Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 19 Tamu


__ADS_3

"Ayah pulang." Davin langsung menghampiri putri-putrinya yang digendong Mellisa dan Talita.


"Eh Ayah. Lihat sayang ayah sudah pulang," ucap Mellisa menunjukkan keberadaan Davin pada kedua putrinya.


Davin mencium pipi kedua putrinya secara bergantian, lalu digendongnya Rosy yanga ada di tangan istrinya.


"Putri Ayah tak rewel kan," ucap Davin sambil menciumi Rosy.


"Jasmine juga ingin loh Ayah." Talita menunjukkan keponakan yang dia timang pada kakak iparnya itu.


"Sini biar aku gendong." Andika yang sedari tadi diam tiba-tiba mendekat dan mengambil Jasmine dari Talita.


Talita melihat Andika sebentar lalu menunduk.


'Aku memang ingin melihatnya, tapi rasanya aku belum siap,' batin Talita.


Mereka semua bercanda tawa.


Kebersamaan dan keharmonisan rumah tangga ini pasti membuat semua orang iri.


Di sela-sela waktu, Andika mencuri pandang Talita yang terkadang berpapasan mencuri pandamg bersamaan, keduanya nampak canggung dan malu-malu.


Mellisa yang melihat tingkah adiknya, lalu mengajak suaminya mundur pergi perlahan agar mereka bisa mengobrol bersama.


Kini hanya Andika dan Talita di ruangan tamu.


"Loh, kemana semua orang," ucap Talita baru menyadari.


"Iya nih, kita tiba-tiba ditinggal berdua saja," sahut Andika.


Setelah itu mereka diam, canggung juga harus mulai percakapan dari mana.


Beberapa saat kemudian Andika memberanikan diri untuk memulai.


"Hm... Talita," panggil Andika memecah keheningan.


"Iya," sahut Talita datar.


"Kamu besok apakah ada waktu? kita jalan ya?"


"Em boleh."


"Ok."


Setelah lama mengobrol asik tiba-tiba Mellisa datang mengajak mereka makan malam.


Keduanya mengangguk.


***


"Jangan lupa sholatnya yang istiqomah, Nak," pesan Atikah, ibunya Jeny di balik telfon.


"Iya Bu," sahut Jeny.


Jeny menyudahi pembicaraannya dengan ibunya dibalik telfon, dia lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Jeny menatap langit-langit sambil melamun, dia memikirkan pesan ibunya barusan.'Sholat.'


"Ya Allah aku bahkan lupa kapan terakhir aku sholat."


Setelah selesai mengambil wudhu, Jeny lalu mengambil mukenanya di dalam lemari.


"Mukena ini hanya sebagai pajangan di lemariku saja."


Setelah selesai sholat, Jeny mulai bersujud kembali memohon ampun pada sang Ilahi, tak lupa dia juga berdo'a untuk kedua orang tuanya dan dirinya.


Di akhir renungannya Jeny merasa malu sendiri mengingat dia telah mencoba merayu Davin yang saat ini berstatus suami orang.


"Aku ini kenapa, mengejar suami orang yang jelas-jelas sangat menolakku, pasti Davin semakin jijik padaku." Jeny mencaci dirinya sendiri.


"Ibu."

__ADS_1


"Maafkan anakmu ini Bu, aku berjanji tak akan mengulangi kesalahanku lagi."


***


Tok!


Tok!


Tok!


"Siapa sih pagi-pagi sekali sudah bertamu?" Jeny menyudahi sarapannya dan bergegas membuka pintu.


"Ibu," panggil Jeny senang mendapati ibunya di depan rumahnya.


Jeny langsung memeluk sang ibu.


"Ibu semalam tak mengatakan kalau mau ke sini."


Ibunya itu tersenyum.


Jeny mengambil tas bawaan ibunya dan mempersilahkan ibunya masuk ke rumah.


"Tak apa, Ibu hanya rindu berat sama kamu."


Jeny memperhatikan ibunya yang nampak anggun, meski sudah tua tapi terlihat segar dengan baju kebayanya.


"Tapi aku harus bekerja Bu, Ibu tak apa-apa sendirian di sini."


"Tak apa-apa Jen, kamu bekerja saja, nanti kamu jangan lembur ya, akan ada tamu ke sini."


Jeny mengerutkan alisnya.


"Siapa? ayah?" tanya Jeny penasaran.


Ibunya mengangguk, namun ada hal lain yang masih Atikah tutupi mungkin sekalian nanti malam agar Jeny tak kepikiran apapun.


Orang tua Jeny memang telah bercerai sejak lama, meski begitu keduanya masih memperhatikan Jeny, terutama masa depan Jeny.


***


Hari ini Davin ditemani Andika lagi karena memang Andika menganggur.


Mereka berjalan beriringan ke dalam ruangan, saat tiba di depan pintu Jeny melintas di depan mereka.


"Pagi Pak Davin," sapa Jeny tersenyum.


Davin melihat Jeny yang nampak anggun dengan celana panjang dan kemeja putih yang agak longgar namun tetap rapi.


"Pagi Jen," sahut Davin tersenyum.


"Permisi," ucap Jeny berlalu.


Davin dan Andika masuk ke ruangan dan mulai bekerja.


"Yang perempuan tadi itu, yang kemarin berpakaian seksi bukan kak?" tanya Andika penasaran.


"Kalau iya kenapa?"


"Aku pangkling, beda sekali."


"Setahuku juga tadinya seperti itu."


"Oh."


Andika nampak gelisah tak seperti kemarin, Davin memperhatikan adik sepupunya itu.


"Kenapa?" tanya Davin menyentuh pundak Andika.


Andika mengatakan kalau orangtuanya akan menjodohkannya dengan seseorang dan malam ini mereka akan dipertemukan.


"Kamu tahu, aku dan Mellisa juga dijodohkan," ucap Davin sambil melihat laptopnya.

__ADS_1


"Tapi Kak Davin waktu itu belum ada yang Kakak suka kan?"


Davin melihat Andika.


"Kamu sudah punya pacar?"


Andika menggeleng.


"Tapi aku menyukainya Kak."


"Apakah dia Talita?"


Andika mengangguk.


Davin menyarankan agar Andika mau berterus terang pada orang tuanya.


"Jangan memaksakan jika kamu tak mau, bilang saja pada orang tuamu."


Andika mengangguk.


***


Malam hari.


Meja makan sudah tersaji beberapa makanan tinggal menunggu tamu datang.


"Ayah." Jeny nampak senang.


Jeny bangun dari duduknya ketika ayahnya datang, dia menghampiri sang ayah dan memeluknya.


Atikah nampak senang, meski dia dan mantan suaminya tidak bersama lagi namun masih kompak memikirkan masa depan anak mereka.


"Ayo duduklah, tamu sebentar lagi akan datang," suruh Atikah pada anak dan mantan suaminya itu.


Tak lama tamu yang mereka tunggu datang juga.


"Kamu."


"Kamu kan... ."


Tak ada yang pernah menyangka Jeny dan Andika dipertemukan di sini.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Dewi, ibunya Andika.


"Dia teman sekantor kak Davin, Ma," jawab Andika singkat.


Kedua orang tua Jeny dan Andika nampak senang mendengarnya, baguslah jika anak mereka saling kenal, pikir mereka.


Andika maupun Jeny tak mengatakan apapun ketika kedua orang tua mereka tengah membicarakan perjodohan mereka.


'Bagaimana cara mengatakannya,' batin Andika.


'Kenapa Andika tak mengatakan apapun?' batin Jeny gelisah.


Setelah acara makan malam selesai, keluarga Andika berpamitan untuk pulang.


Sepeninggal keluarga Andika, Jeny melamun di kamarnya.


"Kalau memang ini yang terbaik yang Engkau rencanakan untuk hidupku, aku ikhlas ya Allah. Jika memang Andika adalah jodohku, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada."


Sementara dengan Andika, dia nampak gelisah.


"Kenapa tadi aku tidak mengatakannya?" kesalnya pada diri sendiri.


"Aku memang belum mengenal Talita dengan baik, tapi aku menyukainya. Sekarang aku malah sudah dijodohkan."


Andika bingung sendiri, dia tak pernah menolak keinginan orang tuanya, bahkan ketika acara makan malam barusan ancang-ancang untuk menolak perjodohan itu tak berani dia ungkapkan.


Dia tak tega melihat orang tuanya yang begitu senang membahas perjodohan bersama orang tua Jeny akan kecewa jika seandainya dia ungkapkan.


***

__ADS_1


__ADS_2