
Davin duduk terkulai lemah di atas bangku di ruangan kerjanya, tugasnya tak begitu banyak hari ini, namun dia merasa kelelahan.
Bisa jadi karena akhir-akhir ini Davin tak pernah tidur nyenyak bahkan terjaga hingga paginya.
Davin duduk sambil kemudian merenung, banyak hal yang dipikirkannya terutama hubungannya dengan Mellisa.
Ya semenjak saat itu, Mellisa menjadi sering menghindarinya, hingga keduanya jarang bertatap muka. Mellisa seperti biasa hanya menghabiskan waktu di dalam kamarnya.
Cekrek.
Jeny membuka pintu ruangan tanpa salam, itu biasa dia lakukan, walaupun Davin pernah menegurnya namun karena sudah menjadi kebiasaannya, dia suka lupa.
Davin melihat Jeny dengan melotot.
"Eh iya assalamu'alaikum," salam Jeny ingat juga setelah melihat wajah Davin nampak garang.
"Wa'alaikum salam."
Davin kembali parau.
"Hey, ada apa?" tanya Jeny melihat Davin nampak lesu.
Davin menggelengkan kepalanya.
"Kamu nampak kurang baik, katakan ada apa?" tanya Jeny memegang tangan Davin.
Pyar!
Keduanya kaget lalu menoleh ke arah suara, ternyata Mellisa yang menjatuhkan gelas.
***
Setelah berfikir cukup lama dan semoga saja belum terlambat, Mellisa berencana memulai memperbaiki hubungannya dengan Davin.
Mellisa ingin membuka hatinya untuk sang suami, apa salahnya mencoba, bukankah Davin selama ini baik, perhatian dan tentu saja tampan.
Mellisa terkekeh sendiri membayangkan wajah suaminya.
Hari ini Mellisa akan berkunjung ke perusahaan tempat suaminya bekerja.
Sesampainya di kantor.
"Mas," panggil Mellisa melihat OB membawa kopi yang akan masuk ke ruangan suaminya.
"Iya, Bu," sahut OB itu.
"Biar aku saja." Mellisa mengambil gelas dari OB itu dan mempersilahkannya untuk pergi.
'Mas Davin pasti senang,' batinnya.
"Kenapa pintunya terbuka, aku masuk saja lah." Mellisa melangkahkan kakinya ke dalam ruangan.
Pyar!
Mellisa tak sengaja menjatuhkan gelas di tangannya, dia sangat terkejut mendapati suaminya tengah berduaan dengan seorang perempuan dan mereka berpegangan tangan.
"Maaf aku mengganggu," ucap Mellisa lalu membalikkan badannya dan meninggalkan kantor Davin.
"Itu siapa Vin?" tanya Jeny, dia memang belum melihat istri Davin sebelumnya.
"Istriku," ucap Davin melepaskan tangannya dari genggaman Jeny.
"Kalau begitu kejarlah, mungkin dia salah faham tentang kita," pinta Jeny menarik tangan Davin untuk bangun dari duduknya.
"Biarkan sajalah, maaf silahkan kamu bisa pergi, aku ingin sendiri."
__ADS_1
Jeny meninggalkan ruangan Davin dengan tersenyum.
'Mungkin mereka sedang bertengkar,' batinnya.
"Bukankah ini kesempatan bagus, istrinya itu pasti berfikir macam-macam apalagi waktu Davin lebih banyak di kantor, dia akan berfikir kalau aku selalu menemani suaminya, haha."
Davin segera menyelesaikan pekerjaannya karena ingin cepat pulang untuk istirahat.
***
Sesampainya di apartemennya, Davin langsung berjalan dengan gontai menuju kamarnya sambil melirik kamar Mellisa yang tertutup seperti biasanya.
Sementara di dalam kamar, Mellisa merasa heran mendengar Davin telah pulang, bukankah tadi sedang pacaran, kenapa pulang begitu cepat, pikirnya.
Mellisa sudah di depan pintu kamar Davin, sebenarnya dia ingin sekali melabrak sang suami, tapi mengingat bahwa dirinyalah yang menolak sang suami sejak awal, dia mengurungkan niatnya.
Tentu saja mellisa sangat malu jika asal melabrak, bagaimana jika Davin melakukan sesuatu yang lebih.
Mellisa membalikkan badannya hendak berlalu, namun Davin membuka pintu.
"Mell," panggil suaminya.
Mellisa tak berani menoleh, dia hendak melangkahkan kakinya, namun sang suami menahannya.
"Tolong buatkan aku kopi," pinta Davin lalu masuk kembali ke kamarnya.
Mellisa mengangguk.
Dia ke dapur dan membuatkan kopi seperti permintaan suaminya.
"Mas," panggil Mellisa di luar pintu membawa kopi yang telah siap disajikan.
"Masuk saja, ini kamar suamimu," suruh Davin mencoba apakah istrinya itu akan patuh.
Davin nampak lega, walaupun dia tak tahu apakah mellisa terpaksa atau tidak melayaninya.
"Aku sangat lelah, tolong pijitin," pinta Davin menunjukkan pundaknya yang pegal.
Mellisa menuruti apa pinta suaminya, dipijitnya pundak Davin perlahan namun agak keras agar suaminya merasa lebih baik.
Hanya keheningan diantara keduanya, Davin akan berusaha memancing agar istrinya itu mau mengobrol.
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu," ucap Davin sambil menyeruput kopi dan menikmati pijatan sang istri.
'Mas Davin benar-benar tahu apa isi hatiku,' batin Mellisa.
"Aku, aku mau minta maaf, Mas."
"Kamu selalu mengatakan itu."
"Kali ini aku serius."
"Jadi yang kemarin tidak serius."
"Bukan, maksudnya aku, aku, mungkin aku sudah keterlaluan."
Davin melirik sang istri tak percaya. Dia menghentikan pijitan istrinya dan membalikkan badan melihat sang istri.
"Apa maksudmu?"
"Aku sangat menyesal dan benar-benar ingin minta maaf, seperti katamu waktu itu, kamu boleh mundur jika kamu mau, aku terima Mas jika kamu ingin mundur, kamu berhak bahagia."
Davin melihat wajah istrinya, memang nampak menyesal.
"Jangan bertele-tele."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pisah?"
Davin terkejut, benarkah begitu, apakah selama ini istrinya hanya memikirkan hal itu.
"Kamu yakin, bagaimana dengan ibumu." Davin nampak kecewa.
Mellisa tak menjawab, malah menangis memikirkan sang ibu.
"Aku sangat menyesal telah menolakmu, tapi sekarang sudah terlambat, aku yang akan mundur, kalian boleh bersama."
Sebelumnya Davin nampak kesal, tapi mendengar penuturan Mellisa kali ini 'kalian boleh bersama' membuatnya tertawa.
Jangan-jangan yang dilihat Mellisa di kantor membuat Mellisa berfikir ada hubungan diantara dia dan Jeny, pikir Davin.
"Bicaralah yang jelas."
"Perempuan di ruanganmu itu adalah kekasihmu kan, Mas?"
"Tiba-tiba lelahku hilang," ucap Davin menatap sang istri.
Mellisa menunduk sambil mengusap air matanya.
"Kalau iya memangnya kenapa?" tanya Davin menggoda.
Mellisa diam dan mengusap air matanya yang terus keluar walaupun sudah diusapnya berkali-kali.
"Apa kamu cemburu?" tanya davin.
Mellisa menggeleng.
"Kamu cemburu, kan?" tanya Davin lagi sambil mengangkat dagu sang istri.
Davin melihat bibir istrinya yang basah karena tetesan air mata, dia lalu mencuri cium dengan cepat.
Mellisa hendak menampar, namun tangannya ditarik Davin ke dalam pelukannya.
"Katakan kamu sudah jatuh hati padaku," ucap Davin mengeratkan pelukannya.
Mellisa berusaha melepaskan diri.
"Dia bukan siapa-siapa, hanya teman sekantor," terang Davin.
"Kalian berpegangan tangan," ucap Mellisa tetap berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Davin melepaskan pelukannya, ditatapnya sang istri dengan seksama.
"Namanya jeny, dia hanya memberi semangat, itu saja."
Mellisa masih menunduk tak menjawab.
"Aku hanya mencintaimu," ucap Davin membuat Mellisa menatapnya dengan senyum.
Mellisa langsung memeluk suaminya.
"Aku juga mencintaimu, Mas."
"Lepas, jangan peluk-peluk," ledek davin.
"Tak mau." Mellisa semakin mengeratkan pelukannya.
Davin juga membalas pelukan sang istri. Keduanya saling menikmati kenyamanan yang selama ini tak pernah mereka dapatkan semenjak pernikahan.
Saking senangnya mereka terlelap sampai lupa tidak keluar untuk makan malam.
***
__ADS_1