Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 38 Satu Garis Lagi


__ADS_3

"Rosy, Jasmine," panggil Mellisa.


Keduanya menoleh.


Mellisa tersenyum, mereka baru saja bertengkar tapi sekarang tengah duduk bersama berdekatan dan melamun bersama pula.


Tingkah mereka membuat sang bunda menggelengkan kepala sekaligus terhibur karena mereka nampak lucu. Walaupun sudah setiap hari kedua putri kembarnya seperti itu namun ada hal baru di setiap momennya.


"Bunda minta ma'af," ucap Mellisa mendekati mereka.


"Kami juga minta ma'af, Bunda."


"Sudah tidak marah satu sama lain kan?"


Keduanya menggeleng.


"Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Jasmine nampak khawatir.


"Ayah baru saja selesai makan dan minum obat."


Jasmine menunduk, merasa tidak enak hati dengan sang ayah.


"Bunda, aku ingin melihat ayah sebentar, aku tidak akan mengganggu." Jasmine menghampiri sang ayah di kamar.


Davin tengah tertidur, Jasmine mendekatinya dan memeluk sang ayah sebelum meminta ma'af.


"Ma'afkan aku, Ayah," ucapnya lirih.


Davin menarik Jasmine ke dalam pelukannya, Jasmine kaget namun menurut saja.


"Ayah," panggil Jasmine menatap wajah ayahnya yang masih belum membuka matanya.


"Temani Ayah, Ayah ingin istirahat dan jangan berisik," ucap Davin.


"Baik, Yah."


Sementara di luar kamar, Mellisa dan Rosy bersama-sama membereskan rumah.


Terlepas dari kondisi ayah yang sedang sakit, Rosy dan bundanya melakukan aktifitas seperti biasanya dengan riang. Mereka beberes sambil bercanda.


Bagi Rosy harinya akan selalu menyenangkan, dirinya yang lebih senang bersama sang bunda tentunya, karena bundanya selalu di rumah, dia tak kan mungkin kesepian dan bosan.


Sementara dengan Jasmine. Sedari kecil dia lebih dekat dan nyaman bersama nenek dan tantenya, namun saat ini nenek dan tantenya sudah tidak tinggal bersamanya. Maka hanya sang ayahlah yang dia harapkan menemaninya.


Meski begitu, Jasmine tidak sedikitpun cemburu bila sang kakak terus dimanja oleh bunda mereka, itu membuat Mellisa lega. Mellisa sendiri tidak mau membedakan mereka satu sama lain, kasih sayang untuk kedua putrinya tak beda.


***


Di kediaman Andika.


Talita baru saja membereskan bekas makan keluarga dibantu sang ibu.


"Terimakasih, Bu."


"Sama-sama, Ta. Belum lama, tapi Ibu sudah rindu cucu-cucu Ibu."


Inayah membayangkan pesona kedua cucunya yang sebelumnya menemaninya sehari-hari, dia tersenyum sendiri tanpa menyadari Talita tengah melihat raut wajah sang ibu dengan sedih.


Dalam hal ini, Talita memang sensitif, dia menyembunyikan perasaan sedihnya dan berusaha tersenyum.


"Ibu, bagaimana kalau kita video call sama mereka," ucap Talita membuat ibunya bersemangat.


"Iya, ayo cepat." Ibu terlalu senang.


'Kenapa aku tak kunjung hamil ya? Aku juga ingin melihat ibu gembira seperti ini saat bersama anakku nanti,' batin Talita.

__ADS_1


Video call telah siap, ibu segera mengambil ponsel Talita dari tangannya.


"Assalamu'alaikum, Mellisa," salam ibu ketika melihat wajah Mellisa di layar ponsel.


"Wa'alaikum salam, Bu," sahut Mellisa tersenyum.


"Kamu sedang apa? Dimana Rosy dan Jasmine?" tanya ibu nampak tak sabar.


Talita yang melihat itu semakin merasa tak nyaman.


"Sebentar, Bu." Mellisa melihat sekeliling, dia tak menjumpai kedua putrinya lalu memanggil mereka.


"Rosy, Jasmine. Nenek menelfon. Kalian dimana?" Mellisa memanggil kedua putrinya agak keras.


Tak lama Rosy datang.


"Nenek ya?" tanya Rosy menghadap ke arah neneknya.


"Sayang, kok hanya satu, dimana yang satunya?"


Rosy menggeleng.


"Nenek sedang apa? Betahkah bersama tante Talita?"


"Nenek betah dimana saja, tapi saat ini Nenek sedang rindu sama kalian."


"Dor!" Jasmine tiba-tiba muncul.


"Nenek," panggil Jasmine merebut ponsel.


Jasmine mengambil alih video call dan membawa ponselnya agak jauh.


Rosy menjadi cemberut.


Sampai tiba-tiba Davin datang.


"Kamu nampak senang sekali, siapa yang menelfon sampai kamu meninggalkan Ayah sendirian di kamar," ucap Davin menghampiri Jasmine.


Rosy yang juga melihat sang ayah pun semakin cemberut, kenapa sang ayah malah menghampiri Jasmine, bukan dirinya. Bukankah tadi pagi Jasmine telah membuat keributan.


Rosy lalu melihat sang ibu yang nampak tersenyum, matanya terfokus melihat sang ayah dan adiknya.


Hah. Kenapa semua orang menyukai Jasmine, pikirnya. Terlebih nenek dan tantenya.


"Ayah sudah baikan," ucap Mellisa mendekat.


"Memangnya kamu kenapa, Davin?" tanya ibu di video call.


"Hanya demam ringan, Bu. Sekarang sudah mendingan," jawab Davin.


"Bagaimana dengan Ibu? Betahkah di sana? Apa menantu Ibu memperlakukan Ibu dengan baik?" tanya Davin bertubi-tubi.


"Hey pertanyaanmu menuduhku," ucap Andika tiba-tiba muncul.


Davin terkekeh. Begitupun Mellisa.


"Talita saja sampai tidak makan tiga hari," canda Mellisa.


"Ah, benar-benar kalian semua menyebalkan," sahut Andika.


Tawa menggelegar. Obrolan semakin ramai.


Mellisa memanggil Rosy yang tengah cemberut untuk bergabung.


"Sudah cemberutnya," ucap Mellisa menyadari bahwa putri yang satunya ini sedang kesal.

__ADS_1


Karena mengobrol sudah cukup lama, maka video call diakhiri.


"Assalamu'alaikum, Nenek, Tante, Om. Nanti kapan-kapan liburan lagi ya," salam Rosy dan Jasmine bersamaan.


"Wa'alaikum salam. Siap sayang."


Setelah Video call berakhir, Talita kembali ke perasaannya, walaupun selama tadi mengobrol dia sedikit terhibur.


"Ibu, aku ke kamar dulu," pamit Talita.


Ibu mengangguk.


"Aku ke kamar dulu ya, Mas," pamit Talita lagi pada sang suami.


"Ya, aku akan bersantai di depan." Andika berjalan ke depan rumah.


Talita sampai ke kamarnya dan menutup pintu.


Dia membuka laci meja di dekat tempat tidur, ada banyak stok tespek di sana.


"Aku akan mengecek lagi," ucapnya lalu bersiap mengambil sampel urinenya.


Dengan penuh harap Talita mencoba lagi mengecek, perlahan dia menunggu hasilnya.


Harap-harap cemas, ternyata garis di tespek itu hanya satu.


Lagi dan lagi Talita kecewa pada dirinya sendiri.


Di tengah kesedihannya, tiba-tiba pintu terbuka.


"Sayang," panggil suaminya masuk.


Talita kaget, dia hendak menyembunyikan tespek dan sampel urinenya ke bawah tempat tidur namun Andika sudah lebih dulu melihatnya.


"Talita," panggil Andika lagi.


Talita gelagapan dan menundukkan pandangan tak berani menatap sang suami.


"Apa aku menakutimu?" tanya sang suami semakin mendekat.


Talita menggeleng. Dia masih menunduk.


Andika memeluk Talita sambil melirik tespek di sebelah Talita.


"Apa kamu selalu mengeceknya?" tanya Andika lembut.


Talita mengangguk lagi.


"Tak apa, kita harus selalu sabar." Davin mencium kening istrinya.


Talita memeluk suaminya semakin erat, tak terasa air matanya menetes dan membasahi baju Andika.


"Hey, jangan menangis. Sayang aku harus bagaimana agar kamu berhenti menangis." Andika menyeka air mata sang istri.


Talita menatap sang suami.


"Ajak aku jalan-jalan," ucap Talita asal dan memaksakan senyum.


"Oke. Baiklah. Ayo." Andika mencium bibir istrinya sebentar lalu menarik lengan sang istri keluar kamar.


Setelah berpamitan dengan ibu, Andika dan Talita keluar dari rumah untuk jalan-jalan sebentar.


Andika berharap ini akan membuat kesedihan istrinya hilang atau setidaknya berkurang. Semampunya dia akan membuat Talita senang bersamanya.


***

__ADS_1


__ADS_2