Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 58 Canggung


__ADS_3

Setelah menjemput kedua putri kembarnya, Mellisa kembali lagi ke tempat ibu dan adiknya.


Sebelumnya Mellisa sudah mengabari sang suami lewat pesan WA untuk menjemputnya dan anak-anak sepulang kerja.


Namun ternyata Davin harus lembur dan pulang agak larut.


Mellisa memutuskan untuk pulang naik taksi ke rumah.


Larut malam.


Davin membuka pintu rumahnya dan melangkah pelan.


"Ayah sudah pulang?" tanya Mellisa mengagetkan Davin.


"Ayah kira Bunda sudah tidur."


Mellisa menghampiri sang suami dan memeluknya.


Davin mengerutkan alisnya namun tetap membalas pelukan sang istri.


"Bunda," panggil Davin.


"Bunda merindukan Ayah."


Mellisa semakin erat memeluk sang suami.


Davin merasa aneh saja, apa yang membuat Mellisa seperti ini.


"Setiap hari kita bersama bukan."


"Ayah," panggil Mellisa menatap sang suami, semakin lama matanya semakin berkaca-kaca.


"Hey, ada apa sayang." Davin segera menyeka air mata Mellisa.


Mellisa sudah menahannya dari kemarin, ada nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah foto, foto itu adalah Davin bersama Sonya di ruangan Davin, dia ingin mengonfirmasi sendiri dengan sang suami tanpa berfikir macam-macam.


Mellisa menunjukkan foto itu pada sang suami.


"Darimana Bunda mendapatkan foto itu?"


Mellisa lalu menunjukkan nomor di pesan yang mengirimkan gambar.


Davin tidak mengenalnya, apa maksud orang itu, apakah dia Sonya?


"Ini tidak seperti yang Bunda pikirkan." Davin sempat khawatir.


"Ayo Ayah kita ke kamar dulu, Ayah lelah bukan?" Mellisa berusaha tersenyum.


Di kamar.


Davin merasa lelah, tapi dia harus menjelaskan walaupun Mellisa tak memaksanya untuk menjelaskan namun dia sendiri khawatir jika sang istri berpikir agak jauh.


Akhirnya Davin bercerita tentang hukuman dari bos besarnya kemarin karena ulah Sonya.


Mellisa mengangguk mendengarkan sang suami, namun dia lega juga.


"Nona Sonya masih muda dan cantik." Mellisa masih menunduk.


"Bunda sangat tahu, Ayah sangat mencintai Bunda." Davin memeluk sang istri dengan erat.


Mellisa tersenyum menatap sang suami. Davin membalas senyuman itu lalu memberi kecupan di kening Mellisa.


"Bunda selain cantik di luar juga cantik di dalam." Davin menunjuk dada Mellisa.


"Awas kesenggol," goda Mellisa.


Davin memang lelah namun untuk hal ini bisakah dia absen. Hihi.


***


Pagi hari di kantor.


Davin bersama Anton dan Jeny mengobrol seperti biasa sebelum memulai pekerjaan.


Sonya berjalan melewati mereka dengan kesal. Bahkan setelah Sonya tak terlihat, tidak ada dari mereka yang menyadari kehadiran Sonya.


'Kenapa tidak terjadi sesuatu? Davin masih bahagia dan ceria seperti biasa, apakah dia tidak bertengkar dengan istrinya?' batin Sonya semakin kesal.


Sonya memasuki ruangannya diiringi oleh asistennya. Di sana seseorang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Nona," sapanya.


"Apa yang sudah kamu dapatkan dari penyelidikanmu?" tanya Sonya sambil duduk di kursinya.


"Istri pak Davin sedang hamil," jawabnya.


"Kalau itu aku sudah tahu!" marah Sonya.


Orang itu menunduk.


"Apa ada lagi yang lain?" tanya Sonya tak sabar.


"Sepertinya ada seseorang yang mencoba mendekati istrinya pak Davin," jawab orang itu membuat Sonya penasaran.


"Siapa?" tanya Sonya tersenyum licik.


"Namanya Hilmi, seorang guru di sekolah tempat anak-anak pak Davin belajar."


"Cari tahu tentang Hilmi, aku harus bekerja sama dengannya."


"Baik, Nona."


"Kamu boleh pergi."


Setelah sang bos menyuruh pergi, orang kepercayaan Sonya itu berlalu.


Sonya duduk sambil berpikir, ternyata ada juga yang mungkin bisa untuk diajak kerja sama.


'Lihat saja Davin, mendapatkanmu atau menghancurkanmu.'


"Saya punya rencana bagus, Nona," ucap asisten Sonya tiba-tiba.


"Itupun jika Nona berkenan," lanjutnya lagi.


"Apa itu?" tanya Sonya.


Sang asisten membisikkan sesuatu ke telinga bosnya.


Sonya langsung tersenyum dan mulai berencana.


"Aku tidak salah memilihmu menjadi asistenku, kamu sangat pintar," puji Sonya menepuk pundak sang asisten.


***


Siang hari.


"Bunda," panggil Rosy dan Jasmine ketika keluar dari pintu gerbang sekolah mendapati sang bunda telah siap menjemput.


"Sayang, bagaimana belajar kalian hari ini?"


"Semakin hari semakin menyenangkan," jawab Jasmine.


"Apalagi pak Hilmi lebih perhatian ke kita," timpal Rosy.


Mellisa kaget, apa maksudnya Hilmi lebih perhatian dengan Rosy dan Jasmine?


"Apa pak Hilmi tidak perhatian dengan yang lain juga?"


"Mungkin tidak, kami merasa spesial. Tadi pak Hilmi mentraktir kami jajan."


Ada yang tidak beres, apakah sebelumnya seperti itu atau semenjak Hilmi tahu kalau si kembar putrinya Mellisa?


"Ya sudah ayo kita pulang," ajak sang bunda.


"Pak Hilmi memberikan ini untuk bunda," ucap Rosy sambil mengeluarkan sesuatu untuk sang bunda.


Mellisa mengambil itu dari Rosy dan segera mengajak mereka untuk pulang.


Di Rumah.


"Kalian ganti baju sana, lalu kita makan."


"Siap, Bunda."


Mellisa segera menyiapkan makan siang untuk kedua putri kembarnya.


Tiba-tiba Mellisa teringat sang suami, sesekali dia datang ke kantor untuk membawakan makan siang namun sekarang dia tidak berani lagi semenjak di tegur bosnya, biarlah toh di kantor juga ada kantinnya.


'Apa Sonya masih suka merayu mas Davin ya?' batinnya.

__ADS_1


"Bunda," panggil Rosy dan Jasmine mengagetkan Mellisa.


"Eh kalian, membuat Bunda kaget."


"Lagian Bunda melamun."


"Ya sudah ayo makan sayang."


"Yang tadi dari pak Hilmi itu apa Bunda?"


"Tidak tahu, Bunda belum membukanya. Ayo makanlah tidak usah memikirkan yang lain."


Rosy dan Jasmine menurut.


Setelah selesai makan siang, Rosy dan Jasmine bermain-main di ruang tamu.


Sementara Mellisa kembali ke kamarnya dan melihat-lihat apa yang diberikan Hilmi tadi.


"Isinya apa ya? Jadi penasaran."


Mellisa mencoba membuka dan oouw betapa terkejutnya dia melihat banyak foto masa kecilnya dengan Hilmi.


Hilmi masih menyimpan semuanya sedangkan Mellisa hampir saja melupakannya.


Mellisa melihat foto itu satu persatu, sesekali dia tersenyum melihat dirinya saat masih kecil.


"Sedari kecil aku ini udah cantik begini, hihi."


Sampai di foto yang terakhir, Mellisa dan Hilmi nampak mesra, walaupun saat itu mereka masih SD.


"Apa aku segenit itu?"


Tok!


Tok!


Tok!


"Bunda," panggil kedua putri kembar langsung menerobos pintu.


Mellisa panik dan menyingkirkan semua foto-foto di depannya.


"Bunda sedang apa?" tanya Rosy.


"Bunda sedang beberes," jawab Mellisa asal.


Mellisa agak canggung, kenapa ya? mereka hanya anak-anak dan yang dia singkirkan hanya foto.


"Apa kalian sudah beberes kamar kalian?" tanya Mellisa mengalihkan pusat perhatian mereka.


"Belum," jawab keduanya kompak.


"Sana kalian beres-beres dulu," suruh Mellisa.


"Oke, Bunda."


Rosy dan Jasmine berjalan ke kamarnya dan mulai beberes.


Ketika Jasmine mengambil tasnya, dia teringat ada surat dari sekolahan yang belum dikasihkan ke bundanya.


"Ah aku lupa, suratnya belum dikasih ke bunda."


"Ya sudah kasih ke bunda, nanti lupa lagi."


"Oke."


Jasmine langsung ke kamar bundanya lagi dan memberikan surat dari sekolahan.


Mellisa kembali panik, dia nampak canggung, untungnya dia sudah menyimpan foto-foto yang disingkirkannya tadi ke dalam laci.


"Bunda," panggil Jasmine lalu menyerahkan suratnya.


"Apa ini?" tanya Mellisa langsung membuka isi surat.


"Lihat saja sendiri, Bunda."


Mellisa mengangguk-angguk, iya itu hanya rapat orang tua.


***

__ADS_1


__ADS_2