lancar hingga selesai.


Semua para tamu undangan satu persatu pamit pulang.


Kini keluarga Davin lah yang terakhir tinggal.


"Kami semua pamit," ucap Mellisa memeluk Jeny.


"Terimakasih untuk kalian semua." Jeny tak henti-hentinya terharu.


"Bunda boleh kami menginap?" tanya Rosy merengek pada bundanya.


"Kamu saja yang menginap, aku akan pulang," sambung Jasmine.


"Kenapa Rosy? Acara kan sudah selesai." Mellisa mencari alasan.


"Tante Jeny sangat cantik, aku ingin memandanginya semalaman," ujar Rosy polos.


"Tidak bisa sayang, tante Jeny dan om Anton kan pengantin baru, jadi jangan mengganggunya. Ayo kita pulang," ajak Davin lalu menggendong Rosy.

__ADS_1


Semuanya terkekeh, apa-apaan Rosy ini. Dia masih terus merengek untuk menginap, namun sang Ayah menggendongnya ke mobil di parkiran dan segera pulang.


***


Di kamar pengantin baru.


Anton duduk di tepi tempat tidur menunggu Jeny kembali ke kamar.


Beberapa saat kemudian Jeny memasuki kamar.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga," girang Anton.


"Kamu menungguku, Mas." Jeny duduk di depan meja rias.


Jeny mengusap riasannya perlahan.


"Kenapa riasannya dihapus?" tanya Anton mendekat.


"Tak nyaman, Mas," jawab Jeny menyelesaikan usapannya.


"Mas!" kaget Jeny merasakan tangan Anton melingkar di perutnya.


"Kamu akan terbiasa nantinya," ucap Anton sambil menciumi leher Jeny.


"Geli, Mas." Jeny menghindar.


Anton meraih Jeny kembali dan terus mencumbunya.


"Mas Anton," panggil Jeny.


"Iya sayang," sahut Anton.


"Aku mau ke kamar mandi dulu."


"Iya."


Jeny bergegas ke kamar mandi dengan terengah-engah karena gugup.


"Sayang, sudah belum," panggil Anton tak sabar.


"Sebentar lagi, Mas," sahut Jeny.


Sebenarnya dia tak ingin ke kamar mandi, dia hanya ingin menutupi kegugupannya.


Setelah rasa gugupnya mereda, Jeny keluar dari kamar mandi dan bersiap diri.


Anton menyambutnya dengan senyuman hangat.


'Kenapa sepertinya Mas Anton tidak gugup?' batin Jeny.


Anton bersiap di atas tempat tidur, Jeny menghampirinya perlahan.


Tiba-tiba Jeny kebelet pipis beneran.


"Aku mau pipis dulu, Mas." Jeny kembali lagi ke kamar mandi.


"Lah barusan memangnya kamu sedang apa?" tanya Anton, Jeny tak menyahut.


Memalukan sekali, apa-apan Jeny ini, bolak balik kamar mandi, haha.


Setelah selesai Jeny keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang memerah menahan malu.


Anton tetap tersenyum menyambutnya.


"Sini sayang," ucap Anton menepuk tempat di sebelahnya bermaksud agar Jeny berada di sana.


"Iya," sahut Jeny.


Perlahan Jeny menghampiri suaminya, kali ini tak ada alasan lagi, dia duduk tepat di samping sang suami.


Anton meraih kening Jeny dan menciumnya.

__ADS_1


"Aku menyayangimu," seru Anton.


Jeny tersenyum malu dan menunduk.


"Apakah kamu siap?" tanya Anton menatap mesra istrinya.


Jeny tak menjawab dan menatap balik suaminya. Kenapa harus bertanya, bukannya ini malam pertama mereka.


Jeny lalu mengangguk.


"Aku sebenarnya gugup," bisik Anton di telinga Jeny.


"Aku kira Mas Anton sudah pernah," ucap Jeny hati-hati. Dia tak melihat suaminya gugup ataupun kaku dari tadi.


"Apa maksudmu?" tanya Anton tak senang.


"Apa kamu pikir aku-" ucap Anton lagi.


"Tidak, Mas. Aku minta ma'af," sela Jeny.


"Jangan merusak momen romantis kita," lanjutnya lagi.


"Kamu yang memulai," ejek Anton.


Anton menggeser duduknya agak menjauh, Jeny semakin tak enak hati.


"Aku tidak bermaksud begitu, Mas. Bisakah kita melanjutkannya."


"Melanjutkan apa?"


"Hm. Itu."


"Itu apa?"


"Tidak. Tidurlah sudah malam."


Jeny lalu berbaring dan memunggungi suaminya, Anton terkekeh melihat istrinya.


"Apa sudah mengantuk?" tanya Anton menggoda.


"Iya," jawab Jeny.


"Ini malam pertama kita kan?"


"Iya, lalu kenapa?"


Anton mendekati sang istri dan membalikkan tubuh sang istri.


Jeny tak berani menatap sang suami, dia melihat ke arah lain.


"Apa sudah hafal do'anya?"


"Hah?"


Anton tersenyum menggoda.


"Bismika, Allahumma Ahya wa Bismika Aamuut."


Jeny tersenyum geli.


"Kamu lucu, Mas."


"Duduklah, aku ingin memelukmu."


Jeny menurut. Dia bangun dan duduk menatap sang suami, keduanya langsung berpelukan.


"Aku mencintaimu, Jeny. Walau aku sudah terlalu dewasa tapi aku selalu menjaga semua ini untuk istriku seorang."


Jeny mendengarkannya dengan seksama, dia semakin mengeratkan pelukannya. Iya, dia tidak akan memikirkan yang macam-macam lagi.


"*Bismillah Allahumma Jannibnis Syaithana wa Jannibis Syaithana Ma Razaqtan**i*."

__ADS_1


***


__ADS_2