
Mellisa merasa tak enak badan, namun dia lega, ibunya sudah menerima suaminya kembali.
Mellisa melihat kamarnya yang sudah lama dia tinggal.
Mellisa membereskankan tempat tidurnya yang sedikit berantakan, sambil memikirkan jika ada penyesalan dalam dirinya.
Menjadi seorang istri yang durhaka, tidak pernah melayani suami hanya karena hatinya belum mencintai sang suami. Padahal sebuah dosa besar jika suami meminta sedang istri sedang dalam keadaan sehat tapi menolaknya.
"Bagaimana mungkin ada orang sebaik mas Davin, tentu saja dia kan suamiku," ucap Mellisa tersenyum.
Terdengar pintu kamar terbuka.
Mellisa kaget melihat suaminya tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Kenapa? kok kaget?" tanya Davin melihat raut wajah istrinya.
Mellisa tersenyum nyengir.
"Tak apa-apa, Mas. Aku hanya...."
Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Davin mendekat menghampiri Mellisa.
Mellisa semakin gugup karena suaminya semakin mendekat ke arahnya.
"Mas," panggil Mellisa nampak gugup.
"Apa?" Davin tersenyum karena melihat istrinya yang ketakutan seperti biasanya saat Davin ingin menyentuh.
Mellisa menelan ludah.
"Aku...." Mellisa masih tetap gugup.
"Hm."
"Aku siap."
Davin tersenyum melihat Mellisa yang semakin gugup, gugupnya kali ini bukan karena takut dan menolak tapi lebih ke menahan malu.
Davin mengangkat tangannya, membuat Mellisa kaget dan semakin takut melihat tangan suaminya yang terus mendekati wajahnya.
Mellisa memejamkan matanya. Menahan nafasnya.
Mellisa kembali membuka matanya ketika menyadari Davin meraba keningnya.
"Aku pikir kamu sedang malu karena wajahmu memerah, ternyata badanmu agak panas," ucap Davin sambil mundur.
Mellisa membuang nafas. Lega.
Ini sudah kedua kalinya semenjak menikah, Davin masih tetap perhatian seperti ketika Mellisa sakit waktu itu.
Davin mengambil makanan dan obat untuk istrinya.
"Aku minta maaf, Mas," ucap Mellisa mengeluarkan air mata.
"Kamu sering melontarkan kata maaf." Davin masih menyuapi istrinya dan menghapus air mata istrinya.
Setelah selesai makan, Mellisa hendak meminum obat yang suaminya siapkan untuknya.
"Aku kan belum bisa minum obat , Mas."
"Oh iya, aku lupa."
Davin segera menumbuk obat untuk istrinya.
Setelah selesai Davin membantu istrinya minum obat.
Mellisa tak henti-hentinya menatap Davin.
"Kenapa? baru sadar kalau suamimu ini tampan."
Mellisa menunduk.
"Tak peduli kamu bosan atau tidak mendengarnya. Aku ingin kembali minta maaf atas segala kesalahanku padamu, Mas."
__ADS_1
Davin menatap sang istri.
"Aku juga minta maaf."
Davin mendekati istrinya lebih dekat.
"Mulai hari ini kita mulai dari awal lagi. Bersama kita bangun keluarga yang sakinah mawaddah warohmah."
Mellisa terpejam ketika suaminya mengecup keningnya.
Davin lalu memegang wajah Mellisa dan membelainya.
"Aku bangga padamu, Mas. Anak-anak kita nanti juga pasti bangga mempunyai seorang ayah yang sangat baik sepertimu."
"Hm... anak, kapan kita akan punya anak?" tanya Davin menggoda.
Mellisa menunduk malu, sepertinya dia salah ucap.
"Tidurlah, kamu harus cepat sembuh, nanti kita akan kembali ke kota." Davin membantu sang istri ke tempat tidur.
Davin menidurkan istrinya seperti anak kecil, memeluknya dan sesekali mengusap kepala sang istri.
Diperlakukan seperti itu malah membuat Mellisa tak bisa tidur. Dia melihat suaminya yang sudah memejamkan mata sambil terus mengusap kepalanya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Davin membuka matanya.
"Jangan seperti itu terus, aku malah tak bisa tidur."
Davin terkekeh.
Dia mundur agak jauh dan memberi ruang untuk sang istri agar bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.
Setelah lama, keduanya telah tertidur.
***
Keesokan harinya.
"Panggil kakakmu dan suaminya Ta, ajak sarapan bersama," suruh ibu pada putri bungsunya.
Talita menuju kamar kakaknya, dilihatnya pintu kamar sudah terbuka.
"Kak Mell, Kak Davin," panggil Talita mendekati pintu.
Mellisa yang mendengar adiknya memanggil lalu keluar dari kamar.
"Ada apa, Dek?" tanya Mellisa menghampiri sang adik.
"Ayo kita sarapan bersama, ibu sudah menunggu Kak."
"Oh, iya, sebentar lagi. Kamu duluan nanti Kakak sama mas Davin menyusul."
"Ok."
Talita meninggalkan kakaknya dan menuju meja makan.
"Kata kakak sebentar lagi, Bu."
Sementara Mellisa dan Davin cepat-cepat menyelesaikan persiapannya untuk kembali ke kota.
Setelah selesai, mereka langsung menuju meja makan tak enak juga membuat ibu menunggu.
"Ayo sini kita sarapan bersama," ajak Ibu.
Davin dan Mellisa mengangguk senang.
Usai sarapan Davin izin cari angin sebentar.
Sementara Mellisa bersama ibu dan adiknya membereskan tempat makan dan juga dapur.
"Terimaksih, Bu," ucap Mellisa memandang ibu dengan tersenyum.
"Untuk apa?"tanya ibu pura-pura tak tahu.
"Untuk semuanya, tentunya izin dan restu ibu juga".
__ADS_1
"Kamu sangat beruntung, suamimu selalu sabar menunggumu, bagaimana kalau dia meninggalkanmu, kita orang miskin Mell, Ibu tidak bisa membayangkan nasibmu jika- ," ucap ibu sambil memegang tangan Mellisa, namun disela Davin yang tiba-tiba muncul diantara mereka.
"Ibu," panggil Davin.
"Yang sudah terjadi biarlah itu berlalu, sekali lagi aku tegaskan kami sekeluarga tidak pernah memandang status sosial, aku tulus mencintai Mellisa, Bu." Davin mendekati ibu mertuanya.
"Maafkan Ibu ya, kalian sudah saling mencintai tapi Ibu malah salah faham dan ingin memisahkan kalian."
Davin mengangguk.
"Mell, apakah kamu sudah baikan?" tanya ibu memperhatikan Mellisa yang nampak segar.
Ibu menyalahkan dirinya sendiri karena mungkin Mellisa sakit karenanya.
"Aku tak apa-apa, Bu," jawab Mellisa masih memegang tangan ibu.
"Kami mau meminta izin untuk kembali ke kota, Bu," pinta Davin.
"Iya, kembalilah ke kota, kamu juga kan harus bekerja, Ibu titip Mellisa padamu Davin." Ibu lalu menatap sang putri.
" Ibu jangan khawatir, aku akan menjaga Mellisa dengan baik," ucap Davin.
Davin dan Mellisa lalu bersiap dan berpamitan dengan ibu dan juga Talita.
"Kakak," panggil Talita.
Mellisa memeluk adiknya, sepertinya Talita belum puas bersama sang kakak.
"Titip ibu ya, jaga ibu baik-baik," ucap Mellisa melepas pelukannya.
"Sering berkunjung ya, jangan terlalu sibuk, luangkan waktu main ke sini." Talita melirik sang kakak ipar.
"Iya," sahut Davin mengerti.
***
Di perjalanan.
Davin terus melirik sang istri sambil tersenyum.
"Apa sih, Mas."
Davin menggenggam tangan Mellisa dan menciumnya.
Mellisa hendak menarik tangannya berusaha melepaskan diri, namun Davin semakin erat menggenggamnya.
"Bisakah menurut kalau aku ingin."
Mellisa mengerutkan alis.
"Tapi ini di mobil, Mas."
"Memangnya kenapa?"
Mellisa diam pasrah, ah sudah kemana-mana pikirannya. Apa yang akan dilakukan suaminya selanjutnya.
Davin tertawa.
Mellisa mencubit lengan suaminya dengan tangan yang satunya lagi.
"Kenapa grogi? nanti di rumah saja."
Mellisa kesal dan malu digoda suaminya.
Davin menikmati raut wajah istrinya yang begitu lucu dan menggemaskan.
"Sayang," panggil Davin.
Mellisa tak menjawab dan semakin cemberut.
Mellisa merasa bahagia.
'Aku sangat mencintaimu, Mas,' batinnya.
***
__ADS_1