Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 7 Nasihat Mama


__ADS_3

Keesokan harinya.


Setelah menyelesaikan sholatnya, Mellisa segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


Tak lama mama mertuanya menyusul, mereka memasak bersama sambil bercengkrama dengan akrab.


"Mell," panggil mama.


"Iya, Ma," sahut Mellisa.


Mama diam sejenak, memikirkan bagaimana dia akan mulai bertanya.


"Apa kamu bahagia, Nak? Apa putra mama memperlakukanmu dengan baik?" tanya mama tiba-tiba membuat Mellisa kaget.


Mellisa melihat mamanya sambil tersenyum.


"Suamiku sangat baik, Ma. Sangat perhatian," jawab Mellisa sambil terbayang perlakuan suami ketika dia sakit.


'Selain itu dia juga tampan,' batin Mellisa masih terbayang wajahnya saat begitu dekat dengan wajah Davin.


"Kamu tak berbohong kan?" tanya mama memastikan. Mama nampak ragu.


"Aku bahagia, Ma," ucap Mellisa lagi sambil kembali melanjutkan memasak.


Entah mengapa mama merasa jika menantunya itu menutupi sesuatu, entah apa itu, mama hanya merasa tak enak hati.


Mama mulai cemas, namun kemudian dia berharap jika ini hanya dugaannya saja dan kenyataannya pernikahan putranya berjalan dengan baik walaupun mereka dijodohkan akan tetapi keduanya telah saling menerima satu sama lain sehingga lambat laun akan tumbuh benih cinta diantara mereka.


Tak terasa makanan telah siap untuk disajikan.


Mellisa dibantu mama mertua menyiapkan makanan di meja makan.


"Mama akan panggil Papa, sana kamu panggil suamimu," suruh mama.


Mellisa mengangguk sambil tersenyum.


"Papa," panggil mama memasuki kamar.


"Iya, Ma," sahut papa.


"Ih masih ngantuk saja, bukannya sudah bangun dari tadi."


"Iya, sebentar, Ma. Apa Davin sama istrinya sudah sarapan?"


"Ya belum, makannya ayo kita temani mereka makan."


Papa mengangguk.


Sementara di kamar Davin.


"Mas, ayo kita sarapan," ajak mellisa.


"Aku tidak dengar," usil Davin.


"Ayo kita sarapan, Mas?" ajak Mellisa lagi.


"Aku tidak mau, panggil aku sayang lalu aku akan turun," goda Davin.


Mellisa tak menggubris suaminya lalu dia meninggalkan suaminya itu ke meja makan bergabung dengan mama dan papa.


***


Pagi ini Davin akan berangkat kerja, setelah selesai sarapan, dia berpamitan dengan istrinya, namun Mellisa lupa jika ada mertua di apartemen mereka.

__ADS_1


Seperti biasa Mellisa tidak mencium tangan suaminya dan hanya menatap kepergian sang suami.


Mama yang memperhatikan keduanya semakin penasaran.


Demi membuktikan rasa penasarannya, akhirnya dengan alasan ada yang harus dibelinya ibu sekalian meminta Davin mengantarkannya ke pasar.


Diperjalanan.


"Nak," panggil mama melihat putranya yang menyetir.


Davin melirik sang mama.


"Apakah salah satu dari kalian ada yang tidak mau menerima pernikahan ini?" tanya mama hati-hati.


Davin tak merasa kaget, dia tahu benar jika dirinya tak dapat menyembunyikan apapun dari sang mama.


Mamanya pasti tahu dari sikap yang ditunjukkan olehnya dan Mellisa.


"Kalau iya kenapa, Ma?" Davin malah balik tanya.


Mama menunduk sedih.


Davin melirik mama dan memegang tangan sang mama.


"Mama jangan berfikir macam-macam, bukannya aku pernah mengatakan tak akan mengecewakan Mama dan papa."


"Apa Mellisa tidak menerimamu Davin?" tanya mama menatap Davin dengan sedih.


"Mellisa hanya belum siap, Ma. Aku janji akan membuatnya mencintaiku."


"Mama tak akan memaksamu, Davin. Kamu boleh mundur jika kamu merasa tak nyaman. Kamu laki-laki, Nak."


"Kami sudah mulai dekat, Ma. Pasti sekarang Mellisa sudah mulai jatuh hati padaku."


***


Papa dan mama sudah kembali pulang, papa yang mengajak istrinya untuk segera kembali dan tidak berlam-lama disini agar tak mengganggu pasangan pengantin baru, mama yang mengetahui semuanya hanya berpura-pura mengiyakan saja.


"Mama berharap kamu bisa mencintai suamimu dengan sepenuh hati, jadilah istri yang sholehah dan layani suamimu dengan baik serta patuh padanya selama itu dalam hal kebaikan." Nasihat mama sambil memeluk menantunya saat berpamitan.


Mellisa hanya mengangguk kecil, dia merasa bersalah pada mertuanya terlebih suaminya.


Sepeninggal kedua mertuanya, Mellisa tampak sibuk membereskan kembali barang-barangnya karena akan kembali ke kamar tamu.


Tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara pintu dibuka, Davin memasuki kamar tanpa ketuk pintu dan salam.


Davin hanya memperhatikan istrinya kerepotan mengeluarkan semua barang-barangnya tanpa membantu.


"Kenapa pindah? kenapa tak mau sekamar denganku?"


Mellisa tak begitu kaget dengan pertanyaan Davin, dia memilih untuk menghiraukannya karena masih sibuk mengeluarkan barang miliknya.


Davin tersenyum sinis.


"Mama mengatakan tidak akan memaksaku, aku boleh mundur jika aku mau."


"Jangan."


Mellisa menoleh ke arah suaminya dan mendekatinya.


"Jangan. Aku mohon, Mas," pinta Mellisa sambil berlutut di bawah kaki sang suami.


"Tetaplah di kamar ini," pinta Davin lalu menyuruh Mellisa berdiri.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Mas. Aku akan ke kamar tamu."


Mellisa berlalu menuju kamar tamu.


Davin menutup pintu kamarnya dengan kasar membuat Mellisa yang sudah di dalam kamar tamu menjadi kaget.


***


Davin masih diliputi rasa amarah dan kesal sepeninggal istrinya.


Dia duduk di tempat tidur, dirinya kembali mengingat perkataan sang mama yang membolehkannya mundur jika dia mau.


Davin merasa sikap istrinya berubah-rubah, dia hampir berfikir kalau sebentar lagi akan mendapatkan Mellisa seutuhnya.


Namun sikap yang ditunjukkan Mellisa barusan cukup membuktikan bahwa Mellisa sama sekali tak menginginkan pernikahan ini, pikir Davin.


Sementara di kamar Mellisa.


Mellisa duduk di tepi tempat tidur sambil melamun, bagaimana jika Davin benar-benar mundur, apa nanti reaksi ibunya jika mengetahuinya.


Teringat kembali perkataan sang mertua sebelum mereka pergi.


Perasaan Mellisa campur aduk tak karuan, bagaimana dia akan menghadapi Davin kedepannya.


***


Davin dan Mellisa tidak dapat tidur semalaman, keduanya sama-sama memikirkan nasib pernikahan mereka.


^Pov Davin.


Mamaku benar aku adalah laki-laki, dimana harga diriku sebagai laki-laki, mempunyai seorang istri yang telah jujur mengatakan bahwa dia tidak mencintaiku tapi aku masih bertahan.


Hidupku, bukankah aku yang memutuskan? apakah begitu berharganya dia bagiku? sehingga aku tak rela meninggalkannya.


Tapi bagaimana dengan dia, sudah sejauh ini tetap belum mau tidur denganku.


Apakah ada yang salah denganku? kenapa dia tidak mengutarakannya?


Tidak boleh seperti ini terus.


Aku adalah imam di rumah tangga ini, aku harus bertindak meluruskan jalan yang sewajarnya, yang sebenarnya menurut arti rumah tangga yang sesungguhnya.


Semoga istriku bisa aku bimbing dengan segala caraku, bismillah.


^Pov Mellisa.


Hatiku gelisah tak menentu, semakin kesini aku semakin takut.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku ditinggalkan oleh Davin, bagaimana sakit hatinya ibu melihat nasibku nanti.


Aku hanya terus-menerus memikirkan ibuku.


Semakin lama aku semakin pusing memikirnya.


Apa aku harus mencoba menjadi istrinya Davin yang sesungguhnya.


Menjalankan peran seorang istri yang sebenarnya.


Ah tak tahulah.


Aku seperti tak pernah merindukannya saat dia jauh.


***

__ADS_1


__ADS_2