Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 24 Tak Jodoh


__ADS_3

"Ajak istrimu makan, Davin," suruh ibu pada menantunya itu.


"Iya, Bu." Davin berjalan menuju kamar dengan membawa Jasmine.


"Sini biar Jasmine ibu gendong."


"Tapi dia belum menyusu bundanya, Bu."


"Oh. Ya sudah susuin dulu."


Davin mengangguk. Dia berjalan menuju kamarnya.


"Bunda, apa Rosy sudah selesai?" tanya Davin mendekat.


Mellisa tersenyum.


"Lihat Yah, Rosy sudah tidur."


Davin melihat purtrinya yang sudah tidur, lalu menyerahkan Jasmine pada bundanya untuk disusui.


"Ayah yakin mau di sini."


"Ayah harus membiasakan diri, tak apa. Lagi pula yang menyusu kan putri-putri kita."


Mellisa tersenyum.


Davin melihat Jasmine yang menyusu kuat pada bundanya sehingga terdengar cukup keras.


"Pantas saja Jasmine tak pernah rewel ya, Bun. Lihat saja dia begitu lahap menyusu Bunda."


Mellisa tersenyum lagi, Davin berani mendekat karena ingin melihat Jasmine.


"Putri Ayah pintar sekali ya, nanti ajari kakakmu biar lahap sepertimu."


Mellisa tersenyum lucu mendengar suaminya bicara seperti itu.


"Ayo kita makan, aku sudah lapar," ajak Davin setelah Mellisa menyusui Jasmine.


"Ayah duluan saja, nanti gantian. Kasihan Jasmine, dia kan belum tidur, masa iya mau ditinggal."


Talita menyambung dari luar kamar karena pintu kamar mereka terbuka.


"Kalian makan dulu lah, Kak," ucap Talita tiba-tiba muncul.


Davin yang sudah lapar sangat bersemangat, dia menggandeng tangan istrinya untuk segera makan.


Talita melihatnya dengan tersenyum.


"Kalian selalu romantis," gumamnya.


"Lihat, sayang. Ayah bundamu itu bikin iri semua orang," ucap Talita pada keponakannya yang masih belum tidur.


***


Malam hari.


Davin merasa kedua putrinya semakin hari semakin tenang, tak seperti awal-awal mereka lahir yang selalu rewel siang malam.


"Mereka sudah tidur, Bun?" tanya Davin menghampiri istrinya.


Mellisa mengangguk.


"Padahal Ayah masih ingin bermain sama mereka."


"Boleh Bunda tidur? Bunda mengantuk, Yah."


"Temani Ayah sebentar, Bun."


Mellisa mengangguk.


Davin mendekati istrinya dan menarik Mellisa ke pelukannya.


"Apa yang Bunda pikirkan saat ini?" tanya Davin.


"Tentu saja masa depan mereka, Yah," ucap Mellisa sambil menguap.


"Sama, Bun. Ayah ingin mereka nantinya akan jadi orang sukses yang membanggakan kita."


"Jangan memaksakan, Yah. Biarkan mereka berkembang sesuai minat dan bakat mereka."


"Tentu saja, Ayah hanya akan membimbing dan mengawasi mereka."

__ADS_1


Davin menunggu Mellisa menyahut, namun Mellisa malah tertidur di pangkuannya.


"Bunda," panggil Davin menepuk pundak Mellisa.


Mellisa tak menyahut.


"Bunda sudah tidur?"


Davin menengok wajah istrinya, matanya sudah terpejam.


Davin tahu istrinya itu pasti kelelahan, dia menggendong istrinya ke tempat tidur lalu membaringkannya.


Davin mencium kening istrinya lalu ikut tertidur.


***


Di dalam kamar Talita.


Tàlita masih sibuk sendiri bermain dengan ponselnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya ibu yang terjaga dari tidurnya.


Talita jadi nyengir.


"Tidurlah, ini sudah malam, Ta," suruh ibu.


Talita mengangguk. Dia mengakhiri chatnya dengan Andika.


"Selamat malam."


"Malam, tidur yang nyenyak, love u."


Talita tersenyum lagi.


Talita mencoba untuk tidur, tapi bukannya tidur nyenyak dia malah tak dapat tidur sama sekali.


"Kenapa aku tak bisa tidur," ucapnya sambil memejamkan matanya.


Setelah beberapa lama akhirnya Talita terlelap juga.


***


Pagi hari.


"Bu, aku ingin keluar sebentar. Apa Ibu mau ikut?"


"Tidak, Ibu di rumah saja. Sana kamu jalan-jalan biar tak bosan."


"Ya sudah. Aku pergi dulu ya, Bu."


Jeny menyalami ibunya dan berlalu meninggalkan rumah.


"Kasihan kamu, Nak," gumam Atikah melihat kepergian putrinya.


"Yakinlah suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang tepat yang akan menjadi imammu dalam rumah tangga."


***


"Untung saja kamu bisa menemaniku, Vin," ucap Jeny sambil menikmati makanannya.


"Memangnya kenapa?" tanya Vina ingin tahu.


"Tak seru kalau jalan sendirian. Apakah suamimu mengizinkan?" Jeny menghentikan makannya.


"Tentu saja, aku senang melihatmu sekarang." Vina menatap Jeny.


"Apa yang membuatmu senang?" tanya Jeny sambil melanjutkan makannya lagi.


"Ya kamu, kamu sekarang lebih sabar, lebih murah senyum dan karena itulah kamu nampak lebih anggun," terang Vina membuat Jeny menghentikan makannya lagi.


"Aduh aku tak punya uang recehan." Jeny mengorek isi dompetnya.


"Aku serius Jen." Vina memegang tangan temannya itu.


Jeny tersenyum.


"Kamu pandai menghiburku, Vin. Terimakasih, sudah menjadi temanku."


Jeny menatap Vina dengan serius.


"Kamu tahu aku sempat merasa malu karena usiaku kini yang semakin dewasa tapi belum juga menikah, aku merasa menjadi perawan tua," ucapnya berkaca-kaca.

__ADS_1


Vina menutup mulut Jeny dengan jari telunjuknya.


"Kamu masih muda, cantik pula. Masih banyak waktu," hibur Vina.


Keduanya tengah asyik mengobrol. Tiba-tiba seseorang bersama pasangannya duduk di meja sebelah mereka.


"Jeny," sapa Andika.


"Hay Jen," sapa Talita.


"Hay. Kalian di sini?" Jeny nampak gugup.


Vina melihat Jeny yang mulai tak tenang.


"Jen," panggil Vina memegang tangan Jeny.


Jeny menoleh.


"Ayo kita pulang," ajak Jeny.


"Ma'af ya kami duluan, karena aku juga ada urusan lain," ucap Jeny lagi.


Vina hanya menuruti temannya untuk pergi walaupun sebenarnya dia masih ingin bersantai.


Mereka tak pergi jauh, hanya pindah ke supermarket di sebelahnya saja.


"Siapa mereka?" tanya Vina.


"Yang perempuan adiknya Mellisa," terang Jeny.


"Yang laki-laki...." Jeny tak melanjutkan kata-katanya.


"Siapa?"


"Yang akan dijodohkan denganku, tapi ternyata kami tak jodoh."


"Kamu yang sabar ya."


Jeny tersenyum.


Vina membalas senyuman temannya itu.


'Kasihan kamu, aku yakin kamu akan berjodoh dengan seseorang yang spesial,' batin Vina.


Vina terus memandangi temannya yang tengah sibuk berbelanja.


Sesekali Jeny sadar bahwa Vina tengah memperhatikannya.


"Kenapa memandangku begitu?" tanya Jeny masih memilih-milih barang yang hendak dia ambil.


Vina menggeleng.


"Ayo lanjutkan belanjanya."


Sementara di tempat Andika dan Talita sedang makan.


Andika menikmati makannya sambil melamun sampai saat dia minum, dia tak sengaja menumpahkan minumannya ke bajunya sendiri.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Talita membantu mengelap baju kekasihnya itu.


Andika menggeleng.


"Apa kamu memikirkan Jeny?" tanya Talita menebak.


Andika menjadi tertawa.


"Apa yang lucu?" Talita cemberut.


"Sayang, kamu benar."


Talita langsung berdiri dan membulatkan matanya.


Andika menceritakan tentang Jeny yang dia tahu dari kakak sepupunya, Davin.


"Oh jadi dia godain kak Davin dan sekarang dia mau godain kamu." Talita nampak kesal.


'Apa yang dipikirkan anak ini,' batin Andika.


Andika tak ada maksud apapun, karena nantinya mereka pasti sering bertemu, biar Talita mengetahui tentang Jeny, pikirnya.


Terus terang memang Andika sendiri merasa kasihan dengan Jeny, tapi dia telah dulu bertemu dan jatuh hati pada Talita.

__ADS_1


'Ma'afkan aku Jen, aku tak bermaksud menolak perjodohan kita.'


***


__ADS_2