
Di malam hari.
Sebelum tidur, Davin dan Mellisa bercengkerama dan mengobrol.
"Besok ada rapat di sekolah anak-anak, Yah," ucap Mellisa memulai.
"Wah besok di kantor juga ada rapat."
"Di kantor Ayah selalu rapat bukan?"
"Iya, Bunda. Di sekolah rapat apa, Bun?"
"Di undangan tertulis pembahasan out bond, Yah."
"Oh. Bunda bisa Ayah minta sesuatu."
"Apa yang bisa Bunda bantu?"
"Pijitin."
Davin memohon dengan gayanya yang manja, Mellisa malah tersenyum geli.
"Iya. Sini Bunda pijitin."
"Nanti Ayah kasih lebih buat Bunda."
"Apa itu? Uang belanja? Atau perhiasan?"
"Bukan."
"Yah."
Mellisa pura-pura kecewa, sebenarnya bukan itu semua yang Mellisa inginkan.
Mellisa masih memijit tubuh sang suami sambil cemberut, Davin hanya melirik sang istri sambil tersenyum.
"Ayah barusan minum jamu."
"Tubuh Ayah terlalu lelah ya."
"Bukan, tapi karena malam ini Ayah terlalu bersemangat."
Mellisa bingung sejenak lalu mencerna kata-kata sang suami. Ah iya suaminya menggodanya.
"Apa sih, Yah." Dicubitnya pundak sang suami agak keras.
"Bunda terlalu bersemangat."
Mellisa memelototi suaminya namun setelah itu dia sendiri merasa malu.
Davin terkekeh, dia berbalik menatap sang istri yang wajahnya tengah memerah karena malu.
Davin mencium kening sang istri, Mellisa langsung memejamkan matanya. Nyaman, tenang dan hangat.
Tanpa persetujuan Mellisa, Davin merambat ke bawah meraih bibir sang istri dan **********.
Mellisa masih kaget dan berdiam tanpa membalas, meski ini sudah bertahun-tahun tetap saja dia masih merasa malu.
Tidak puas bermain bibir, tangan Davin menelusuri tubuh Mellisa.
"Ayah!" Mellisa kaget ketika daerah sensitifnya disentuh sang suami.
"Bunda selalu seperti ini."
Mellisa menunduk malu, namun Davin malah semakin bersemangat mencumbu sang istri.
"Do'a." Mellisa menahan gugup.
Davin mengangguk dan mereka berdo'a bersama untuk niat ibadah.
***
Malam berganti siang, semua orang memulai aktifitas mereka masing-masing.
Davin ke kantor dengan santai, wajahnya nampak sumringah dengan senyumannya yang merasa puas.
"Wah sepertinya Pak Davin sedang berbunga-bunga," ucap Jeny meledek.
"Sepertinya semalam terpuaskan," timpal Anton agak berani.
__ADS_1
Davin langsung memelototi keduanya, lalu tersenyum.
"Aku traktir kalian makan siang," ucap Davin berlalu menuju ruangan kerjanya.
Sepeninggal Davin, Anton dan Jeny tak henti-hentinya terkekeh.
"Pak Davin sedang puber kedua." Anton tertawa geli.
"Dia jauh lebih tampan," ucap Jeny tak sengaja.
Anton melirik sang istri penuh kesal. Jeny lalu menyadari dirinya salah.
"Pak Davin memang tampan kan tapi suami aku paling tampan dan selalu di hatiku," ucap Jeny gugup.
"Cium dulu," pinta Anton.
Tanpa berpikir Jeny langsung mencium pipi sang suami.
"Hay kalian, tidak sopan." Tentu saja, siapa lagi yang menegur selain orang di dekat mereka.
"Ma'af, istriku ini suka lupa dimana tempat," kekeh Anton.
"Ma'af."
Jeny kembali duduk di kursinya dengan kesal plus malu plus tidak karuan saja rasanya. Huh.
Beberapa jam kemudian, tepat jam 11.00 siang.
Rapat siap digelar, Heru sang bos besar memberikan sambutan terlebih dahulu dan selanjutnya acara inti mengenai hari jadi perusahaan, semua telah disepakati akan mengadakan party di hotel.
"Akhirnya ada party," sorak salah satu karyawan.
"Ye.... ," sorak karyawan yang lain.
Semua karyawan perusahaan nampak senang, namun tidak berpengaruh bagi Davin, Anton dan Jeny. Ketiganya memang sudah dalam suasana hati menyenangkan sebelum ke kantor.
Sementara di Sekolah.
Rapat sedang berlangsung, Mellisa duduk sambil bermain ponsel, jarak beberapa kursi Hilmi tengah memperhatikan Mellisa.
Ting. Ada pesan masuk.
Mellisa melihat nama kontak itu adalah Hilmi, dia melihat sekeliling dan mendapati Hilmi tengah tersenyum kepadanya lalu Hilmi melambaikan tangannya.
Tanpa ragu tentu saja Mellisa membalas senyum dan lambaian tangan Hilmi.
Setelah rapat selesai, Hilmi bergegas menghampiri Mellisa.
"Mell," panggil Hilmi mendekat.
"Iya, Hilmi," sahut Mellisa.
"Sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama," ajak Hilmi penuh harap.
Mellisa teringat masa kecilnya, sebenarnya dia sudah melupakannya, waktu itu hanya cinta monyet bahkan Hilmi pergi tak pernah kembali hingga pertemuannya kali ini, namun sepertinya kehadiran Hilmi membuat Mellisa penasaran.
"Baiklah." Mellisa akhirnya menerima tawaran Hilmi.
Mereka makan siang di sebuah restoran.
"Aku merindukanmu, Mell."
"Iya sebagai teman kita saling merindukan satu sama lain."
"Apakah dulu kamu menganggap kita adalah teman."
"Aku sudah menikah, Hilmi. Kamu sudah sangat tahu kehidupanku."
Mellisa sengaja bercerita tentang rumah tangganya yang harmonis dan penuh kebahagiaan, dia hanya ingin Hilmi mengerti.
"Cukup, Mell." Hilmi cukup panas mendengarnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak senang temanmu ini bahagia?"
"Aku selalu menunggumu selama ini, kamu bahkan tidak pernah membalas suratku."
Mellisa mengerutkan alisnya, surat?
"Aku pikir mungkin ibumu yang menerima surat itu dan membuangnya, tapi aku tidak menyangka, aku pulang untuk melamarmu tapi kamu baru saja menikah dengan Davin."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Aku masih menyukaimu tapi kamu mudah melupakanku begitu saja."
Mellisa kaget, apa yang barusan Hilmi katakan mungkin benar. Orang tua mereka tidak pernah mengizinkan mereka bersama.
'Ibu,' batin Mellisa.
"Hilmi, kita masih bisa berteman, lupakan masa lalu lagi pula waktu itu kita masih kecil."
"Aku tidak mau berteman denganmu, aku menginginkanmu."
"Ayolah jangan bercanda, kita harus kembali ke sekolah. Aku harus menjemput Rosy dan Jasmine."
Hilmi menarik paksa Mellisa ke dekapannya, Mellisa menolak sekuat tenaga namun Hilmi semakin erat memeluknya.
"Tolong Hilmi lepaskan aku, sakit," pinta Mellisa mengeluarkan air mata.
Hilmi langsung melepaskan Mellisa dan menyeka air matanya.
"Jangan menangis, Mell."
Mellisa bergegas pergi meninggalkan Hilmi.
***
"Bunda kenapa terlambat menjemput kami?" tanya Jasmine cemberut.
"Mungkin Bunda sibuk, kamu jangan seperti itu. Kita juga belum terlalu lama menunggu," ucap Rosy membela sang bunda
"Ayo pulang. Kita ke tempat om Andika ya," ajak Mellisa lalu menggandeng kedua putrinya naik taksi.
"Yeah! Aku ingin bertemu tante sama nenek."
"Aku juga lah."
Sepanjang perjalanan pulang, Mellisa hanya melamun melihat ke sisi jendela. Sementara Rosy dan Jasmine mengobrol tentang outbond mereka minggu depan.
"Jadi siapa yang akan mendampingi kami, Bunda?" tanya Rosy membuat sang bunda kaget.
"Apa?" Mellisa malah balik tanya dan bingung.
"Bunda melamun?"
"Iya ma'af. Kenapa sayang?"
"Siapa yang akan mendampingi kami di outbond nanti??"
"Oh. Tenang sayang, Ayah dan Bunda akan ikut." Mellisa lalu tersenyum melupakan yang lain.
Mellisa mengabari sang suami bahwa dirinya dan anak- anak pulang ke kediaman Andika dan minta dijemput juga sore harinya.
Ada rasa penasaran dan bimbang dalam diri Mellisa, bagaimana ini? Mellisa merasa semakin pusing memikirkannya.
Tiba-tiba Mellisa merasa dunianya berputar, dia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang dihadapannya, setelah itu dia entah bagaimana rasanya.
Mellisa jatuh pingsan di dalam taksi tepat ketika sampai di tempat tujuan.
"Bunda kalian pingsan, Nak," ucap sang sopir menoleh ke belakang karena tujuan mereka sudah sampai.
"Om bisa minta tolong bawa bunda ke dalam rumah, di sana ada nenek," pinta Rosy sambil memegang tangan bunda yang lemas.
"Aku akan masuk dulu meminta bantuan." Jasmine turun dari taksi dan menghampiri rumah Omnya.
"Assalamu'alaikum," salam Jasmine.
Segera pintu terbuka, Talita menjawab salam keponakannya itu.
"Wa'alaikum salam, Jasmine kamu-."
"Tolong Bunda, Bunda pingsan tante."
Yang di dalam rumah juga ikut keluar, Inayah serta Andika yang memang ada di rumah libur tidak bekerja karena mualnya.
"Bawa saja ke rumah sakit, bukankah kamu juga akan pergi periksa kandungan, Ta."
Iya, semua pergi ke rumah sakit. Tak lupa Andika mengabari Davin karena Mellisa telah pingsan.
***
__ADS_1