
Memasuki waktu sepertiga malam.
Inayah masih terjaga, entah sempat terlelap atau tidak. Dia melihat kedua putri dan cucu-cucunya masih bersamanya.
Inayah merasa akan ada yang hilang dari raganya, entah rasa apa itu, semakin lama semakin tidak nyaman dia rasakan.
Mellisa tergerak dan terbangun mendapati sang ibu yang gelisah.
"Ibu," panggil Mellisa menatap sang ibu.
"Mell, bantu ibu," pinta ibu dengan suara pelan agak parau.
Mellisa menggenggam tangan sang ibu yang hangat.
"Asyhadu... ." Inayah berusaha mengucapkannya secara perlahan.
Sampai di sini Mellisa mengerti, dia berbisik di telinga sang ibu dengan menahan air mata.
Sebelumnya Mellisa membangunkan sang adik dan kedua putrinya. Disuruhnya salah satu putri kembar untuk memanggil ayah dan om mereka.
"Pelan, Bu. Asyhadu An Laa Ilaaha illAllah."
"Asyhadu An Laa Ilaaha illAllah."
"Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullah."
"Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullah."
Inayah tersenyum dan menutup matanya perlahan.
Tak ada yang mampu menahan tangis saat ini, Mellisa lah yang lebih dulu memeluk ibu, air matanya keluar tanpa dia sadari, disusul oleh Talita dan juga kedua putri kembar.
Semua yang hadir merasa sedih dan berduka. Ibu Inayah adalah sosok ibu yang kuat dan tegar kini telah pergi selamanya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun."
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan kembali."
Sungguh tidak ada yang menyangka, Inayah telah pergi meninggal dunia, mungkin almarhumah merasa tenang tanpa beban terakhir kali hidup di dunia melihat buah hatinya bahagia.
Mellisa dan Talita berjanji pada diri mereka sendiri untuk tetap tegar tanpa ibu.
Davin dan Andika mengabarkan berita duka ini pada keluarga masing-masing.
***
Pagi menjelang siang.
Keluarga Davin dan Andika kembali ke kediaman masing-masing setelah mengantarkan almarhumah ibu Inayah ke peristirahatan yang terakhir.
Di kediaman Davin.
Mellisa duduk melamun di teras bersama kedua putrinya, sang suami menghampirinya bersama mama dan papa.
"Mell, kamu yang sabar ya," ucap mama menggenggam erat tangan Mellisa.
Mellisa hanya menatap sang mama sekilas tanpa mengatakan apapun.
"Bunda," panggil kedua putri kembar.
Mellisa pun menoleh kedua putrinya namun tetap tak mengatakan apapun.
"Davin, ajak istrimu ke dalam rumah, hibur dia," suruh mama tak tega melihat sang menantu seperti itu.
__ADS_1
"Iya, Ma." Davin mengajak Mellisa ke kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar.
"Sayang," panggil Davin pelan.
"Ibu, Mas." Mellisa memeluk suaminya erat.
"Sabar sayang, ibu sudah tenang di sana, jangan kamu tangisi nanti ibu sedih, kita berdo'a saja untuk ibu agar ibu diterima di sisi Allah, diterima amalannya, diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya dan dapat menikmati alam kubur sebagaimana mestinya."
Mellisa tersenyum mendengarnya, Davin sangat lega, sejak kemarin baru kali ini istrinya tersenyum.
"Ayo kita makan dulu, Bun," ajak Davin.
Mellisa mengangguk.
Mereka melangkah bersama menuju ruang makan, sudah ada mama, papa dan juga kedua putri kembar.
"Bunda," panggil kedua putrinya.
Mellisa tersenyum.
Kedua putrinya ikut tersenyum.
"Ayah hebat ya bisa membuat Bunda tersenyum," puji Rosy melirik sang ayah.
"Ayah siapa dulu," bangga Jasmine.
"Ayahku," sahut Rosy terkekeh.
"Ayahku lah." Jasmine tak mau kalah.
Keduanya terus berdebat memperebutkan sang ayah, Mellisa semakin tersenyum senang melihatnya meski sedih telah kehilangan ibunya, dia tidaklah sendiri, ada keluarga kecilnya yang selalu bersamanya menemaninya siang dan malam.
"Iya kalian ini berisik," timpal sang Opa.
Davin dan Mellisa saling pandang dan tersenyum.
Semua makan dengan lahapnya kecuali Mellisa, dia masih bisa tersenyum namun entah kenapa dia tak bernafsu untuk makan, dia memaksakan untuk makan walau sedikit karena menyadari dirinya tengah hamil.
***
Malam hari.
Mellisa meminta mama menemaninya tidur, tentu saja sang mertua tidak akan menolak.
"Tidak ingin Ayah yang menemani saja, Bun," ucap Davin menawarkan diri.
Mellisa menggeleng lalu menoleh mama disampingnya dan memeluknya.
"Ayah tenang saja, kami akan menemani Ayah." Rosy dan Jasmine menarik lengan ayah mereka ke kamar mereka.
"Lalu Papa tidur dengan siapa, Ma?" tanya Dion
"Sendiri sana Pa," usir Tiara mendorong tubuh suaminya perlahan keluar kamar.
"Yah." Dion cukup kecewa, benar-benar nih, menantu sama cucu manja benar, pikirnya.
Sementara di kediaman Andika.
Talita dan Andika masih bersantai menonton tivi.
"Aku kok lapar lagi ya, Mas."
__ADS_1
"Ya sudah ayo aku temani kamu makan, sayang."
Andika menemani Talita ke dapur untuk makan, dia hanya memandang istrinya yang makan banyak, dia senang pasti calon anaknya ini sangat rakus. Hihi.
Talita yang dipandang merasa malu, walau tadi sewaktu makan tidak memperhatikan sang suami.
"Kenapa melihatku seperti itu, Mas?"
"Tidak apa-apa, aku senang melihatmu, ibu hamil memang harus seperti itu makan yang banyak dan bergizi agar calon anak kita sehat dan pintar."
Talita tersenyum.
Selesai makan, mereka ke kamar untuk istirahat.
"Kamu bisa istirahat dulu, Mas. Aku menyusul ini masih kenyang tidak baik kalau langsung tidur."
"Tidak, aku menunggumu saja."
Talita tersenyum lalu berhenti menghentikan senyumannya ketika dia melihat foto di atas meja, fotonya bersama ibu dan kakaknya.
"Ibu," ucapnya sedih.
Andika juga melihat foto itu dan mengambilnya.
"Mas," panggil Talita.
"Iya, Ta," sahut sang suami.
"Aku mau menelfon kak Mellisa."
Andika mengangguk, dia mengambil ponsel dan mulai menelfon.
"Assalamu'alaikum," salam Davin dibalik telfon, dia yang memegang ponsel Mellisa karena tidak ingin istirahat istrinya terganggu.
"Wa'alaikum salam, kak Davin. Kak Mellisa sudah tidur belum?" tanya Talita.
"Entahlah, kakakmu minta ditemani mama tadi tidurnya. Ada apa malam-malam telfon? Kamu belum tidur, Ta?"
"Baru saja makan Kak, bentar lagi aku tidur, sebenarnya ingin bicara dengan kak Mellisa tapi ya sudahlah besok saja."
"Wah kamu pasti sudah makan dan makan lagi, kakakmu itu malas makan karena masih sedih kehilangan ibu. Coba besok kamu rayu kakakmu agar mau makan yang banyak ya seperti kamu."
"Oh iya, Kak Davin."
"Sudah sana istirahat. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Telfon berakhir, setelah beberapa saat Talita mengajak sang suami untuk tidur.
Andika memposisikan diri memeluk sang istri dari belakang dan cepat terlelap karena memang sudah mengantuk sedari tadi.
Sementara Talita tidak bisa tidur, bukan karena sedih memikirkan ibu tapi sedih karena percakapan barusan dengan kakak ipar.
'Lihat saja, kak Mellisa masih tetap unggul dariku dalam hal menyayangi ibu, bahkan setelah ibu tiada aku masih cemburu pada kakak,' batin Talita.
Talita merasa rasa sayang sang kakak terhadap ibunya lebih besar dari dirinya, dia bahkan bisa makan dengan lahapnya, sedangkan kakaknya tidak bernafsu untuk makan.
Lama-lama Talita menjadi jengkel pada dirinya sendiri.
Malam semakin larut, meski dengan perasaan kesal, Talita dapat terlelap juga.
***
__ADS_1