
Davin menghabiskan sisa hari ini untuk bersenang-senang bersama keluarga kecilnya. Mereka berkeliling mall dan makan di restoran.
"Kalau seperti ini setiap hari, aku akan senang," ucap Jasmine.
"Bagaimana bisa begitu. Kalau setiap hari bagaimana Ayah bisa bekerja?" Rosy merasa kurang senang dengan ucapan Jasmine.
"Walaupun menyenangkan tapi kalian juga harus belajar, tidak mungkin bermain-main ,seperti ini terus." Sang bunda menengahi.
"Tuh dengar apa yang bunda katakan," ucap Rosy sambil menjulurkan lidahnya.
"Eh!" Jasmine hendak meraih Rosy namun sang bunda menengahi kembali.
"Ini sudah petang, apakah kalian sudah puas? Mari kita pulang," ajak sang ayah.
Davin sangat lega, dia akhirnya bisa meluangkan waktu untuk istri dan kedua putrinya.
Sepanjang perjalanan pulang, semua penghuni mobil bercanda ria.
Davin puas juga melihat istri dan kedua putri kembarnya begitu bahagia.
Sesampainya di rumah.
"Ayah is the best," ucap Jasmine bersandar langsung ke sofa.
"Bukankah Ayahmu ini payah," sahut Davin.
"Ups. Ma'af, Ayah. Aku tidak bermaksud begitu." Jasmine merasa bersalah, dia menunduk malu.
"Kita satu keluarga, kita harus saling mendukung satu sama lain." Mellisa mendekati Jasmine dan memeluknya, Rosy menyusul dan duduk menempel pada bundanya.
"Bisa tidak kamu agak menjauh? Aku ingin dipeluk bunda," usir Jasmine.
"Aku juga ingin dipeluk bunda." Rosy lalu mengangkat tangan sang bunda agar memeluknya.
Mellisa memeluk kedua putrinya dan mencium kening mereka secara bergantian.
"Ayah juga ingin dipeluk, Bunda." Davin ikut mendekat.
"Ayah tidak boleh." Rosy dan Jasmine menyahut bersamaan.
Mellisa terkekeh.
"Sudah sana kalian istirahat, ini waktunya Bunda menemani Ayah," usir Davin mendorong kedua putrinya perlahan.
"Ih apaan sih, Ayah," kesal Rosy.
"Ayo kita ke kamar saja," ajak Jasmine.
Jasmine menarik Rosy ke kamar mereka.
"Ayo kita ke kamar juga, Bunda," ajak Davin tersenyum genit.
Mellisa mengangguk.
Hehem. Mellisa pasti sudah tidak ngambek lagi.
Davin dan Mellisa melangkah ke kamar bersama, senyum selalu menghiasi wajah keduanya.
Sesampainya di dalam kamar.
Davin melihat kotak hadiah di atas meja rias yang masih tersegel, sepertinya Mellisa belum membukanya.
Davin tiba-tiba cemberut, Mellisa yang menyadari perubahan wajah suaminya langsung bertanya.
__ADS_1
"Ayah kenapa?" tanya Mellisa manja, dia menempel pada lengan suaminya.
"Bunda belum membuka hadiah dari Ayah?" Davin kesal.
Mellisa tersentak. Oh tidak. Dia mengingat suaminya memberinya hadiah kemarin, dia bahkan belum membukanya, bagaimana dia bisa melupakannya saat ini.
"Bunda lupa, Yah. Bunda akan membukanya sekarang ya?"
Mellisa mengambil kotak hadiah itu dan hendak membukanya.
"Tidak perlu, Bunda memang tidak menghargai pemberian Ayah." Davin melangkah ke tempat tidur dan berbaring.
Mellisa semakin tak enak hati, bagaimana caranya membujuk suami.
"Ayah," panggil Mellisa manja.
Yang dipanggil malah memalingkan wajahnya dan masih cemberut pula.
Mellisa menghampiri suaminya lalu berbaring di dekatnya.
Davin tak menoleh sedikitpun membuat Mellisa memikirkan sesuatu, hm apa ya?
Tak disangka Mellisa meraih pipi suaminya dan menciumnya, Davin langsung menoleh ke istrinya.
"Apakah itu yang bisa dilakukan perempuan saat membujuk laki-laki?" tanya Davin datar, sepertinya Mellisa gagal.
"Ayah, Bunda tidak tahan kalau Ayah seperti ini."
"Ini baru beberapa menit, kenapa Bunda bisa tidak tahan?"
Kemarin bahkan apa pernah Mellisa berpikir berapa waktu yang dibuang sia-sia hanya karena ingin memberi pelajaran suaminya.
"Ayah. Bunda mohon, ma'afkan Bunda ya?"
"Tak enak kan rasanya. Ayah sudah diabaikan dari kemarin, diacuhkan, tidak dianggap, tidak-."
Mellisa tak mampu lagi mendengarnya, iya sang suami membalikkan situasinya, apakah itu dendam.
"Tidurlah. Sudah malam."
"Bunda tak akan bisa tidur jika Ayah masih marah."
"Apakah menurut Bunda, Ayah kemarin bisa tidur?"
Mellisa tersentak kembali, suaminya benar-benar pintar.
"Baiklah Bunda salah, Bunda minta ma'af. Katakan Ayah ingin Bunda melakukan apa agar Ayah tidak marah lagi?"
"Buka hadiahnya dan pakailah."
Pakai, Mellisa mungkin mengerti, itu semacam baju tidur mungkin seperti piyama karena suaminya menyuruhnya memakainya sekarang.
Mellisa mulai membuka kotak hadiah itu, betapa terkejutnya dia.
"Kenapa kaget? Ayo pakai," suruh Davin.
"Sekarang, Yah," sahutnya.
"Iya," ucap Davin datar.
"Bisakah Ayah keluar dulu," pinta Mellisa malu-malu.
"Tidak. Pakai sekarang aku ingin melihatnya." Tanpa malu Davin menatap sang istri.
__ADS_1
Berbeda dengan Mellisa yang yang teramat malu, itu adalah lingerie. Seandainya dia membukanya kemarin mungkin dia akan marah. Namun sekarang Davin berhasil mengambil alih situasinya.
"Bisakah Ayah menutup mata?" pinta Mellisa mengangkat lingerie itu dari dalam kotak.
"Tidak. Aku ingin melihatnya." Davin bersikeras.
Akhirnya Mellisa harus menurut. Dia mulai menanggalkan pakaiannya dan berganti memakai lingerie itu.
Sementara Davin yang tiada henti menatap sang istri tentu saja mulai berhasrat, bahkan sudah dia tahan dari kemarin.
"Kemarilah," suruh Davin.
Mellisa menghampiri sang suami dengan malu, pipinya memerah. Meski ini bukan pertama kalinya dan bahkan hampir 8 tahun mereka menikah, situasi seperti ini tetap membuat Mellisa canggung.
Tanpa menunggu persetujuan sang istri, Davin langsung menyambar tubuh Mellisa sesuka hatinya.
"Ayah sangat merindukan, Bunda," bisiknya di telinga sang istri.
Beberapa saat kemudian Mellisa juga mulai terangsang, namun Mellisa menyadari sesuatu ketika sang suami hendak menyentuh area sensitifnya.
"Ayah!"
"Kenapa?"
"Bunda, Bunda sedang datang bulan."
Davin kecewa.
"Bisakah Bunda bertanggung jawab?"
Davin memandang istrinya dengan genit.
Dengan ragu-ragu Mellisa mengangguk.
Iya, keduanya sudah sama-sama terangsang tapi mereka tidak bisa melakukan lebih.
Dalam syariat ketika sang istri sedang dalam keadaan haid, maka area pusar sampai lutut haram bagi suami, selain itu diperbolehkan.
***
Di tempat tidur, Hilmi hanya berbalik kesana kemari karena tak dapat tidur.
Terbayang di benaknya wajah Mellisa tadi siang, dia sangat cantik setelah dewasa.
Hilmi mengira tak akan pernah melihat Mellisa lagi, tiada sangka, anak-anak Mellisa sekolah di tempat dia mengajar.
"Aku hampir melupakannya namun dia muncul lagi."
Tentu saja Hilmi mengingat kembali masa-masa kecilnya bersama Mellisa, mereka terkadang diam-diam bertemu tanpa sepengetahuan orang tua mereka.
Waktu itu mereka masih SD, bisa dibilang itu hanya cinta monyet.
Tapi benarkah Mellisa sudah melupakan semuanya, Hilmi menjadi gelisah.
Terakhir kali dia kembali ke kampung, dia dengan semangat berkunjung ke rumah Mellisa untuk melamarnya.
Tidak disangka itu hari setelah Mellisa melangsungkan pernikahan dan Mellisa langsung diboyong keluarga sang suami.
"Mereka nampak bahagia, suami Mellisa juga tampan, mereka juga telah dikaruniai dua putri kembar yang sangat menggemaskan."
"Bagaimana mungkin Mellisa masih mengingatku?"
"Bodohnya aku."
__ADS_1
Malam semakin larut, Hilmi pun semakin memgantuk. Karena terlalu lelah, dia dapat terlelap walau waktu menjelang fajar.
***