Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 55 Penantian (Hamil)


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Pagi-pagi sekali Andika bergegas ke kamar mandi untuk muntah lagi dan lagi.


Talita mengikuti langkah suaminya dengan heran.


"Ini sudah sebulan, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi?" heran Talita.


"Aku juga tidak tahu, Ta. Siapa yang mau begini?" Andika keluar kamar mandi dengan lesu.


Untungnya setelah muntah beberapa kali, rasa eneg di perut Andika agak reda.


"Ayo makan," ajak Talita.


Andika mengangguk.


"Apa masih tak selera melihat nasi?" tanya Talita hendak menyiapkan sarapan untuk sang suami.


"Buah saja seperti biasa," jawab Andika meminta.


Huh.


"Baiklah." Talita terpaksa menghidangkan buah, sebenarnya dia ingin sang suami memakan nasi.


"Kalian sedang apa? Masih pagi sudah makan buah?" tanya ibu tiba-tiba datang.


"Ibu. Mas Dika muntah setiap pagi dan dia tidak mau memakan nasi, bagaimana ini, seperti perempuan yang sedang diet saja." Talita melirik sang suami.


Andika tidak enak sendiri, siapa juga yang mau seperti ini, apa yang barusan istrinya katakan, diet. Memangnya dia gendut?


"Bukan, Ta. Itu seperti... ." Ibu berpikir seperti mual di awal kehamilan, namun ibu hanya menduga.


Talita pernah mengatakan pada ibunya kalau dia setiap hari selalu mengecek tespek, kalau iya hamil. Bagaimana ibunya bisa tidak tahu.


"Seperti apa, Bu?" Talita penasaran. Andika pun juga.


"Apa kalian sudah periksa hamil?" tanya ibu bersemangat.


Talita tersentak, hamil. Sudah lama dia putus asa tentang hal ini.


Andika melirik sang istri yang nampak sedih.


"Apa kamu masih punya tespek?" tanya Andika.


"Masih," jawab Talita masih sedih, dia tidak yakin kalau hasilnya akan memuaskan.


"Kalian coba cek lagi," suruh ibu.


Talita ke kamarnya untuk mencari tespek, setelah mengambilnya dia langsung ke kamar mandi untuk mengecek hasil tes urinenya.


Talita melihat garis berjalan dan ada dua, dia senang tak percaya.


"Ibu, Mas Dika. Lihat ini," girang Talita keluar dari kamar mandi.


"Itu artinya."


"Iya."


Andika bangun dari duduknya dan memeluk Talita, ibu melihatnya dengan senang.


Setelah beberapa saat Talita merasa canggung dan melepas pelukan suaminya, dia hampir lupa ada ibu di sini juga.


Talita lalu memeluk sang ibu.


"Selamat ya, Nak." Ibu turut berbahagia untuk putri bungsunya ini. Sudah lama sekali kehamilan ini diinginkannya.


"Terimakasih, Bu." Talita menangis.


"Sudah jangan menangis, nanti calon dedenya sedih."


Talita menyeka air matanya.


"Kamu sarapan saja dulu lalu periksa ke dokter kandungan."

__ADS_1


"Baik, Bu. Ayo temani aku."


Pagi ini Talita semakin banyak menghabiskan sarapan, Andika melihatnya dengan senang, kehamilan sang istri adalah berita terbaik selama mereka bersama.


Andika terkekeh sendiri melihat betapa rakusnya sang istri makan, istrinya yang hamil namun dia sebagai sang suami yang mengalami mual-mual.


Setelah selesai sarapan, mereka lalu pergi ke dokter kandungan.


***


"Pagi Anton," sapa Davin, dia melihat Anton sekilas, lalu kembali melihat lagi, ada sesuatu yang lain dari Anton.


"Iya, Pak Davin," sahut Anton nampak sumringah, Jeny yang di sebelahnya melempar senyum pada Davin.


"Pak Davin," sapa Jeny.


"Kalian nampak bersemangat," ucap Davin menatap serius pada Anton dan Jeny secara bergantian.


"Bukankah setiap hari, kami selalu bersemangat, Pak," sahut Anton agak canggung.


"Tidak, kali ini sedikit berbeda, apa ada sesuatu?" tanya Davin penasaran.


Anton melirik Jeny, keduanya berpapasan pandang.


"Kami akan segera menjadi seorang ibu dan ayah," jawab keduanya malu-malu.


Davin terkejut lalu ikut berbahagia untuk mereka dan tak lupa dia memberikan ucapan selamat pada mereka.


"Jurus kamu ampuh sekali, Nton," ucap Davin bercanda.


Anton dan Jeny tersenyum malu.


"Ah Pak Davin bisa saja." Anton dan Jeny terkekeh sendiri.


"Aku akan ke ruanganku dulu, kalian jaga baik-baik dede bayi itu," permisi Davin sambil menunjuk ke perut Jeny.


Davin berjalan memasuki ruangannya sambil terbayang kebahagiaan pasangan suami istri yang sebentar lagi akan memiliki momongan, tentu Davin terbawa bahagia karena mereka.


"Sayang, sedang apa?"


Beberapa saat kemudian, Davin melirik ponselnya dan belum ada balasan pesan masuk dari Mellisa.


"Istriku sedang apa?" Davin kembali mengirimi pesan.


Lagi-lagi yang dikirimi pesan tidak membalas.


Davin menjadi gusar, sedang apa sebenarnya istrinya itu, bukankah ini waktu santai setelah mengantar anak-anak dari sekolah.


Karena penasaran, Davin menelfon sanv istri, namun tak ada jawaban.


Bermacam-macam pikiran melintas di benak Davin, bahkan sampai terpikir bahwa Mellisa sedang tidak di rumah entah kemana.


***


"Terimakasih, Bunda." Rosy dan Jasmine menyalami bunda mereka sebelum akhirnya memasuki pintu gerbang sekolahan.


"Iya, sayang. Belajar yang rajin, nurut sama guru kalian."


Mellisa melambaikan tangannya dan berbalik untuk pulang. Dia agak terkejut melihat pak guru Hilmi, wali kelas kedua putrinya yang baru saja datang ke sekolah.


"Selamat pagi, pak Hilmi," sapa Mellisa sambil tersenyum.


"Pagi juga, Bu Mellisa," sahut Hilmi.


"Anda tahu nama saya?" tanya Mellisa bingung.


"Saya juga menyebut nama anda setiap kita bertegur sapa ketika anda menjemput Rosy dan Jasmine pulang sekolah.


Mellisa tidak mengingatnya, ah iya, data anak didik di sekolah pasti lengkap, pak guru ini pasti mengetahuinya dari data itu.


Sebelum ini Mellisa juga merasa pak gurunya si kembar memang tak asing.


Mellisa mulai memikirkannya hingga terjatuh.

__ADS_1


Hilmi yang sedari tadi standby langsung sigap menahan tubuh Mellisa, Mellisa memperhatikan wajah Hilmi sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


Hilmi membawa Mellisa dengan mengajak Rosy dan Jasmine ke rumah sakit terdekat.


"Bagaimana keadaan Bunda?" tanya Rosy khawatir ketika sang bunda siuman.


"Kenapa Bunda di sini?" Mellisa tanya balik.


"Bunda tadi pingsan, lalu pak Hilmi membawa bunda ke sini," terang Jasmine.


Mellisa melirik Hilmi yang juga sedang menunggunya bangun.


"Anda sudah baikan, Bu Mellisa," ucap Hilmi dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan namun dia tetap tersenyum ramah.


"Saya baik, terimakasih, Pak Hilmi." Mellisa lalu menoleh ke arah Rosy dan Jasmine.


"Kalian tidak mengabari ayah?" tanya Mellisa pada keduanya.


"Ah iya. Lupa."


Jasmine segera mengambil ponsel bundanya yang di dalam tas.


"Bunda, ayah mengirim pesan dan menelfon berkali-kali," ucap Jasmine melihat layar ponsel dipenuhi dengan nama sang ayah.


"Cepat telfon ayah, ayah kalian pasti khawatir."


Jasmine lalu menelfon dan langsung terjawab oleh Davin.


"Bunda. Ada apa? Kemana saja dari tadi?" tanya Davin tak sabar, dia menunggu kabar tentang istrinya itu.


"Ayah, ini aku," ucap Jasmine menyahut.


"Jasmine, di mana bundamu?"


"Bunda tadi pingsan dan sekarang di rumah sakit."


"Ayah segera ke sana." Davin langsung menutup telfon dan bergegas ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Bunda?" tanya Davin khawatir.


Mellisa hanya tersenyum.


Davin melihat Rosy dan Jasmine juga ada pak wali kelas keduanya.


"Pak Hilmi," panggil Davin heran.


"Pak Hilmi yang membawa bunda ke sini, Yah." Rosy menjelaskan.


"Karena Pak Davin sudah hadir, saya mohon pamit kembali ke sekolah," permisi Hilmi parau.


"Terimakasih banyak Pak Hilmi," ucap Davin sambil bersalaman sebelum Hilmi berlalu.


Sebenarnya Hilmi tidak ingin pergi, namun tidak ada alasan untuknya tetap tinggal.


Hilmi meninggalkan rumah sakit dengan langkah layuh, hatinya pun merasa layuh.


Di kamar pasien tempat Mellisa rawat jalan.


Dokter memasuki ruangan itu.


"Selamat siang Bapak, Ibu. Ibu Mellisa tak perlu menginap, cukup istirahat di rumah saja. Ini biasa terjadi di trimester awal, apalagi bagi Bu Mellisa ini adalah kehamilan keduanya, sudah pasti mengerti bukan?" Dokter menjelaskan membuat Davin senang seketika.


"Bunda hamil?"


Mellisa mengangguk.


"Kami akan memiliki dede bayi," girang Rosy dan Jasmine lalu memeluk sang bunda.


Tentu saja, siapa yang tidak bahagia karena akan memiliki buah hati lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2