Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 65 Party


__ADS_3

Sepulang dari outbond, Rosy dan Jasmine langsung menghampiri tempat tidur dan bermalas-malasan.


Sementara Davin dan Mellisa bersandar di sofa ruang tamu.


"Lelah juga, Bun."


"Kapok tidak?"


"Tidak lah, justru sangat menyenangkan buat Ayah, kita harus berterimakasih dengan pihak sekolah, kita punya waktu bersama yang menyenangkan."


Mellisa tersenyum menatap sang suami.


"Kenapa melihat Ayah begitu," ucap Davin mengerdipkan sebelah matanya.


"Ayah semakin genit saja." Mellisa melengos.


"Hah haruslah aku tidak ikut party, malas sekali."


"Kenapa memangnya? Bukankah itu hari jadi perusahaan."


"Iya, Bunda. Entah ide siapa, itu dirayakan sehari semalam di hotel."


"Bosnya sultan ya, Yah."


"Ayolah, Bunda ikut."


"Tidak mau, hari ini sudah cukup melelahkan, lagipula siapa yang menjaga kedua putri kita di rumah."


"Iya juga, Bunda sedang hamil pula, baiklah Ayah akan datang sendiri dan Ayah janji tidak akan sampai malam. Ayah khawatir dengan kalian."


"Iya, Ayah."


Mellisa merapihkan barang bawaan ke ruang belakang, dia hendak memasak untuk makan malam, namun Davin segera datang memeluknya dari belakang.


"Bunda jangan memasak, nanti Bunda kelelahan."


"Hanya memasak, Yah."


"Tidak boleh, biar Ayah pesan makanan."


"Kirain Ayah yang akan memasak."


Mellisa terkekeh melihat raut sang suami yang nampak nyengir, Davin mengingat betapa dahsyatnya rasa nasi goreng yang pernah dibuatnya.


Davin mengambil ponselnya, dia memesan makanan untuk makan malam.


Setelah makanan datang, Mellisa menyiapkannya di meja makan, lalu memanggil kedua putrinya untuk makan terlebih dahulu sebelum ketiduran.


Benar saja, Rosy dan Jasmine sudah terlelap ketika sang bunda datang ke kamar mereka.


"Bangun sayang, kalian belum makan, belum sholat isya' juga kan."


Dengan susah payah membuka mata akhirnya keduanya bangun.


"Kalian cuci muka dulu sana, Bunda tunggu di ruang makan bersama ayah."


"Iya, Bunda."


Sikembar bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka lalu menyusul ayah bunda mereka ke ruang makan.


"Wah, makanannya enak." Rosy bermaksud memuji sang bunda.


"Bunda tidak masak." Mellisa merasa pujian itu untuknya.


"Apa? Berarti apakah Ayah yang masak? Wah Ayah sudah pintar memasak sekarang," ucap Rosy memuji sang ayah.


"Ayah memesan makanan." Davin hanya berkata datar.


"Hahaha," reflek tawa Jasmine yang langsung menggelegar.


Davin melirik Jasmine dengan kesal, Jasmine yang tersadar dilihat oleh sang ayah langsung diam.


"Ayo selesaikan makan kalian," suruh sang bunda.

__ADS_1


"Iya, Bunda." Rosy dan Jasmine nampak canggung.


Setelah selesai makan malam, mereka sholat isya' berjamaah lalu istirahat.


"Kamu keterlaluan," ucap Rosy pada adik kembarnya itu.


"Aku hanya reflek, apakah menurutmu ayah marah padaku?" tanya Jasmine khawatir.


"Tentu saja Ayah marah," ucap sang ayah tiba-tiba datang.


"Ayah." Keduanya terkejut.


Davin menghampiri tempat tidur mereka dan mendekati dan mengusap kepala kedua putrinya satu persatu.


"Ayo tidur, bukankah kalian lelah?"


"Ayah tidak marah, ma'af Ayah, aku tidak bermaksud." Jasmine gugup.


"Tak apa sayang, Ayah memang tidak bisa memasak, besok Ayah akan ada acara, kalian baik-baik di rumah bersama Bunda. Jaga bunda dan calon adik kalian, jangan nakal ya, kasihan bunda kalian." Davin menasihati.


"Baik, Ayah."


"Hubungi Ayah jika terjadi sesuatu."


"Iya, Ayah."


"Ya sudah. Tidurlah." Davin mengecup kening mereka secara bergantian.


***


Hari party.


Di hotel.


"Hey Pak Davin," sapa Anton dan Jeny.


"Hey kalian, romantis melulu." Davin nampak iri, dirinya sudah menawarkan pada Mellisa untuk ikut namun Mellisa telah menolak.


"Acara seperti ini sangat pas untuk kita sayang," ucap Anton sambil membelai rambut Jeny yang tergerai.


"He-em," sahut Jeny menikmati.


Davin dibuat kesal dengan mereka, dia menepi agak jauh ke belakang.


Anton dan Jeny hanya tertawa kecil melihat bosnya melipir.


Beberapa saat kemudian acara dimulai, mc membawakan acra dengan khidmat, sambutan demi sambutan telah tertuang untuk menyambut party.


Sampai acara yang terakhir, partynya.


Karyawan perusahaan terdiri dari beberapa macam agama sehingga bos bebas membebaskan party semau mereka asalkan tidak rusuh, bahkan boleh minum alkohol.


"Pak Davin, silahkan," ucap salah seorang pelayan memberikan minuman anggur merah.


Davin melihatnya sejenak dan menolak.


"Ma'af, saya tidak minum," tolak Davin ramah.


"Oh, baiklah. Apakah anda butuh sesuatu?" tanya pelayan dengan ramah.


"Bikinkan saya kopi," jawab Davin meminta.


"Baiklah, tunggu ya Pak Davin."


"Hm."


Sambil menunggu, Davin bermain ponsel melihat-lihat pesan WA. Istrinya belum juga mengirim pesan, apakah Mellisa tidak khawatir padanya atau tidak merindukannya pula.


Davin memulai lebih dahulu mengirim pesan pada sang istri.


"Bunda."


Belum menjawab, entah Mellisa sedang apa. Davin selalu gelisah jika pesannya tidak segera dibalas.

__ADS_1


Semua karyawan menikmati party, namun Davin hanya menepi bermain ponsel.


Tiba-tiba ada yang datang menegur.


"Pak Davin," panggil Hilmi.


Davin menoleh, kenapa ada orang ini dimana-mana.


Seseorang di sebelah Hilmi juga menyapa.


"Kamu sendiri, Davin? Mellisa tidak kamu ajak?"


"Tidak," sahut Davin datar dan mengabaikan kehadiran mereka.


"Sombong sekali," gumam Hilmi.


"Hush." Sonya menganggukkan kepalanya entah kode apa pada Hilmi.


Davin tidak peduli dengan hal itu.


Minumannya telah sampai, pelayan baru saja meletakkan kopi di atas meja.


"Terimakasih." Davin tersenyum ramah.


"Sama-sama, Pak."


"Ayo Davin, kita bergabung ke tengah," ajak Sonya.


"Tidak, terimakasih." Davin menolak dan tetap duduk santai sambil menyeripit kopinya.


Sebenarnya Davin juga tidak berniat menikmati party, dia lebih senang menikmati hari kemarin bersama istri dan kedua putrinya ketika outbond.


"Ok. Kami tinggal dulu ya."


"Silahkan."


Lama-lama Hilmi jengkel juga melihat Davin, kalau bukan karena misinya untuk mendapatkan Mellisa kembali, dia mungkin sudah rusuh di party menghajar Davin.


Dari kejauhan Anton dan Jeny melambaikan tangan ke arah Davin, bermaksud agar Davin bergabung.


Lagi-lagi Davin menolak, dia tetap statis duduk sendirian menahan bosan.


"Bisa dicoba, Pak." Pelayan menawarkan jus.


"Boleh, taruh saja di meja."


"Silahkan, Pak."


"Terimakasih."


Waktu berlalu, bagi mereka yang menikmati party tentu ini terasa sebentar, tidak seperti Davin yang tidak sabar untuk pulang.


Setelah dirasa cukup, Davin memutuskan untuk pulang, namun dia merasa agak pusing.


Davin memaksakan diri melangkah keluar hotel ke parkiran, belum sampai di mobilnya Davin merasa dunia sekitarnya berputar sampai akhirnya dia terjatuh.


Samar-samar Davin melihat dua orang menghampirinya dan membopongnya, hingga akhirnya dia sampai tak sadarkan diri.


Setelah Davin tak terlihat, Anton keluar bersama Jeny ke parkiran.


"Ma'af ya sayang, aku tidak bisa mengikuti pesta sampai malam." Jeny merasa menyesal.


"Tak apa-apa sayang, kamu sedang hamil, kamu perlu istirahat. Apa kamu mengizinkan jika aku kembali ke sini?" tanya Anton meminta izin sang istri.


"Iya, bersenang-senanglah."


Anton membukakan pintu mobil untuk sang istri, Jeny pun tersenyum memasuki mobil.


Anton siap menyetir, dia melihat mobil Davin masih terparkir.


'Apa pak Davin berencara mengikuti party sampai malam?' batin Anton.


Entahlah, Anton hanya memikirkan sang istri, dia segera mengantarkan Jeny pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2