
"Assalamu'alaikum," salam Andika memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam," sahut Talita dari dalam kamar. Dia bermaksud keluar menyambut sang suami namun dia urungkan karena melihat kamarnya agak berantakan.
Andika melangkah menuju kamarnya.
"Apa kamu bosan di rumah?" tanya Andika menghampiri istrinya yang tengah sibuk merapihkan pakaian.
Talita menoleh suaminya dan tersenyum lalu menggeleng.
"Ma'afkan aku ya," ucap Andika memeluk sang istri.
"Memangnya Mas Dika salah apa? Kok minta ma'af." Talita masih dalam posisinya.
"Ayo kita makan di luar," ajak Andika hati-hati.
Talita nampak bersemangat.
"Ayo, Mas."
Andika tersenyum senang.
Sampai di sebuah restoran.
Andika mengajak istrinya masuk. Dia mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu kemudian dia sendiri duduk dan memanggil pelayan.
"Silahkan Tuan dan Nyonya mau pesan apa?" tanya pelayan restoran dengan ramah.
"Silahkan dilihat menu restoran kami," ucap pelayan lagi sambil menunjuk buku menu di atas meja.
"Kamu mau makan apa, sayang?" tanya Andika menatap istrinya.
"Apa saja, Mas," jawab Talita tersenyum. Bukan makanan enak yang diinginkannya saat ini, namun perhatian dari sang suami.
"Aku yang pilih ya." Andika membuka buku menu, dia menunjuk beberapa untuk dipesan.
"Baiklah, mohon ditunggu ya," ucap pelayan berlalu meninggalkan pasangan ini.
Sambil menunggu makanan yang dipesan datang, Andika melamun menatap wajah istrinya yang saat ini tepat di hadapannya.
Talita yang baru menyadari ditatap sang suami menjadi salah tingkah, wajahnya memerah karena malu.
Andika terkekeh masih sambil menikmati pemandangan di depan matanya.
Sudah bertahun-tahun namun Talita masih malu-malu pada suaminya.
"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?" tanya Talita menunduk.
"Memangnya tidak boleh." Andika terus menatap.
"Malu," ucap Talita lirih.
Andika memegang tangan istrinya.
"Ma'afkan aku, sayang."
Talita mengangkat wajahnya dan melihat wajah sang suami.
"Kamu mengatakan kalau kamu kesepian, tapi bukannya aku menemanimu, malah justru aku sering menghindar."
Talita hanya mendengarkan tanpa menjawab.
"Talita. Aku akan selalu mencintaimu meski kita tidak memiliki seorang anak. Ah belum. Bersabarlah. Jika sudah waktunya pasti Allah akan mempercayakan seorang anak untuk kita timang bersama."
"Terimakasih, Mas." Talita nampak berkaca-kaca.
"Hey jangan menangis, nanti riasannya luntur."
"Biarkan saja, kenapa? Apa aku jelek jika tak memakai riasan."
__ADS_1
"Kamu cantik meskipun tanpa riasan."
"Silahkan." Pelayan restoran datang membawakan makanan yang dipesan.
"Terimakasih."
Keduanya menikmati makanan mereka dengan lahap, terlebih Andika yang sudah merasa lapar sedari tadi.
"Pelan-pelan, Mas," ucap Talita tak tahan melihat sang suami terlalu buru-buru.
"Ma'af sayang. Kamu juga ayo makan yang banyak biar kuat menghadapiku nanti malam." Andika bicara tanpa melihat istrinya yang tengah memelototinya.
Uhuk! Uhuk!
Andika tersedak.
"Tuh kan," ucap Talita membantu memberikan air minum kepada suaminya.
"Terimakasih, sayang."
Talita cemberut membuat sang suami malah gemas melihatnya.
"Kenapa? Sudah tak sabar untuk pulang?" goda Andika pada istrinya.
"Iya. Aku ingin segera tidur, malas betul melihatmu, Mas."
"Hm." Andika terkekeh.
Setelah selesai Andika membawa istrinya pulang ke rumah.
"Sepertinya belum mengantuk," ucap Andika menghampiri istrinya yang tengah merapihkan tempat tidur.
"Tak perlu terlalu rapi sebentar lagi juga berantakan," ucapnya lagi membuat istrinya yang tak ingin menoleh akhirnya menoleh.
"Aku tak akan mengizinkannya," ucap Talita jengkel.
"Oh ya?" Andika mendekati istrinya dan memeluknya.
"Mas," panggil Talita menoleh wajah sang suami.
Andika langsung tersenyum licik dan menerkam bibir istrinya dengan ciuman.
Talita tak menolak, malah menikmati ciuman mereka hingga Andika membangunkan hasrat sang istri.
"Mas," panggil Talita tersadar, dia menghindar sebentar lalu hendak memulai lagi.
"Apa tidak sebaiknya kita berdo'a dulu," ucap Andika membuat Talita menjadi malu.
Talita mengangguk setuju.
Mereka berdo'a bersama sebelum melakukan ibadah malam.
Di akhir pergumulan panas mereka, Andika tak lupa mengecup kening sang istri.
"Apa kamu haus?" tanya Andika melihat istrinya nampak lelah. Dia hendak ke dapur untuk minum karena dirinya juga haus.
Talita mengangguk.
"Sebentar aku ambilkan."
Tak sampai tiga menit, Andika sudah kembali membawakan air minum untuk sang istri.
"Terimakasih, Mas," ucap Talita setelah meneguk air minum yang dibawakan sang suami.
"Hanya terimakasih," goda Andika.
Talita memberanikan diri mencium pipi suaminya.
Andika nampak kaget.
__ADS_1
"Sepertinya pipi yang satu iri," ucap Andika mendekatkan pipinya yang sebelah.
Talita mencium pipi suaminya lagi lalu sembunyi di balik selimut.
Andika menarik selimut itu, namun Talita menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Andika tersenyum puas lalu mendekati sang istri dan tidur di sebelahnya sambil memeluknya.
***
Sementara di aparteman Davin.
"Bunda," panggil Davin manja menghampiri sang istri, dipeluknya tubuh istrinya itu dari belakang.
Mellisa menoleh wajah suaminya yang nampak bersemangat kali ini.
"Apa Ayah tidak lelah?" tanya Mellisa hati-hati, sebenarnya dialah yang lelah.
"Hm untuk urusan yang satu ini, Ayah selalu bersemangat." Davin membalikkan tubuh istrinya dan kini wajah mereka saling berhadapan.
Davin menatap istrinya dan tersenyum.
"Ayah sangat mencintaimu, Bunda."
Mellisa mengangguk.
Davin hendak mencium istrinya, namun Mellisa menghindar.
"Bagaimana menurut Ayah jika Rosy dan Jasmine punya adik lagi?" tanya Mellisa tiba-tiba membuat Davin cukup kesal.
"Ayah belum ingin," jawab Davin agak menjauh. Dia membayangkan ketika istrinya berjuang menaruhkan nyawanya untuk melahirkan kedua buah hati mereka.
"Kenapa, Yah? Bunda sudah rindu mengurus bayi lagi, sudah lama Bunda merindukannya." Mellisa membayangkan Rosy dan Jasmine ketika masih bayi.
"Ayah tidak tega melihat Bunda menaruhkan nyawa ketika melahirkan anak kita," ucap Davin nampak berkaca-kaca.
Mellisa malah merasa bersalah, dia sendiri mungkin lupa bagaimana rasanya melahirkan, namun suaminya nampak sedih saat ini.
"Itu sudah lama, Bunda yakin Bunda-"
"Tolong Ayah belum siap." Davin semakin kesal pada istrinya sampai dia kehilangan hasratnya malam ini.
"Baik, Ayah. Bunda minta ma'af." Mellisa mendekati suaminya dan memeluknya.
"Tidurlah. Besok kita harus berkemas-kemas dan pindah ke rumah yang baru." Davin melepaskan diri dari pelukan sang istri dan berbaring di tempat tidur.
Belum sampai lima menit, Davin sudah memejamkan matanya, entah tidur atau pura-pura.
"Mas," panggil Mellisa kecewa.
Davin tak menyahut.
"Sekali lagi Bunda minta ma'af ya."
Davin tetap tak merespon.
Mellisa menyelimuti suaminya dan berbaring di dekat tubuh sang suami. Dipeluknya sang suami hingga dia sendiri terlelap.
Davin belum bisa tidur rupanya, dia masih terjaga di pelukan sang istri.
Davin menatap lekat wajah sang istri, meski sudah bertahun-tahun istrinya itu masih terlihat cantik dan awet muda.
"Ma'af ya, Bun. Ayah belum tega jika melihatmu lagi kesakitan ketika akan melahirkan."
Mellisa membuka matanya.
"Ayo tidur lagi," suruh Davin mengusap mata sang istri.
'Melahirkan itu nikmat, Ayah. Tidak sakit,' batin Mellisa.
__ADS_1
***