Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 21 Syukuran


__ADS_3

Malam hari.


"Sepi ya, Bun?" Davin mendekati istrinya.


"Apa perlu Bunda bangunin putri-putri kita biar ramai," ucap Mellisa menatap suaminya.


"Janganlah Bun, kasihan mereka. Memangnya Bunda tidak lelah?" Davin melihat kedua putrinya di tempat tidur mereka secara bergantian.


"Iya Yah, Bunda merasa lelah. Bisa minta tolong pijitin," pinta Mellisa tersenyum.


"Siap Bunda." Davin nampak bersemangat.


Mellisa melihat suaminya dengan penuh curiga.


"Kenapa Bunda? Jangan melihat Ayah seperti itu."


"Ya sudah ayo pijitin," suruh Mellisa tak sabar.


Davin mendekati Mellisa dan memijit pundak istrinya.


"Bunda," panggil Davin manja.


"Hm."


"Bolehkah Ayah memijit di bagian yang lain?"


Mellisa langsung menoleh suaminya dan melotot.


"Ampun Bunda. Jangan galak-galak."


Davin melanjutkan pijatannya. Mellisa merasa agak enakkan.


"Sudah Yah, nanti Ayah malah kelelahan."


Davin menghentikan pijatannya dan duduk di samping istrinya.


"Mana bonusnya, Bunda?" tanya Davin menggoda.


"Bonus apa?" tanya Mellisa pura-pura tak mengerti.


Davin menunduk lesu.


"Ya sudah ayo tidur," ajak Davin lalu berbaring di tempat tidur.


Mellisa mendekati suaminya dan mengelus rambutnya.


"Memangnya Ayah tidak rindu pada Bunda?" bisik Mellisa pelan.


"Memang sudah boleh, Bunda?"


"Belum sih."


"Yah."


Davin nampak kecewa.


Mellisa mengecup pipi suaminya dengan cepat.


Davin malah membalasnya dengan menerkam bibir istrinya.


Keduanya saling *******, menikmati ciuman yang sudah lama mereka rindukan semenjak kehadiran buah hati mereka.


Mellisa hendak melepaskan ciumannya, namun Davin malah memeluk istrinya erat dan mencium bibir istrinya semakin ganas.


Mellisa tak dapat bernafas. Dia mendorong suaminya dengan sekuat tenaga.


"Ma'af, Yah," ucap Mellisa.


"Tak apa-apa ayo kita tidur," ajak Davin menahan hasratnya, dia tahu betul istrinya belum berani melakukan lebih, dia akan sabar menunggu.


Mereka berbaring dan terlelap dengan saling memeluk.


***


Hari-hari telah berlalu.


Hari ini tepat 40 hari kelahiran dua putri kembar, Rosy dan Jasmine.

__ADS_1


Davin dan Mellisa mengadakan Tasyakuran kelahiran sekaligus cukur rambut dua buah hati mereka.


Tentu saja dengan mengundang keluarga besar Davin dan Mellisa dari kampung, termasuk keluarga Andika dan keluarga Jeny. Tak ketinggalan tetangga-tetangga sekitar mereka.


Prosesi cukur rambut berjalan dengan lancar dan dilanjutkan acara pengajian.


Mellisa dan Davin yang menggendong satu masing-masing putri mereka merasa cukup kerepotan, meski begitu itu adalah hal yang sangat menyenangkan bagi mereka.


"Kak," panggil Talita.


"Iya, Dek," sahut Mellisa.


"Sini, Rosy biar aku gendong," pinta Talita melihat kakaknya nampak lelah.


Talita mengambil Rosy yang ada di tangan kakaknya.


Andika tak mau kalah juga, dia lalu mengambil Jasmine dari tangan Davin.


"Sini si kembar yang satunya biar aku yang gendong," ucap Andika sambil melirik Talita dan tersenyum.


Talita membalas senyuman Andika dengan malu-malu.


Dari kejauhan Dewi datang mendekat dengan menggandeng tangan Jeny.


"Jeny, sana kamu di sebelah calon suami kamu," suruh Dewi mendorong Jeny perlahan.


"Calon suami?" tanya Talita nampak kaget, begitu pula dengan Mellisa.


Davin yang sudah mengetahuinya lebih dulu bahwa Andika telah dijodohkan juga nampak kaget, karena dia juga tak menyangka kalau Jenylah orang yang dijodohkan dengan adik sepupunya itu.


"Iya," jawab Dewi tersenyum.


"Ayo kamu kenalkan calon istri kamu pada semua orang," suruh Dewi lagi pada putranya.


"Ma'af aku permisi ke belakang dulu." Talita menyerahkan Rosy pada kakaknya dan bergegas ke belakang.


"Andika," panggil Dewi.


"Semua yang di sini sudah mengenal Jeny, Ma. Tak perlu aku kenalkan," sahut Andika berlalu menjauh sambil membawa keponakannya.


"Andika benar Ma. Aku sudah mengenal mereka semua, mari kita duduk mengikuti pengajiannya saja, Ma," ajak Jeny berjalan bersama calon mertuanya meninggalkan Davin dan Mellisa.


Davin dan Mellisa saling menatap.


"Aku sungguh tak tahu," bisik Davin.


Mellisa tak menyahut.


Acara pengajian masih berlangsung, sesekali sang ustadz yang berceramah menyebut dua bayi kembar yang saat ini baru saja dicukur rambutnya.


Semua pengunjung pengajian mendengarkan ceramah dengan khidmat.


Namun lain dengan Talita yang tak kunjung kembali ke pengajian setelah tadi permisi ke belakang.


"Talita," panggil kakaknya.


Talita kaget dan menoleh sang kakak.


"Kenapa di sini?" tanya Talita mendekat.


"Tak apa-apa, Kak," jawab Talita bangun dari duduknya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Mellisa ingin memperjelas.


Talita nampak berkaca-kaca, dia menggelengkan kepalanya lalu memeluk sang kakak.


"Mungkin aku yang terlalu percaya diri, Kak," ucap Talita sambil menangis di pelukan kakaknya.


"Bagaimana mungkin aku berpikir kalau Andika menyukaiku, aku sungguh bodoh, aku benar-benar malu, Kak," ucapnya lagi masih dalam pelukan kakaknya.


Talita menangis sesegukan.


Melihat adiknya seperti itu, Mellisa merasa kasihan.


Akhir-akhir ini Andika memang sering datang ke rumah dan terkadang mengajak Talita jalan, Mellisa juga berpikir hal yang sama dengan adiknya.


Namun semua dibuat kaget ketika baru saja Dewi, mamanya Andika malah memperkenalkan Jeny sebagai calon istrinya Andika.

__ADS_1


Mellisa melepas pelukannya dan menatap sang adik.


"Sudah, Dek. Jangan menangis lagi."


Talita mengusap air matanya.


"Kak," panggil Talita nampak parau.


"Sudah sayang, istighfar, tenangkan hatimu."


Talita beristighfar dalam hati, dia terus memegang dadanya.


"Ayo ke depan," ajak Mellisa.


Talita menggeleng.


"Ya sudah, Kakak antar kamu ke kamar."


Talita mengangguk.


Mellisa menggenggam tangan adiknya berjalan menuju kamar Talita.


"Istirahatlah, Kakak ke depan dulu ya."


Talita mengangguk lagi.


***


Acara tasyakuran telah berjalan dengan lancar, semua tamu dan keluarga besar berpamitan satu persatu meninggalkan rumah Davin dan Mellisa.


Andika nampak sibuk mencari Talita, ditelfonnya Talita namun tak diangkat, lalu Andika mengirim pesan WA namun Talita juga tak membalas.


"Kemana dia," gumamnya.


"Dika ayo kita pulang, apa kamu masih mau di sini?" ajak Dewi, mamanya.


"Mama duluan saja, aku masih ada perlu dengan kak Davin." Andika mencari alasan agar tetap di rumah Davin.


"Ya sudah Mama duluan ya."


Andika mengangguk.


Sepeninggal mamanya pulang, Andika menghampiri Mellisa.


"Kak Mellisa, dimana Talita?" tanya Andika.


"Kenapa mencarinya?" tanya Mellisa balik.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Andika nampak cemas.


"Kenapa mengkhawatirkannya?" tanya Mellisa jutek.


"Kak, aku mohon aku ingin bicara dengan Talita," pinta Andika memelas.


"Lebih baik kamu pulang," usir Mellisa berlalu meninggalkan Andika.


"Kamu pulang saja dulu," ucap Davin tiba-tiba.


"Bagaimana ini Kak?"


"Kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada orang tuamu."


Andika menggeleng.


"Pulanglah."


"Tolong bantu aku, Kak Davin."


"Iya, sekarang pulanglah," usir Davin dengan nada cukup tinggi.


Andika pamit pulang meninggalkan kakak sepupunya itu.


Sementara Mellisa menengok kembali Talita di kamarnya.


Ternyata Talita sudah terlelap.


***

__ADS_1


__ADS_2