
Siang berganti malam.
Mellisa baru saja keluar dari kamar kedua putrinya, betapa terkejutnya dia melihat sang suami di hadapannya.
"Ayah bikin Bunda kaget."
"Bunda lama sekali ayo kita ke kamar."
"Bunda mau bikin susu dulu."
"Sudah Ayah buatkan, ada di kamar."
Mellisa mengerutkan alisnya lalu menurut suaminya ke kamar karena sang suami menarik tangannya agar cepat bergegas.
Sesampainya di kamar.
Mellisa merasa agak lain, sprei berganti lagi, sang suami lebih rajin berganti sprei sekarang.
Mellisa melihat suaminya dan tersenyum.
"Mana susu, Bunda?" tanya Mellisa polos.
"Apa perlu Ayah tunjukkan?" goda Davin melirik dada sang istri.
Mellisa langsung tersadar jika suaminya mulai nakal, ditutupnya wajah sang suami dengan kedua tangannya.
"Dasar ya!"
"Hey sayang, apaan sih." Davin memegang kedua tangan istrinya.
Segera Davin mengambilkan susu buat ibu hamil untuk istri tercintanya yang sudah dia sajikan tadi.
"Minum dulu, sayang," ucap Davin tersenyum.
"Terimakasih, Ayah." Mellisa segera meminumnya.
Setelah selesai meminum susu, Davin menyingkirkan gelas bekas minuman itu ke belakang.
Mellisa memperhatikan langkah suaminya yang agak terburu-terburu.
Tidak lama, Davin kembali ke kamar. Dia melihat sang istri bersiap untuk merebahkan diri ke tempat tidur.
"Bunda," panggil Davin.
"Iya, Ayah," sahut Mellisa sambil membaringkan diri.
"Bunda lelah? Kita tidak melakukan sesuatu dulu, Ayah sangat rindu," ucap Davin memelas.
Mellisa mana tega melihat suaminya sampai meminta, bukankah harusnya dia yang menawarkan diri.
"Sini, Ayah." Mellisa menunjuk tempat di sebelahnya agar suaminya mendekat.
"Bolehkah?" tanya Davin agak ragu, dia melihat sang istri yang sepertinya lelah.
"Hm."
Davin mendekati sang istri dan berbaring di sebelahnya. Dia hanya memeluk Mellisa tanpa melakukan lebih, dia sendiripun tidak terlalu menginginkannya malam ini.
"Ayah," panggil Mellisa lalu menoleh wajah sang suami, suaminya tengah memejamkan mata.
"Tidak jadi, Ayah." Mellisa merasa tidak enak hati. Dia meraih bibir sang suami dan mulai menciumnya.
Davin membuka matanya dan membalas ciuman sang istri dengan rakus, entahlah awalnya dia kasihan melihat sang istri yang nampak lelah, namun istrinya malah memulai.
'Adik kecil langsung bangun,' batin Davin.
Davin segera memulai hasratnya yang sudah tergugah, dia menatap Mellisa dengan hangat.
Mellisa langsung tersenyum lalu menikmati sentuhan demi sentuhan dari sang suami.
Setelah selesai, mereka mandi bersama sambil canda tawa.
__ADS_1
Selesai mandi, keduanya berganti pakaian dan bersiap istirahat di tempat tidur.
"Ayah ayo tidur?" ajak Mellisa memeluk sang istri.
"Ayah jadi tidak mengantuk ya, Bun," ucap Davin lalu duduk.
Mellisa ikut bangkit dan duduk di sebelah suaminya, dia mengecup pipi sang suami.
"Bunda boleh tidur duluan, Bunda pasti lelah menemani kedua putri kita bersama pak gurunya."
Mellisa cukup terkejut, dia melihat wajah suaminya yang datar, bukankah mereka baru saja berhubungan intim? Kenapa tidak terlihat rasa bahagia terpuaskan dari suami?
"Ayah," panggil Mellisa pelan.
Davin menoleh dan mencium kening Mellisa.
"Iya, sayang."
"Ayah tidak cemburu, kan?"
"Bunda tidak apakah jika Ayah setiap hari bertemu Sonya?"
Davin malah bertanya balik, Mellisa mulai mengerti.
Mellisa memeluk dan bersandar di dada sang suami, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan.
"Apapun yang terjadi di luar sana, kita adalah suami istri yang saling mencintai, Ayah. Berhentilah memikirkan orang lain yang mungkin mengganggu keharmonisan kita."
Davin mengusap kepala sang istri perlahan, sementara Mellisa memejamkan matanya sambil tersenyum merasakan kenyamanan.
Tak disangka, Davin kembali berhasrat, bahkan Mellisa merasakannya karena jaraknya yang terlalu dekat.
"Boleh minta lagi, Bunda," pinta Davin.
Mellisa pura-pura tertidur, namun Davin sangat mengerti.
"Boleh tidak?" bisik Davin di telinga Mellisa.
"Bunda menyayangimu, Ayah," ucap Mellisa malu-malu lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher sang suami.
Keduanya tersenyum dan menikmati pemandangan di depan mata masing-masing.
Davin meraih kening sang istri dan mengecupnya.
"Terimakasih, Bunda. Ayah juga menyayangi Bunda."
Malam ini kedua pasangan suami istri itu memadu kasih kembali.
Baik Davin maupun Mellisa merasa lega, kenapa khawatir tentang hal yang lain, sementara keduanya jelas masih saling percaya, saling menyayangi.
Davin semakin tenang bersama istrinya, kedepanya dia yakin akan bertahan bersama sang istri.
***
Siang hari.
"Pak Davin sepertinya hari ini sumringah sekali," goda Anton.
Davin masih melanjutkan makan siangnya, dia hanya menoleh Anton dan tersenyum.
"Pak Davin dapat bonus kali, Mas." Jeny duduk di sebelah suaminya.
"Mungkin."
Jeny dan Anton terus membicarakan bos mereka, meski Davin di hadapan mereka namun Davin hanya cuek tak menyahut bahkan tidak mempermasalahkannya.
"Pak Davin, anda sehat, kan?" tanya Jeny hati-hati.
Anton malah terkekeh, istrinya terlalu berhati-hati bertanya, bukannya sedari tadi mereka berdua mengguncingkan sang bos.
"Kalian makanlah dulu," ucap Davin akhirnya mengeluarkan suara. Dia berlalu karena telah menyelesaikan makan siangnya.
__ADS_1
"Iya, Pak Davin."
Anton dan Jeny memperhatikan langkah Davin hingga tak terlihat.
"Apakah Mas Anton sebahagia itu saat memikirkanku?" tanya Jeny penuh selidik, dia dibuat iri melihat Davin sangat bahagia pasti karena istrinya, pikir Jeny.
"Hm. Istriku, ada apa denganmu? Irikah pada nyonya Davin? Tidak bisakah kamu merasakan kebahagiaanku siang malam bersamamu?" Anton menatap Jeny penuh mesra.
Jeny yang ditatap merasa canggung dan salah tingkah, apa-apaan dia ini, dia dan pasangannya adalah pasutri bahagia, tidak perlu iri apalagi membandingkan dengan pasutri yang lain.
Sementara Davin kembali ke ruangan kerjanya. Dia melihat ponselnya di meja ada pesan masuk rupanya, dia lupa tidak membawa ponsel ketika makan siang barusan.
"Bunda ke tempat ibu, Ayah. Ayah bisa langsung ke sana setelah pulang dari kantor."
"Baiklah, Bunda."
Davin meletakkan ponselnya kembali, dia menjadi cemas juga ada apa Mellisa mengunjungi ibu lagi.
Segera Davin kembali bekerja agar dapat selesai lebih awal.
***
"Ibu," panggil Mellisa mendekat. Dia menggenggam tangan ibu yang lemah.
Badan ibu tidak panas bahkan masih bisa makan, namun kenapa ibu nampak lemas?
"Mell bisakah tinggal di sini menemani ibu?"
"Tentu saja."
Bisakah tidak iri hati? Talita merasa hatinya sakit, entah untuk yang kesekian kalinya, mendengar permintaan ibu pada kakaknya untuk tinggal.
"Ibu ingin ditemani kalian berdua, putri-putri Ibu di sisa waktu Ibu yang mungkin sebentar lagi."
Mellisa dan Talita tersentak, keduanya mendekat sang ibu dan memeluknya.
"Jangan pernah mengatakan itu, Bu. Ibu akan terus menemani kami, lihat sebentar lagi cucu ibu akan bertambah, mereka sangat menginginkan neneknya."
Ibu tersenyum dan menatap kedua putrinya secara bergantian.
"Ibu ingin kalian berdua selalu bahagia bersama keluarga kecil kalian, kalian sangat beruntung."
"Tentu saja kami akan selalu bahagia bersama Ibu juga."
"Ibu ingin menyusul bapak kalian jadi berjanjilah kalian akan baik-baik saja tanpa Ibu."
"Apa yang Ibu katakan, jangan pergi, Ibu. Kami masih ingin bersama Ibu."
Mellisa dan Talita tak bisa menahan air mata, mereka semakin erat memeluk sang ibu.
Sepanjang siang dan malam, Mellisa dan Talita tidak pernah beranjak dari kamar ibu.
Andika dan Davin lah yang mengalah mencari makanan untuk mereka.
Sementara Rosy dan Jasmine merasa aneh, kenapa bunda mereka tidak keluar dari kamar sang nenek.
"Ayo kita ke kamar nenek," ajak Jasmine penasaran.
"Ayo." Rosy mengiyakan. Keduanya bergegas masuk kamar nenek mereka.
Putri kembar melihat bunda dan tante mereka yang tertidur memeluk sang nenek, sementara nenek mereka masih membuka matanya.
"Rosy, Jasmine. Sini sayang sama Nenek," panggil Inayah.
"Iya, Nek," sahut keduanya mendekat.
"Malam ini temani Nenek ya?" pinta Inayah meraih keduanya.
"Iya, Nek." Keduanya menurut.
Tempat tidur itu terasa sesak karena banyak yang bersandar, entahlah, Inayah hanya merasa senang anak dan cucunya menemaninya malam ini.
__ADS_1
***