Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 20 Ma'af


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Hari minggu.


Jeny berniat berkunjung ke kediaman Davin, dia juga ingin menjenguk dua putri kembar teman sekantornya itu. Sebelumnya dia sudah mempersiapkan buah tangan untuk dibawa ke sana.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikun salam."


Ibu membukakan pintu. Dilihatnya perempuan di depannya, ibu tersenyum.


"Ma'af cari siapa ya?" tanya ibu yang memang belum pernah melihat Jeny sebelumnya.


"Perkenalkan nama saya Jeny Tante, teman sekantor pak Davin, saya hanya ingin berkunjung, saya dengar istrinya pak Davin baru saja melahirkan dan mempunyai bayi kembar, saya ingin menjenguknya." Jeny menyalami ibu.


"Panggil Ibu saja, saya bukan tante-tante," pinta ibu tersenyum.


"Baik Tante, eh Ibu. Pak Davinnya ada di rumah kan Bu?" Jeny membalas senyuman ibu.


"Iya di rumah. Silahkan masuk Nak, Jeny."


"Baik Bu, terimakasih."


Ibu mempersilahkan tamu untuk masuk.


"Duduklah." suruh ibu lembut.


"Iya Bu," sahut Jeny.


Jeny duduk di sofa ruang tamu, sudah lama dia tak pernah melihat apartemen Davin, setelah sekian lama, akhirnya dia datang ke rumah Davin.


Memang banyak yang berubah, mungkin karena dulu Davin sendiri, dan sekarang semua ruangan nampak rapi karena sudah ada Mellisa yang mengurusnya.


***


Davin memperhatikan istrinya yang tengah yang menidurkan putri-putrinya.


Semakin lama memandang semakin Davin ingin mendekat.


Rosy dan Jasmine telah tertidur, Davin mendekati Mellisa yang hendak keluar dari kamar.


"Mau kemana?" tanya Davin sambil memeluk istrinya dari belakang.


Mellisa tersenyum.


"Beres-beres rumah Ayah, mumpung mereka sedang tidur," jawab Mellisa menunjuk kedua putri kembarnya.


"Memangnya Bunda tidak rindu sama Ayah?" tanya Davin manja, diciuminya pundak sang istri.


Mellisa memejamkan mata.


Davin memeluknya semakin erat.


Mellisa membalikkan tubuhnya, ditatapnya sang suami yang telah dilanda rindu cukup berat, pikirnya.


Davin hendak mencium bibir istrinya, namun dia urungkan karena terdengar panggilan dari luar kamar.


"Davin, Mellisa," panggil ibu.


"Ada apa, Bu," sahut Mellisa membuka pintu kamar.


"Ada tamu, namanya ... siapa ya Ibu lupa, katanya mau menjenguk bayi kalian, sana kalian ke depan, biar Ibu bikinkan minum dulu."


Mellisa menoleh suaminya, dilihatnya suaminya yang nampak cemberut, Mellisa terkekeh.


"Ayo Ayah, kita ke depan," ajak Mellisa.

__ADS_1


"Iya," sahut Davin masih cemberut.


Davin menggandeng istrinya berjalan ke ruang tamu. Keduanya dikejutkan oleh tamu mereka.


"Selamat pagi Pak Davin," sapa Jeny bangun dari duduknya.


"Pagi, tak usah terlalu formal, silahkan duduk kembali," sahut Davin ramah.


Mellisa melihat suaminya yang tersenyum menyambut kedatangan Jeny, entah kenapa Mellisa menjadi kesal.


'Jeny semakin cantik saja,' batin Mellisa.


"Bagaimana kabar Ibu Mellisa?" tanya Jeny.


"Baik," jawab Mellisa jutek.


Davin melihat istrinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia terkekeh karena Mellisa semakin cemberut nampak kesal. Tiada kata lain yang pantas terungkapkan saat ini selain 'cemburu.'


"Ini ada sedikit oleh-oleh untuk si kembar." Jeny menyerahkan bingkisan yang dibawanya pada Mellisa.


Mellisa menerimanya.


"Silahkan diminum." Ibu datang menaruh minuman di meja.


"Iya Bu, terimakasih."


Ibu berlalu kembali ke dapur.


Sepeninggal ibu pergi, Jeny langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


"Saya sangat menyesal, saya mohon ma'af. Pak Davin, Ibu Mellisa mohon ma'afkan saya." Jeny nampak serius.


"Memangnya kamu salah apa, kenapa harus minta ma'af." Mellisa masih jutek.


"Sebelumnya saya memang menyukai Pak Davin, jauh sebelum kalian menikah. Namun saya sadar, saya tidak berjodoh dengan Pak Davin. Kalian telah menikah dan dikaruniai dua buah hati, saya sudah tak pantas mendekati dan merayu Pak Davin lagi."


"Kami sudah mema'afkan kamu, bicaralah dengan santai, tak perlu formal begitu terus, ini bukan kantor."


'Suamiku yang super sabar dan pemaaf,' batin Mellisa.


Davin memeluk istrinya dari samping membuat istrinya itu menoleh. Davin mencium kening sang istri.


Mellisa tersenyum.


"Selamat ya, atas kelahiran dua buah hati kalian." Jeny memberikan selamat.


"Saya sudah ikhlas menerima semuanya, sekali lagi mohon ma'afkan saya," ucap Jeny lagi.


Jeny menatap kedua pasangan suami istri di depannya itu secara bergantian, sampai pada Mellisa yang sengaja dia tuju untuk mengatakan sesuatu.


"Ibu Mellisa, anda sangat beruntung bersuamikan seorang Pak Davin yang menjaga pandangannya di luar rumah. Walaupun saya terus menggodanya tapi suami anda tetap kekeh dengan pendiriannya."


Mellisa melihat suaminya lagi, suaminya itu memberikannya senyuman.


Setelah cukup puas mengobrol, Jeny pamitan untuk pulang.


Sepeninggal Jeny, Mellisa langsung bergegas ke kamarnya mengecek kedua putrinya.


Rosy masih tertidur, sedangkan Jasmine sudah bangun, seperti biasanya Jasmine hanya berceloteh.


"Jasmine, sini sayang, Bunda susuin kamu dulu."


Mellisa menyusui Jasmine.


Tak lama Rosy terbangun dan menangis, mendengar tangisan bayinya Davin menyusul ke kamar.


"Putri-putri Ayah sudah bangun rupanya."


"Tolong gendong Jasmine Ayah, dia baru saja menyusu," pinta Mellisa.


"Baik, Bunda." Davin mengambil Jasmine dari Mellisa.


Mellisa langsung menyusui Rosy yang baru terbangun.

__ADS_1


Davin kaget melihat buah dada istrinya yang baru dia sadari nampak besar tak seperti sebelum istrinya melahirkan putri-putri mereka.


"Kenapa begitu besar, Bunda?" tanya Davin.


"Apanya yah?" Mellisa tanya balik.


"Itu." Davin menunjuk dengan dagunya.


Mellisa baru menyadari apa yang dimaksud suaminya.


'Aduh, kenapa adik kecil bangun sih,' batin Davin.


"Ya karena ada ASInya, Ayah. Makanya besar."


"Ayah tak bisa lama-lama di sini, Ayah keluar dulu ya."


Davin bergegas meninggalkan kamar dengan membawa Jasmine bersamanya, dia takut hasratnya akan menggelora jika berada di kamar terlalu lama.


Mellisa terkekeh.


"Ma'af ya, Yah."


Beberapa hari ini memang Davin sering mengkode menginginkan hal itu, namun Mellisa belum mengiyakan karena masa nifasnya belum selesai.


***


"Assalamu'alaikum Bu, aku pulang."


Jeny membuka pintu rumahnya yang tak terkunci.


"Ibu, Ibu dimana?" Jeny mencari-cari ibunya yang tak dapat dia temukan detik ini.


Jeny mencari ke dalam kamar dan benar juga, ibunya tengah berbaring.


"Ibu," panggil Jeny mendekat.


Atikah membuka matanya.


"Sudah pulang kamu, Jen?"


"Iya Bu, apa Ibu sudah makan?"


Atikah menggeleng, dia baru menyelesaikan untuk makan malam bersama putrinya.


"Ibu ketiduran."


"Ya sudah ayo kita makan bersama."


Jeny dan ibunya menuju meja makan, Jeny nampak sumringah melihat menu di depannya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Atikah membuat Jeny tak mengerti.


"Apanya Bu."


"Andika, calon suamimu."


"Oh, bagaimana apanya, kenapa memangnya dengan Andika itu?"


"Dia cukup baik."


"Itu saja, dia tampan kan?"


Jeny melihat ibunya dengan tersenyum.


Jeny mengangguk.


"Ibu harap kamu tidak sedang pura-pura karena menerima perjodohan ini.


"Tidak Bu, aku sudah ikhlas dan sudah menerima perjodohan ini."


Atikah tersenyum lega.


***

__ADS_1


__ADS_2