
Davin melangkah terburu-buru ke ruangan kerja, dia tak mau jika atasannya melihatnya baru saja datang, walaupun terlambat beberapa menit saja, namun itu tetap prestasi yang buruk.
Hari ini Davin mengantarkan kedua putri kembarnya ke sekolah terlebih dahulu, setelah sampai di sekolah, Davin segera melaju ke kantor namun tetap saja dia terlambat karena jalan menuju tempat kerja dan sekolah putri-putrinya berlawanan arah.
Ini dilakukannya untuk penebusan sikapnya semalam kepada kedua putrinya.
Bug!
Davin menabrak seseorang tepat di depan pintu ruangan kerjanya, dilihatnya Anton berada di depannya dari arah berlawanan hendak masuk.
"Ma'af, Pak Davin," ucap Anton menundukkan kepala.
"Tak apa," sahut Davin, dia langsung masuk ruangan, disusul kemudian oleh Anton di belakangnya.
"Ma'af, Pak Davin."
"Tak perlu mengulang ma'af lagi, tak apa."
"Bukan, ini."
Anton menyerahkan secarik kertas pada Davin.
Davin mengerutkan alisnya.
"Apa ini?" tanya Davin heran.
"Itu dari nona Sonya," terang Anton.
Davin melihat kertas itu dan mengambilnya dari Anton.
Davin terkejut, di sana tertulis 'Buatkan aku kopi.'
"Kamu yakin?" Davin melihat Anton tak percaya.
"Nona Sonya sendiri yang memberikannya padaku sebelum Anda datang, Pak," terang Anton.
"Anda harus melakukannya karena tadi saya melihat nona Sonya marah karena Anda belum datang," lanjut Anton lagi.
Davin menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah."
Davin bergegas ke dapur, dilihatnya beberapa OB tengah menyiapkan kopi.
"Pak Davin," sapa salah satu OB.
"Buatkan satu," suruh Davin.
"Kenapa Pak Davin datang langsung ke sini, harusnya Pak Davin menelfon nanti akan kami bawakan ke ruangan Pak Davin."
"Terimakasih, kalian yang terbaik." Davin menunjukkan jari jempolnya untuk mereka.
"Ini, Pak Davin." OB menyerahkan kopi yang sudah tersaji.
"Terimakasih ya." Davin segera menuju ruangan nona Sonya.
"Assalamu'alaikum, Nona Sonya," salam Davin memasuki ruangan.
"Wa'alaikum salam," sahut Sonya.
"Ini kopinya Nona, ma'af saya datang terlambat." Davin berbalik dan hendak keluar.
"Mau kemana?" tanya Sonya lembut, dia menghampiri Davin.
"Saya akan kembali ke ruangan saya, Nona," jawab Davin sambil melangkah.
"Hey! Siapa yang mengizinkanmu pergi," sentak Sonya.
"Anda butuh apalagi, Nona?"
"Aku ingin kamu menemaniku," ucap Sonya manja, dia menarik lengan Davin, namun Davin segera menepisnya.
__ADS_1
Tampilan Sonya memang menggoda, dia masih muda dan cantik, hanya saja terlalu angkuh dan sombong.
Kali ini Sonya nampak manis dan lembut, mungkinkah dirinya sengaja merayu Davin.
Davin tidak mau berpikir terlalu jauh.Tanpa pamit dia bergegas keluar dari ruangan nona Sonya.
Di ruangan kerja Davin.
Davin duduk dengan gugup, dia tak menyadari jika Anton melihatnya dengan aneh.
"Anda kenapa, Pak Davin?" tanya Anton.
Davin menoleh Anton dan menggeleng.
"Tak apa, ayo kita selesaikan pekerjaan kita."
"Baik, Pak."
Mereka mulai kembali bekerja hingga waktu istirahat siang.
Davin dan Anton hendak keluar ke kantin untuk makan siang. Tiba-tiba ponsel Davin berdering, tertulis nama Nona Sonya di layar ponsel.
"Iya, Nona. Ada apa?" tanya Davin mengangkat telfon.
"Temani aku makan siang sebagai denda kamu meninggalkanku tadi pagi," jawab Sonya memaksa.
"Baiklah." Davin menurut. Ini hanya makan siang, lagi pula dia lapar, pikirnya.
Di kantin.
Davin mengajak Anton dan Jeny duduk di bangku yang telah nona Sonya pesan.
"Hanya Davin yang boleh duduk di sini. Kalian pergilah." Sonya mengusir Anton dan Jeny.
Semuanya terkejut. Hampir semua berpikir nona Sonya baik hati hari ini, namun mereka diusir kecuali Davin.
"Ayo kita pergi saja," ajak Davin.
Sonya kembali ke ruangannya tanpa menoleh siapapun, dia menggebrakkan meja dan berlalu.
"Selalu aneh," ucap Jeny.
"Mungkin dia hanya ingin bersama Pak Davin." Anton melirik bosnya.
"Kalian tahu tidak, tadi pagi dia menarik lenganku meminta aku menemaninya," ucap Davin mengejutkan kedua rekan kerjanya.
"Ah benarkan dia aneh." Jeny semakin yakin, biasanya Sonya tak pernah mau bergaul dengan siapapun di kantor, ditambah sikapnya yang dingin, mana ada yang mau berteman dengannya.
"Sepertinya nona Sonya menyukai Pak Davin," ucap Anton membuat Davin tersedak.
Mereka belum memesan makanan dan minuman, melihat Davin terbatuk kewalahan Jeny segera memesan minuman untuk mereka.
"Minum dulu, Pak." Jeny menyerahkan air minum setelah pelayan datang membawakan pesanan.
"Biar saya saja," ucap Anton mangambil alih. Walaupun sekedar memberikan air minum tentu saja Anton cemburu.
Setelah batuk Davin reda, dia mengoceh kesal.
"Sudah, Pak. Nanti anda batuk lagi," kekeh Anton.
Mereka menikmati makan siang dengan santai, sesekali mengobrol dan bercanda.
Davin kini sudah terbiasa dengan Anton dan Jeny di sisinya ketika di kantor, mereka mulai menjadi teman entah sejak kapan.
"Aku akan langsung ke ruanganku, kalian bisa berduaan dulu di sini." Davin meninggalkan kedua pasangan ini.
Jeny malu-malu mendengarnya. 'Berduaan' dengan Anton, hm.
"Jen," panggil Anton.
"Iya," sahut Jeny.
__ADS_1
"Minggu depan aku akan melamarmu," ucap Anton serius.
Jeny tersenyum senang, dia hendak menanyakannya namun Anton sudah lebih dulu mengutarakannya.
"Kamu mau kan?" tanya Anton memegang tangan Jeny.
Jeny mengangguk.
"Nanti kita pulang lebih awal, aku akan mengajakmu memilih cincin yang kamu suka," ucap Anton lagi.
Jeny kembali mengangguk. Rasa hati gembira tiada terkira, dia percaya bahwa kalau memang jodoh tidak akan kemana, walaupun sempat minder dengan usianya yang sudah sangat dewasa.
"Aku mencintaimu." Anton mengeratkan pegangan tangannya.
"Jangan terlalu erat! Kita bahkan belum halal," ucap Jeny malu, sebenarnya tangannya juga merasa dingin karena gugup.
Anton langsung melepas genggamannya.
"Baiklah ayo kita kembali bekerja," ajak Anton.
Keduanya melangkah bersama menuju ruang kerja. Sesekali saling melirik dan melempar senyum satu sama lain.
"Aku akan di sini menemanimu." Anton langsung duduk.
"Tidak, kamu ke ruangan pak Davin saja," usir Jeny.
"Apa kamu tidak mau aku temani?" tanya Anton cemberut.
"Nanti ak malah tidak konsen, sana pergi," usir Jeny lagi.
"Baiklah. Cium dulu," iseng Anton.
"Banyak orang." Jeny kesal, dicubitnya perut Anton.
"Sakitlah."
"Makanya sana pergi."
"Iya."
Jeny melambaikan tangan sambil tersenyum, tentu saja Anton membalasnya.
"Assalamu'alaikum, Pak Davin," salam Anton memasuki ruangan, dia masih terlihat sumringah.
"Wa'alaikum salam," sahut Davin. Dia melihat Anton yang nampak senang.
"Ciye yang sedang kasmaran," ledek Davin.
Anton tersenyum malu. Kalau saja ada lubang dia akan langsung masuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Tak lama setelah mereka mulai bekerja, datang seseorang menerobos masuk tanpa salam.
"Anda harus lembur malam ini," ucap orang itu menyerahkan tumpukan berkas yang lumayan tebal.
Orang itu adalah asisten pribadi Sonya, sama angkuhnya dan sombong.
"Bisakah besok," tawar Davin.
"Anda bisa menawar langsung pada nona Sonya." Asisten Sonya berlalu.
Davin menghembuskan nafas kasar.
"Apa-apaan ini," kesal Davin.
"Sebelumnya saya minta ma'af, Pak Davin. Saya sudah berjanji akan mengajak Jeny ke toko perhiasan." Anton merasa tidak enak hati.
"Baiklah, pergi saja. Aku akan menanganinya sendiri."
"Terimakasih banyak, Pak Davin."
***
__ADS_1