
Sore hari.
"Assalamu'alaikum," salam Davin bersama kedua putrinya.
"Wa'alaikum salam," jawab ibu lalu bergegas membukakan pintu.
"Nenek," ucap kedua putri kembar lalu memeluk sang nenek.
Ibu hanya tersenyum menikmati pelukan dari cucu-cucunya.
Sepertinya ayahnya baru saja mengajaknya bersenang -senang.
"Dimana bunda, Nek?" tanya Rosy melepas pelukannya.
Nenek hendak menjawabnya namun Jasmine malah membawa neneknya ke dalam rumah dan mengabaikan Rosy.
"Hey, Jasmine," kesal Rosy.
Jasmine menoleh, dia menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak. Diajaknya sang nenek ke ruang tengah, dia ingin bercerita banyak tentang hari pertamanya di sekolah.
Davin hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo sini sama Ayah," ajak Davin.
Rosy menolak lalu pergi mencari keberadaan bundanya.
"Bunda," panggil Rosy agak keras.
Mellisa yang mendengar dirinya dipanggil sang putri lalu menyahut dari dapur.
"Bunda di sini sayang," sahut Mellisa.
Rosy menghampiri bundanya di belakang dan bermanja seperti biasanya.
Malam hari.
Setelah lewat makan malam, Mellisa menyuruh Rosy dan Jasmine menyiapkan buku mereka lalu belajar.
"Siap, Bunda." Keduanya sangat semangat.
Rosy dan Jasmine ke kamar mereka, sang nenek sudah di dalam kamar rupanya.
"Ayah, apartemen ini terlalu sempit. Hanya ada dua kamar. Kasihan kan ibu pasti istirahatnya kurang nyaman karena kedua putri kita yang selalu berisik," tutur Mellisa hati-hati, dia takut mungkin suaminya akan tersinggung.
"Tenang, Bunda. Tabungan kita sudah cukup untuk membeli rumah. Ayah sudah menyiapkan untuk membeli rumah yang agak luas nanti ada tiga kamar di dalamnya."
Mellisa tersenyum lalu mencium pipi suaminya.
"Bonusnya mana?" tanya Davin menggoda.
Mellisa mencium bibir suaminya dengan cepat.
"Hey, kenapa sebentar sekali."
"Di kamar saja, Ayah," ucap Mellisa lalu bergegas ke kamar.
"Wah, lampu hijau nih," senang Davin lalu menyusul sang istri ke dalam kamar.
***
Andika mendekati istrinya yang tengah duduk di tempat tidur, melihat istrinya melamun, Andika bermaksud menciumnya, namun Talita segera mendorong sang suami.
"Aku kira melamun. Kenapa sadar aku datang?" tanya Andika duduk di sebelah istrinya.
Talita menoleh suaminya. Seperti biasa suaminya tersenyum melihatnya.
"Apa kamu bahagia, Mas? Bersama denganku."
__ADS_1
"Hey, ada apa? Kenapa bertanya seperti itu?"
Talita menunduk.
Andika istrinya lagi semakin dekat, ditariknya sang istri pelan ke dalam pelukannya.
Hal ini sudah sering terjadi sebelumnya, mereka hampir tak pernah bertengkar namun Talita sering murung.
Setelah melihat tespek di sebelah tubuh sang istri. Andika baru menyadari, istrinya pasti sangat sedih.
Walaupun Andika belum melihat hasilnya, dia yakin pasti satu garis lagi seperti biasanya yang membuat Talita selalu murung.
"Kamu masak apa? Aku lapar." Andika melepas pelukannya.
Talita teringat, sepulang dari belanja dia belum memasak, bahkan dari siang tadi dia belum makan.
"Ma'af, Mas. Aku lupa." Talita merasa bersalah.
"Tak apa-apa. Aku pesan makanan saja," ucap Andika mengambil ponselnya lalu pergi meninggalkan kamar.
Setelah beberapa saat yang cukup lama, Andika tak kunjung kembali. Talita keluar kamar untuk mencari suaminya.
Talita tak mendapati suaminya di mana-mana, apakah mungkin Andika meninggalkan rumah dan makan di luar? ah tidak mungkin, pikirnya.
Talita teringat ada satu ruangan di rumah yang belum dia cek, yaitu ruang kerja pribadi suaminya.
"Mas," panggil Talita membuka pintu ruangan.
"Iya," sahut Andika sambil menyeruput kopi.
"Kamu lembur, Mas."
"Iya," sahut Andika lagi.
"Kamu bikin kopi sendiri, Mas. Kenapa tidak minta aku untuk membuatkannya untukmu, Mas?"
"Apa kamu marah, Mas?"
Bagaimana mungkin Andika bisa marah dengan istrinya, dia bermaksud mendiamkannya bukan memarahinya.
Talita menjadi bingung sendiri, dia bahkan belum menyadari bahwa sang suami ingin diperhatikan.
"Ya sudah. Aku istirahat dulu ya, Mas. Jangan terlalu malam. Aku ... Kesepian."
Andika membuang nafas kasar setelah kepergian sang istri.
Andika bingung kenapa istrinya sedih setiap hari, apa yang harus dia lakukan, dia lelah bekerja, dia ingin istrinya melayani. Namun Talita sama sekali tak melakukan apa-apa.
Mengurus rumah dan membuatkan kopi untuknya sepulang kerja sudah menjadi kebiasaan sebelumnya tapi sekarang Talita tak melakukan apapun sepanjang hari.
Apakah begitu sedihnya kalau dia belum hamil sehingga membuatnya malas melakukan apapun.
Andika memutuskan untuk istirahat di ruang kerjanya.
Sementara di dalam kamar, Talita menunggu suaminya sepanjang malam sambil berbaring, karena rasa kantuknya membuatnya sampai tertidur.
Talita terjaga berkali-kali dan mendapati dirinya masih saja sendiri.
"Apa mungkin mas Dika marah sama aku ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Meski gusar, Talita dapat terlelap kembali hingga pagi menjelang.
***
Pagi hari.
Andika keluar dari ruangan kerjanya, dia mendengar seperti di dalam kamarnya ada suara orang yang muntah-muntah.
__ADS_1
Andika segera bergegas menuju kamarnya, dia tidak melihat istrinya di tempat tidur.
Uek! uek! Suaranya semakin keras terdengar membuat Andika sangat penasaran dan langsung menuju kamar mandi.
Sampai di pintu kamar mandi, sebelum Andika sempat mengetuknya, Talita keluar dari sana dengan wajahnya yang nampak pucat.
"Kamu kenapa? Tak enak badan, atau jangan-jangan... ." Andika tak melanjutkan kata-katanya dan berbalik mencari tespek yang kemaren sore dilihatnya di tempat tidur.
"Kamu hamil? Dimana tespeknya, aku ingin memastikan." Andika nampak bersemangat.
"Sudah ku buang, Mas. Hasilnya sama seperti biasanya."
Langsung wajah Andika nampak kecewa.
"Ma'af ya, Mas."
"Aku tidak habis pikir denganmu, kamu pasti masuk angin. Apakah sesedih itu sampai kamu tidak makan."
Talita bukannya menyahut tapi malah berkaca-kaca, dia agak tersentak. Suaminya berbicara dengan nada yang cukup tinggi, ini tak seperti biasanya, dia menahan tangis namun tetap terjatuh juga.
Melihat istrinya, Andika bergegas melangkah menghampiri sang istri bermaksud untuk meminta ma'af namun sang istri pingsan sebelum Andika sampai.
"Talita," panik Andika.
Andika mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke rumah sakit.
Di rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu, Ta?" tanya Mellisa khawatir.
Sebelumnya memang Andika mengabari kakak iparnya saat Talita sedang ditangani dokter.
Talita yang baru saja bangun menyadari bahwa dirinya ada di salah satu ruangan di rumah sakit.
"Memangnya aku kenapa, Kak?" tanya Talita merasa pusing.
"Kata suamimu kamu pingsan, kamu sakit?" tanya Mellisa balik.
Sebelum Talita menjawab, dokter tiba-tiba masuk ke ruangan dan tersenyum ramah.
"Adik saya kenapa, Dok?" tanya Mellisa tak sabar.
"Tenang saja, dia hanya masuk angin. Sepertinya dua atau tiga hari ini dia tak makan. Betulkah? Aku hanya menebak."
Mellisa menoleh ke Andika, menatapnya cukup tajam seakan marah pada adik iparnya itu karena tak mampu menjaga adiknya.
Andika nampak nyengir, dia menyadari memang akhir-akhir ini banyak lembur. Dia hanya memikirkan makan malamnya sebelum tidur dan mengabaikan sang istri karena dia pikir istrinya pasti lebih dulu makan.
Untuk sarapan dan makan siang, tentu saja Andika tak pernah makan bersama istrinya. Karena pagi-pagi sekali dia sudah berangkat dan makan siang di tempat kerja.
"Mas Dika baru saja mendirikan perusahaan, dia sangat sibuk," ucap Talita tiba-tiba.
Mellisa kembali menoleh adiknya, ditatapnya sang adik dengan senyuman.
"Kakak mau jemput ponakanmu dulu."
"Bawa mereka ke sini ya, Kak. Aku sudah sangat ingin bertemu."
Mellisa mengangguk dan meninggalkan mereka.
Sepeninggal Mellisa, Talita kembali berbaring.
"Aku ke kantor dulu, aku janji akan segera kembali," ucap Andika pamitan, dia mencium kening istrinya sebelum pergi.
Talita hanya mengangguk pelan, sebenarnya dia ingin ditemani sang suami namun belum diutarakannya suaminya malah bergegas pergi.
***
__ADS_1