
Hilmi mengantarkan Rosy dan Jasmine ke kediaman orang tua mereka.
Rumah nampak sepi, kemana bunda, pikir mereka.
Rosy dan Jasmine mengelilingi rumah semua pintu terkunci, bunda mereka jelas sedang tidak di rumah.
"Pak Hilmi, bisa telfon bunda kami?" pinta Rosy memohon.
Hilmi melihat Rosy dan Jasmine secara bergantian, mereka mirip ibunya, membuat Hilmi juga ingin melihat Mellisa, melihat keduanya memohon, Hilmi segera menelfon Mellisa.
Setelah tersambung, terdengar sambutan salam di balik telfon.
"Assalamu'alaikum," salam Davin.
"Wa'alaikum salam, Pak Davin. Dimanakah anda? saya mengantar Rosy dan Jasmine ke rumah tapi sepertinya tidak ada orang di rumah."
"Terimakasih, Pak Hilmi. Saya minta tolong lagi, bisakah anda mengantar mereka ke rumah sakit, bunda mereka ada di rumah sakit."
"Bu Mellisa kenapa, Pak?"
"Nanti saya jelaskan, antar saja mereka ke sini."
"Oh. Baiklah."
Telfon terputus, Hilmi mengajak kedua muridnya itu untuk ikut bersamanya ke rumah sakit. Tentu saja banyak pertanyaan dari mereka, namun Hilmi hanya menjawab mereka akan mengetahuinya setelah di rumah sakit.
Di rumah sakit.
Sebelum istrinya tersadar, Davin menyempatkan menelfon kantor untuk izin hari ini dan beberapa hari.
Tak lama Mellisa terbangun.
"Ayah," panggil Mellisa parau.
"Iya, sayang," sahut Davin sambil menggenggam tangan istrinya.
"Ada apa dengan Bunda, Yah?" tanya Mellisa berusaha duduk.
"Bunda rebahan saja dulu."
Davin belum berani menjawab, dia hanya melihat sang istri yang masih lemas pasca operasi.
Mellisa sendiri semakin lama semakin merasakan ada yang hilang dari dirinya, dia memegangi perutnya dan hampir tak percaya, dia sangat ingat usia kehamilannya saat ini memasuki trimester kedua, itu berarti perutnya semakin besar bukan? Namun apa yang Mellisa lihat.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Mellisa memegangi perutnya, dia mulai meneteskan air mata.
"Bunda yang sabar ya." Davin memeluk istrinya.
"Ibu," rintih Mellisa dalam tangis yang dia tahan.
Tak lama, kedua putri kembar datang bersama Hilmi.
"Bunda," panggil Rosy dan Jasmine langsung mendekat.
"Maafkan, Bunda."
Davin melihat kedua putrinya satu persatu secara bergantian.
"Calon adik kalian sudah tiada."
Kedua putri kembar terkejut, mereka langsung mendekap sang bunda.
"Bunda." Keduanya ikut menangis.
Hilmi melihat situasi yang tak biasa, hatinya ikut teriris melihat keluarga ini terutama saat melihat Mellisa, baru saja Mellisa kehilangan ibunya, sekarang dia kehilangan calon anaknya.
Memang Hilmi sangat menginginkan Mellisa namun Hilmi tidak mampu membayangkan seandainya Mellisa akan kehilangan suaminya juga, bagaimana Mellisa akan menghadapinya.
"Saya permisi keluar," ucap Hilmi berlalu.
__ADS_1
Hilmi melangkah agak jauh, dia duduk di salah satu tempat duduk di ruang tunggu rumah sakit.
Ponsel Hilmi bergetar, dia melihat nama Sonya yang menelfon.
"Ada apa?" tanyanya agak jutek.
"Kamu yang ada apa? Apa kamu sudah mendengar berita keguguran Mellisa?"
"Kamu penyebabnya."
"Bisa pelan tidak bicaranya."
"Aku memang mencintai Mellisa, tapi aku tidak tega melihatnya sesedih itu. Kupikir kamu terlalu berlebihan dalam bertindak."
"Apa maksudmu? Bukankah kita berdua yang sepakat karena kita berdua kan yang merencanakan waktu berkunjung ke rumah Davin."
"Diam."
Hilmi langsung menutup telfonnya.
"Ternyata sesakit ini melihat orang yang kucintai telah kusakiti, aku menyesal Mellisa."
Sementara Sonya di kantor, dia melempar ponselnya.
"Sepertinya Hilmi harus aku bereskan terlebih dahulu." Sonya mengepalkan tangannya dengan marah.
***
Hari demi hari berlalu.
Mellisa semakin tak fokus melakukan aktifitasnya. Dia kadang tidak memasak nasi tapi menyediakan lauknya, dia jarang menyapu, mengepel dan beberes rumah. Mellisa hanya menghabiskan waktunya untuk duduk melamun.
"Ini tidak benar," ucap Davin menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Bunda seperti itu, Yah?" tanya Jasmine.
"Bunda belum bisa ikhlas," ucap Rosy melihat bundanya dengan sedih.
Belum sempat Davin menelpon, Talita sudah datang ke rumah.
"Assalamu'alaikum," salam Talita dan suaminya di luar pintu.
"Wa'alaikum salam," sahut yang di dalam rumah.
Jasmine segera ke depan membukakan pintu.
"Tante, Om." Jasmine memeluk keduanya.
"Sayang, di mana bundamu?" tanya Talita.
"Ayo Tante, Om, kita ke dalam saja."
Talita dan Andika mengangguk. Jasmine menuntun mereka ke tempat bundanya berada.
"Kak Mellisa," panggil Talita.
Yang dipanggil segera menoleh, Mellisa melihat Talita dan perutnya yang mulai membesar.
"Dek." Mellisa menghampiri adik kesayangannya itu dan memeluknya.
"Kak," panggil Talita melepaskan pelukan.
Mellisa melihat adiknya dan lagi-lagi melihat perut sang adik.
"Semua sudah takdir dari Allah, Kak. Kakak masih punya kak Davin, suami kakak yang sangat sayang pada Kakak."
"Hm."
"Lihat, kedua putri mungilmu itu, Kak."
__ADS_1
Mellisa melihat Rosy dan Jasmine lalu tersenyum.
"Iya."
"Mereka juga menyayangimu. Kakak tidak sendirian, adik kecil yang telah berpulang lebih dulu sudah berada di tempat yang seharusnya, dia juga menyayangimu, percayalah."
Mellisa mengangguk.
"Aku buat minum dulu buat kalian." Mellisa segera ke dapur, Talita bergegas menyusulnya.
"Biar kubantu, Kak."
"Terimakasih, Dek."
Keduanya menyiapkan sedikit jamuan untuk dihidangkan ke depan.
Davin melihat istrinya dari jauh, dia senang melihat sang istri kembali tersenyum.
"Hey, Ayah kenapa?" tanya Rosy melihat sang ayah senyum-senyum sendiri.
"Lihat, bundamu," ucap Davin menunjuk ke arah Mellisa.
"Memangnya bunda kenapa? Bukankah masih cantik seperti biasanya," kekeh Rosy.
"Ah kamu ini." Davin menggelitiki tubuh Rosy karena gemas.
"Aku juga mau," ucap Jasmine yang melihat dari jauh lalu mendekat.
Davin menuruti permintaan Jasmine. Kedua putri Davin kegelian karena ulah sang ayah.
Tentu saja mengundang perhatian Mellisa dari dapur.
Mellisa dan Talita ke depan membawa minuman dan cemilan.
"Minum dulu sayang, bercandanya dilanjut nanti lagi." Mellisa mengambilkan untuk suami dan kedua putrinya.
Di tengah kenyamanan mereka bersendau gurau, ponsel Mellisa berdering.
"Sonya," ucap Mellisa melihat kontak yang menelfon, dia mengangkat telfon itu.
"Assalamu'alaikum, Mell," salam Sonya di balik telfon.
"Wa'alaikum salam," sahut Mellisa.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sonya terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Davin belum kembali bekerja, aku khawatir denganmu."
"Aku sudah sehat, besok mas Davin sudah masuk kerja kembali."
"Tak apa, Mell. Jika kamu masih ingin ditemani suamimu."
"Tenang saja, mas Davin sudah mulai bekerja besok."
"Baiklah, kalau begitu kamu harus ikut suamimu besok, aku merindukanmu."
"Iya."
"Ya sudah, aku menunggumu besok. Wassalamu'alaikum."
"Iya. Wa'alaikum salam."
Davin mendekati istrinya.
"Benar tidak apa-apa kalau Ayah bekerja?"
"Iya, Ayah. Besok aku ikut ya, Yah. Aku ingin bertemu Sonya."
__ADS_1
Davin mengangguk, entah apa maksud Sonya, sebenernya Davin belum sepenuhnya percaya pada Sonya, dia bisa saja bertindak aneh tapi biarlah Davin tidak akan membiarkan istrinya bertemu Sonya sendirian, dia akan mendampinginya besok.
***