
"Masih terlalu pagi, Ayah sudah rapi saja." Mellisa baru keluar dari kamar mandi.
"Dari kemarin kan Ayah selalu pulang awal, hari ini Ayah ingin menebusnya," ucap Davin merapihkan dasinya di depan cermin.
Mellisa menghampiri suaminya dan membantunya merapihkan penampilannya.
"Ayah tampan sekali," puji Mellisa menatapnya dengan tersenyum.
Davin membalas senyuman sang istri.
"Tampan seperti ini juga dulu Bunda sempat menolak," ucap Davin datar.
"Kenapa diungkit sih, Yah," ucap Mellisa cemberut.
"Ayo temani Ayah sarapan," ajak Davin merangkul istrinya keluar kamar.
"Sudah cemberutnya, nanti putri-putri kita melihatmu apa tidak malu." Davin mencubit hidung sang istri.
Keduanya berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada Inayah, ibu Mellisa serta kedua cucunya.
"Selamat pagi, Ayah, Bunda," salam Rosy dan Jasmine bersamaan.
"Selamat pagi, sayang," sahut sang ayah, sementara bunda mereka hanya tersenyum.
"Ibu sangat senang kalian begitu bersemangat oh iya bagaimana Mell apa kita jadi mengunjungi adikmu?" tanya ibu pada Mellisa.
"Apa? Kok main ke rumah tante tidak mengajakku," ucap Jasmine cemberut.
"Kalian kan sekolah," sahut Mellisa.
"Besok kan hari minggu, Bun. Kenapa tidak besok saja mainnya."
Davin segera menyelesaikan makannya.
"Ayah berangkat lebih dulu ya, kalian berangkat sama Bunda kalian seperti biasa," pamit Davin pada kedua putrinya serta tak lupa menyalami ibu mertua dan istri tercintanya.
"Ayah besok ke tempat tante Talita ya," pinta Jasmine membujuk.
"Ya." Davin segera bergegas meninggalkan rumah.
"Kalian selesaikan sarapan kalian dulu," suruh bunda mereka.
Setelah semua selesai sarapan, Mellisa mengantar kedua putrinya berangkat ke sekolah.
Sementara ibu hanya di rumah karena Davin mengatakan iya ketika Jasmine meminta main ke tempat tantenya hari esok, sekalian besok saja bertemu dengan Talitanya.
Sampai di sekolah.
"Kalian jangan nakal ya, patuh sama buguru."
"Siap, Bunda."
***
Anton bergegas ke ruangan Davin ketika memarkir mobil dan melihat mobil bosnya sudah terparkir di sana.
"Ma'af, Pak," ucap Anton.
"Kenapa minta ma'af, kamu tidak terlambat, aku hanya ingin menebus yang kemarin-kemarin, makanya aku datang paling pagi," terang Davin tengah sibuk di depan laptopnya.
"Hari ini Jeny tidak berangkat, Pak. Saya harap tidak ada kerja lembur untuk saya hari ini karena tidak ada yang membantu."
"Kamu tenang saja. Aku akan lembur bahkan menyelesaikan tugasku sendiri dan membantumu. Kenapa dengan Jeny? Apa dia sakit?"
"Iya, Pak. Kemarin malam dia pingsan sebelum pulang dari kantor."
Davin terkejut, dia sudah bisa menebak bahwa mungkin Jeny kelelahan.
"Kalau begitu kamu bisa pulang lebih awal, kamu tengok Jeny, berikan salamku untuknya. Masalah pekerjaan, aku sangat bersemangat hari ini, aku akan lembur menggantikan kalian."
"Apa boleh, Pak?"
"Tentu saja, bahkan jika sekarang kamu ingin menengok Jeny, aku mengizinkannya dan tak perlu kembali lagi ke kantor. Aku siap menyelesaikan semua pekerjaan di kantor."
"Benarkah, anda sangat baik hari ini."
"Bukankah setiap hari aku selalu baik."
__ADS_1
Anton tersenyum senang, baik apanya, setiap hari banyak lemburan, pikirnya.
Anton segera berkemas dan berlalu.
Di rumah Jeny.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamu'alaikum," salam Anton.
"Wa'alaikum salam," sahut Jeny, dia membukakan pintu.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" tanya Anton sambil memberikan beberapa buah.
"Aku sudah baikan, ayo masuk. Terimakasih buahnya, jadi merepotkan."
"Sama-sama, tidak repot sama sekali."
Jeny mempersilahkan Anton duduk di sofa ruang tamu lalu dia ke dapur mengambilkan minuman.
"Ini masih jam kerja, apa kamu tidak berangkat?" tanya Jeny menaruh minuman di meja.
"Pak Davin mengizinkanku menjengukmu bahkan dia membolehkan aku tidak kembali ke kantor untuk menemanimu," jawab Anton.
Jeny nampak senang, menemaninya, apakah Anton berencara menemaninya sepanjang hari.
Beberapa jam kemudian, Anton masih di rumah Jeny, entah kapan dia akan berencana untuk pulang. Bahkan keduanya semakin akrab mengobrol ini dan itu.
Tiba-tiba Atikah datang menegur.
"Apa kamu akan pulang nanti malam?" tanya Atikah dengan dingin.
"Ma'af, Tante. Sebentar lagi juga akan pulang," jawab Anton canggung.
"Ibu... ?" Jeny ingin protes.
"Jen, Tante. Saya pamit ya. Assalamu'alaikum."
Anton segera bangun dari duduknya dan pulang meninggalkan rumah Jeny.
Sepeninggal Anton, Jeny memasuki kamarnya dengan cemberut.
"Hey, ada Ibumu di sini, ditinggal pergi saja," ucap Atikah kesal.
Jeny tak menyahut. Biarkan sajalah, ibunya hanya merusak momen saja, sudah lama semenjak hatinya kosong, kini dia merasa Anton mulai memasuki ruang hatinya.
Jeny tersenyum setelah membayangkan kembali kebersamaannya tadi dengan Anton.
"Anton, kamu terlalu datar, kamu menemaniku cukup lama tapi kamu tidak merayuku sama sekali, sebenarnya kamu menyukaiku atau tidak?"
Sementara Anton yang masih menyetir menuju rumahnya.
'Jeny,' panggilnya dalam hati.
'Bagaimana jika aku menyukaimu? Apa kamu juga merasakan hal yang sama?'
Anton menjadi senyum-senyum sendiri sambil membayangkan sang pujaan hati.
***
"Mas," panggil Talita manja, dia mendekatkan diri ke suaminya.
"Ya, sayang," sahut Andika masih melihat ponselnya.
"Besok ke rumah Kak Davin ya? Aku rindu ibu," pinta Talita sambil mengambil ponsel suaminya.
Andika mengambil kembali ponselnya kembali yang diambil oleh istrinya.
"Iya," sahutnya.
Talita menjadi cemberut dan menjauh dari sang suami. Dia menuju tempat tidur dan berbaring.
Andika yang menyadari bahwa istrinya itu sedang mengambek segera menghampiri.
__ADS_1
"Sayang," panggil Andika lalu meletakkan ponselnya di meja dekat tempat tidur. Dia lalu memeluk sang istri.
"Sudah selesai?" tanya Talita menatap suaminya.
"Apanya?" Andika malah tanya balik.
"Bermain sama benda itu," ucap Talita menunjuk ponsel di atas meja.
"Kamu kenapa sih? Masa iya cemburu sama ponselku?"
Andika mencubit hidung sang istri.
Talita yang merasa belum siap langsung membalikkan tubuhnya.
Andika terkekeh melihat tingkah sang istri yang dengan mudahnya mengambek. Dia hendak melepaskan pelukannya, namun tangannya ditarik kembali oleh Talita.
"Bolehkah aku-"
"Tidak boleh, teruslah memelukku atau aku akan marah."
"kamar kecil, aku mau pipis."
Talita melepaskan pelukan sang suami dengan jengkel.
"Jangan lama-lama," ucapnya masih cemberut.
"Selama apa sih orang buang hajat?"
Talita tak menyahut.
Andika ke kamar kecil karena dia sudah sedari tadi tak tahan ingin kencing, hanya saja situasinya yang tidak pas.
Beberapa saat kemudian.
Kedua pasangan ini berbaring di tempat tidur dengan saling memeluk.
"Besok jadi kan mengunjungi ibu?" tanya Talita sekali lagi ingin memastikan.
"Iya, kan ku dah bilang iya."
Talita merasa lega, dia hendak memejamkan mata tiba-tiba suaminya menciumnya dengan lembut.
Talita yang belum siap langsung menghindar.
"Bisakah kita libur malam ini?" pinta Talita memohon.
Andika terkekeh melihat ekspresi wajah sang istri yang penuh kekhawatiran.
"Besok ajak ibu dan keponakanmu jalan-jalan."
"Benarkah itu Mas?" Talita nampak sumringah.
Andika mengangguk.
'Hah dasar, semua ini karena kak Davin yang manfaatin aku, harusnya kan aku jalan berdua saja sama Talita.'
"Tidurlah," suruh Andika lalu memejamkan matanya lebih dulu.
Talita mencium bibir suaminya dengan cepat lalu segera memejamkan mata.
Andika membuka matanya sebentar dan tersenyum.
"Nakal."
Talita tak menyahut malah membuat suaminya ingin jahil.
"Aku akan menerkammu."
"Tidak."
Talita membuka matanya.
"Jangan, Mas. Ayo kita tidur," pinta Talita memelas.
"Makanya jangan menggodaku."
"Iya, ma'af."
__ADS_1
Setelah beberapa saat mereka akhirnya tertidur.
***