
Hari ini Davin makan siang di kantin, tak seperti biasanya dia memesan makanan, dan hanya makan di dalam ruangan, malas keluar.
"Kamu sakit Davin?" tanya Jeny mendekat melihat wajah Davin agak pucat.
"Tidak, mungkin aku kelelahan karena semalaman aku menjaga istriku yang sedang sakit," jawab Davin sambil makan.
"Bagaimana tidak membuatku iri, kamu sangat perhatian dengan istrimu."
"Itu sudah kewajibanku, makanya jangan jomblo terus, cari suami terus menikah."
"Bagaimana mungkin, orang yang kusukai saja sudah menikah." Jeny melirik Davin.
"Berarti kalian tidak jodoh, cari yang lain." Davin masih sambil makan tak melihat Jeny sama sekali.
"Tak bisa begitu, aku tak mungkin sembarangan mencari yang lain, nanti yang ada malah aku menikah tanpa cinta."
Davin tersentak.
'Menikah tanpa cinta,' batinnya.
Jeny berlalu meninggalkan Davin, tentu saja dengan membawa perasaan kecewa, meski begitu Jeny tak pernah lelah berharap pada Davin yang sudah jelas semua orang mengetahui termasuk dirinya bahwa Davin sudah menikah.
Setelah selesai makan, Davin segera masuk ke ruangannya, dia merasa sangat mengantuk lalu dia memutuskan untuk tidur sebentar sebelum memulai pekerjaannya lagi.
***
Davin berjalan terburu-buru sambil terus menelfon ke apartemennya, kenapa Mellisa tak mengangkatnya? sedang apa dia? apakah demam lagi?
"Mellisa," kesal Davin.
Hingga akhirnya Davin sampai di apartemennya dengan terburu-buru dia membuka pintu lalu menerobos masuk dengan tergesa-gesa.
Davin kaget melihat ternyata kedua orang tuanya sudah berada di sana.
Mellisa pun ada di sebelah mereka.
Davin melihat istrinya agak geram.
"Davin, kamu sudah pulang?" Mamanya menyambut Davin dengan penuh kasih sayang.
"Kalian kapan sampai? maaf ketika kalian menelfon tidak ku angkat, karena sedang menyetir, kupikir akan telfon balik setelah sampai apartemen." Davin mencium tangan kedua orang tuanya.
"Baru saja sampai, tak apa-apa. Ternyata benar kamu mengurangi waktu lemburmu, ini masih sore kamu sudah pulang, Mama senang kamu menemani istrimu lebih awal."
"Kenapa mendadak sekali, tidak memberi tahu jauh-jauh hari Ma, Pa."
"Mamamu yang tiba-tiba mengajak kesini tadi, katanya dia kangen sama menantunya." Papa menjawab sambil melihat Mellisa.
Semuanya tertawa, kecuali Mellisa, dia hanya tersenyum saja.
"Kenapa kalian tak pernah berkunjung ke kampung?" tanya mama sambil terkekeh.
"Sudah ada niat Ma, tapi Mama dan Papa sudah kesini dulu, hhe," jawab Davin tercengir.
Mama kemudian menyuruh putranya untuk mandi dan berganti baju dahulu, dia juga meminta Mellisa untuk mengikuti Davin masuk ke kamar.
"Urus suamimu sana. Siapkan bajunya."
Mellisa mengangguk perlahan.
__ADS_1
Davin berjalan menuju kamarnya, dia melihat Mellisa mengikutinya dari belakang.
Hingga akhirnya keduanya sampai di dalam kamar. Dàvin buru-buru menutup pintu.Melihat Mellisa yang kini di depannya.
"Aku menelfonmu berkali-kali kenapa tak diangkat, jadi kamu harus pindah dari kamar itu kesini. Sekarang bagaimana? pasti mereka tahu jika sebenarnya kita tidur terpisah, tidak satu kamar." Davin agak kesal sambil memegang kepalanya.
"Sudah kupindahkan semua barang aku kesini, sebelum mama dan papa datang," jawab Mellisa sambil berjalan mendekati tempat tidur dimana banyak baju miliknya di sana.
Davin kaget, dia langsung melihat kamarnya yang sedikit berantakan.
"Kamu sudah tahu?"
"Mereka menelfon ketika sudah sampai lobi apartemen," jawab Mellisa lagi sambil membereskan bajunya.
Davin nampak lega. Dia kemudian mengerti kenapa Mellisa tak mengangkat telfon tadi, pasti sedang sibuk memindahkan semua barang-barangnya ke dalam kamar ini.
"Kuharap kamu betah di kamar ini, jangan ke kamar tamu lagi," ucap Davin sambil membantu istrinya beberes.
Mellisa melihat suaminya sebentar lalu melanjutkan merapihkan kamar.
"Mell," panggil Davin.
"Iya, Mas," sahut Mellisa.
"Dimana baju gantiku? aku mau mandi."
Mellisa membuka lemari, dan melihat-lihat baju suaminya, dia bingung mau mengambil yang mana.
"Mau yang mana, Mas?" tanya Mellisa.
"Yang mana saja, kamu yang pilihkan."
Davin menerimanya dan mengecek kalau ternyata belum lengkap.
"Dimana pakaian dalamku?" tanya Davin sambil melirik istrinya.
Mellisa membulatkan mata.
"Mana aku tahu, Mas," jawabnya tiba-tiba jadi jutek.
"Itu di dalam lemari paling bawah tolong ambilkan," suruh Davin.
"Ambil sendiri."
Mellisa nampak kesal.
Davin pun terkekeh, lucu juga mengerjai istrinya.
***
Malam hari.
Kedua pasangan ini berbaring bersama di tempat tidur yang sama.
Davin belum mengantuk, Mellisa pun begitu. Namun Davin yakin jika malam ini memintanya pasti Mellisa menolak.
"Apa kamu belum mengantuk?"
"Ini sudah mengantuk."
__ADS_1
"Tidurlah atau kamu mau kita melakukan sesuatu dulu," goda Davin melihat Mellisa di sebelahnya.
"Aku tidur," ucap Mellisa lalu membalikkan badannya membelakangi suaminya.
'Hm malu-malu ya,' batin Davin.
Davin mendekati Mellisa lalu memeluknya dari belakang.
Mellisa kaget dan langsung melepaskan tangan Davin lalu bangun dari tempat tidur.
"Aku tidur di sofa saja," ucap Mellisa menuju sofa dalam kamar mereka.
Davin membuang nafas kasar.
"Tidurlah di sini, aku tak akan mengganggumu," ucap Davin agak menjauh lalu membalikkan badan.
Mellisa kembali berbaring di tempat tidur, lalu menyelimuti tubuhnya dan memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian.
Davin membalikkan tubuhnya kembali, dilihatnya sang istri sudah memejamkan mata. Davin mendekati Mellisa yang dia pikir mungkin sudah tertidur.
Mellisa tak dapat tidur, dia mencoba membuka matanya perlahan.
Plek!
Mellisa reflek langsung menampar Davin. Betapa kagetnya dia melihat suaminya tepat di depan wajahnya.
"Waktu itu kamu teriak, sekarang aku kamu tampar." Davin nampak kesal.
"Maaf tak sengaja, aku hanya kaget."
Davin kembali membuang nafas kasar lalu bangkit dari tempat tidurnya ke sofa.
'Ok Davin, tak perlu buru-buru,' batin Davin.
Setelah yakin bahwa Davin tak akan mengganggu, Mellisa mencoba tidur , dirinya sudah mulai menguap karena mengantuk.
Sedangkan Davin, dia tentu saja tak dapat tidur, walaupun dia sendiri yang memutuskan untuk bangun dan pindah ke sofa dari tempat tidur.
'Aku ingin memelukmu,' batin Davin.
Dia menatap cukup lama punggung istrinya sambil mengingat kembali sikap sang istri yang selalu menolak ketika dia sentuh.
"Di luar sana banyak yang mengejarku, aku kaya, aku tampan dan mungkin aku terlalu baik untukmu, tapi kamu, padahal kita sudah menikah, benarkah kamu tak tertarik padaku?"
Davin bicara agak keras bermaksud agar Mellisa mendengarnya.
Namun sudah beberapa saat, Mellisa tak juga bereaksi.
"Apa kamu sudah tidur?" Davin lagi-lagi kesal.
Mellisa tak jadi tidur walaupun tadi sudah mengantuk karena ucapan Davin barusan.
Memang benar apa yang Davin ucapkan, apa kurangnya dia?
Mellisa masih dalam posisinya dan terjaga hingga pagi.
Sedangkan Davin baru saja terlelap karena terlalu mengantuk.
__ADS_1
***