
Sepulang dari kediaman Davin, Talita memperhatikan ibu sering melamun bahkan saat ini ibu tengah melamun di belakang.
"Ibu," panggil Talita membuat ibu terkejut.
"Iya." Ibu menoleh.
"Sudah malam, ibu belum tidur?" tanya Talita memperhatikan raut wajah sang ibu yang muram.
"Apa menurutmu rumah tangga kakakmu baik-baik saja?" Ibu balik bertanya.
"Ibu jangan banyak berfikir, kak Mellisa dan kak Davin baik-baik saja kok," ucap Talita menjawab pertanyaan ibu dengan menenangkan, dia sendiri juga merasakan hal yang sama dengan ibunya.
"Kamu belum tidur? Ibu hamil jangan banyak bergadang."
"Aku akan tidur tapi ibu tidur juga ya."
"Iya, Nak."
Talita menggandeng ibunya ke kamar dan membantu ibu berbaring.
"Ibu selalu mendo'akan kebahagiaan kami, aku maupun kak Mellisa akan bahagia. Jadi ibu bersantai dan tenanglah, istirahat, jangan memikirkan yang tidak-tidak."
"Iya."
Talita meninggalkan ibunya di kamarnya, dia melangkah ke ruangan kerja suaminya.
"Mas," sapanya memasuki ruangan.
"Kamu belum tidur sayang," sahut Andika masih di depan laptopnya.
"Temani aku tidur," pinta Talita manja, dia memeluk lengan sang suami dan memejamkan mata.
Andika kasihan juga melihat sang istri, pekerjaannya masih banyak, dia harus kejar target karena kemarin-kemarin kondisinya yang tidak memungkinkan bekerja.
Kini Andika sudah membaik, sudah tidak mual lagi, usia kehamilan istrinya masuk trimester kedua, dia juga harus mempersiapkan segala sesuatunya termasuk biaya persalinan dan yang lainnya.
"Sayang."
"Hm."
Andika menggendong Talita ke kamar, dia membaringkan sang istri dan berbaring juga di sebelahnya.
"Istriku tidur ya, ini sudah malam."
"Temenin aku kan."
"Iya."
Talita tersenyum, Andika memeluk sang istri dan menemaninya sampai terlelap.
Setelah cukup lama, Andika pikir istrinya sudah tertidur, dia melepas pelukannya dan hendak memulai melanjutkan lembur kerjanya.
"Kamu mau kemana, Mas? Katanya mau nemenin aku," ucap Talita ngambek.
'Yah, kirain sudah tidur,' batin Andika.
"Mau ke kamar mandi sebentar ya." Akhirnya Andika mengurungkan niat lemburnya.
Setelah kembali ke tempat tidur, Andika memeluk istrinya lagi.
"Kenapa pura-pura tidur?" tanya Andika mencubit pipi Talita.
"Aku tidak bisa tidur, Mas," jawab Talita masih memejamkan mata.
"Terus kenapa matanya merem?"
"Biar bisa tidur?"
"Haish."
Menyebalkan juga istrinya ini, Andika memcoba bertanya kembali, apa yang membuatnya tidak bisa tidur?
Talita akhirnya mengatakannya, perasaan yang mengganjalnya, dia dan ibunya yang tengah memikirkan Mellisa, kejadian ketika Davin membentak Jasmine hingga seorang pak guru yang bernama Hilmi.
__ADS_1
"Bukankah itu urusan mereka, kenapa memikirkannya?" tanya Andika tidak habis pikir, bukankah semua rumah tangga pasti punya masalah.
"Karena Kak Mellisa kakakku, wajar jika kami memikirkannya," jawab Talita akhirnya membuka matanya.
"Kamu sedang hamil, pikirkan kesehatanmu juga." Andika mulai bosan.
"Iya." Talita menurut.
"Walaupun sudah di dekapan suamimu kamu belum juga bisa tidur, apa artinya hadirku bagimu?" tanya Andika tiba-tiba merasa tak nyaman.
Bukankah seorang istri akan senang jika ditemani sang suami, terlebih sang istri sedang hamil. Sepertinya Mellisa akan menjadi beban pikiran Talita ke depannya.
"Iya, ini aku tidur, Mas." Talita memejamkan matanya kembali dan berusaha tidur.
'Aku harus menegur Kak Davin dan istrinya,' batin Andika.
***
Keesokan harinya.
Andika terbangun dan mendapati istrinya masih tertidur pulas di sampingnya.
"Aku yakin kamu baru saja tidur," ucapnya lalu bangkit dari tempat tidur.
Andika bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.
Setelah selesai bersiap, dia ke dapur bermaksud untuk sarapan.
Tak ada apapun untuk dimakan, yah dia lupa istrinya belum bangun dari tidurnya tapi dimana ibu mertuanya, apakah belum juga bangun?
Andika penasaran dan mengecek kamar ibu, diketuknya pintu kamar ibu namun tak ada sahutan dari dalam kamar.
Karena khawatir, Andika mendobrak pinty kamar ibu, dilihatnya sang ibu mertua yang terbaring berselimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Andika mendekat dan memegang kening ibu, yah pagi ini, masih pagi tapi ibu demam, pantas saja belum ada sarapan.
"Ibu," panggil sang menantu.
"Dika," sahut ibu lirih.
"Ibu Demam, ayo kita periksa ke dokter," ajak Andika, mungkin hari ini dia akan bolos kerja mengurus mertuanya.
Ibu mengangguk.
"Aku akan bangunkan Talita dulu, Bu."
Ibu mengangguk lagi.
Andika melangkah meninggalkan ibu dan menuju kamarnya untuk membangunkan sang istri.
Betapa terkejutnya Andika melihat sang istri masih berbaring dan berselimut persis seperti ibu tadi.
"Sayang." Andika menghampiri istrinya dan memegang keningnya juga.
"Mas," panggil sang istri lirih.
"Iya, sayang."
"Badanku sakit semua ya."
"Selain itu juga panas, ada apa dengan kalian?"
"Kalian?"
Talita sempat bingung.
"Ibu juga sakit."
Talita menjadi panik, namun dia merasa lemas untuk bangun.
Andika merasa jengkel sendiri, dia menjadi teringat apa yang semalam istrinya katakan tentang Mellisa.
"Kamu bersiap, kita akan ke rumah sakit."
__ADS_1
"Iya, Mas."
Andika membantu istrinya bersiap, setelah selesai dia juga ke kamar ibu untuk membantu ibu bersiap juga.
***
Keluarga Davin sedang sarapan bersama, suasana pagi ini tidak seperti biasanya.
Rosy dan Jasmine memakan makanannya tanpa bicara, biasanya mereka akan banyak bicara sampai sang ayah terganggu.
"Sudah selesai, Bunda." Rosy dan Jasmine bangkit dari duduk mereka dan berlalu ke kamar mereka mengambil tas.
Davin mereka tidak dianggap oleh kedua anaknya.
"Apa mereka masih ngambek Bunda?" Davin menunduk lesu.
"Sebenarnya juga Bunda juga masih ngambek, tapi alangkah lucunya jika putri-putri kita ngambek, Bundanya masih saja ngambek, kan kasihan Ayahnya."
Davin tak ingin bertanya lagi, apalagi Mellisa menyangkutpautkan perasaannya, bukannya kasih solusi, pikir Davin.
Suasana menjadi canggung, tidak ada obrolan dari keduanya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Mellisa berdering, ada panggilan masuk dari Talita.
"Siapa, Bun?" tanya Davin penasaran sekaligus kesempatan juga untuk mengobrol dengan Mellisa.
"Talita, Yah," jawab Mellisa lalu menjawab telfon.
"Loudspeak, Bun. Itu ibu mungkin."
Mellisa mengangguk dan menuruti ucap sang suami barusan.
Davin maupun Mellisa tersentak mendengar suara di balik telfon.
"Kak Mellisa! Berhentilah menjadi beban pikiran ibu dan adikmu, kakak bisa bermanja dan berkeluh kesah pada suami kakak, bukan pada ibu maupun Talita."
Telfon tertutup.
Mellisa menjadi bingung sejenak, ada apa? Kenapa Andika marah-marah?
Sementara Davin tidak terima sang istri diomeli oleh adik iparnya.
"Telfon balik, akan aku beri pelajaran pada Andika." Davin hendak mengambil ponsel Mellisa, namun Mellisa tidak mengizinkannya.
"Kenapa, Bunda?"
"Ayah yang kenapa marah-marah seperti itu?"
Tanpa mereka sadari, mereka berdebat beberapa menit sampai akhirnya kedua putri kembar muncul melihat kedua orang tuanya entah bertengkar atau apa?
"Ayah, Bunda."
Yang dipanggil menoleh ke arah suara.
"Hey, sayang. Kalian sudah siap, ayo kita berangkat." Mellisa mencoba tersenyum.
"Ayah antar ya?" Davin menawarkan.
"Bunda saja yang mengantar. Ayo,Bun."
"Nanti Bunda yang menjemput kalian pulangnya, sekarang Ayah kalian yang akan mengantar." Mellisa mencoba mendamaikan, semoga sang ayah menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.
"Baik, Bunda."
Mereka berpamitan dan berangkat, kini tinggallah Mellisa seorang diri, dia melirik ponselnya dan meletakkannya kembali.
'Apa maksud Andika?'
'Beban?'
Mellisa kembali banyak berfikir.
***
__ADS_1