
Malam dan siang tidak ada bedanya lagi bagi seseorang yang baru menjadi ayah, karena kedua putri kembar Davin terbangun secara bergantian meminta susu, sehingga dia terus berjaga.
Davin sengaja tidak membangunkan istrinya, karena dia tahu jika kondisi tubuh istrinya masih belum pulih. Namun sebelumnya Mellisa sudah menyiapkan ASInya yang disimpan dalam beberapa botol susu. Supaya lebih mudah memberikannya kepada Rosy dan Jasmine.
Sesekali ibu menengok kamar Davin dan Mellisa, rupanya pintunya tertutup sehingga ibu mengurungkan niatnya.
Ibu tersenyum sendiri, mereka sedang asyik dengan putri mereka rupanya, pikir ibu.
Ibu dan Talita tinggal bersama mereka, karena Davin yang memintanya. Davin merasa kasihan jika Mellisa saat siang hari mengurus Rosy dan Jasmine sendirian sedang dia harus bekerja di kantor.
"Jangan nangis sayang, kasihan nanti bundanya bisa terbangun, bunda kan masih belum sehat," ucap Davin pelan sambil menimang Rosy.
Walaupun sama-sama perempuan, kedua bayi ini sudah nampak berbeda, kakaknya Rosy justru sering menangis sedangkan Jasmine sang adik lebih banyak tidur, sesekali terbuka matanya pun Jasmine hanya berceloteh tanpa menangis.
Davin sama sekali tak mengeluh, meskipun nantinya akan kelelahan dan mengantuk di kantor namun dia terus berjaga.
Davin tak ingin melewatkan masa-masa ternikmatnya menjadi seorang ayah.
Mellisa terbangun dan terkejut mendapati suaminya menimang bayinya.
Mellisa segera duduk dengan hati-hati karena bekas jahitannya masih terasa sakit jika menggerakkan kedua pahanya.
"Mas, sini gantian aku yang menggendong Rosy," pinta Mellisa lembut.
"Kamu tidur lagi saja sayang, aku masih asyik bermain dengan putriku yang pintar ini," jawab Davin lembut.
Davin mendekati istrinya setelah meletakkan Rosy yang sudah tertidur kembali.
"Kenapa tidak tidur kembali, Bunda?" tanya Davin mencium kening istrinya.
Mellisa tersenyum menahan tawa mendengar suaminya memanggil dengan sebutan 'bunda'.
"Panggil aku Ayah, kita harus membiasakan diri untuk mengajari Rosy dan Jasmine," ucap Davin lagi melihat Rosy dan Jasmine di tempat tidur mereka secara bergantian.
"Iya, Ayah," balas Mellisa tersenyum geli.
"Terimakasih, istriku. Karena kamu dan dua gadis kecil ini hadir dalam hidupku menjadi penyemangat dan penentram hatiku," bisik Davin mesra.
"Aku yang seharusnya berterimakasih, Mas. Karena kamu telah sabar menungguku dan menemaniku sampai sejauh ini," ucap Mellisa menatap lekat sang suami.
"Aku menyesal kenapa diawal pernikahan kita...." Mellisa tak melanjutkan kata-katanya karena Davin menyelanya.
"St...." Davin menutup mulut Mellisa dengan jari telunjuknya.
"Jangan ungkit lagi, aku tahu dulu kamu tak pernah mencintaiku tapi sekarang, kamu sudah bucin bukan? tak mau jauh-jauh. Kalau melihat wanita didekatku pasti suka cemburu."
Mellisa mencubit perut suaminya.
"Au! sakit Bunda," goda Davin.
"Ayo tidur, Mas. Mumpung kedua putri kita sedang terlelap," pinta Mellisa.
"Ayah! sudah kubilang panggil aku Ayah," protes Davin.
"Iya ,Ayah. Ayo tidur," ajak Mellisa.
Davin mengangguk lalu membantu istrinya untuk berbaring lagi, kemudian dia sendiri juga tidur sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
Mellisa melirik wajah suaminya sebentar.
"Kenapa?" tanya Davin melihat istrinya.
Mellisa menggeleng lalu menenggelamkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
"Aku mencintaimu, Bunda."
"Aku juga, Ayah."
"Juga apa?"
"Juga mencintai Ayah."
Mereka tersenyum dan terlelap.
Malam semakin larut, ibu yang sedari tadi terbangun dan menunggu cucunya kembali tidur, dia kembali ke kamar.
"Ibu dari mana?" tanya Talita yang terjaga mendapati sang ibu baru memasuki kamar.
"Tadi Ibu dengar, salah satu bayi kakakmu menangis, lalu Ibu tengok ternyata kamar mereka tertutup."
"Kak Mellisa sama kak Davin mungkin tak mau merepotkan Ibu."
Ibu mengangguk, memang benar adanya, putri dan menantunya itu secara otomatis hidup mandiri, walaupun mereka baru pertama kali menjalaninya.
"Talita," panggil ibu mendekat.
"Iya Bu," sahut Talita.
"Kamu sudah semakin dewasa. Apakah belum ada yang menarik hatimu?" tanya ibu serius.
"Ah Ibu, aku kan perempuan, mana mungkin aku maju lebih dulu," jawab Talita malu-malu.
Ibu tersenyum penasaran.
"Berarti sudah ada, siapa dia?" tanya ibu menggoda.
Talita menunduk malu, lalu berbaring menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Ayo tidur saja, Bu. Aku sudah mengantuk lagi," ucap Talita di balik selimut.
Ibu terkekeh melihat putri bungsunya. Dia lalu tidur karena malam masih panjang.
Dibalik selimut Talita senyum-senyum sendiri, sekilas dia terbayang Andika, adik sepupu Davin yang pernah ditemuinya di rumah sakit saat kakaknya melahirkan.
'Dunia sempit sekali ya, jauh-jauh dari kampung bertemunya masih saudaranya kak Davin,' batinnya.
***
Mellisa membuka matanya, dilihatnya sang suami yang masih tidur.
Dia bangun menengok kedua putrinya, Rosy masih tidur rupanya. Namun Jasmine sudah bangun dan berceloteh sendirian.
"Jasmine sudah bangun sayang," sapa Mellisa gemas melihat putrinya yang satu ini tersenyum saat dia tengok.
"Bunda bangunin ayah dulu ya? soalnya Bunda harus ke dapur."
__ADS_1
Mellisa menghampiri suaminya dan membangunkannya.
"Ayah," panggil Mellisa.
"Iya Bunda," sahut Davin membuka matanya.
"Jasmine sudah bangun, Ayah jagain ya, Bunda mau ke dapur."
"Jangan, Bunda kan masih belum pulih, jalannya saja masih susah seperti itu, biar Ayah saja yang menyiapkan makanan, Bunda jagain Rosy dan Jasmine."
Mellisa mengangguk.
Setelah menyelesaikan sholat subuhnya, Davin bergegas ke dapur.
Rupanya ibu dan Talita sudah lebih dulu berada di sana.
"Davin." Ibu nampak kaget.
"Jadi merepotkan Ibu," ucap Davin melihat nasi dan beberapa lauk sudah tersaji.
"Kamu siap-siap saja sana, bukannya hari ini kamu masuk kerja," suruh ibu pada menantunya itu.
"Baik Bu," sahut Davin.
Setelah cuti beberapa waktu, hari ini memang pertama kalinya Davin masuk kerja semenjak kelahiran kedua putrinya.
Davin kembali ke kamar, dia mendapati Mellisa yang tengah kerepotan menjaga kedua putri mereka yang sudah terbangun.
Mellisa menimang Rosy dan memberinya ASI karena baru bangun dan rewel. Sementara Jasmine yang sedari tadi terbangun lebih dulu ada di samping sang bunda sambil bermain-main sendiri.
Davin hendak menggendong Jasmine.
"Ayah bersiap-siap saja, Ayah berangkat kerja kan?"
"Tak apa-apa."
Mellisa mengangguk.
Davin lalu bersiap merapihkan diri.
"Jasmine sudah minum ASI belum Bunda?" tanya Davin disela waktu dirinya menyiapkan diri.
"Tadi sebelum Rosy bangun, Jasmine sudah menyusu, Ayah."
Davin tersenyum. Dia mendekati istri dan kedua putrinya.
"Mereka tidur lagi?" tanya Davin.
"Mereka kan masih bayi, mereka akan sering tidur dan itu malah bagus buat pertumbuhan mereka, Ayah."
Davin mengangguk lalu mengajak istrinya untuk sarapan.
"Ayo makan Davin, Mellisa," ajak ibu ketika putri dan menantunya itu sampai ke meja makan.
"Terimakasih ya Bu," sahut Davin dan Mellisa bersamaan.
"Sama-sama."
__ADS_1
***