Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 67 Ada Apa dengan Ayah?


__ADS_3

Davin memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa, dia masuk saja tanpa salam.


Mellisa yang sedang berjalan tertabrak oleh sang suami.


"Auw," rintih Mellisa karena terjatuh.


Ada apa dengan Davin, Mellisa memandang suaminya penuh tanya.


"Bunda, ma'af." Davin membantu istrinya bangun.


"Ayah," panggil Mellisa.


"Iya, Bunda," sahut Davin.


Mellisa menatap suaminya dan mendekap, ada aroma lain di tubuh Davin, ini bukan aroma parfum yang biasanya dari suaminya,haruskah dia bertanya?


"Sepertinya Ayah bersenang-senang sampai lupa sama istri sendiri," ucap Mellisa agak menjauh.


"Ma'af, Bunda. Ayah tidur dari sore, mungkin karena Ayah terlalu lelah." Davin menelan ludah.


"Karena seharian berpesta, bukannya pulang malah tidur di sana." Mellisa cemberut.


"Iya, Bunda. Ayah benar-benar minta ma'af, Ayah akan mandi terlebih dahulu." Davin berlalu.


Mellisa menatap langkah suaminya hingga tak terlihat, bukankah seharusnya dia senang suaminya sudah pulang? Entahlah, mencium aroma lain yang barusan dari tubuh sang suami membuatnya banyak berfikir.


Setelah selesai mandi, Davin menghampiri istrinya yang tengah memasak di dapur.


"Bunda masak apa?" tanya Davin mendekat.


Mellisa tak menjawab, dia masih fokus memasak, bukannya tak mendengar namun lebih ke perasaan kesal.


"Bunda masih marah?" tanya Davin lagi.


"Menurut Ayah?"


Malah sekarang Davin yang tak menjawab.


Tak ada obrolan sampai Mellisa selesai memasak, sudah saatnya menjemput Rosy dan Jasmine, Mellisa bersiap-siap, sementara Davin membuntuti langkah Mellisa.


"Ayah tidak ada kerjaan," kesal Mellisa.


"Bunda, sudahlah cemberutnya. Ayah merindukan Bunda." Davin mencoba merayu.


Mellisa mengabaikan sang suami, dia telah siap untuk menjemput kedua putrinya.


"Bunda mau kemana?" tanya Davin sepertinya telah lupa.


"Ayah bertanya?"


"Iya, Bunda mau kemana?"


"Menjemput putri-putri kita." Mellisa melangkahkan kakinya sambil menghentakkannya cukup keras.


Davin merasakan kekesalan sang istri, ini memang salahnya, dia harus membuat Mellisa mema'afkannya.


"Bunda," panggil Davin menyusul, diraihnya tangan Mellisa.


"Kita jemput mereka bersama," ucap Davin tersenyum.


"Ayah pasti lelah, istirahat saja, lagipula taksi sudah siap di depan." Mellisa hendak mencium punggung tangan sang suami.


"Batalkan saja taksinya, Ayah akan menemani Bunda menjemput putri-putri kita." Davin memaniskan senyumannya.


Mellisa tetap acuh, tidak semudah itu membuatnya tersenyum, apalagi Davin baru saja bersenang-senang tanpa kabar, pikir Mellisa.


"Silahkan, Bunda." Davin membukakan pintu mobil untuk sang istri.

__ADS_1


Mellisa memasuki mobil tanpa mengucapkan terimakasih, masih juga dengan raut wajah masamnya.


Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan pada awalnya, sampai akhirnya ada pesan masuk di ponsel Mellisa.


Membuka membuka ponselnya dan membuka chat yang ternyata dari Talita.


"Kak Mellisa, aku dan ibu ada di sekolahnya si kembar, kata ibu merindukan mereka."


Mellisa tersenyum menatap ponselnya lalu membalas.


"Kakak sebentar lagi sampai."


Mellisa menutup kembali ponselnya, dia melirik suaminya sebentar.


"Siapa, Bunda?" tanya Davin.


"Talita."


"Oh."


***


"Akhirnya pulang juga," senang Jasmine.


"Ayo kita keluar," ajak Rosy.


"Boleh Bapak bicara dengan kalian sebentar." Hilmi duduk mendekati bangku mereka.


"Ada apa, Pak Hilmi?"


Hilmi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar pada mereka.


"Apa dia cantik?" tanya Hilmi.


"Apakah dia pacar Pak Hilmi?"


Baik Rosy maupun Jasmine saling pandang lalu tersenyum.


"Dia sangat cantik, apakah dia yang menemani Pak Hilmi ketika outbond kemarin?"


"Iya, namanya Sonya."


Rosy dan Jasmine kembali saling pandang, 'Sonya', bukankah itu nama bosnya ayah? bukankah dia orang yang menyebalkan menurut bunda mereka?


"Kami harus pulang, Pak Hilmi. Mungkin bunda sudah menunggu kami di depan."


"Bapak akan mengantar kalian ke depan."


"Baiklah. Terimakasih, Pak Hilmi."


"Sama-sama. Ayo."


"Iya."


Rosy dan Jasmine berjalan diiringi pak guru kesayangan mereka, yah kesayangan, mereka tidak mengetahui maksud guru mereka mendekati mereka untuk apa.


Sesampainya di depan gerbang sekolahan.


Rupanya semua telah siap menunggu kedua putri kembar.


"Ramai sekali yang menjemput kami," ucap Rosy sangat senang.


"Ayah, Bunda, Nenek dan Tante. Apakah kalian tidak sibuk?" tanya Jasmine.


"Kenapa bertanya seperti itu, Nenek merindukan kalian," ucap Inayah, sang nenek.


"Kami juga merindukan Nenek," sahut Rosy menghampiri sang nenek dan memeluknya.

__ADS_1


"Kamu selalu seperti itu," kesal Jasmine.


Rosy menjulurkan lidahnya mengejek sang adik.


"Hush jangan seperti itu, Rosy. Sini Jasmine, Nenek juga ingin memelukmu." Sang nenek memanggil cucu yang satunya.


"Iya, Nek." Jasmine begitu girang dan mendekat sang nenek.


"Ciye, ingin dipeluk juga sama nenek," ejek Rosy senang.


"Apa sih!" kesal Jasmine namun senang juga dalam pelukan sang nenek.


"Ayo semua, masuk ke mobil kita pulang." Davin mempersilahkan semua anggota keluarga kecilnya.


Satu persatu mereka memasuki mobil dan Davin telah siap menyetir.


Mobil siap meluncur, semua yang di dalam mobil mengobrol bercanda ria sepanjang perjalanan.


Sesampainya di kediaman Davin.


"Tadi aku sudah memasak, ayo kita makan siang dulu, kalian pasti sudah lapar kan?" Mellisa menawarkan.


"Sangat lapar, Bun," sahut Jasmine.


"Ih dasar kamu tuh perut sudah gendut tadi bukannya sudah ditraktir sama Pak Hilmi," ucap Rosy mengejek lagi.


"Kalian ditraktir?" tanya Davin penasaran.


Davin sudah mendengarnya sebelum ini bahwa Hilmi membedakan perlakuannya terhadap Rosy dan Jasmine di sekolah.


"Iya, Ayah." Keduanya menjawab kompak.


Davin semakin tidak senang mendengarnya, kenapa Hilmi menspesialkan kedua putrinya, apakah karena Mellisa, tiba-tiba Davin menjadi banyak berfikir.


"Setiap hari?" tanya Davin lagi.


"Kadang-kadang sih, Yah." Nampak keraguan dalam jawaban mereka.


"Besok tidak boleh lagi, tolak saja tawaran pak guru kalian," ucap sang ayah memperingatkan.


"Tapi kenapa, Ayah? pak Hilmi baik pada kami," protes Rosy.


"Kalian harus mendengarkan Ayah, besok-besok jangan mau ditraktir pak guru kalian lagi." Davin terbawa emosi.


"Apakah Ayah punya masalah dengan pak Hilmi? Itu urusan kalian orang dewasa, bukan urusan kami," ucap Jasmine membela dirinya dan sang kakak.


"Jasmine!" Davin agak membentak.


Jasmine dan Rosy reflek saling memeluk, ada rasa takut di dalam diri mereka.


"Bunda," panggil keduanya menghampiri sang bunda.


Ibu dan Talita hanya memandang saja, kenapa situasinya seperti ini, ibu memegang dadanya.


"Hey, ayo kita makan, dede kecil sudah sangat lapar." Mellisa mengalihkan pembicaraan, dia mendorong semua orang ke ruang makan.


Tinggal Davin dan Mellisa yang tersisa.


"Ada apa dengan Ayah? Ayah harus lebih mengendalikan diri, setahu Bunda, Ayah adalah orang yang sangat lembut." Mellisa berjalan menuju ruang makan menyusul yang lain.


Davin berjalan dengan langkah lelah, entah hatinya, entah raganya, dia merasa memang dirinya agak lain.


Perasaan itu semakin terasa menggelisahkan, mengkhawatirkan, kenapa ada banyak orang yang ingin mengusik rumah tangganya.


Bertahun-tahun Davin membangun semua kebahagiaan ini dengan keluarga kecilnya.


"Ya Allah, semoga kami mampu menjalani semua ini, beri kami kekuatan, beri kami iman yang kuat untuk tetap melangkah di jalan-Mu."

__ADS_1


***


__ADS_2