Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 31 Gagal


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Mellisa bersama kedua putrinya memasuki ruangan rumah sakit tempat Talita berada.


"Wa'alaikum salam," jawab Talita tersenyum.


"Tante," panggil Jasmine nampak senang, dia langsung menghampiri tantenya dan memeluknya.


Rosy dan bundanya hanya saling pandang dan menggeleng bersama.


"Aku sangat rindu sama Tante, tapi aku mau bertemu Tante yang selalu sehat bukan sakit seperti ini, kenapa Tante bisa sakit?" Jasmine mengomeli Tantenya yang masih dipeluknya.


"Ma'afkan Tante ya," ucap Talita melepas pelukannya.


"Dimana suamimu, Ta?" tanya Mellisa mendekat.


"Mas Dika ke kantor, Kak. Katanya akan segera kembali."


"Apa-apaan sih Andika, istrinya kan sedang sakit bukannya nemenin malah pergi kerja. Dasar! Awas saja ya kamu Dika. Tak ada yang lebih penting dari yang lain selain menemani istri yang sedang sakit, dia sudah gagal menjaga adik kakak," kesal Mellisa.


Talita tertawa kecil melihat ekspresi wajah kakaknya, bukannya nampak galak tapi lebih nampak lucu, karena kakaknya tak terbiasa marah-marah dan mengomel seperti itu.


"Apaan sih, Kak," ucap Talita masih menahan tawa.


"Tenang saja Tante, nanti kita pulangnya bareng saja. Biar Om Dika tahu rasa." Rosy meniru gaya bundanya.


"Pulang ke rumah kami," imbuh Jasmine.


Talita kembali tersenyum.


Setelah beberapa jam, mereka memutuskan untuk pulang setelah mendapat izin dari dokter.


Mellisa segera mengurus administrasi lalu membawa adik dan putri-putrinya pulang ke apartemen.


***


Davin berkemas hendak pulang, Anton yang melihatnya langsung menyerahkan satu berkas lagi untuk mereka selesaikan.


"Pak Davin, masih ada satu lagi, saya siap membantu. Mari kita selesaikan, ini masih sore, mungkin tak sampai malam kita sudah selesai."


"Kenapa tak mengatakannya dari tadi, aku sudah ingin pulang, aku sudah sangat rindu dengan istriku."


'Apa katamu? Rindu? Bukannya ketemu siang malam, berlebihan sekali,' batin Anton.


"Apa Pak Davin akan tetap pulang?" tanya Anton melihat bosnya siap keluar meninggalkan ruangan.


"Ya, kamu yang kerjakan saja minta bantuan Jeny, aku akan pulang."


Davin lalu meninggalkan asistennya di dalam ruangan.


Sepeninggal bosnya, Anton kembali bekerja lembur. Sebenarnya dia cukup kesal.


"Enak benar jadi bos, bisa pulang sesuka hati," gumamnya.


"Assalamu'alaikum," salam Jeny memasuki ruangan.


"Wa'alaikum salam," jawab Anton sumringah, tiba-tiba hatinya sedikit senang.


"Tadi Pak Davin menyuruhku untuk membantumu," ucap Jeny menghampiri Anton.


"Tentu saja, dia sudah terlalu rindu dengan istrinya," ejek Anton membuat Jeny tersenyum kecil.


"Hush, sudah ayo kita selesaikan pekerjaan agar cepat pulang."


Anton mengangguk.


***


Davin menyetir mobilnya dengan semangat untuk pulang, sudah disiapkannya sedari siang untuk pulang cepat.


"Oh istriku, aku siap menghangatkanmu."

__ADS_1


Tiba-tiba Davin melihat mobil Andika di depannya.


"Andika mau kemana ya? Ini kan bukan jalan ke rumahnya."


Beberapa menit kemudian sampailah Andika di apartemen Davin, disusul Davin yang memang sudah di belakangnya akan pulang.


Andika keluar dari mobilnya dan bermaksud masuk namun seseorang memanggilnya.


"Andika," panggil Davin.


Davin bergegas menghampirinya. Andika menoleh.


"Kak Davin."


"Kamu datang sendiri, dimana istrimu?" tanya Davin.


"Talita di sini," jawab Andika murung.


Davin memperhatikan raut wajah Andika yang nampak kusut.


"Apa kalian bertengkar?"


"Tidak."


"Ya sudah. Ayo masuk."


Keduanya melangkah beriringan, Davin membuka pintu.


"Assalamu'alaikum," salam Davin bersama Andika bersamaan.


"Wa'alaikum salam," jawab yang di dalam rumah.


"Ayah," panggil kedua putri Davin berlari menghampirinya, lalu mereka memeluk sang ayah.


"Putri-putri Ayah yang cantik. M.. Kalian baru saja mandi ya, wangi sekali," puji Davin masih memeluk kedua putrinya.


Mereka menutup hidung mengejek sang ayah. Setelah asik dengan sang ayah cukup lama, mereka akhirnya menyadari ada seseorang di sebelah ayahnya.


"Om Andika mau apa ke sini?" tanya Jasmine jutek.


"Tentu saja untuk menjemput tante kalian," jawab Andika tersenyum ramah.


Davin melihat Jasmine dan Andika secara bergantian, ada yang tidak beres, pikirnya.


"Kenapa tante kalian ada di rumah kita?" tanya Davin menyelidik.


"Karena tante Talita tidak makan tiga hari," jawab Rosy melirik Andika.


"Apa!" kaget Davin. Dia lalu menatap Andika.


"Aku bisa jelaskan." Andika nampak nyengir.


Andika menyadari dan mengingat akhir-akhir ini dia sering menghabiskan waktunya di perusahaan yang baru saja dia bangun, tentu butuh waktu ekstra mengingat dia adalah bosnya. Dia tak pernah memperhatikan apalagi bertanya pada sang istri, dia pikir Talita sudah dewasa, mana mungkin makannya tidak teratur.


Mungkin juga itulah penyebab Talita malas makan, dia jarang mendapat perhatian dari Andika.


Davin menyentil telinga adik sepupunya itu.


"Kamu jadi laki-laki tak bertanggung jawab," marah Davin.


Andika kesal juga, kakak sepupunya itu menghukumnya seperti anak kecil, tapi dia malas berkomentar.


"Ya aku salah, ma'af."


"Ayo kita makan," ajak Mellisa tiba-tiba muncul.


Davin dan Andika bangun dari sofa dan menuju meja makan yang sudah tersaji makanan yang sangat banyak dan lezat.


"Wow tumben Bunda. Makanannya banyak dan enak-enak lagi. Dalam rangka apa Bunda menyiapkan semua ini, pasti-"

__ADS_1


"Tentu saja dalam rangka menyambut Talita. Kasihan dia tidak makan tiga hari ini." Mellisa masih kesal, diliriknya Andika sebentar.


Andika memijat kepalanya, pusing betul rasanya, rasa tak enak hati bercampur malu yang Dika rasakan.


'Tidak makan tiga hari.'


'Apa aku sekejam itu,' batinnya.


Sedangkan Talita hanya tersenyum kecil. Rasa kecewanya terwakilkan oleh kakaknya. Dia lalu menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Aku akan menjemputmu, sayang," ucap Andika lembut membuat Talita membalasnya dengan senyuman manis, dia mengangguk pelan.


"Oh tidak bisa, malam ini Tante Talita akan tidur denganku," ucap Jasmine memelototi Andika.


Semua yang disitu tertawa kecuali Talita yang hanya tersenyum dan Andika yang nampak nyengir dan malu.


"Sudahlah. Ayo kita makan dulu." Ibu menyiapkan beberapa untuk anak cucunya.


***


Malam hari.


Davin membuka kamarnya, dilihatnya sang istri yang sedang merapihkan pakaian untuk dimasukkan ke lemari.


"Bunda," panggil Davin manja.


"Sudah malam, sana Ayah istirahat."


Davin melihat ke tempat tidur, Talita dan Jasmine telah terlelap.


"Kenapa Jasmine tidak mengajak tantenya tidur di kamarnya?"


"Bagaimana mungkin mereka akan tidur berempat, kan sudah ada Rosy dan ibu."


Hah. Sial. Davin mengumpat dalam hati.


"Bunda akan menutup pintunya."


"Tunggu, Bunda."


"Apa?"


Davin hendak mencium istrinya namun Mellisa segera mendorong tubuh suaminya keluar dan menutup pintu.


"Yah, gagal malam ini deh."


Davin kesal bukan main, kalau bukan karena Andika, dia pasti sudah bercumbu mesra dengan istrinya.


Davin berjalan ke sofa ruang tamu untuk istirahat.


"Hey. Siapa yang menyuruhmu tidur di situ?"


Andika terbangun karena Davin berteriak.


"Tidak ada kamar lagi."


"Karena tidak ada kamar lagi, kamu tidur di lantai, sofa ini tempatku," usir Davin.


"Dinginlah, Kak."


"Bukan urusanku atau kamu boleh pulang kalau kamu mau."


"Oke. Oke. Aku tak mau meninggalkan Talita, aku tidur di lantai."


"Bagus."


Davin tersenyum menang.


***

__ADS_1


__ADS_2