
"Hari ini kamu nampak bersemangat." Davin melihat raut wajah Anton yang nampak segar.
"Bukankah setiap hari harus semangat, Pak Davin."
"Bolehkah aku minta tolong." Davin melihat Anton lagi.
Tiba-tiba wajah Anton berubah dingin, seperti menolak untuk dimintai tolong.
"Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
"Aku akan pulang lebih awal, aku sudah berjanji dengan istriku, karena hari ini kami akan pindah rumah ."
Anton mengangguk mengerti.
Davin dibantu Anton segera menyelesaikan beberapa dokumen dan berkas sebelum Davin pulang.
"Seperti biasa selanjutnya kamu bekerja sama dengan Jeny dalam penyelesaian berkas yang terakhir, aku janji besok akan berangkat pagi untuk menebusnya." Davin mulai berkemas.
"Baik, Pak."
Sepeninggal Davin, Anton bergegas dengan semangat menemui Jeny.
"Pak Davin pulang lebih awal lagi," ucap Jeny menebak.
Anton mengangguk.
"Ayo bantu aku."
"Baiklah."
Keduanya segera melanjutkan kerja mereka.
"Akhir-akhir ini pak Davin jadi sering pulang sore ya, bagaimana kalau bos besar sampai mengetahuinya," ucap Jeny di sela-sela waktu bekerja.
"Kecuali ada yang mengadu, bos besar tak akan mengetahuinya," sahut Anton.
"Tapi aku merasa repot, aku jadi pulangnya terlalu malam karena tugas tambahan dari pak Davin. Bukankah kamu juga lelah." Jeny mulai memijat keningnya.
"Kamu kenapa?" tanya Anton.
"Aku sedikit pusing," jawab Jeny. Beberapa detik kemudian dia pingsan.
Anton segera membawa Jeny ke klinik perusahaan.
Beberapa saat kemudian, Jeny tersadar.
"Ayo minum dulu," ucap Anton lalu memberikan secangkir teh untuk Jeny.
"Terimakasih."
"Kamu pasti kelelahan, aku antar pulang."
"Apakah pekerjaan kita sudah selesai."
"Kamu jangan khawatir, sudah ku selesaikan. Mari ku antar pulang."
Anton membantu Jeny bangun dan menggandengnya melangkah keluar menuju parkiran.
"Ayo masuk mobilku," ucap Anton membukakan pintu mobilnya.
Jeny mengangguk.
Sampai di rumah Jeny.
"Assalamu'alaikum, Bu," salam Jeny mengetuk pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam," sahut Atikah, ibunya Jeny dari dalam rumah.
Atikah terkejut melihat putrinya dipelukan laki-laki.
"Siapa kamu? Ada apa dengan Jeny?" tanya Atikah mengambil alih putrinya.
__ADS_1
"Dia pingsan di kantor, saya mengantarkannya pulang karena sepertinya Jeny kurang enak badan," terang Anton.
Ibunya Jeny dibantu Anton mengantar Jeny ke kamarnya.
Jeny berbaring di tempat tidur.
"Terimakasih ya, Nton," ucap Jeny masih lemah.
"Sama-sama, saya permisi untuk pulang."
"Tunggu."
Anton diam sejenak.
"Ibu, bisa minta tolong buatkan minum untuk Anton? Kami baru saja lembur kerja, kasihan Anton pasti lelah," pinta Jeny pada ibunya.
"Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar jagain Jeny, Ibu segera kembali."
Keadaan menjadi hening, hanya sesekali mata mereka bertemu namun tetap tak mengatakan apapun, keduanya tak bicara sampai Atikah datang.
"Ini, Nak Anton. Silahkan diminum." Atikah mempersilahkan tamunya untuk minum.
"Terimakasih, Tante."
Jeny melihatnya dengan tersenyum seperti ada rasa ketertarikan pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Atikah yang melihat putrinya begitu fokus melihat Anton lalu pura-pura terbatuk.
Uhuk!
Uhuk!
Jeny tersadar dan menurunkan pandangan.
Anton tersenyum sebentar lalu kembali lagi dengan wajah datar.
"Kalau begitu, saya permisi pulang, Tante." Anton bangun dan berlalu meninggalkan rumah Jeny.
"Ibu tidur di sini ya," pinta Jeny manja.
Ibunya mengangguk.
"Apa kamu suka dengan temanmu tadi?" tanya Atikah tiba-tiba membuat Jeny langsung menunduk malu.
"Kenapa tanya seperti itu, Bu?"
"Bagaimana dia orangnya?"
"Anton sangat kaku, Bu. Datar terus raut wajahnya, tapi tadi...." Jeny tersenyum membayangkan Anton mengurusnya ketika dia pingsan.
"Hayo apa?"
"Tidak, Bu. Itu hal yang wajar, siapapun jika didekatku pasti akan mengurusku ketika aku pingsan."
Atikah mengelus kepala putrinya.
"Ya sudah, kamu pasti belum makan. Ibu ambilkan makanan, kamu makan lalu istirahat."
"Terimakasih ya, Bu."
Atikah mengangguk.
***
"Assalamu'alaikum," salam Davin memasuki apartemen.
"Wa'alaikum salam," sahut yang di dalam rumah.
"Ayah!" teriak kedua putri Davin bersemangat, mereka mendekati sang ayah.
"Putri-putri ayah yang cantik." Davin mencium kening mereka secara bergantian.
__ADS_1
"Kami baru saja membantu bunda mengemasi barang-barang."
"Oh ya! Pintarnya putri-putri Ayah." Davin lalu memeluk mereka.
"Ayah," panggil Mellisa menghampiri.
"Iya, Bunda," sahut Davin tersenyum.
"Ayo makan dulu," ajak Mellisa lalu mendorong tubuh suaminya dan kedua putri mereka menuju meja makan.
"Ayah sering pulang lebih awal apa tidak apa-apa?" tanya Mellisa sambil mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Ayah kan bosnya," jawab Davin sambil menatap makanan yang hendak dia lahap.
"Kan masih ada bos besar, mulai besok jangan lagi ya."
Davin mengangguk.
Semua telah selesai makan dan bersiap akan pindah ke rumah baru.
Sesampainya di rumah yang baru.
"Wauw .... Benarkah ini rumah kita, Ayah?" tanya Rosy nampak takjub melihat rumah di hadapannya lebih besar dari apartemen tempat tinggal mereka sebelumnya.
"Ayah hebat," puji Jasmine sambil berjalan ke sana kemari di depan pintu rumah.
"Ayo kita masuk," ajak Davin lalu mengeluarkan kunci dan membuka pintu.
Mellisa dan ibunya juga merasa takjub, sedari kecil belum pernah melihat rumah sebesar dan sebagus ini dan kini mereka akan tinggal di dalamnya.
"Apa boleh aku tidur di kamar sendiri, Ayah?" tanya Jasmine. Dia dari dulu ingin sekali tidur sendiri karena bebas dan menyenangkan, pikirnya.
"Jangan dong, Jasmine. Nanti aku sendirian takut kalau tidur." Rosy mendekati adiknya.
"Ih tak mau, mana asik tidur berdua."
"Bunda," panggil Rosy manja meninggalkan sang adik ke pelukan bundanya.
"Ya, sayang." Mellisa mengelus rambut Rosy.
"Aku sekamar sama Bunda ya?" pinta Rosy memelas.
"Tidak bisa, Rosy," sela Davin.
"Ayah," kesal Rosy.
"Ayo, Bunda. Kita ke kamar kita," ajak Davin menarik lengan istrinya hendak meninggalkan kedua putrinya dan mertuanya.
"Mereka kamarnya dimana, Yah?" tanya Mellisa sebelum berjalan.
"Itu kamar kalian dan di sebelahnya kamar Ibu," terang Davin lalu segera melangkah mengajak sang istri.
"Ya sudah ayo ke kamar kalian, biar Nenek temani," ajak Inayah mendorong cucu-cucunya agar berjalan ke kamar.
"Nenek temani aku sebentar ya," pinta Rosy yang belum berani tidur sendiri.
"Ada aku ini, nanti tempat tidurnya jadi sempit, kasihan Nenek kan," ucap Jasmine sambil membuka tasnya mencari baju tidur.
"Tapi kamu janji ya, akan sekamar denganku tidak hanya malam ini tapi besok-besok juga." Rosy minta kepastian.
"Iya Kakakku yang penakut," ledek sang adik.
"Ih, ayo katakan lagi!" marah Rosy.
"Penakut. Penakut." Jasmine semakin menggoda sang kakak.
"Nenek, lihat kan Jasmine sangat menyebalkan," ucap Rosy cemberut.
"Sudahlah. Ini sudah malam. Istirahatlah," suruh Inayah pada cucu-cucunya itu.
Tak lupa sang nenek memberikan ciuman hangat di kening untuk mereka.
__ADS_1
***