
Di Toko perhiasan.
"Sekarang pilih yang kamu suka," ucap Anton menunjuk semua perhiasan di hadapan mereka.
"Kamu yang pilihkan," sahut Jeny melihat-lihat.
"Kamu yang akan yang akan memakainya, pilihlah sesuai yang kamu sukai." Anton menawarinya lagi.
"Aku akan suka pilihanmu," ucap Jeny masih melihat-lihat perhiasan yang lain.
"Aku mengajakmu agar memilih sendiri."
"Kamu yang akan menatapku setiap hari, apakah aku cantik memakai yang mana."
Pelayan toko hanya memandang mereka sambil tersenyum.
"Ma'af ada pilihan terbaik dari toko kami, kalian bisa melihatnya," ucap pelayan toko mengeluarkan dua pasang cincin.
Mata Jeny berbinar melihat salah satu cincin itu yang nampak anggun mungkin jika dia memakainya. Dia langsung mencoba memakainya di jari manisnya.
"Bagaimana menurutmu," ucap Jeny.
"Itu tidak menarik, coba yang satunya." Anton mengambil cincin yang satunya.
Jeny melepas cincin yang tadi dan memakai yang baru, dia memandangi jarinya dengan bimbang, sangat cantik, pikirnya. Namun terlalu mewah, apakah tidak apa-apa dia memakainya.
"Yang itu saja, kamu sangat cantik, secantik yang memakainya," puji Anton.
Jeny tersenyum malu, tentu saja hatinya berbunga-bunga, mungkin banyak yang memujinya cantik tapi akan berbeda jika yang memuji adalah sang kekasih.
Setelah deal, Anton segera menyelesaikan pembayaran. Tiba-tiba Mellisa datang bersama kedua putrinya.
"Om baik, Tante cantik." Rosy dan Jasmine menghampiri mereka.
"Kalian di sini?" sahut Jeny bertanya.
"Iya. Anting Rosy patah, jadi aku ingin menukarnya," terang Mellisa.
"Kalau begitu Rosy, kamu bisa memilih dan kamu juga Jasmine, pilih sesuka kalian. Jangan khawatir, Om hadiahkan untuk kalian," ucap Anton mengusap kepala mereka bergantian.
Rosy dan Jasmine tersenyum senang.
"Jangan, merepotkan." Mellisa menghalangi.
Raut wajah kedua putri kembar tiba-tiba cemberut.
"Bukankah kalian sudah selesai, pulanglah," usir Mellisa halus.
"Tak apa, Mell. Mereka sangat cantik, kami ingin menghadiahkan untuk mereka." Jeny tersenyum.
"Bagaimana setelah ini kita makan bersama lagi?" tanya Anton menawarkan.
Jeny melirik Anton, bukannya sebelumnya dia merasa terganggu kehadiran mereka tapi kini malah menawarkan mereka makan.
'Aku tidak salah menerimamu, kamu memang baik,' batin Jeny.
"Setuju," ucap Rosy dan Jasmine kompak sebelum bunda mereka angkat bicara. Akhirnya Mellisa hanya diam dan memelototi kedua putrinya secara bergantian.
Anton dan Jeny terkekeh.
Setelah memilih anting dan membayarnya. Mereka berpindah tempat ke restoran untuk makan malam.
Semuanya mengobrol kecuali Mellisa, dia merasa malu kedua putrinya seperti itu, baru dua kali bertemu mereka sudah sangat akrab.
__ADS_1
Semuanya tengah asik makan sambil bercanda ria, tiba-tiba ponsel Mellisa berdering, ada panggilan telfon dari Davin.
Mellisa segera menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Bunda," salam Davin.
"Wa'alaikum salam, Ayah," sahut Mellisa.
"Ayah mungkin akan pulang larut malam, jadi Bunda dan putri-putri kita tidurlah dulu, tak perlu menunggu Ayah."
"Oh, Baiklah, Yah."
"Ayah!" teriak Rosy dan Jasmine. Mereka merebut ponsel dari bunda mereka.
"Kalian sedang apa, sayang?" tanya Davin.
"Kami sedang makan sama Tante cantik dan Om baik dan tadi juga kami dikasih hadiah anting sama mereka," terang Rosy tanpa canggung, justru Mellisa lah yang merasa canggung.
Davin terkejut, dia ingin memarahi Mellisa dan kedua putrinya, namun dia urungkan karena pekerjaannya yang masih menumpuk.
"Baiklah. Ayah akan bekerja lagi. Kalian jangan lama-lama di luar, pulang jika sudah selesai."
"Baik, Ayah." Sepertinya kedua putri kembar tidak merasa keganjalan sedikitpun.
Setelah mereka selesai makan, Anton dan Jeny mengantar Mellisa dan kedua putrinya untuk pulang.
Mellisa merasa tak enak lagi, dirinya dan kedua putrinya sungguh merepotkan bukan.
Sementara Davin di kantor.
"Kenapa aku merasa tidak nyaman keluarga kecilku menjadi akrab dengan Anton dan Jeny," gumam Davin di sela waktunya lembur.
***
Pukul 00.30 wib.
"Ayah!" teriak semuanya.
Davin kaget bukan main, kenapa mereka semua belum tidur.
Semuanya tertawa kecuali Davin. Dia pura-pura cemberut.
"Ayah payah," cela Jasmine.
Davin melirik anak gadisnya yang ini lalu yang satunya dan terakhir pandangannya tertuju pada istrinya yang nampak bersenang-senang dengan keadaan.
"Ini sudah larut malam, kenapa kalian belum tidur?" tanya Davin.
"Kami belum bisa tidur jika belum menunjukkan ini," ucap Rosy memperlihatkan telinganya yang memakai anting baru.
"Aku juga sama seperti Rosy, Yah." Jasmine juga menunjukkan anting barunya.
"Ok. Kalian sangat cantik karena anting itu dan sekarang tidurlah, besok kalian harus sekolah kan." Davin memegang keningnya yang sedikit pusing.
"Baik, Ayah." Rosy dan Jasmine berlalu ke kamar mereka.
"Ayah kenapa?" tanya Mellisa.
"Ayah pusing dan lelah. Bisakah memijit Ayah, Bun," pinta Davin.
Mellisa tersenyum dan mengangguk.
"Sepertinya kalian bersenang-senang," ucap Davin di sela waktu.
__ADS_1
"Kalian nampak senang sekali," ucap Davin lagi.
Mellisa masih memijit dan tersenyum.
Mellisa mengutarakan tujuannya tadi keluar dari rumah hanya untuk menukar anting Rosy yang patah.
Tak disangka di toko perhiasan mereka bertemu Anton dan Jeny. Pasangan itu malah menghadiahkan anting dan mengajak makan.
Davin mendengarnya dengan cemberut. Diliriknya wajah sang istri yang juga meliriknya, Mellisa tersenyum.
"Sepertinya Ayah tidak senang," ucap Mellisa menerka.
"Iya," sahut Davin datar.
Sebenarnya Davin cemburu juga, dia bahkan tak punya waktu dengan anak dan istrinya.
"Ma'afkan Bunda ya, Yah." Mellisa ikut cemberut.
"Sudah. Bunda pasti lelah." Davin menghentikan pijitan istrinya. Dia lalu berbaring untuk istirahat.
Mellisa mendekat dan ikut berbaring juga.
"Lusa hari minggu, bagaimana kalau kita jalan-jalan," ajak Davin.
"Kami pasti mau, Yah," sahut Mellisa memeluk suaminya.
"Ayah senang melihat kalian senang, lain kali bisakah Bunda memberitahukan Ayah jika ingin keluar dari rumah."
Mellisa tersentak. Inikah alasan suaminya sedari tadi cemberut, dia mengangguk dan tersenyum lalu mencium pipi sang suami.
Davin langsung berhasrat, walaupun badannya sangat lelah. Dia menatap sang istri dan melahap bibirnya sampai puas.
"Bisakah Bunda ambil kendali," pinta Davin.
Wajah Mellisa langsung memerah, suaminya memintanya ambil kendali, bukannya itu sangat memalukan.
"Tapi-"
"Ayah mohon."
Mellisa mengangguk malu dan menuruti suaminya.
Keduanya bercumbu mesra seperti biasa, namun kali ini Mellisa sangat bersemangat walaupun awalnya malu-malu.
Di akhir pergumulan panas mereka, Davin tak lupa mencium kening sang istri.
"Terimakasih, istriku."
Mellisa mengangguk dan tersenyum.
"Apakah Bunda sudah berhenti KB?" tanya Davin sambil mengusap kepala Mellisa.
Mellisa terkejut, apa maksud suaminya.
"Putri kembar sudah besar, apakah mereka tidak pernah meminta adik?"
"Apa itu artinya Ayah setuju untuk Bunda hamil lagi."
Davin mengangguk, membuat Mellisa senang.
Mellisa memeluk suaminya erat.
"Terimakasih, Ayah."
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, keduanya langsung terlelap.
***