Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 53 Ke Kampung


__ADS_3

"Kemari kalian semua," suruh Davin pada istri dan kedua putrinya yang tengah bermain.


"Karena Ayah dapat bonus cuti panjang, bagaimana kalau kita berkunjung ke kampung oma opa?" lanjut Davin lagi bertanya.


"Kalian izin sama pak guru dulu, kita akan ke kampung."


Rosy mengambil bukunya yang tertulis nomor telfon wali kelasnya.


"Bunda, ini nomornya pak Hilmi." Rosy menyerahkannya pada sang bunda.


"Iya sebentar ya, bunda simpan dulu, namanya pak Hilmi ya?" Mellisa mulai mengetik nomor dan nama untuk disimpan di kontak ponsel.


"Iya, Bunda."


Mellisa menelfon nomor itu, seseorang di sebrang telfon menjawabnya.


"Halo. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, Pak Hilmi. Ini saya, Mellisa, bundanya Rosy dan Jasmine. Saya mau minta izin tidak berangkat sekolah untuk mereka, mereka akan berkunjung ke kampung ke tempat oma dan opa mereka."


Hilmi belum menjawab, dia masih memegang telfon namun masih terkejut, Mellisa menelfonnya, dia tidak bermimpi kan?


"Pak, Pak Hilmi." Mellisa memanggil karena Hilmi tak menyahut.


"Iya, Bu Mellisa, tidak apa-apa terimakasih sudah meminta izin terlebih dahulu. Hati-hati di perjalanan ya, Bu."


"Baik, terimakasih sebelumnya, selamat malam Pak Hilmi. Wassalamu'alaikum"


"Selamat malam, Mell. Wa'alaikum salam."


Panggilan berakhir.


Mellisa menyuruh kedua putrinya untuk bersiap-siap menyiapkan barang yang harus dibawa besok.


Setelah selesai, Davin dan keluarga kecilnya beristirahat.


Sementara Hilmi masih memegang ponselnya, seperti baru saja mendapat kejutan, dirinya tersenyum tiada henti.


Nomor yang baru saja menelfonnya adalah Mellisa, dia menyimpannya di kontak ponsel.


"Masa kecilku".


Hilmi tersenyum kembali setelah menyimpannya, dia terus menatap foto profil yang baru saja dia simpan.


Lalu membandingkan dalam khayalan wajah Mellisa waktu mereka tumbuh bersama di masa kecil.


"Masih cantik hingga dewasa."


Setelah puas memandang foto profil Mellisa, dia memindahkannya ke wallpaper.


Hilmi berbaring sambil terus memandang wallpaper ponselnya hingga tertidur.


***


Pagi hari.


"Ayo kita berangkat," ajak Davin siap menyetir.


"Siap, Ayah."


Mellisa dan kedua putrinya masuk ke dalam mobil.


Setelah semua siap, Davin mulai menyetir menuju kampung halamannya.


Sementara di perusahaan tempat Davin bekerja, Anton dan Jeny mulai masuk kerja setelah ambil cuti menikah.


"Pak Davin tidak ada di ruangannya," ucap Anton menghampiri Jeny.


"Belum berangkat mungkin," sahut Jeny. Dia pikir mungkin Davin kadang agak siangan karena mengantar kedua putri kembarnya sekolah.


"Dia tidak berangkat," ucap Sonya tiba-tiba datang kemudian berlalu.


"Jangan-jangan nona Sonya berulah lagi," tebak Jeny.


"Mungkin," sahut Anton.


"Ya sudah nanti kita tanya pak Davin langsung kalau dia sudah berangkat."


"Iya."


Anton dan Jeny mulai bekerja, walaupun sesekali mereka saling melirik.

__ADS_1


"Ih!" gemas Anton lama-lama melirik sang istri, dicubitnya pipi Jeny hingga membekas.


"Apa sih? Sakit tahu." Jeny cemberut.


"Harusnya kita cuti lebih lama lagi."


"Mau dipotong gajinya atau diPHK?"


Anton jadi ikut cemberut, dia hanya bermaksud bercanda, namun Jeny menanggapinya serius.


"Tidak mau dipotong gaji ataupun PHK. Aku maunya kamu," ucap Anton menggoda, membuat Jeny tersenyum.


Akhirnya sembuh juga cemberutnya.


"Jangan bicara terus, nanti jika pak Heru lihat, malah lembur di hari minggu nanti," kekeh Jeny.


"Iya, kasihan kamu, sudah lelah lembur di rumah, lembur juga di sini." Anton melanjutnya kerjanya.


Jeny memelototi sang suaminya, apa maksudnya?


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Tidak."


"Sabar, kita akan melakukannya di rumah nanti."


Jeny akhirnya mencubit perut suaminya, lama-lama bikin kesel juga sang suami.


"Auw sakit," rintih Anton manja.


"Masa?" Jeny melengos.


"Hey." Anton mencolek dagu sang istri.


"Hey! Kalian," panggil karyawan lain yang lama-lama terusik juga oleh obrolan pengantin baru ini.


"Iya, ma'af." Jeny menjadi tak enak hati.


Jeny dan Anton kembali bekerja dengan fokus, keduanya saling melirik dan melempar senyum. Hah, tak bosan-bosan.


***


"Oma, Opa." Rosy dan Jasmine langsung turun dari mobil ketika mobil baru saja parkir di depan rumah.


Dion dan Tiara terkejut, putra dan menantunya serta cucu mereka berkunjung juga.


"Cucu Oma." Tiara menyambut keduanya dengan memeluk mereka.


"Mama apa kabar?" tanya Mellisa mendekat.


"Baik, Mell. Menantu Mama semakin lama semakin cantik saja," puji Tiara lalu memeluknya.


Mellisa membalas pelukan sang mertua, masih nyaman dan hangat seperti sebelumnya.


"Cucu Opa, sini. Opa juga ingin memeluk kalian." Dion menghampiri kedua cucunya dan memeluk dengan gemas.


Semuanya masuk ke dalam rumah, Mellisa melihat sekeliling rumah, tidak ada yang berubah.


Davin membawa barang-barang bawaan ke kamar tidur.


Sementara Rosy dan Jasmine langsung bermain dengan Opa mereka.


Tiara menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan, disusul oleh Mellisa yang siap membantu sang mertua.


"Biar aku saja, Ma." Mellisa mengambil alih.


Mama mengangguk.


Mellisa bersama mama ke depan membawa minuman dan beberapa cemilan.


"Semuanya, kemari," panggil Tiara.


Yang dipanggil segera merapat, kecuali Davin. Sepertinya masih di dalam kamar.


"Ma, aku panggil mas Davin dulu."


"Iya."


Mellisa bergegas ke kamar untuk mengajak suaminya bergabung ke depan.


Dibukanya pintu kamar dimana sang suami di situ.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Mellisa melihat apa yang dilakukan sang suami.


"Ayah sedang apa?" tanya Mellisa mendekat.


Davin menoleh dan tersenyum. Dia melanjutkan merapihkan seprei kasur yang bermotif mawar dan love.


"Ayah ingin bernostalgia malam ini, disaat Bunda menolak Ayah di malam pertama."


Mellisa tersentak. Dia sudah melupakannya namun sang suami mengingatkannya kembali.


"Bunda... ."


"Jangan bersedih, Ayah tidak bermaksud apa-apa."


Davin mendekati istrinya dan mendaratkan ciuman di keningnya.


"Terimakasih, Bunda. Sudah mau menjadi istri Ayah."


Mellisa mengangguk dan memeluk sang suami.


Meski telah bertahun-tahun, Mellisa masih saja terharu dengan sang suami. Davin yang sangat sabar menunggunya, menyayanginya hingga membuatnya juga membalas perasaan itu.


"Bunda mencintai Ayah," ucap Mellisa dalam tangis.


"Hey, jangan menangis." Davin menyeka air mata di pipi sang istri.


"Apa sudah selesai, Ayah? Ayo kita bergabung dengan yang lain," ajak Mellisa setelah dia menenangkan dirinya.


"Iya, ayo."


Keduanya berjalan beriringan keluar dari kamar. Ketika sudah nampak, kedua putri mereka melambaikan tangan.


"Ayah, Bunda. Cepat sini," panggil mereka tak sabar.


Mellisa dan Davin segera bergabung, sungguh hangat keluarga kecil ini.


"Ayah, Bunda. Ayo kita berkeliling kampung, kami ingin melihat pemandangan."


"Iya sayang."


Setelah minum dan makan beberapa cemilan, Davin mengajak istri dan kedua putrinya berkeliling kampung.


Mereka memilih jalan kaki agar lebih santai dan khidmat menikmati pemandangan.


Beberapa tetangga ada yang menyapanya.


"Davin ya?" tanya salah seorang tetangga.


"Iya Pak Teguh, bagaimana kabarnya?"


"Baik. Apakah ini istri dan anak-anakmu?"


Davin mengangguk.


"Mereka sangat cantik," puji pak Teguh.


Yang dipuji senyum-senyum sendiri.


"Ya sudah, aku akan ke sawah dulu, kalian lanjutkan jalan-jalannya."


"Iya. Terimakasih Pak Teguh."


"Kalian sangat cantik," puji Davin mengulang pujian tetangganya tadi.


"Kalau Ayah yang memuji tidak asik," kekeh Rosy dan Jasmine lalu kabur duluan.


Davin dan Mellisa tertawa kecil melihat tingkah kedua putri kembar mereka.


Davin menggandeng tangan sang istri dan melanjutkan langkah.


"Ayah, lepaskan, malu."


"Kenapa malu, semua orang tahu, kita suami istri."


Mellisa tak dapat menolak, sesekali Mellisa tersenyum malu-malu ketika ada tetangga yang menyapa.


Davin menikmati liburannya kali ini, walaupun ini bukan cuti yang sebenarnya, dia hanya dirumahkan sementara waktu.


Ternyata ada hikmahnya juga hukuman dari pak Heru, bos besarnya. Davin menjadi lebih banyak menikmati waktu dengan keluarganya.


***

__ADS_1


__ADS_2