Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 32 Hadiah


__ADS_3

Di tengah malam, Davin belum bisa memejamkan matanya.


"Harusnya sekarang ini aku sedang memeluk Mellisa." Davin membayangkan istrinya.


"Kenapa tidak memeluknya," ejek Andika yang belum tidur rupanya.


"Semua ini karena kamu, kamu harus bertanggung jawab atas kekecewaanku malam ini," kesal Davin.


"Ma'af, Kak. Aku bukan penyuka sesama," ucap Andika terkekeh.


Davin semakin kesal, dijewernya telinga adik sepupunya itu hingga memerah.


"Aku bukan anak kecil lagi, kenapa masih menghukumku seperti ini?"


"Kamu mau telinga yang satunya."


"Eh, Kak. Jangan. Oke aku akan melakukan apa saja asalkan Kak Davin tak marah lagi."


Davin tersenyum licik.


"Akhir pekan, ajak mereka berlibur. Kamu yang menanggung semuanya."


"Dasar."


"Apa katamu?"


"Tidak ada. Aku siap. Kemana kita akan berlibur?" tanya Andika memaksakan senyum.


"Bagaimana kalau ke pantai, mereka pasti akan senang dan pulangnya ajak mereka belanja serta makan."


"Nah loh, mau manfaatin aku ya."


"Kamu tidak sanggup."


"Sanggup. Sanggup. Tenang saja."


Davin hendak mengelus kepala Andika, namun Andika segera menepis tangan kakak sepupunya itu.


"Jangan menyentuhku," ucap Andika menjauh.


"Siapa juga yang mau menyentuhmu."


Davin segera membalikkan tubuhnya membelakangi Andika, sial.Itu terkesan seperti dia ingin melampiaskan hasrat dengan Andika, semoga adik sepupunya tidak berpikir begitu.


Malam semakin dingin, Davin berusaha tidur dengan memakai selimut yang cukup hangat, namun tetap saja tak sehangat pelukan sang istri.


Hingga beberapa saat, akhirnya Davin dapat terlelap.


***


Pagi ini keluarga Davin sarapan bersama seperti biasanya.


"Kami minta izin untuk pulang, Kak," ucap Andika setelah menyelesaikan sarapannya.


"Om Dika boleh pulang, tapi Tante Talita tidak boleh," ucap Jasmine menggenggam tangan tantenya yang duduk di sebelahnya.


"Sayang, nanti Tante akan sering-sering main kok." Talita membelai lembut rambut keponakannya itu.


"Kami harap kalian bisa lebih sabar, terutama Talita, kamu jangan berkecil hati, Allah pasti akan segera memberikan kalian momongan. Dan juga Andika, kamu harus lebih perhatian lagi dengan istrimu, jangan hanya memikirkan perutmu," ucap Mellisa menasihati.


"Siap, Kak," sahut Andika bersemangat.


Talita hanya tersenyum masih sambil membelai Jasmine.


"Tante harus tetap sehat agar calon dedek juga sehat," ucap Rosy menyemangati.


"Siap," sahut Talita.


Setelah mereka semua selesai sarapan, Andika pamit bersama istrinya untuk pulang.


"Ibu," panggil Talita memeluk ibunya.


"Jangan lupa banyak do'a, Nak. Ibu juga berdo'a untuk kalian agar keinginan kalian terkabul. Tapi ingat jangan memaksakan do'a. Apapun yang Allah berikan itu yang terbaik untuk kalian berdua." Nasihat ibu membuat Talita berkaca-kaca.


"Tante," panggil Jasmine manja.

__ADS_1


Talita melepas pelukan ibunya lalu memeluk keponakan kesayangannya itu.


"Kamu sekolah yang rajin. Rosy juga ya, jangan nakal."


"Siap," sahut Rosy dan Jasmine bebarengan.


Setelah Talita dan Andika pamitan, kemudian mereka berdua meninggalkan apartemen Davin.


Sepeninggal adiknya, Mellisa siap mengantarkan kedua putrinya berangkat ke sekolah, namun sebelum itu Davin mengajak istrinya ke kamar lebih dulu.


"Ada apa, Ayah. Rosy dan Jasmine harus segera berangkat sekolah. Ayah juga kan harus ke kantor." Mellisa tak sabar ingin keluar.


Davin segera memeluk istrinya.


"Ayah kenapa?" tanya Mellisa heran melihat suaminya, apa yang terjadi dengan Davin?


Mellisa berusaha melepaskan diri, namun Davin semakin mengeratkan pelukannya.


Mellisa mencubit punggung sang suami membuat Davin sedikit kesakitan dan melepas pelukannya.


"Sakit, Bunda," ucap Davin manja.


Mellisa mengusap kening suaminya, normal.


"Ayah tidak apa-apa, hanya rindu pelukan Bunda."


Mellisa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan suaminya. Bukankah setiap malam mereka tidur bersama di tempat tidur yang sama, hanya semalam saja tidak tidur sekamar sudah membuatnya seperti itu.


Davin hendak memeluk istrinya lagi namun Mellisa segera bergegas keluar kamar.


"Ayo, Ayah. Kita akan berangkat."


Davin nampak kecewa, dia segera menyusul istrinya.


"Kami pamit ya, Nek," pamit kedua cucu ibu sambil menyalami sang nenek.


"Iya, kalian hati-hati di sekolah."


Davin dan Mellisa juga menyalami ibu dan pamitan untuk mengantar Rosy dan Jasmine ke sekolah.


Rosy dan Jasmine menyalami ayah dan bundanya lalu turun dari mobil.


"Jangan nakal."


"Iya, Ayah. Bunda."


Davin dan Mellisa tersenyum sambil melambaikan tangan pada kedua putrinya.


"Ikut bersama Ayah ke kantor," ucap Davin lalu melajukan mobilnya.


Mellisa sudah menduga dari sikap suaminya sedari pagi. Biasanya Mellisa mengantar kedua putrinya naik taksi, namun kali ini Davin bersedia mengantar walau beda arah ke kantornya.


"Ibu sendirian dong di rumah," ucap Mellisa melihat arah jendela.


"Jadi Bunda mau pulang." Davin agak kecewa.


Mellisa melirik suaminya, cepat sekali suaminya ini marah.


"Bunda ikut Ayah," ucap Mellisa tersenyum memegangi lengan sang suami.


"Baguslah."


***


Jeny dan Anton sudah mengerjakan separuh berkas yang seharusnya Davin selesaikan.


Mereka melihat jam dinding, sudah terlambat setengah jam dari biasanya Davin ke kantor.


"Assalamu'alaikum," salam Davin bersama istrinya memasuki ruangan.


"Wa'alaikum salam," sahut Anton dan Jeny bebarengan.


"Ma'af terlambat, tadi istriku bersikeras untuk ikut, biasalah perempuan dandan dulu, jadi agak lama," bohong Davin melirik istrinya dengan genit, padahal dia terlambat karena harus mengantar kedua putrinya lebih dulu.


Mellisa langsung mencubit perut suaminya.

__ADS_1


"Aw, sakit sayang."


Anton dan Jeny yang melihat mereka hanya tersenyum.


"Sudah bertahun-tahun tapi kalian masih saja romantis," puji Jeny.


"Kami permisi keluar Pak Davin." Anton dan Jeny hendak keluar.


"Tunggu," ucap Davin lalu mengambil berkas yang Anton bawa.


"Kalian bisa santai sedikit, biar aku yang menyelesaikannya." Davin membuka lembaran demi lembaran dalam map yang di tangannya.


"Baik, Pak. Terimakasih."


Sepeninggal Anton dan Jeny, Davin segera menuju mejanya dan bekerja dengan semangat.


"Bunda hanya diam menunggu Ayah bekerja?" Mellisa mulai bosan.


"Oh iya, Bunda kemari," suruh Davin menepuk pahanya bermaksud agar istrinya mau duduk di pangkuannya.


"Tak mau," tolak Mellisa.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


Tok!


Tok!


Tok!


Mellisa melangkah menuju arah suara dan membukakan pintu.


"Ini kopinya, Bu." Ob menyerahkan dua cangkir kopi dalam nampan, ada setangkai bunga mawar di sana.


"Terimakasih ya."


Mellisa kembali dan menyerahkan kopi ke suaminya.


"Kenapa ada dua kopi, ada bunganya pula," ucap Mellisa curiga.


"Apa masih ada pengagum rahasia Ayah, jangan-jangan dia akan ke sini," ucap Mellisa lagi penuh cemburu.


"Bunganya cantik sekali, ada tulisan apa ini." Davin mengambil bunga mawar itu dan hendak membaca tulisan dalam kertas kecil di ujung tangkai bunga itu.


Mellisa bergegas dan mendekat lalu mengambil bunga mawar itu dari tangan suaminya.


"Untuk Bundanya Rosy dan Jasmine yang cantik. Dari Ayah yang selalu mencintai Bunda."


Mellisa tersipu menahan malu setelah membacanya. Ternyata masih romantis, dia pikir Davin lupa bagaimana menyenangkan hatinya, apalagi mereka sudah dikaruniai dua anak sekaligus.


"Bunda," panggil Davin.


Mellisa menoleh suaminya.


"Siapa sih pengagum rahasia Ayah?" tanya Davin menggoda.


"Ayah yang memberi bunga ini, berarti Ayah yang mengagumi Bunda."Mellisa malu-malu menjawabnya.


"Memang, semenjak kita dipertemukan di pelaminan sampai sekarang. Aku masih mengagumi dan mencintaimu, Mellisa."


Mellisa mendekat dan memeluk suaminya dengan erat.


"Ayah ada hadiah untuk Bunda lagi," ucap Davin sambil membuka ponselnya lalu menunjukkan gambar rumah yang baru saja dibelinya.


"Itu rumah kita, Yah." Mellisa nampak berkaca-kaca.


"Kita akan segera pindah, di sana ada banyak kamar, nanti kalau Talita dan suaminya datang menginap, kita masih bisa bercumbu mesra di kamar kita."


Mellisa mencubit perut suaminya lagi.


"Nakal."


Davin mencium kening istrinya lalu mencium bibir istrinya penuh gairah.


Setelah puas Davin kembali fokus dengan pekerjaannya, sementara Mellisa melihat-lihat rumah dan seisinya di dalam ponsel. Muncul di benaknya untuk mengatur ini dan itu.

__ADS_1


***


__ADS_2