
Malam hari.
Mellisa melihat sang suami yang tengah nyenyak dalam tidur, dirinya tidak dapat tertidur.
Mellisa memeluk sang suami lalu melepaskannya lagi, memeluk lagi, melepaskannya lagi dan begitu seterusnya namun tetap saja tidak membuat Mellisa terlelap.
Karena bosan Mellisa memberanikan diri membangunkan sang suami.
"Ayah!" panggil Mellisa agak keras agar suaminya bangun.
Yang dipanggil hanya membalikkan tubuh ke sisi yang lain dan tetap pulas.
Mellisa sedikit kesal, dia mengambil ponselnya dan melihat-lihat.
Betapa kagetnya Mellisa melihat pesan WA yang bertubi-tubi dari Hilmi sejak sore hingga kini mencapai ratusan pesan.
"Aku menginginkanmu."
Mellisa reflek menarik baju suaminya yang membuat Davin akhirnya terbangun.
"Ada apa?" tanya Davin melihat Mellisa nampak takut lalu memeluknya.
"Ayah," panggil Mellisa dalam dekapan Davin.
"Tenang, Bunda. Ada apa?"
Mellisa mengeratkan pelukannya, ketakutannya memudar dan tergantikan dengan rasa nyaman.
Setelah dirasa sang istri tenang, Davin melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah sang istri.
"Kenapa dengan Bunda?"
Mellisa mengambil ponselnya dan menunjukkan pada Davin.
Davin melihatnya dengan kesal bercampur bingung, dirinya tidak tahu apa maksud pesan itu sebenarnya.
"Bisakah Bunda menceritakan sedikit tentang hal ini?"
Mellisa mengangguk. Dia sedikit demi sedikit bercerita tentangnya dan Hilmi.
Semakin Davin mendengarnya, Davin semakin kesal, dia pikir istrinya selama ini sangat lugu.
Davin hanya tersenyum kesal dan mencoba tidur kembali, Mellisa sempat kecewa karena Davin tak berkomentar apapun.
Davin mencoba menutup matanya dan membukanya lagi, melihat Mellisa yang nampak sedih.
Davin menarik tubuh Mellisa ke dalam pelukannya.
"Tidurlah."
"Apa Ayah marah?"
"Tidur, sudah malam."
Setelah itu tidak ada lagi obrolan, Mellisa mencoba memejamkan matanya, dia lega sudah bercerita pada sang suami walau suami belum berkomentar apapun namun Davin memeluknya saat ini.
***
Setelah selesai berjamaah subuh, Mellisa bermaksud ke dapur untuk memasak.
"Bunda temani Rosy dan Jasmine saja, biar Ayah yang menyiapkan makanan."
Mellisa mengerutkan alisnya tak percaya, bukankah dirinya sudah terbangun, dia tidak sedang bermimpi kan?
"Ayah yakin?"
"Iya."
Mellisa sempat tak percaya, meski Davin selalu perhatian dalam segala hal, biasanya jika berhubungan dengan makanan, Davin akan memesan bukannya memasak.
Mellisa membiarkan suaminya di dapur sendiri dan melangkahkan kakinya ke kamar dua putri kembarnya.
__ADS_1
"Kalian kenapa masih main-main?" tanya Mellisa memasuki kamar.
"Eh, Bunda." Keduanya nyengir.
"Apa perlengkapan sekolah sudah siap?" Mellisa mendekati mereka.
Baik Rosy maupun Jasmine gelagapan, mereka ingat semalam sepertinya belum menyiapkan perlengkapan sekolah.
Mellisa membantu kedua putrinya bersiap-siap.
Setelah siap, tak lama tercium bau harum yang sepertinya dari arah dapur.
"Bunda, bau apa ini? Sepertinya enak." Jasmine sudah membayangkan rasanya.
"Nasi goreng ya," tebak Rosy.
"Ayo kita sarapan," ajak Mellisa tersenyum, sebenarnya Mellisa juga penasaran, benarkah sang suami memasak dengan benar?
Di ruang makan.
"Ayah yang menyiapkan semua ini?" tanya Jasmine tak percaya.
Siapapun tidak menyangka, bertahun-tahun hidup bersama, Davin hampir tidak pernah memasak.
Sajiannya pun nampak menggugah selera, baunya yang harum membuat lapar perut semakin tidak tertahan untuk melahapnya.
"Ayah belajar masak dari mana?" tanya Mellisa bersiap-siap sarapan.
Davin tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Satu suap nasi goreng telah mendarat di lidah mereka, siapa yang sangka Jasmine langsung menyemburkan makanannya ke arah depan tepat dimana ayahnya duduk.
"Sangat asin," ucap Rosy lirih.
"Ayah, ma'afkan aku." Jasmine yang merasa bersalah segera mendekati sang ayah.
"Ayah berganti pakaian dulu," ucap Davin berlalu.
"Bagaimana ini, Bunda? Ayah pasti marah," ucap Jasmine menatap bundanya.
'Aku hampir memujinya 🤦♀️,' batin Mellisa.
Rosy dan Jasmine mengangguk, lalu memakan sedikit demi sedikit nasi goreng itu, daripada tidak sarapan sama sekali.
"Apa kalian sudah selesai, ayo kita berangkat," ucap Davin tiba-tiba datang.
"Ayah tidak marah," lirih Jasmine sambil menunduk.
"Tidak sayang, ma'af Ayah belum pandai memasak." Davin tersenyum agar Jasmine tidak merasa bersalah.
"Ayah akan mengantar kami sekolah?" tanya Rosy.
"Iya. Nanti juga Ayah akan antar Bunda ke rumah Andika."
Mellisa cukup terkejut, namun biarlah, dia juga memang butuh teman mengobrol.
Setelah semua siap, Davin segera mengantar kedua putri kembarnya ke sekolah.
Sesampainya di sekolah.
"Kalian baik-baik di sekolah, jangan nakal."
"Baik, Ayah, Bunda."
Davin menggandeng tangan Mellisa untuk kembali masuk mobil.
"Bunda tunggu di dalam mobil, Ayah akan mengantar Rosy dan Jasmine sampai depan kelas mereka."
Davin segera berlalu mengejar kedua putrinya.
"Ayah." Keduanya heran.
__ADS_1
"Ayah ingin melihat kelas kalian."
Rosy dan Jasmine hanya mengangguk, bukankah ini menyenangkan, ayah mereka mengantarkan mereka hingga depan kelas.
"Ini kelas kami, Yah," ucap Rosy setelah sampai depan kelas.
"Oh. Lalu di mana ruang guru kalian?" tanya Davin sambil menoleh ke sana kemari.
"Lurus saja, Yah. Sedikit lagi itu ruangan guru."
"Ya sudah kalian masuk kelas," suruh Davin.
Davin memastikan kedua putrinya memasuki kelas, dia sendiri melanjutkan langkahnya ke ruangan guru.
Sesampainya di ruangan guru, Davin langsung masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu guru di ruangan.
"Dimana pak Hilmi?" tanya Davin dengan santai.
"Saya." Hilmi menyuarakan diri.
Davin menoleh ke arah suara dan mendekat.
"Jangan mengusik keluarga kami," ucap Davin terus terang.
"Bagaimana jika saya tidak akan melepaskannya," sahut Hilmi menantang.
"Langkahi terlebih dahulu jasad ini." Davin nampak marah.
"Anda hanya tidak pernah mengetahuinya, meski bartahun-tahun kalian bersama, di hatinya hanya ada saya seorang." Hilmi sengaja memancing.
Benar saja, Davin mengepalkan tangannya dan hendak meninju wajah Hilmi.
"Ada apa ini?" tanya salah satu guru di dalam ruangan.
Davin hampir lupa, dia dimana, dia menurunkan tangannya segera dan berlalu meninggalkan ruangan.
"Ada apa, Pak Hilmi?"
"Ma'af, hanya salah faham."
Semua kembali pada kesibukan mereka, sementara Davin menuju mobilnya di depan sekolah.
"Ayah lama sekali, apa Ayah tidak takut terlambat ke kantor?" tanya Mellisa mengeluh.
Melihat sang istri, Davin pun mengingat kata-kata Hilmi barusan.
Mana mungkin masih ada Hilmi dalam hati Mellisa, kalau iya bagaimana Mellisa bisa takut ketika Hilmi mengusiknya, pikir Davin.
Itu semua hanya akal-akalan Hilmi untuk menghasut Davin, Davin sangat yakin dan percaya pada Mellisa.
"Mana ponsel, Bunda?" tanya Davin meminta.
"Buat apa, Ayah," jawab Mellisa lalu memberikan ponselnya pada sang suami.
"Ayah berharap Bunda tidak macam-macam."
"Apa maksud Ayah?"
Davin membuka ponsel Mellisa dan memblokir nomor Hilmi.
Davin tidak banyak bicara, dia takut berdebat dengan sang istri, bagaimanapun Mellisa tengah hamil, karena Mellisa memintanya menjaga dan melindunginya dari apapun, yah tentu saja itu sudah tugas Davin sebagai suami sejati.
"Ayah antar Bunda ke tempat Talita, nanti siang jika menjemput Rosy dan Jasmine jangan sendiri, ajak Talita juga."
"Baik, Yah."
"Terimakasih Bunda sudah menurut."
"Bunda hanya ingin menjadi istri yang baik."
__ADS_1
Davin cukup tersanjung mendengarnya, menjadi istri yang baik, Davin tidak akan menyesal telah berumah tangga dengan sosok Mellisa dalam hidupnya.
***