
Mellisa merapihkan dasi suaminya sambil tersenyum.
"Bunda cantik pagi ini," puji Davin tanpa melihat istrinya.
"Memuji siapa? Melihatnya kemana, Yah?" tanya Mellisa pura-pura tak mengerti.
Davin melirik sang istri dan mencuri cium di bibirnya.
"Ayah." Mellisa kaget.
"Bunda jadi ikut Ayah ke kantor?" tanya Davin.
Mellisa mengangguk.
"Ayah, Bunda. Lama sekali!" teriak Rosy dan Jasmine dari luar kamar.
"Iya sayang," sahut sang ayah.
"Ayo sarapan, Yah. Kasihan Rosy dan Jasmine sudah menunggu kita," ajak Mellisa lalu melangkah hendak keluar kamar.
"Bunda." Davin menghentikan langkah istrinya.
"Kenapa?" tanya Mellisa melihat sang suami yang siap menerkam.
Davin hendak mencium Mellisa kembali namun Mellisa segera berlari sambil tertawa keluar kamar menuju ruang makan, Davin langsung menyusulnya.
"Awas ya, Bunda," ucap Davin pura-pura cemberut.
Mellisa terkekeh.
Si kembar saling melihat satu sama lain, namun ikut senang melihat sang bunda dan ayah mereka yang romantis.
Setelah menyelesaikan sarapan, Davin dan Mellisa mengantarkan kedua buah hati mereka berangkat sekolah.
Sesampainya di Sekolah.
"Kalian belajar yang benar, jangan nakal," ucap Davin.
"Iya, Ayah, Bunda. Kami masuk ke dalam kelas, ya?" Rosy dan Jasmine mencium tangan kedua orang tuanya dan berlalu ke dalam kelas mereka.
Davin dan Mellisa melanjutkan perjalanan ke tempat kerja Davin.
Sesampainya di Perusahaan.
"Besty," panggil Sonya langsung memeluk Mellisa yang baru saja datang bersama Davin.
Mellisa melepaskan diri dari Sonya secara perlahan sambil kebingungan.
"Kamu memanggilku apa barusan?" tanya Mellisa.
"Besty," ulang Sonya lagi.
Mellisa masih bingung, dia tak mengerti maksud panggilan itu bahkan tidak tahu arti kata itu.
"Besty itu apa?" tanya Mellisa lagi.
"Itu panggilan spesial dariku padamu teman terbaikku," jawab Sonya memeluk Mellisa kembali.
Kali ini Mellisa membalas pelukan Sonya, Sonya tersenyum melihat respon baik dari Mellisa, entah senyum yang berarti apa.
"Ayo ke ruanganku," ajak Sonya.
Mellisa mengangguk. Mereka melepas pelukan dan hendak berjalan.
"Aku ikut," ucap Davin memegang tangan Mellisa.
"Apa-apaan Ayah ini." Mellisa cukup aneh.
"Aku tidak akan memakan istrimu, Davin. Kamu mulai bekerjalah sana." Sonya segera menarik tangan Mellisa dan bergegas ke ruangannya.
Mellisa melambaikan tangan pada sang suami, namun Davin tak membalas, dia hanya melanjutkan langkahnya ke ruangannya.
"Pagi, Pak Davin," sapa Jeny dan Anton bersamaan.
"Pagi," sahut Davin tanpa melihat mereka.
Setelah Davin tak terlihat, Anton dan Jeny mengguncing bos mereka. Bos Davin yang tidak dapat jatahlah, inilah, itulah sampai mereka terkekeh tiada habisnya.
Sementara di dalam ruangan kerjanya, Davin mulai menyelesaikan tugasnya satu persatu sambil menengok ponsel yang sunyi tanpa ada suara bergetar atau berdering, istrinya tidak mengabarinya sama sekali, terlalu asikkah mereka?
"Kenapa Bunda betah sekali bersama Sonya?"
__ADS_1
Semakin lama Davin semakin gelisah, dia menengok jam tangan, hampir waktunya makan siang.
"Aku datangi mereka saja."
Tidak sabar juga Davin akhirnya ke ruangan Sonya.
Tanpa mengetuk pintu dahulu, Davin menerobos masuk ke dalam ruangan Sonya, dia melihat istrinya bersama Sonya dan memeluk satu sama lain.
Yang di dalam ruangan kaget, mereka melepas pelukan dan mengusap air mata masing-masing.
"Ada apa?" tanya Davin cukup khawatir.
Tidak ada yang menjawab, Mellisa lalu meminta izin pada Sonya untuk keluar.
Mellisa melangkah melewati suaminya tanpa melihat sedikitpun, Davin langsung mengejarnya.
"Bunda," panggil Davin lalu menarik tangan Mellisa.
Mellisa terseret ke dekapan Davin, dia melihat wajah Davin lalu tersenyum.
"Ayo kita menjemput putri-putri kita," ajak Mellisa.
Davin mengangguk.
Mereka berjalan ke parkiran kantor, tak ada percakapan diantara mereka membuat Davin semakin gelisah, apa yang baru saja terjadi antara istrinya dengan Sonya.
"Bunda sudah minta izin untuk Ayah pada Sonya, setelah ini Ayah tidak perlu kembali lagi ke kantor," ucap Mellisa setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Bunda ingin Ayah menemani Bunda?"
"Hm."
"Baiklah."
Davin tersenyum lalu mulai menyetir.
Sesampainya di Sekolah.
"Bunda akan ke kelas menjemput putri-putri kita," pamit Mellisa langsung bergegas.
Davin belum mengiyakan namun Mellisa sudah tak terlihat.
"Ayah," panggil mereka bebarengan.
"Loh kalian," bingung Davin.
"Ayah menjemput kami tidak bersama bunda ya?" tanya Rosy.
"Bunda di rumah?" tanya Jasmine juga.
"Bunda baru saja ke kelas kalian, apakah kalian tidak berpapasan?"
Rosy dan Jasmine menggeleng.
"Kalian tunggu di sini, biar Ayah yang menyusul bunda."
"Baik, Yah."
Davin berjalan menuju ruang kelas putri mereka dimana dia pikir istrinya ada di sana.
Ruang kelas sudah sepi, tak ada seorang pun di dalam kelas, Davin pikir mungkin Mellisa telah kembali ke depan namun kenapa mereka tidak berpapasan, apa ada jalan lain menuju ke depan?
Setelah menunggu beberapa saat, Davin kembali lagi ke depan, dilihatnya Rosy dan Jasmine saja tanpa Mellisa.
"Kalian sudah di sini? Ayo pulang," ajak Mellisa tiba-tiba di belakang Davin.
"Bunda dari mana?" tanya Davin nampak khawatir.
Mellisa hanya tersenyum.
Davin merasa aneh dengan istrinya sejak dari kantor tadi. Entahlah mungkin di rumah nanti Mellisa akan cerita.
Davin mulai menyetir, seperti tadi tidak ada obrolan diantara mereka.
Sesampainya di kediaman Davin sekeluarga.
Setelah menyelesaikan makan siang, Rosy dan Jasmine bermain di teras rumah.
Sementara Davin membuntuti langkah istrinya kemanapun.
Mellisa menengok ke belakang, dilihatnya sang suami yang tengah tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Bolehkah-".
"Tidak boleh, Bunda harus beberes rumah. Sana Ayah temani Rosy dan Jasmine di depan." Mellisa mendorong tubuh suaminya perlahan.
Davin mencuri cium pipi sang istri sebelum akhirnya berlari ke depan.
Mellisa kaget lalu tersenyum, dia mulai bersih-bersih di dapur dan lanjut ke semua area rumah.
***
Malam hari.
Semua aktifitas selesai, saatnya beristirahat.
Mellisa baru saja masuk ke dalam kamar, dia melihat sang suami menyambutnya dengan tersenyum.
'Aku sedang tidak ingin, kenapa dia selalu memberi kode dari tadi siang,' batin Mellisa.
"Rosy dan Jasmine sudah tidur, Bun?" tanya Davin.
"Iya, Bunda baru saja dari kamar mereka, mereka sudah tidur, Yah. Ayo kita tidur juga, Yah." Mellisa duduk dan hendak berbaring.
"Bunda," panggil Davin menahan Mellisa.
"Iya, Ayah," sahut Mellisa.
"Bolehkah-."
"Tidak boleh, Bunda ingin istirahat."
"Oh. Baiklah."
Mellisa berbaring dan memejamkan mata, sementara Davin bangun dari duduknya dan berjalan ke balkon.
Mellisa membuka matanya kembali dan menyusul sang suami. Dipeluknya tubuh sang suami dari belakang.
Davin menoleh dan melihat sang istri tersenyum.
"Ma'af," ucap Mellisa dengan tulus.
"Bolehkah Ayah bertanya?"
"Apa itu Ayah?"
"Apa yang Bunda bicarakan dengan Sonya dan kemana saja Bunda di sekolah tadi?"
Mellisa melepas pelukannya.
"Apa Ayah sudah tahu? Sonya gagal bertunangan dengan Hilmi. Hilmi memutuskan hubungan lalu pergi."
"Bunda tadi siang mencari Hilmi?"
Mellisa mengangguk.
"Untuk apa Bunda mencarinya?"
"Bunda ingin tahu apa yang dikatakan Sonya benar atau tidak?"
"Soal apa?"
"Merekalah yang membuat keguguran calon adik si kembar. Sonya sudah mengaku dan menyesal, tapi Hilmi entah kemana? Dia sudah resign dari sekolah."
Davin sangat terkejut, Mellisa tak mengatakan sedari siang, istrinya bahkan ingin mencari fakta sendiri.
"Bunda memaafkan Sonya begitu saja, mereka sudah mengganggu keluarga kita dari awal. Apa Bunda tidak menyadari?"
Davin mengepalkan tinju, ada maksud lain lagi dibalik pengakuan Sonya, ini pasti lebih jahat, pikirnya.
Baik Davin maupun Mellisa tentu saja menyayangkan tindakan mereka.
"Bunda memang sempat marah dan kecewa tapi Sonya juga korban, Ayah. Hilmi lah orang yang jahat di sini."
'Apa-apaan istriku ini, dia sudah terpengaruh oleh Sonya,' batin Davin kesal.
"Sudah malam, tidurlah."
"Ayo tidur bersama."
Davin mengangguk.
***
__ADS_1