Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 57 Khawatir


__ADS_3

"Ayo Ayah antar kalian sekolah," ajak Davin pada kedua putrinya.


"Apa tidak apa-apa, apa Ayah tidak akan terlambat nanti ke kantor?" tanya Mellisa.


"Ayah hanya ingin menemani kalian, Bunda juga sedang hamil."


"Tidak apa-apa, Yah. Bunda kuat. Ayah harus disiplin dalam bekerja, jangan sampai dihukum lagi."


Davin tersentak, darimana istrinya mengetahuinya, dia ingat tidak pernah memberitahu sang istri masalah dirumahkan sebelum ini.


"Ayah tidak usah kaget," ucap Mellisa bersiap.


Mellisa dan kedua putri kembar menyalami Davin sebelum berangkat ke sekolah.


Davin masih bimbang sejenak, apakah istrinya mengetahui sesuatu, dia menjadi sedikit khawatir.


Davin segera tersadar dan segera bergegas berangkat kerja.


Sesampainya di sekolah.


"Bunda hati-hati ya?" Rosy dan Jasmine segera memasuki gerbang sekolah sambil melambaikan tangan mereka.


"Pagi, Bu Mellisa," sapa Hilmi baru saja datang.


Mellisa menoleh dan menatap Hilmi tanpa menyahut.


"Bu Mellisa," panggil Hilmi membuat Mellisa kaget.


"Ma'af, Pak Hilmi. Apa sebelumnya kita pernah bertemu, maksud saya seperti apakah kita pernah satu sekolah dulu?"


"Iya."


"Mana mungkin."


"Anda bertanya dan saya menjawabnya, saya sangat mengingatnya bahkan kita satu kelas."


Mellisa mulai mengingat kembali, satu kelas? Dari SD sampai SMA dia sekolah di kampung, seingatnya yang sekolah waktu itu tidak ada yang dari kota, anak kampung semuanya.


Hilmi yang memperhatikan raut wajah Mellisa langsung bertanya.


"Bolehkah kita mengobrol?" tanya Hilmi mencari kesempatan, dia pikir Mellisa mungkin penasaran.


"Boleh."


Hilmi dan Mellisa mencari tempat dekat sekolah.


"Apa Pak Hilmi tidak mengajar?" tanya Mellisa memulai obrolan.


"Tidak," jawab Hilmi datar.


Hening sejenak, Mellisa merasa tidak nyaman terlebih lagi ini di luar sekolahan, walaupun Hilmi pak gurunya sikembar, bagaimanapun juga Mellisa belum izin pada sang suami untuk ini dan Hilmi pun masih bujangan.


"Anda ingin mengobrol, tapi Pak Hilmi diam saja. Apakah ini tentang Rosy dan Jasmine?" Mellisa kembali lagi memulai.


"Bukan."


"Lantas apa?"


"Ini tentang kita."


Mellisa linglung sejenak, apa maksud Hilmi 'tentang kita?'


Hilmi mengeluarkan sesuatu untuk diperlihatkan pada Mellisa.


Mellisa melihatnya tak percaya, itu hanya sebuah foto dua anak kecil dengan bingkai dari lidi korek api.


Mellisa mengambil foto itu dan memandanginya sambil berfikir.


"Darimana Pak Hilmi mendapatkannya? Apa mungkin kamu Hilmi yang itu?"


"Apakah foto itu tidak membuktikannya?"


Mellisa memandang Hilmi tak percaya, dia menatap Hilmi dengan lekat, iya dia Hilmi. Kenapa sampai Mellisa tidak mengenalinya?


"Kamu sudah mengenaliku sejak awal."


"Hm."


Tiba-tiba tangan Mellisa melayang menabok pundak Hilmi.


"Kamu jahat, kamu tidak pernah mengatakannya."

__ADS_1


"Aku sudah memberikan beberapa kode."


Tanpa pikir panjang Mellisa reflek memeluk Hilmi, Hilmi pun langsung membalas pelukan teman kecilnya itu.


"Kamu tidak pernah pulang ke kampung, kamu sudah melupakan aku."


"Kupikir kamulah yang melupakanku."


Mellisa tersadar, dia hendak melepaskan pelukannya namun Hilmi semakin erat memeluknya.


"Aku sedang hamil," ucap Mellisa ketika perutnya merasa tertekan.


Hilmi pun langsung melepaskan Mellisa.


"Kita tidak bisa seperti ini, aku sudah menikah, maaf tadi hanya reflek saja," ucap Mellisa lagi sambil menunduk.


Hilmi lega akhirnya Mellisa mengenalnya walaupun harus dia yang mengingatkannya pada Mellisa.


"Iya aku tahu, bolehkah aku menemanimu sebentar saja."


"Jangan." Mellisa merasa khawatir.


"Kenapa?"


"Aku akan pulang."


"Akan ku antar."


"Tak perlu."


Mellisa bergegas meninggalkan Hilmi, sebenarnya dia sendiri ingin mengobrol banyak dengan Hilmi namun dia takut terbawa perasaan.


Sepeninggal Mellisa, Hilmi bersandar melamunkan kekasih kecilnya itu.


"Aku akan merebutmu kembali," ucapnya penuh percaya diri.


***


Mellisa berkunjung ke tempat ibunya, sebelumnya dia mampir ke beberapa toko pakaian untuk membeli sesuatu untuk Talita, dia ingat semalam Andika mengirimkan pesan WA dan menjelaskan situasinya.


"Assalamu'alaikum," salam Mellisa sesampainya di kediaman Andika.


Talita berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


"Kak."


"Sayang, ayo kita masuk Kakak membelikan 10 pasang untuk kita berdua."


Talita mengerutkan alisnya, sebenarnya dia masih kesal dengan apa yang terjadi kemarin.


Mellisa mengeluarkan barang belanjaannya untuk ditunjukkan pada sang adik.


"Lihat ini."


Itu beberapa daster dan baju santai untuk ibu hamil, Talita melihatnya tak percaya, baju-baju itu gambarnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Kak, ini lucu sekali, buat aku kah?"


"Iya, Kakak beli dua pasang semuanya agar kita bisa kembaran."


Talita memeluk sang kakak dengan haru.


"Kakak sudah tahu kalau aku hamil."


"Ya sudah lah, apa yang Kakak tidak tahu dari kamu?"


Mellisa mencubit hidung adiknya dengan gemas.


Tiba-tiba Talita merasa tidak kesal lagi.


"Ayo kita bikin rujak," ajak Mellisa membuka belanjaan yang lain.


"Ayo." Talita sangat bersemangat.


Keduanya berjalan ke dapur, ibu sudah stanby di sana tengah memasak untuk makan siang.


"Ibu," panggil Mellisa.


Ibu menoleh dan menghampiri Mellisa lalu memeluknya.


"Talita," panggil ibu.

__ADS_1


"Iya, Bu."


"Kemari sayang," suruh ibu.


Talita mendekat lalu mereka bertiga berpelukan.


"Kalian putri kebanggaan Ibu, Ibu sangat menyayangi kalian, ibu tidak membedakan kalian satu sama lain."


Setelah beberapa detik, ketiganya melepaskan pelukan mereka.


"Ta, ma'afkan Ibu ya. Ibu menyesal, Ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu."


Talita menunduk berpikir, dia hanya menghindari sang ibu namun masih bersikap seperti biasa, bagaimana ibunya mengetahui tentang perasaannya.


Yah. Itu kan ibunya, cepat atau lambat ibu akan menyadari dan memahami tentang putri-putrinya, pikir Talita.


Ketiganya bercanda tawa di dapur sambil memasak.


Uh. Sebegitu mudahnya menakhlukan hati mereka, sebaiknya seperti itu, baik-baik kalian semua ya.


"Ibu," panggil Mellisa di sela-sela waktu mereka.


"Kenapa, Mell?" sahut ibu bertanya.


"Ternyata wali kelas Rosy dan Jasmine adalah Hilmi teman kecilku dulu, Bu."


Ibu Inayah tersentak, dia mengingatnya, memang dia Hilmi dan Mellisa sudah mengenalinya.


"Kamu mengobrol dengannya?"


"Iya."


"Dia mengatakan apa saja?"


Mellisa hanya menjawab sekedarnya, dia sendiri takut jika ibunya tahu semasa kecil dia dan Hilmi menjalin cinta monyet.


Ibu sebenarnya sudah tahu, namun tidak pernah menyinggung Mellisa sama sekali karena hadiah-hadiah kecil yang Hilmi berikan dulu, ibu lah yang membuangnya.


Ibu lebih khawatir jika Hilmi mengatakan tentang dirinya yang melamar Mellisa sehari setelah Mellisa menikah dengan Davin.


"Aku akan menjemput Rosy dan Jasmine dulu ya, Bu."


Ibu mengangguk.


Talita yang hanya jadi pendengar lalu menghampiri ibu.


"Kak Mellisa tidak tahu selama ini."


"Iya. Biarkan saja, lagipula kakakmu sudah menikah. Hilmi tidak akan macam-macam."


***


Davin bertiga bersama Anton dan Jeny di ruangannya, di meja Jeny terlalu sempit untuk bekerja sama menyelesaikan berkas, jadi mereka memutuskan kerja di dalam ruangan.


Suasana hati mereka sedang cerah, seperti hari ini.


Meski berkomunikasi formal, namun tetap menyenangkan bagi mereka.


Tak sengaja Sonya melintas di depan ruangan Davin dan mendengar obrolan yang di dalam.


Yah. Tentu saja, apalagi yang diobrolkan mereka, sepasang pengantin baru yang sudah mendapatkan calon momongan dan Mellisa yang juga hamil untuk yang kedua kalinya.


Tiba-tiba Sonya mengepalkan kedua tangannya karena kesal.


'Kenapa mereka begitu bahagia?'


'Kenapa juga aku selalu gagal mendapatkan Davin?'


'Bagaimanapun caranya aku harus menghancurkan mereka.'


Sonya berlalu menuju ruangannya sendiri, dia memanggil seseorang ke ruangannya.


"Kenapa anda memanggil saya, Nona?" tanya orang itu.


Sonya memperlihatkan foto Davin dan menjelaskan identitasnya.


"Tugasmu adalah mencari tahu kelemahannya."


"Baik, Nona."


***

__ADS_1


__ADS_2