
Hari ini keluarga Davin dan Andika masih berkabung, mereka masih di rumah meliburkan diri tidak melakukan aktifitas di luar rumah.
Sementara di tempat Davin bekerja, para rekan kerja Davin berencana berkunjung ke kediaman Davin, termasuk Sonya. Sonya mengajak Hilmi ke sana.
"Mell, Mama tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Tiara menghampiri menantunya yang sedang duduk melamun.
Mellisa menoleh mama dan mempersilahkan duduk di sebelahnya.
"Sini, Ma," suruh Mellisa menepuk sofa agar sang mama duduk di sana.
Tiara duduk di sebelah Mellisa, dia menatap ke depan, dilihatnya putra tercintanya bermain bersama kedua cucu kembarnya.
"Tinggallah lebih lama lagi, Ma," ucap Mellisa memohon.
Tiara menoleh Mellisa dan memeluknya, Mellisa tersenyum dan memejamkan mata menikmati pelukan sang mertua.
Tiba-tiba Mellisa kembali sedih, dia membuka matanya perlahan dan melepaskan diri dari pelukan sang mama, dia melihat sang mertua di hadapannya.
"Ibu," panggilnya.
"Ini Mama sayang, Mama juga ibumu."
Mellisa memeluknya kembali.
"Bolehkah aku memanggil Mama dengan sebutan Ibu?"
"Mama dan ibumu adalah dua orang yang berbeda namun kami sama-sama menyayangimu. Mell, kamu yang sabar, Mama yakin kamu perempuan yang kuat dan tegar. Ada Mama dan papa bersamamu, Davin suamimu yang selalu menjagamu, Rosy dan Jasmine yang selalu menghiasi hari-harimu, dan satu lagi calon adik putri kembar." Tiara memegang perut Mellisa, membuat Mellisa sangat senang.
Dari kejauhan Davin bermain bersama kedua anaknya, sesekali dia melihat istri dan mamanya yang sedang mengobrol.
Davin bermaksud menghampiri keduanya, namun belum sempat ke sana pintu rumahnya ada yang mengetuk, Davin segera ke depan dan membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum, Pak Davin," salam semua tamu.
"Wa'alaikum salam," sahut Davin.
Davin merasa senang rekan-rekan kerjanya datang berkunjung ke rumah.
"Ayo semua masuk," ajak Davin mempersilahkan semua tamunya masuk.
Hilmi melihat-lihat sekeliling, memang Davin cukup kaya, pikirnya.
'Pantas saja jika Mellisa mau denganmu, Davin. Dasar perempuan,' batin Hilmi.
Mellisa segera menyambut rekan kerja kantor suaminya.
"Mell," sapa Jeny menyerahkan beberapa buah tangan.
Keduanya saling berpelukan.
"Kalian repot-repot sekali datang ke sini." Mellisa mengambil buah tangan itu dari Jeny.
"Tidak repot kok, Mell," ucap Sonya mendekat.
Mellisa menoleh dan tersenyum lalu memeluk Sonya.
"Terimakasih semuanya. Aku buat minuman dulu," pamit Mellisa berlalu ke dapur mempersiapkan minuman.
"Akan ku bantu, perempuan hamil tidak boleh terlalu lelah," ucap Sonya segera menyusul Mellisa.
__ADS_1
Di dapur.
Sonya membantu Mellisa mempersiapkan suguhan, kebetulan ada cemilan sedikit untuk tamu yang datang.
Semakin lama keduanya semakin akrab, Mellisa semakin yakin jika ke depannya rumah tangganya akan baik-baik saja, dulu saja Jeny pernah menggoda suaminya dan sekarang Jeny sudah bahagia bersama Anton. Sonya pun sama, sebentar lagi dia akan resmi bersama Hilmi, jadi apa yang musti dikhawatirkan.
Mellisa dan Sonya ke depan menyajikan suguhan, Hilmi melihat keduanya dengan tersenyum, memang kedua perempuan ini sama-sama cantik namun Hilmi sama sekali tidak tertarik dengan Sonya, Mellisa lah yang dia tuju saat ini.
Sementara Davin masih asik mengobrol dengan Anton juga rekan-rekan yang lain.
Baik Davin maupun Mellisa merasa senang bahkan tersanjung akan kehadiran mereka.
Sementara oma opa putri kembar juga ikut menimbrung, memang untuk sementara mereka masih tinggal karena Mellisa juga yang meminta, bahkan tadi pagi mereka pamit, Mellisa belum mengizinkan.
Di tengah keasikan di ruang tamu, tiba-tiba ada tamu lagi yang datang.
Andika bersama sang istri memasuki kediaman Davin, mereka langsung masuk rumah karena melihat pintu terbuka.
Keduanya melihat ruang tamu yang ramai. Talita lebih terkejut melihat kakaknya yang tersenyum ceria bersama teman-temannya dan memakan camilan dengan enaknya.
'Katanya sedih, tidak mau makan,' batin Talita.
"Assalamu'alaikum," salam Andika bersama sang istri.
"Wa'alaikum salam," sahut semua orang.
Mellisa menyambut adik kesayangannya dengan hangat.
"Kamu dari mana?" tanya Mellisa.
Talita memaksakan senyum, entahlah dia merasa tidak nyaman berhadapan dengan sang kakak.
Yang dirindukan juga mendengar dan mendekat.
"Tante," panggil kedua putri kembar lalu memeluk tante mereka.
Semakin ramai saja suasana rumah Davin, hingga menjelang sore, semua tamu permisi untuk pulang.
"Berkabungnya jangan lama-lama ya. Semangat masa depan masih panjang," ucap Jeny menyemangati.
"Terimakasih ya, Jen. Terimakasih semuanya." Mellisa memeluk Jeny dan semua rekan perempuan termasuk Sonya.
"Kami semua pamit. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tersisa Andika dan Talita yang berniat menginap, tentu saja Davin sekeluarga sangat senang.
"Dek, bisakah tinggal di sini saja," pinta Mellisa menggenggam tangan sang adik.
Talita menatap mata sang kakak yang juga sedang menatapnya, ada ketulusan dan kehangatan di dalam sana.
'Ada apa denganku ini? Talita lihatlah kakakmu yang tulus menyayangimu, hentikan rasa iri dan cemburumu yang tidak jelas,' batin Talita.
Tiba-tiba mata Talita berkaca-kaca.
"Hey. Kenapa, dek?" tanya Mellisa.
Talita langsung memeluk kakaknya, Mellisa membalas pelukan itu dan mengusap punggung adiknya perlahan.
__ADS_1
"Aku menyayangimu, Kak."
"Iya Kakak juga menyayangimu, tinggallah di sini bagaimana?"
"Bunda." Panggil Davin menepuk pundak Mellisa.
Kakak beradik ini melepaskan pelukan. Davin menarik lengan Mellisa agak menjauh, dia harus mengatakan sesuatu.
Setelah selesai Davin dan Mellisa kembali menimbrung bersama yang lain.
Andika dan Talita pamitan pulang.
"Ma'af Kak Mellisa, sebenarnya aku sangat ingin tinggal bersamamu tapi kita sudah punya keluarga masing-masing, kita punya urusan masing-masing. Kita bisa saling berkunjung bukan?"
"Iya, Talita. Dika jaga baik-baik istrimu."
"Siap, Kakak ipar. Kami izin pulang."
"Hati-hati di jalan."
Rosy dan Jasmine menghampiri tante dan om mereka sebelum mereka meninggalkan rumah.
"Tante, Om. Kami menyayangi kalian, hati-hati di jalan."
"Iya, sayang. Kalian baik-baik ya. Jangan nakal sama calon adik kalian."
"Iya Tante, Om."
***
Sampai di kediaman Andika.
"Aku lihat dari tadi kamu senyum-senyum sendiri sayang," ucap Andika sambil membukakan pintu mobil.
"Aku hanya sangat senang, Mas." Talita turun dari mobil.
Keduanya melangkah bersama memasuki rumah.
"Sepertinya suamimu ini tidak pernah melihat yang sebahagia ini."
"Kamu selalu membuatku bahagia, Mas. Tapi kali ini aku benar-benar senang karena kak Mellisa."
Andika mengerutkan alisnya, dia tahu benar akhir-akhir ini istrinya sebal pada kakaknya.
"Aku dari kecil bersama kakakku tapi kenapa aku masih tidak melihat hatinya."
Andika mendengarkan curahan hati istrinya dengan seksama.
"Mas." Talita memeluk suaminya.
"Iya, sayang."
"Katakan sesuatu." Talita cemberut karena suaminya tidak berkomentar.
"Kamu adalah istri yang baik, adik yang baik, tante yang baik. Apa yang harus aku katakan lagi sayang? Kamu bukanlah orang jahat yang menyakiti siapapun, yang harus selalu kamu ingat, semua orang menyayangimu, terlebih aku. Aku sangat mencintaimu, Talita." Andika mendaratkan kecupan di kening istrinya.
Talita menatap suaminya dan tersenyum bahagia.
"Ternyata aku seberuntung ini."
__ADS_1
***