
Pagi hari.
Talita keluar dari kamarnya dan bergegas ke dapur, biasanya ibu sudah ada di sana.
Talita melihat sekeliling dapur, dia tidak mendapati ada ibu di sana, apakah mungkin ibu masih tidur? Bagaimana mungkin? Sejak kapan ibu bermalas-malasan, setiap hari ibu adalah yang bangun paling pagi.
Karena penasaran, Talita menuju kamar ibunya.
Cekrek.
Talita membuka kamar ibunya yang tidak dikunci.
"Ibu," panggil Talita mendekat.
Ibu yang tadinya masih terpejam langsung membuka matanya.
"Talita." Ibu memanggilnya samar-samar, sepertinya ibu lemah.
Ada yang tidak beres, Talita menjadi panik, diusapnya kening sang ibu, iya itu panas.
"Ibu sakit, ayo kita ke dokter," ajak Talita.
"Tak perlu, Ta. Ibu hanya demam biasa," tolak ibu.
"Ibu."
Ibu mengangguk.
"Ya sudah, aku buat sarapan dulu, nanti ibu makan dan minum obat."
Ibu mengangguk lagi.
Talita keluar lagi menuju dapur.
Sebelum Talita mulai memasak, dia mengirimi pesan WA pada kakaknya.
"Ibu sedang sakit, Kak Mellisa datanglah."
Talita menaruh ponselnya dan mulai memasak bubur.
"Sayang." Suara Andika mengejutkannya.
"Ibu demam, Mas."
"Oh ya! Ayo kita bawa ibu ke rumah sakit."
"Ibu tidak mau, aku sedang membuatkan bubur untuk ibu dan aku juga sudah mengabari kak Mellisa."
"Kamu memang anak yang berbakti, tidak salah aku memilihmu jika kita punya anak nanti, dia akan sepertimu."
Anak. Talita tersentak, dia menjadi tak nyaman, itulah yang dipikirkannya setiap saat. Kenapa sampai saat ini Allah belum juga memberinya titipan itu.
Terlepas dari apa yang Talita pikirkan, dia selalu berusaha menyembunyikannya di depan suaminya.
"Mas mau sarapan apa? Bubur juga."
"Boleh, apapun asal kamu yang menyiapkan, aku pasti akan memakannya."
Mellisa tersenyum.
Setelah selesai, Talita menyiapkan dua porsi, untuk suaminya satu dan yang satu untuk ibunya.
Talita menaruh satu mangkok bubur di meja makan.
"Silahkan, Mas."
Talita duduk di sebelah sang suami.
__ADS_1
"Kenapa duduk di sini? Bukannya mau mengantarkan bubur untuk ibu?"
"Tak apa-apa, Mas. Aku mau menemanimu dulu."
"Sayang, ibu harus sarapan. Aku bisa sarapan sendiri tak perlu kamu temani, lagipula aku harus segera berangkat kerja. Jagain ibu dengan baik."
"Makasih ya, Mas."
Talita bergegas ke kamar ibunya, rupanya ibu sudah siap menunggunya.
"Terimakasih, Ta," ucap ibu tersenyum setelah memakan beberapa suap dari Talita.
Setelah selesai menyuapi sang ibu, Talita memberikan obat turun panas untuk diminum oleh ibu.
"Ibu, istirahatlah."
Ibu menurut, dia menatap putri bungsunya sampai berkaca-kaca.
"Kenapa, Bu?"
"Kalian memang putri-putri Ibu yang baik, Ibu tidak menyangka kalian benar-benar merawat Ibu."
"Tentu saja, kami sangat menyayangi Ibu."
Ibu dan Talita saling berpelukan sebelum akhirnya Ibu tertidur karena efek obat.
***
"Davin, untukmu," ucap Sonya sambil menaruh kopi di atas meja kerja Davin.
Sepagi ini Sonya sudah mulai mengganggu, bagi Davin ini sangat tidak nyaman.
"Terimakasih, Nona. Tak perlu repot-repot."
"Tidak repot kok, aku malah senang bisa mengantarkan kopi ini untuk kamu." Sonya tersenyum genit.
Davin tak menoleh bosnya sedikitpun namun dia tetap menyeruput kopi yang dibawakan Sonya.
Beberapa saat kemudian, Davin merasakan hawa panas merasuk ke tubuhnya. Dia melirik Sonya yang masih stay di ruangannya.
Tiba-tiba Sonya mengerdipkan matanya, dia mendekati Davin dan perlahan memegangi dada Davin.
Entah kenapa Davin tak menolak, dia memejamkan mata dan merasakan kenyamanan sentuhan Sonya.
'Berhasil,' batin Sonya.
Sonya tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dia meraih bibir Davin dan hendak menciumnya.
Davin membuka matanya perlahan dan betapa kagetnya dirinya melihat wajah Sonya tepat di depan wajahnya. Didorongnya Sonya sekuat tenaga.
"Auw," rintih Sonya kesakitan, ada memar di lututnya tapi Davin tak akan peduli.
Ponsel Davin berdering, istrinya yang menelfon, Davin segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Ayah," salam Mellisa dibalik telfon.
Davin berat menjawabnya, rasanya semakin panas saja hawa di tubuhnya.
"Ayah," panggil Mellisa.
"Iya." Davin berusaha menyahut.
"Ayah kenapa?" tanya Mellisa merasa aneh.
"Tidak apa-apa. Ada apa Bunda?" Davin hampir tidak bisa menahan.
"Hari ini, Bunda dan kedua putri kita akan mengunjungi ibu, ibu sedang sakit, kemungkinan kami akan menginap, Ayah bisa menyusul."
__ADS_1
"Iya."
Davin segera menutup tanpa salam, dia sudah tidak bisa menahan hawa panas di sekujur tubuhnya.
Davin menoleh Sonya yang terjatuh karena telah dia dorong, Sonya belum bangun dan masih duduk di lantai.
"Keluar!" usir Davin.
"Tenanglah, aku akan menolongmu," ucap Sonya berusaha bangun.
"Aku tidak sudi, keluar!" usir Davin dengan suara agak tinggi.
"Tidak bisakah, sekali ini saja." Sonya meraih tubuh Davin.
"Aku bilang keluar!" Davin semakin tak tahan.
Semakin lama Davin semakin kehilangan kesabaran, dia menyeret Sonya dengan paksa hingga keluar pintu.
"Dasar perempuan tidak tahu malu", umpatnya.
Davin menutup pintu dan menguncinya. Dia segera membuka ponsel dan mencari foto Mellisa di galeri, dilihatnya foto sang istri yang sedang tersenyum.
"Sayang," rintihnya menahan sakit.
Davin menjatuhkan ponsel dan bergegas ke kamar mandi di dalam ruangan kerjanya.
Segera Davin menyiram dirinya dengan air, setelah beberapa saat dia mulai menyadari bahwa Sonya telah membubuhi sesuatu di kopi tadi.
"Kurang ajar." Davin mengumpat Sonya lagi.
***
"Ayah kenapa sih? Telfonnya langsung ditutup, tanpa salam lagi, apakah begitu sibuknya," gumam Mellisa sambil bersiap akan menjemput kedua putrinya.
Sesampainya di sekolah.
Mellisa stay di depan pintu gerbang sekolahan, dia melihat kedua putrinya keluar bersama gurunya.
"Bunda," panggil keduanya mendekat, mereka langsung memeluk sang Bunda.
"Nenek kalian sakit, kita pulangnya ke rumah om Andika ya." Mellisa meraih keduanya.
"Nenek sakit? Ayo Bunda, kita segera pulang kesana. Aku ingin memijitnya." Jasmine tak sabar ingin melihat sang nenek.
"Aku juga." Rosy menimpali.
"Pak Hilmi, kami pamit pulang ya?" Rosy dan Jasmine berpamitan pada gurunya.
"Iya Rosy, Jasmine dan juga Ibu Mellisa, kalian hati-hati di jalan." Hilmi tersenyum, dia sengaja menyebut nama Mellisa agar Mellisa mengenalinya.
"Iya Pak guru," sahut Rosy dan Jasmine bersamaan.
Mellisa tak menyahut rupanya, dia pun tidak memperhatikan Hilmi.
Mellisa dan kedua putri kembarnya bergegas pulang ke kediaman Andika.
Sementara Hilmi yang masih di depan sekolah sepeninggal mereka.
'Mellisa bahkan tidak mengenaliku, dia pasti sudah melupakan masa kecilnya bersamaku. Bodohnya aku berharap padanya.'
'Seharusnya kamu sadar, Hilmi. Mellisa sudah berkeluarga bahkan kamu melihat sendiri, mereka bahagia.'
Hilmi pulang meninggalkan sekolahan, dia mengendarai sepeda motor.
Sepanjang perjalanan pulang, Hilmi masih saja tidak rela untuk melepaskan Mellisa, dia selalu terbayang kebersamaannya bersama Mellisa semasa kecil.
"Sial. Sungguh bodoh." Hilmi mengumpat diri sendiri.
__ADS_1
***