Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 54 Kembali ke Kota


__ADS_3

Malam hari.


"Bunda," panggil Davin.


"Iya, Ayah," sahut Mellisa.


"Berhentilah beberes. Kamar ini tidak berantakan," suruh Davin.


Mellisa melanjutkan sedikit lalu mendekati sang suami.


Davin menatap sang istri sambil tersenyum, yang ditatap masih saja malu-malu.


"Bisakah kita mengulang waktu?" tanya Davin sambil membelai pipi sang istri.


"Apa maksud Ayah?" Mellisa tanya balik.


"Kembali ke masa tujuh tahun yang lalu, di kamar ini adalah malam pertama kita."


Mellisa menunduk bingung.


"Sayang," panggil Davin sambil mengangkat dagu sang istri.


Davin lalu memeluk Mellisa, namun Mellisa tak membalasnya dan masih bingung.


"Ada apa?" tanya Davin. Dia melepas pelukannya.


Dengan ragu-ragu Mellisa mengungkapkan ketidaknyamanannya.


Mereka sudah bahagia, kenapa Davin selalu mengungkit awal pernikahan mereka, Mellisa merasa tidak nyaman.


Huh. Davin tak bermaksud apa-apa, dia hanya ingin saja malam ini.


"Ma'afkan Ayah, Bun."


Mellisa mengangguk.


Davin mencium bibir Mellisa perlahan, Mellisa hanya membiarkannya tanpa membalas.


Davin tak pantang menyerah, dia merekatkan tubuh istrinya ke dekapannya.


Mellisa kaget dan melepaskan diri.


Davin menjadi kesal.


Melihat kekesalan sang suami, Mellisa mendekati suaminya lagi. Dia melingkarkan tangannya ke leher Davin.


Keduanya saling menatap, Mellisa berjinjit meraih bibir Davin. Davin yang sudah berhasrat sedari tadi langsung menerkam tanpa ampun.


"Mas," lirih Mellisa.


"Iya. Seperti itu sayang, anggap ini malam pertama kita."


"Do'a dulu," ucap Mellisa menunduk malu.


"Ayo do'a sama-sama."


Mellisa mengangguk.


Setelah berdo'a, mereka bergumul mencurahkan cinta mereka.


Semua adalah ibadah jika diniati karena Allah.


Menikah adalah ibadah terlama dalam hidup.


***


Pagi-pagi sekali Mellisa sudah bangun, dia membangunkan sang suami untuk sholat subuh berjama'ah.


Setelah selesai sholat, Davin tidur kembali.


"Ayah, kenapa tidur lagi?" tanya Mellisa kesal.


Baru saja berbaring, namun Davin sudah tak menyahut, Mellisa semakin kesal.


"Tidak ada bekasnya sudah mandi, sudah segar pun masih lanjut tidur, huh." Mellisa bergumam lalu keluar dari kamar.


Di dapur.


"Mama," panggil Mellisa menghampiri sang mertua.

__ADS_1


"Iya, sini sayang," sahut Tiara dengan lembut.


Bagaimana bisa Mellisa tidak betah tinggal bersama mertua, Mellisa sangatlah betah, mama Tiara sangat baik dan ramah dan tentunya selalu menyayanginya dan kedua putrinya.


"Aku akan membantu mama," ucap Mellisa menawarkan diri.


Tiara mengangguk setuju, mereka menyiapkan sarapan untuk keluarga.


Setelah selesai, Mellisa dan Tiara memanggil anggota keluarga yang lain untuk sarapan.


"Ma, hari ini kami kembali ke kota lagi," ucap Davin di sela-sela waktu sarapan.


"Kenapa tidak tinggal lebih lama lagi? Oma masih merindukan cucu-cucu Oma." Tiara menatap Rosy dan Jasmine yang tengah menikmati sarapan.


"Pulangnya nanti sore ya, Yah. Kami ingin jalan-jalan dulu dengan Oma sama Opa," pinta Rosy.


"Ho'oh." Jasmine menyetujui, mulutnya masih penuh dengan makanan membuatnya nampak imut dan lucu.


Tawa menggelegar melihat Jasmine, Jasmine sendiri merasa malu.


"Makannya pelan-pelan, aku tidak akan meminta jatahmu," kekeh Rosy.


Jasmine memelototi kakaknya.


Setelah selesai sarapan, kedua putri kembar bersiap-siap akan jalan-jalan dengan Oma dan Opa mereka.


Sementara Davin hendak kembali ke kamar.


"Jangan tidur lagi, Ayah."


"Memangnya mau apa lagi?"


"Ayo kita berkeliling kebun, kita jalan kaki ke sana," pinta Mellisa memohon.


"Baiklah, untuk istriku, apa sih yang tidak?"


***


"Mas, kamu tidak berangkat kerja?" tanya Talita melihat suaminya keluar dari kamar namun belum rapi.


"Agak berat, aku tidak enak badan, sayang. Dimana ibu?"


Andika mengangguk.


Keduanya sudah ada di ruang makan, Talita menyajikan cukup banyak makanan dan menggairahkan, namun Andika melihatnya dengan tatapan datar, rasanya dia tak bernafsu untuk makan.


Lain halnya dengan Talita, entah kenapa hari ini dia ingin masak agak banyak dan melahapnya.


Talita menyajikan nasi dan lauk untuk sang suami, lalu menyajikan untuk dirinya sendiri, Talita tak menyadari bahwa porsinya lebih banyak dari sang suami.


"Ayo dimakan, Mas."


Talita dengan rakus melahap makanan di depannya.


"Pelan-pelan sayang." Andika menggelengkan kepalanya melihat sang istri makan begitu enaknya.


Andika hanya melihat saja makanan yang sudah disajikan istrinya tadi.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Talita cemberut, dia merasa makanannya sangat enak, namun suaminya bahkan tidak memakannya sesuap pun.


Karena takut menyinggung perasaan sang istri, Andika memaksakan diri memakan makanannya, Talita nampak tersenyum.


Sampai suapan ketiga, Andika merasa perutnya sudah penuh, dia melirik sang istri yang tengah menikmati makanannya.


Tak lama perut Andika terasa terkoyak, dia bergegas ke kamar mandi untuk muntah.


Uwek!


Talita melihat ke arah kamar mandi, dia segera merapihkan piring dan menyusul sang suami.


"Mas," panggil Talita sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Andika membuka pintu dengan lemas, dia hampir jatuh.


"Mas." Talita langsung memapahnya, berat, bagaimanapun juga tubuh Andika lebih besar darinya.


Talita membantu suaminya untuk duduk.


"Kamu mungkin masuk angin, Mas," ucap Talita lalu mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan ke punggung leher dan perut sang suami.

__ADS_1


"Iya, sayang. Eneg sekali perut ini."


"Ayo ke dokter, Mas," ajak Talita.


Andika mengangguk.


"Ada apa denganmu, Dika?" tanya ibu tiba-tiba datang.


"Mas Dika sedang tidak enak badan, Bu. Aku akan mengantarnya ke rumah sakit dulu. Ibu hati-hati di rumah ya?" Talita segera memesan taksi online.


"Kalian yang hati-hati di jalan. Ibu baik-baik saja."


Setelah taksi yang dipesan tiba, Talita dan Andika bergegas ke rumah sakit.


***


Sore hari.


Davin beserta istri dan kedua putri kembarnya kembali ke kota.


"Ayah terimakasih ya," ucap Rosy dan Jasmine memeluk ayah mereka yang duduk di sofa.


"Apakah kalian senang?" tanya Davin sambil menciumi mereka secara bergantian.


"Kami sangat senang, terutama Bunda," ucap Jasmine terkekeh sendiri. Dia menargetkan bundanya.


Mellisa melirik Jasmine dan melotot.


"Akui saja lah, Bunda." Davin tersenyum menang.


"Iya. Puas kalian," ucap Mellisa kemudian berlalu ke kamarnya.


Davin dan kedua putri kembarnya tertawa.


"Lihat. Bunda kalian malu-malu." Davin terkekeh.


"Bukankah semakin cantik ketika bunda nampak malu," ucap Jasmine menggoda sang ayah.


"Ah biasa saja." Davin nampak datar.


"Ayah bohong, wajah Ayah memerah itu artinya bohong," ledek Rosy.


"Mengaku saja lah, Yah." Rosy dan Jasmine langsung tertawa.


"Iya. Kalau bunda kalian tidak cantik, bagaimana kalian bisa secantik ini." Davin membayangkan sekilas wajah sang istri. Kenapa dibayangkan Davin? Hampiri saja dia.Hihi.


***


Andika dan Talita baru saja pulang dari rumah sakit. Talita menyiapkan makanan untuk dimakan sang suami.


"Nanti sajalah, Ta."


"Tak bisa, Mas. Karena harus minum obat, Mas Dika harus makan dulu."


Andika memaksakan diri untuk makan, dia disuapi sang istri.


Baru dua suapan, Andika merasakan perutnya penuh kembali, dia bergegas ke kamar mandi dan muntah lagi.


"Bagaimana bisa minum obat kalau Mas Dika muntah terus?" bingung Talita.


"Coba saja makan buah," ucap ibu memberi saran.


Talita mengambil buah di dalam kulkas, ada jeruk yang masih segar, dia mengupasnya untuk dimakan sang suami.


Benar saja, Andika tidak eneg dan bisa menghabiskan tiga buah jeruk.


"Ini obatnya diminum, Mas. Setelah itu Mas Dika istirahat."


Andika mengangguk.


Talita lega akhirnya suaminya bisa minum obat juga dan beristirahat.


"Kamu juga istirahat, Ta," ucap ibu.


"Baiklah, Bu. Maaf ya, Bu. Aku tidak bisa menemani ibu hari ini."


"Tak apa-apa. Yang penting kalian sehat dulu."


Talita pamit untuk istirahat, sementara ibu bersih-bersih sebentar dan istirahat.

__ADS_1


***


__ADS_2