Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 69 Keren


__ADS_3

Davin senang sang bunda putri kembar memberikannya kesempatan.


Namun sayang, Rosy dan Jasmine mengacuhkan sang ayah.


"Udah lah sayang ngambeknya." Davin mencolek mereka secara bergantian.


"Ayah tidak sayang pada kami," ucap Rosy cemberut.


"Memangnya kenapa jika pak Hilmi baik sama kami, Ayah hanya cemburu kan pada pak Hilmi." Jasmine menimpali.


Davin tersentak, cemburu? Apa hebatnya Hilmi dibanding dirinya, kenapa dia harus cemburu pada orang itu.


"Apa hebatnya pak guru kalian itu, kenapa Ayah cemburu, bukankah Ayah lebih segala-galanya dari dia?"


Tiba-tiba Rosy dan Jasmine memandang ayahnya dengan kesal dan kecewa.


"Ayah sungguh keren," puji Rosy berbohong.


Davin tersentak, dia tidak merasa senang sama sekali telah dipuji, bukankah sebenarnya itu penghinaan?


"Sejak kapan Ayah menjadi sombong?" Jasmine membuang muka.


"Iblis adalah awalnya baik, kenapa iblis masuk neraka? karena iblis sombong." Skak mati, kedua putrinya berhasil membuat Davin tak berkutik.


"Ayah-."


"Sudah sampai aja," ucap Rosy melihat di luar mobil nampak pintu gerbang sekolah.


"Terimakasih Ayah, kami akan selalu berbakti pada Ayah sejahat apapun Ayah pada kami," ucap Jasmine lalu membuka jendela mobil.


Davin semakin tak karuan saja, Rosy dan Jasmine bahkan sebijak itu, apa dirinya jahat? Sejak kapan?


Dalam keadaan hati gelisah, Davin lanjut melajukan mobilnya ke kantor.


Sesampainya di kantor.


Davin baru saja memarkirkan mobilnya dan hendak masuk.


Belum sampai pintu, Davin sudah disuguhkan pemandangan yang menarik namun itu sama sekali sangat tidak menarik bagi Davin.


"Pagi, Davin," sapa Sonya.


"Pagi Pak Davin," sapa Hilmi juga.


Davin sebenarnya malas menyahut, hish. Seharusnya Davin punya rencana resign dari kantor ini, kenapa dia masih bertahan?


"Pagi juga, apa kabar kalian hari ini?" Davin cukup basa basi.


"Baik," sahut Sonya.


"Oh iya, Pak Davin. Kami insyaAllah akan bertunangan bulan depan," ucap Hilmi.


"Oh. Selamat ya." Davin berlalu begitu saja.


"Semakin hari semakin sombong bawahanmu itu, kenapa tidak memecatnya," ucap Hilmi sedikit kesal.


"Karena aku menyukainya," sahut Sonya sambil menatap kepergian Davin.


Sesampainya Davin di ruangannya.


"Ok, Davin. Jangan terlalu banyak berfikir, mereka akan bertunangan, lalu apa lagi yang kamu khawatirkan," ucap Davin pada dirinya sendiri.


Meski begitu, Davin sebenarnya cukup cemas.


Segera Davin mengambil ponselnya dan menelfon sang istri.


"Assalamu'alaikum, Bunda."


"Wa'alaikum salam, Ayah. Ada apa?"


"Ayah merindukan Bunda, Bunda sudah tidak marah lagi kan?"


"Iya, Ayah. Bunda akan ke supermarket sebentar."


"Tunggu, Bunda."


"Kenapa?"


"Tolong bantu Ayah agar cepat baikan dengan Rosy dan Jasmine."


"Iya, Ayah. Sudah ya, Bunda belanja dulu. Wassalamu'alaikum, Ayah."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, Bunda."


Setelah mendengar suara sang istri, setidaknya Davin mulai bersemangat.


***


"Kamu masih di sana?" tanya Sonya pada seseorang.


"Masih, Nona."


"Sedang apa Mellisa?" tanya Sonya lagi.


"Belanja di supermarket."


"Supermarket mana?"


"Tidak jauh dari rumahnya."


"Ok. Terus awasi dia."


"Siap, Nona."


Sonya bersiap untuk melanjutkan rencananya, dia pergi meninggalkan kantornya.


Tentu saja untuk menemui Mellisa, Sonya menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.


Di supermarket.


Mellisa memilih kebutuhan yang harus dibeli, dia tak memperhatikan jika ada melihatnya dan mendekat.


"Mellisa," sapa orang itu.


"Sonya." Mellisa tersenyum.


"Sendirian saja."


"Iya, kamu bukannya ngantor, kenapa kelayapan di sini."


Mellisa terkekeh juga mengatakannya, semakin lama obrolan mereka menjadi semakin akrab.


Sonya memang jagonya memainkan situasi, tidak seperti Mellisa yang hanya mengikuti alur.


"Oh iya, aku mau mengatakan sesuatu, Mell."


"Bulan depan, aku akan bertunangan dengan Hilmi."


Mellisa sempat kaget, tunangan? Dia lalu tersenyum memberikan selamat.


"Wah, selamat kalau begitu."


"Terimakasih ya, Mell. Aku ingin kamu menjadi saksi kebahagiaanku nanti."


"Sip, temanku."


Keduanya tertawa.


'Lihat saja, apakah kalian masih bisa bersama setelah ini?' batin Sonya.


Setelah selesai belanja, Mellisa berencana langsung pulang dan mengajak Sonya mampir, namun Sonya menolaknya dengan alasan harus kembali ke kantor.


Akhirnya mereka pulang ke tujuan masing-masing.


***


Sepulang belanja, seperti biasa Mellisa beberes rumah dan memasak.


Setelah selesai semua, Mellisa bersiap menjemput kedua putrinya pulang sekolah.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Talita menelfonnya, Mellisa segera mengangkat.


Belum sempat Mellisa bicara, telfon mereka terputus.


Mellisa menelfon balik namun langsung direject.


Sementara di rumah sakit tempat Mellisa dan ibu dirawat.


"Kenapa dimatikan, Mas?" kesal Talita.


"Buat apa menelfon kakakmu itu?" tanya Andika kesal juga.


"Aku mau minta kak Mellisa datang, ini kan jam ponakanku pulang sekolah biar pulangnya ke sini dulu."

__ADS_1


Andika diam, dan menyerahkan kembali ponsel yang direbutnya tadi dari sang istri.


Talita menelfon kakaknya kembali, namun tidak diangkat.


Akhirnya Talita mengirim pesan lewat WA.


"Kak Mellisa, aku dan ibu di rumah sakit. Nanti ke sini ajak Rosy dan Jasmine juga ya?"


Belum ada jawaban, Talita tidak berfikir macam-macam, barang kali kakaknya tengah sibuk dalam perjalanan menjemput para ponakannya.


"Kalau kakakmu peduli, dia akan datang," ucap Andika.


"Kak Mellisa pasti datang. Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Talita memandang sang suami.


"Kalian memang kakak beradik, tapi masing-masing sudah berkeluarga, setiap keluarga pasti punya masalah, kamu tidak perlu terlalu memikirkan masalah kakakmu, pikirkan dirimu dan calon bayi kita juga."


"Baik, Mas. Ma'af membuatmu khawatir."


"Jaga kesehatanmu, sayang. Aku ingin kamu dan bayi kita sehat dan selamat."


"Terimakasih, Mas. Bagaimana keadaan ibu, Mas?" tanya Talita mengingat sang ibu juga bersamanya di rumah sakit.


"Ibu sedang istirahat, kamu istirahat juga ya, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu."


"Kamu akan pergi, Mas."


"Tidak, aku membawa laptop ke sini. Sekarang kamu tidurlah, perbanyak istirahat, aku tetap di sini menemanimu."


"Oh. Ya sudah, aku tidur ya, Mas."


"Hm."


Andika melihat sang istri sampai istrinya itu tertidur, setelah memastikan Talita benar-benar tidur, barulah Andika membuka laptopnya.


***


Mellisa tiba di sekolah, seperti biasa kedua putrinya keluar dari gerbang sekolah dan menghampirinya.


Kali ini, Hilmi mengiringi langkah Rosy dan Jasmine ke depan, sehingga mau tidak mau Mellisa juga tetap harus bertemu dengan Hilmi.


"Siang, Mell. Apa kabar kamu hari ini?" tanya Hilmi basa basi.


"Alhamdulillah baik."


Mellisa mencoba tak banyak bicara, dia mengajak Rosy dan Jasmine untuk langsung pulang.


Dalam perjalanan pulang.


"Bunda," panggil Rosy.


"Iya, sayang," sahut Mellisa.


"Apakah ayah cemburu dengan pak Hilmi?" tanya Rosy.


"Pertanyaan apa itu?" Mellisa mencoba menghindar, akan rumit jika menjawabnya.


"Dulu juga Bunda cemburu dengan perempuan di kantor ayah yang bernama Sonya," ucap Jasmine.


"Apa yang kalian bicarakan?" Mellisa tak pernah menyangka, kedua putrinya yang masih kecil menurutnya itu akan mengingat dan mengerti tentang hal seperti ini.


"Ayah dan Bunda tidak perlu cemburu lagi," terang Rosy membuat sang bunda diam.


Mellisa mengerutkan alisnya.


"Karena pak Hilmi akan bertunangan dengan nona Sonya."


"Kalian mengetahuinya," heran Mellisa.


"Pak Hilmi yang memberitahu pada kami."


Entah bagaimana, Mellisa merasa cukup lega, tekanannya sedikit berkurang, mungkin hanya perasaannya saja yang tidak nyaman karena efek dirinya hamil.


Mendengar penuturan kedua buah hatinya tentang Hilmi dan Sonya membuat Mellisa tersenyum.


"Bunda kok senyum-senyum?" tanya Rosy dan Jasmine bebarengan.


"Kalian ini, mana mungkin Bunda dan ayah cemburu. Asal kalian tahu saja, pak guru kalian kan teman kecil Bunda. Bunda juga turut bahagia jika pak Hilmi bahagia karena sudah menemukan jodohnya." Mellisa tersenyum lagi.


"Wah keren ternyata pak Hilmi teman kecil Bunda."


Baik Rosy maupun Jasmine merasa sangat senang.

__ADS_1


Tidak ada yang perlu dipusingkan lagi, semuanya baik-baik saja, bukankah begitu? pikir kedua putri kembar ini.


***


__ADS_2