
"Sayang, ayo kita tidur," ucap Andika sambil menarik tubuh istrinya berbaring di tempat tidur.
"Mau mempermalukan istri sendiri di depan mertua ya?" sindir Talita kesal.
"Apa maksud kamu?" tanya Andika tak mengerti.
"Ini hari pertama aku tinggal di tempat mertua dan aku akan bermalas-malasan begitu, Mas. Sebaiknya kamu perlu mengajariku untuk menjadi menantu yang baik, Mas." Talita melepas pelukan suaminya.
Andika langsung tertawa. Polos benar istrinya itu.
"Sudahlah! Kamu memang menantu yang baik, mama sudah sangat menyayangimu." Andika menarik tubuh Talita lagi ke pelukannya.
"Tidak, aku masih malu," tolak Talita kesal.
"Baiklah, terserah kamu saja, sekarang aku mau tidur." Andika langsung memejamkan matanya.
Talita berdiri dan mencium pipi suaminya, lalu dia segera keluar dari kamarnya.
Di ruamg tamu mama mertuanya sedang bersantai.
"Sudah bangun, sayang. Sini duduk, temani Mama," ucap mama mertuanya ramah.
"Iya, Ma." Talita mendekat dan duduk di samping mertuanya, dia merasa nyaman karena mamanya Andika sangat hangat.
"Kamu mau minum apa, Ta? Biar dibuatin sama bibi," tanya mama mertuanya lagi.
"Tak usah, Ma. Nanti biar aku buat sendiri saja," tolak Talita halus.
"Kamu jangan sungkan, kalau mau apa-apa tinggal suruh bibi saja. Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan apapun, cukup mendampingi putra Mama saja, Mama sudah sangat senang," tutur mama mertuanya.
Talita mengangguk menurut.
'Wah.' Talita nampak senang.
'Kenapa aku merasa sangat senang? Kenapa suami dan mertuaku sangat baik? Aku harus bersyukur. Terimakasih ya Allah.'
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara Andika.
"Pagi, Ma," sapa Andika sopan pada mamanya.
"Pagi juga, kamu mau kemana?" tanya mamanya melihat putranya sudah berpakaian rapi.
Talita juga aneh melihat suaminya, bukannya tadi sedang tidur, kenapa sekarang sudah rapi seperti itu.
"Aku ada urusan penting sama Talita," jawab Andika.
Talita mengerutkan alisnya tanda tak mengerti.
"Iya, hati-hati kalian berdua." Mama tersenyum.
Setelah berpamitan Andika menarik lembut tangan istrinya, lalu mengajaknya keluar rumah dan masuk ke mobil.
"Ada urusan penting apa, Mas?" tanya Talita penasaran.
__ADS_1
Bagaimana mungkin ada urusan penting, bukankah mereka baru menikah, tak ada yang lebih penting selain bersantai di dalam rumah dan tidur, pikirnya.
"Nanti juga tahu," jawab Andika tenang.
Talita hanya diam dan mengikuti saja apa yang diperintahkan suaminya.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Andika fokus menyetir dan Talita berkali-kali menguap karena mengantuk.
Sampai di sebuah hotel. Andika menghentikan mobilnya di parkiran.
"Mas, Kenapa kita ke hotel?" tanya Talita heran.
"Ya tidur, mau apa lagi memangnya," jawab Andika asal-asalan.
Talita menggelengkan kepalanya, wah suaminya ini benar-benar kaya. Punya rumah yang mewah, tapi mengajaknya ke hotel hanya untuk tidur.
"Kenapa harus ke hotel?" tanya Talita lagi.
"Kalau tidur sendiri tak asik. Sedangkan di rumah kamu pasti merasa sungkan," jawab Andika membuat Talita tersenyum.
Talita merasa senang suaminya sangat pengertian.
"Yah, mau bagaimana lagi! Kalau dipaksa, aku juga tak enak menolak terus," kekeh Talita. Dia langsung turun dari mobil dan tidak sabar segera tidur.
Talita memang sangat mengantuk, dan tubuhnya terasa lemas. Setelah memesan kamar hotel akhirnya Talita menjadi orang pertama yang paling semangat untuk berbaring di tempat tidur.
Andika tertawa. Dia sangat tahu istrinya ingin tidur. Apalagi setelah semalaman tidak tidur, dia sangat mengkhawatirkan kesehatan istrinya.
***
Tak berbeda jauh dengan Davin, dia juga bergadang untuk menjaga kedua bayinya.
Rosy dan Jasmine tidak tidur tenang semalaman. Badan mereka agak hangat karena mungkin kelelahan, mereka akhir-akhir ini sering aktif.
Setelah sholat subuh Davin tertidur sampai jam 8 pagi.
Sebenarnya Mellisa tidak tega membangunkan suaminya, namun karena Davin belum sarapan dia menjadi khawatir.
"Ayah. Ayo sarapan dulu," bujuk Mellisa lembut.
Mendengar suara istrinya Davin segera bangun dengan senyuman manisnya.
"Dimana Jasmine?" tanya Davin hanya melihat Rosy di pelukan bundanya.
"Lagi sama ibu, tadinya mau Bunda titipin sama ibu semua, tapi Rosy tak mau."
Davin langsung bangkit, dia segera keluar kamar. Sementara Mellisa berjalan di belakang suaminya.
Davin dan Mellisa telah sampai di meja makan.
Davin melihat beberapa makanan telah siap santap, dia lalu duduk dan hendak memakan.
"Silahkan makan, Mas."
__ADS_1
Davin mengangguk.
"Bunda sudah sarapan belum?" tanya Davin sambil memakan menu sarapan di hadapannya.
Mellisa menggeleng membuat Davin menghentikan makannya.
Davin ingin mengajak istrinya untuk makan bersama, namun sekarang istrinya sedang menggendong Rosy.
Sebelumnya saat masih ada Talita, pasti Talita langsung mengambil Rosy dan membiarkan kakaknya makan bersama suaminya.
"Lain kali, Bunda sarapan saja dulu jangan menunggu Ayah, Bunda kan butuh nutrisi banyak supaya ASI-nya lancar," tutur Davin lembut pada istrinya.
"Bunda memang belum makan nasi, tapi tadi pagi Bunda sudah makan roti, buah sama minum susu." Mellisa terkekeh.
Davin jadi tertawa, dia memang telah melihat perubahan istrinya setelah melahirkan makannya jadi banyak dan sering mungkin karena istrinya sedang menyusui, setiap kali setelah menyusui istrinya itu pasti langsung lapar.
Davin segera menyelesaikan makannya dan bergantian menggendong Rosy dan menyuruh istrinya sarapan nasi.
Setelah selesai sarapan, kini bergantian Mellisa hendak sarapan, namun belum sesuap nasi masuk ke mulut Mellisa, ibu datang membawa Jasmine yang tengah menangis.
"Mell, sepertinya Jasmine haus, kamu susuin dulu sana. Setelah itu mungkin dia akan tertidur karena sudah terjaga dari pagi."
"Iya, Bu." Mellisa mengambil Jasmine dari ibunya.
Mellisa bergegas ke kamar untuk menyusui Jasmine. Davin tak tega melihat istrinya belum sempat sarapan.
"Bu, bisa menitip Rosy sebentar? Aku akan menyuapi Mellisa."
"Tentu saja. Sini sayang cucu nenek yang cantik."
Setelah Davin menyerahkan Rosy, dia langsung menyusul istrinya ke kamar dengan membawa makanan untuk istrinya makan.
Jasmine menyusu bundanya dengan lahap. Dia nampak mengantuk.
"Ayah suapi ya." Davin menawarkan.
Mellisa mengangguk.
Sungguh indah rasanya, berkeluarga yang di dalamnya adalah anggota yang saling menyayangi.
Keduanya tersenyum menikmati momen merepotkan ini.
"Tidak apa-apakah, jika besok Ayah bekerja?"
"Memangnya kenapa, Yah? Ayah kan memang harus bekerja."
"Iya tapi Ayah tak tega jika melihatmu kerepotan sendiri, Ayah sudah membayangkan Bunda jadi sulit waktu untuk sekedar makan."
"Tapi Bunda menikmatinya, Ayah. Ayah tenang saja, Bunda kan tidak sendiri ada ibu yang tinggal di rumah ini juga. Mereka juga kan ada tidurnya, Bunda tinggal mengatur pola makan saja biar ASI Bunda tetep lancar."
Davin mengangguk setuju. Bagaimanapun seorang perempuan lebih jago mengatur urusan rumah dan anak-anak. Davin akan bekerja untuk mencari nafkah untuk mereka.
***
__ADS_1